Ekonomi
( 40465 )Pendapatan dan Laba Moratelindo Kompak Turun
Sinar Mas Multiartha Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 5 Triliun
PT Sinar Mas Muliaartha Tbk (SMMA) akan
melakukan penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan III dengan target
dana Rp 5 triliun. Sebagai tahap awal, perseroan akan menerbitkan Obligasi
Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2024 senilai Rp 1,5 triliun. Dana hasil
penerbitan surat utang ini rencananya digunakan untuk pelunasan (refinancing)
obligasi, kebutuhan investasi dan modal kerja perseroan.
Manajemen Sinar Mas Multiartha dalam prospektus
yang dipublikasikan Senin (18/3) mengungkapkan, obligasi senilai 1,5 triliun
ini akan memasuki masa penawaran awal pada 18-22 Maret 2024 dengan target
efektif pada 28 Maret 2024, masa penawaran umum pada 2 April 2024, tanggal
penjatahan pada 3 April 2024, tanggal distribusi saham secara elektronik
danpengembalian uang pemesanan pada 5 April 2024 serta pencatatan di Bursa Efek
Indonesia pada 16 April mendatang. Perseroan telah mendapat peringkat idAA atau
double A dari Kredit Rating Indonesia untuk obligasi ini. (Yetede)
Jalan Paksa bagi Bank Gunting Margin Bunga
Pemerintah berupaya memaksa perbankan dalam negeri menurunkan margin bunga dan lebih banyak menyalurkan kredit. Dalam waktu dekat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera merilis aturan yang mewajibkan bank transparan dalam menetapkan suku bunga dasar kredit (SBDK). Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, Peraturan OJK (POJK) mengenai transparansi suku bunga bisa segera terbit karena sudah disetujui di rapat kerja bersama DPR, Rabu (13/3). "POJK ini sudah diterima dan sekarang tinggal mengurus administrasi ke Kementerian Hukum dan HAM," ujarnya, kemarin. Dian mengungkapkan, aturan ini akan membuat bank lebih transparan terkait penentuan komponen bunga kreditnya. Beleid ini merupakan mandat Undang-undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Lewat aturan ini, Dian optimistis mekanisme pasar akan efisien. Masyarakat bisa membandingkan bunga antarbank dengan lebih detail. Bank yang tak memenuhi aturan pun akan dikenai sanksi.
Secara industri, net interest margin (NIM) perbankan menunjukkan kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, hingga ke level 4,81% di akhir tahun 2023. Bahkan, dari riset KONTAN, beberapa bank memiliki NIM jauh di atas industri, lima bank beraset jumbo di antaranya mencetak NIM di atas 5%. Bankir mengaku belum bisa komentar banyak terkait aturan baru ini. Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi menilai, OJK sudah melakukan kajian untuk menyusun aturan ini. Menurut Yuddy, NIM atraktif pertanda kinerja sebuah bank sehat, bank mampu menjaga kualitas aset dan permodalan dengan baik. "Tahun ini, BJB akan menjaga NIM minimal 4,9%," ujarnya. Agustya Hendy Bernadi, Sekretaris Perusahaan BRI, mengklaim, BRI selalu mengkaji suku bunga kredit secara berkala. Ia bilang, suku bunga yang ditawarkan kompetitif dengan tetap memperhatikan profitabilitas bagi bank.
Lani Darmawan, Direktur Utama CIMB Niaga, menyampaikan, CIMB Niaga sudah melakukan transparansi bunga kredit lewat pelaporan SBDK. Menurut dia, tantangan bank saat ini dalam menetapkan bunga kredit adalah tingginya biaya dana, saat suku bunga acuan masih tinggi. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai, industri perbankan memerlukan aturan pengendalian NIM untuk menciptakan persaingan bisnis yang sehat. Menurut dia, perbankan saat ini dalam kondisi oligopolis. Hanya segelintir bank yang menguasai pasar dan mereka mempengaruhi satu dengan yang lainnya. "Harus ada kebijakan yang memaksa bank untuk bersaing antara satu dan lain. Regulator harus menciptakan iklim yang kompetitif, " kata Purbaya, belum lama ini.
Emiten Menjaring Dana dari RIght Issue
Penambahan modal melalui rights issue maupun private placement cukup meriah di kuartal pertama tahun ini. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi tersebut dengan bermacam keperluan. Contohnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 603,44 juta saham baru. Rights issue ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban divestasi INCO kepada pemerintah Indonesia, yang dilakukan melalui holding tambang BUMN, MIND ID. Lewat divestasi lanjutan ini, MIND ID akan mendapat tambahan 14% sehingga nantinya akan memiliki 34% saham INCO. Masih dari emiten nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel bahkan berencana untuk menggelar rights issue dan private placement. Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengatakan, aksi korporasi ini upaya memperkuat pertumbuhan dan pengembangan usaha. Dana dari rights issue akan digunakan untuk ekspansi, termasuk pembelian saham pada perusahaan di bidang pemurnian bijih nikel atau pertambangan lain.
