Berburu Manisnya Takjil yang Meluruhkan Sekat
Ramadhan tahun ini ada fenomena baru yang seru, yakni war
takjil lintas agama. Berburu takjil di pasar kini tak hanya dilakukan warga
Muslim yang sedang berpuasa, tetapi warga lain dari beragam agama. Fenomena ini
ternyata meluruhkan sekat suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. Belakangan
ini, Clara (24) sering memperhatikan jam tangan atau jam dinding ruang kerjanya
di perkantoran kawasan Jakpus, pikirannya bukan soal kapan jam kerja berakhir
atau waktunya pulang. Warga Rawa Belong, Jakbar ini memikirkan jeli, puding,
dan agar-agar yang dijajakan penjual takjil. Dia tak sabar untuk membelinya dan
berbuka puasa bersama teman-teman Muslim.
”Ikut berburu takjil, tetapi tidak ikut puasa. Enggak tahu
kenapa, jajanan yang dijual saat Ramadhan lebih menarik dan menggoda,” seloroh
Clara, Minggu (17/3). Andini (27) juga merasakan hal yang sama. ”Heboh,
semangat cari takjil. Padahal, saya yang puasa anteng-anteng saja. Tapi di situ
keseruannya,” ujar Andini. Selain berburu takjil, teman-temannya yang tak
berpuasa juga antusias untuk buka puasa bersama. Mereka semangat
merekomendasikan tempat dan menu yang pas bagi semua. ”Biasanya satu kali
seminggu. Dibayari kantor, gratis. Pastinya semua senang,” kata Andini sembari
tertawa. Keriuhan berburu takjil hingga buka puasa bersama juga merambat ke
jagat maya. Warganet menyebut berburu takjil sebagai ”war takjil”. yang jadi
topik hangat, seperti di X, dulu Twitter. Utas @FashionReco,
”Berburu takjil, persaingan lintas agama-a thread-”. Utas
berisi potongan tangkapan layar tentang berburu takjil yang bernuansa candaan
atau gurauan telah dilihat 1,4 juta kali, dicuitkan 816 kali, ditandai 702
kali, dan disukai 11.000 kali. Ramadhan membawa berkah bagi semua warga, baik yang
berpuasa maupun tidak. Mereka sama-sama kecipratan rezeki, seperti Vicky Amelia
(28), warga non-Muslim yang berjualan takjil di Pasar Rawajati, Kecamatan
Pancoran, Jaksel. Di lapak berukuran 1 meter x1meter dia menjajakan kolak
pisang, biji salak, martabak, lontong sayur, dan oncom, risol, serta berbagai penganan
berbuka lainnya.
Sejak subuh, Vicky sudah berbelanja di Pasar Minggu hingga
meracik berbagai makanan mulai pukul 06.00 dibantu dua pegawai yang melaksanakan
ibadah puasa. “Biasanya pukul 15.00 sudah banyak konsumen yang datang. Kami
tidak ingin kehilangan momen,” kata Vicky. Di Pasar Rawajati juga ada puluhan
lapak nenjajakan takjil di kanan dan kiri jalan. Ratusan pembeli tumpah ruah berburu
takjil. Di tahun pertama membuka usaha jualan takjil, Vicky mendapatkan