Selain duo emiten nikel tersebut, ada juga dua emiten bank yang akan menggelar rights issue. Mereka adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) dan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS). Estimasi perolehan dana dari aksi korporasi ini masing-masing mencapai Rp 3,2 triliun dan Rp 1,17 triliun. Emiten lain yang akan melakukan rights issue di antaranya ada PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Sedangkan emiten yang berencana menggelar private placement ada PT SLJ Global Tbk (SULI) dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP). Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengamati sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan emiten menggelar aksi rights issue. Pertama, bisa terjadi ketika pendanaan melalui utang sudah maksimal, yang ditandai dengan rasio leverage tinggi. Dalam situasi itu, emiten perlu menambah modal melalui penerbitan saham, sehingga rasio leverage turun dan kembali memiliki ruang. Kedua, faktor makro ekonomi dalam memilih opsi penambahan modal. Seperti pada kondisi suku bunga tinggi sehingga pendanaan melalui utang bisa menimbulkan beban keuangan yang memberatkan perusahaan.
Analis Stocknow.id M. Thoriq Fadilla juga menilai pasar akan lebih selektif. Apalagi dalam kondisi yang sedang fluktuatif seperti saat ini, investor akan lebih cenderung bersikap moderat. Thoriq pun menyoroti transaksi di pasar saham yang masih memperlihatkan sikap wait and see dari para investor. Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memandang pelaksanaan rights issue bisa menjadi momentum yang tepat. Asalkan, emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang apik. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengingatkan umumnya rights issue membuat harga saham mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, jika tambahan modal digunakan untuk ekspansi bisnis atau penguatan struktur modal, maka bisa menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga sahamnya. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa bahwa seringkali rights issue membuat harga saham turun terlebih dulu, karena pergerakannya akan mengacu pada harga pelaksanaan. Pelaku pasar bisa mencermati peluang buy on weakness atau cicil beli saat koreksi.
Menguji Tuah Saham Prajogo Pangestu
Kendati sempat naik ke harga tertinggi sepanjang masa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru naik tipis 0,41% jika dihitung sejak awal tahun ini. Beberapa saham big caps masih menjadi pemberat IHSG, termasuk saham emiten milik taipan Prajogo Pangestu. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat utama IHSG. Harga BREN sudah turun 30,8% sejak awal tahun ke Rp 5.175, Senin (18/3). Selain BREN, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga sudah terkoreksi 64,84% year to date (ytd). Begitu juga PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Dengan kapitalisasi pasar Rp 90 triliun, BRPT telah menggerus IHSG sebesar 24,01 poin. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, salah satu penyebab turunnya harga saham Grup Barito adalah aksi profit taking dari investor. Kendati harganya sudah turun dalam, masih ada kesempatan untuk mencermati saham Grup Barito, terutama di tengah musim laporan keuangan ini.
BREN misalnya, diharapkan masih menuai kinerja positif seperti pada kuartal III 2023 lalu. Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading MNC Sekuritas menambahkan, wajar saja kalau saham emiten Prajogo Pangestu menjadi pemberat. Saham-saham ini sudah rally tinggi sepanjang tahun 2023 lalu. Meski menjadi pemberat IHSG, Reza menilai ada sejumlah saham pemberat yang menarik dicermati. Saham BREN masih punya potensi kenaikan harga atau upside 15,94% di target Rp 6.000. Sedangkan saham CUAN menarik dicermati dengan target harga di Rp 5.450. Frankie menilai, pelemahan harga saham ASII turut disebabkan sentimen masuknya salah satu raksasa otomotif asal China yang berpotensi merenggut pangsa pasar Grup Astra. Namun, saat ini harga saham ASII sudah masih lebih rendah dibandingkan 2019. Reza juga menilai ASII menarik dicermati dengan target harga Rp 5.900. Saham laggard lain yang bisa dicermati investor adalah saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Reza memasang target harga MDKA Rp 2.600 per saham. Lalu, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diberikan target harga di Rp 1.600 per saham.
Saratoga Cetak Aset Bersih Sebesar Rp 48,9 Triliun di 2023
Perusahaan investasi aktif, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan nilai aset bersih atau net asset value (NAV) sebesar Rp 48,9 triliun di tahun 2023. Angka ini menurun 20% dibandingkan nilai per tahun 2022. Direktur Investasi SRTG Devin Wirawan mengatakan, penurunan nilai aset bersih akibat gejolak harga komoditas sepanjang tahun 2023. Ini berdampak terhadap harga saham-saham perusahaan portofolio utama Saratoga. Seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA). "Fluktuasi harga saham-saham tersebut ikut berdampak terhadap NAV Saratoga pada akhir tahun lalu," kata Devin, Senin (18/3).
Direktur Keuangan SRTG, Lany D. Wong menambahkan, posisi utang SRTG yang menurun berdampak pada terpangkasnya biaya bunga hingga 49% di tahun 2023. Per 31 Desember 2023, SRTG menurunkan utang bersih hingga 62% menjadi Rp 263 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 688 miliar. Kami juga menjaga rasio biaya dan utang pada tingkat yang sehat. Biaya operasional terhadap NAV masing-masing sebesar 0,5% dan loan to value menjadi 0,4% dari sebelumnya 1,1% di tahun 2022, ujarnya. Perusahaan ini masih optimistis kalau emiten yang jadi andalan portofolio SRTG seperti ADRO dan MDKA, akan mencapai pertumbuhan bisnis berkelanjutan dan menguntungkan. Apalagi dua perusahaan ini berada di sektor strategis, yaitu komoditas batubara, emas, nikel dan terkait bisnis hilirisasi komoditas.
Harga Emas Menanti Pidato FOMC Pekan Ini
Kilau emas diproyeksi masih akan bersinar. Research And Development PT Handal Semesta Berjangka Alwy Assegaf mengatakan, data ekonomi Amerika Serikat (AS) terkini yang membaik dinilai tidak mengubah pandangan pasar terkait pemangkasan suku bunga AS. Ia menyebut, pasar masih menempatkan penurunan suku bunga di Juli tahun ini. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas global kembali melandai ke US$ 2.162,30 per ons troi, kemarin (18/3), setelah mencetak rekor pada Senin pekan lalu di level US$ 2.188,60 per ons troi. Alwi menilai emas masih memiliki prospek untuk cenderung bullish sepanjang tahun ini. Namun, untuk pekan ini, arah harga emas memang bergantung pada hasil rapat FOMC yang akan berlangsung Kamis pekan ini.
Menurut Alwi, jika The Fed melihat petunjuk mengenai waktu dan ruang lingkup penurunan suku bunga masih seperti Desember 2023, maka akan ada pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali. Dengan demikian, dengan skenario hawkish (inflasi naik) maka harga emas akan terkoreksi dengan support US$ 2.110–US$ 2.130 per ons troi, Sementara apabila hasil FOMC dovish, maka harga emas akan naik ke US$ 2.170 dan kenaikan selanjutnya ke US$ 2.194 per ons troi. Analis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer memenyarankan investor dapat mempertimbangkan potensi penurunan yang lebih besar di masa mendatang. "Utamanya jika ada pengumuman penting dari Fed yang dapat mempengaruhi arah dolar AS," imbuh Ficher dalam rilis, kemarin.
MENADAH MODAL INVESTOR GLOBAL
Kuda-kuda Indonesia berada pada posisi yang kokoh untuk menampung limpahan modal dari investor global, baik pada investasi langsung sektor riil maupun investasi portofolio. Beberapa katalis pun mampu menguatkan pijakan pemangku kebijakan untuk lebih kuat menarik aliran modal. Apalagi, realisasi pada 2023 dan perkembangan sepanjang tahun berjalan 2024 cukup mendukung. Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia misalnya. Dari data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) kemarin, Senin (18/3), PII Indonesia pada kuartal IV/2023 mencatat kewajiban neto US$260,3 miliar, naik dibandingkan dengan kuartal III/2023 yang senilai US$251,9 miliar. Kenaikan ini menggambarkan adanya arus modal masuk yang cukup besar. Kenaikan kewajiban neto PII menandakan investasi yang masuk ke Indonesia dari investor global jauh lebih besar dibandingkan dengan modal yang ditanamkan investor domestik di pasar global. Pada saat bersamaan, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mencatat ada banyak rencana realisasi investasi yang bakal dieksekusi oleh investor dalam waktu dekat. Tak ayal, otoritas penanaman modal pun menyasar porsi penanaman modal asing (PMA) pada tahun ini sebesar 52% atau setara Rp858 triliun dari total target senilai Rp1.650 triliun. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengatakan saat ini beberapa perusahaan yang kemarin wait and see belum mau melakukan investasi sudah mulai menyampaikan akan segera melakukan groundbreaking. Tak hanya merealisaikan komitmen yang telah dicanangkan sebelumnya, arus modal juga cukup deras menyasar proyek Peta Peluang Investasi (PPI) yang disusun pemerintah. Dari 81 proyek PPI senilai Rp239 triliun, jumlah yang akan melakukan groundbreaking pada tahun ini mencapai 29 proyek. Dari sisi investasi portofolio, Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, meyakini kinerja PPI Indonesia tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi yang didukung sinergi kebijakan antarinstansi guna memperkuat ketahanan sektor eksternal. Optimisme BI bukannya tanpa alasan.
Pada kuartal IV/2023, Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) atau pasiva penduduk terhadap bukan penduduk baik dalam valuta asing maupun rupiah, mencatatkan kenaikan yang signifikan. Adapun, posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) alias aktiva penduduk terhadap bukan penduduk baik dalam valuta asing maupun rupiah kuartal IV/2023 sebesar US$484,6 miliar, naik 4,1% dari US$465,4 miliar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Meski mendapatkan angin segar, pemerintah pun tetap mewaspadai adanya faktor yang berisiko mengaburkan skenario pencapaian target investasi tersebut, terutama yang bersumber dari perlambatan ekonomi China. Kalangan pelaku usaha pun mewanti-wanti pemangku kebijakan untuk konsisten menjaga stabilitas di dalam negeri sehingga mampu mencegah guncangan. Pelaksana Tugas Harian Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan peningkatan konsumsi domestik menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang juga akan memengaruhi masuknya modal. Di sisi lain, dia memandang ada sentimen positif dari sisi domestik mengenai kondusifnya iklim usaha pascapemilu yang menjadi faktor penguat kepercayaan investor. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, mengatakan sejalan dengan rencana penurunan suku bunga acuan di AS ada potensi capital outflow di pasar surat utang terutama pada semester II/2024. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, menyarankan pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur, efisiensi logistik, serta penajaman peluang investasi.
DAMPAK IMPOR ILEGAL : Cuan Lebaran Industri Tekstil Melayang
Pelaku industri tekstil dan produk tekstil atau TPT harus gigit jari pada momentum Ramadan dan Idul fitri kali ini. Maraknya produk pakaian jadi impor di pasar dalam negeri mengganjal cuan pengusaha. Ketua Umum Asosiasi produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kebijakan larangan dan pembatasan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 tidak bisa langsung memulihkan pasar dalam negeri dari gempuran produk impor.“Momentum Lebaran ini [diprediksi] tidak ada pengaruhnya. Stok barang-barang impor, baik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi sudah menumpuk di pasar,” katanya, dikutip Senin (18/3).Terlebih, APSyFI mencatat setidaknya ada 37.000 kontainer produk tekstil impor ilegal yang masuk ke Tanah Air sepanjang 2023. Produk ilegal itu termasuk pakaian bekas yang disortir dan diperjualbelikan di pasar lokal.
“Berdasarkan perhitungan dengan metode supply, diperkirakan impor ilegal TPT pada 2023 mencapai 749.000 ton, setara dengan 37.000 kontainer,” jelasnya.Redma menjelaskan, angka impor ilegal tersebut dihitung dengan melihat volume ketersediaan pasokan TPT dari hulu sampai dengan hilir, termasuk data ekspor-impor dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Senada, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa berharap Peraturan Menteri Perdagangan No. 3/2024 yang baru diterapkan mampu memulihkan roda industri TPT.“Sehingga event Lebaran 2024 yang biasanya masyarakat Indonesia membeli pakaian baru bisa dinikmati oleh UMKM/IKM, dan industri TPT nasional,” tuturnya.
INDUSTRI PARIWISATA : Urat Nadi Udara Lombok—Makassar
Kehadiran rute penerbangan Lombok—Makassar diyakini bakal meningkatkan industri pariwisata di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Rencananya, rute tersebut bakal dilayani oleh maskapai Lion Air dengan menggunakan pesawat Boeing 737-900ER dengan kapasitas 215 kursi mulai 27 Maret 2023. Hal itu diungkapkan oleh General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (Bandara Lombok) Minggus E.T. Gandeguai. Lion Air, imbuhnya, bakal melayani rute tersebut dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam sepekan, yakni pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Untuk penerbangan perdana, Lion Air dengan nomor penerbangan JT 840 akan berangkat dari Lombok pukul 14.45 WITA, dan dijadwalkan tiba di Makassar pukul 15.55 WITA. Dari Makassar, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 841 akan lepas landas pukul 12.35 WITA, dan mendarat di Lombok pukul 13.50 WITA.
Minggus berharap bahwa kehadiran rute penerbangan ini akan makin meningkatkan jumlah wisatawan yang selanjutnya dapat memberikan dorongan bagi ekonomi lokal dan sektor pariwisata, baik di Lombok maupun Makassar. Lombok, imbuhnya, adalah salah satu destinasi wisata favorit Indonesia yang setiap tahunnya menjadi tuan rumah ajang balap MotoGP.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









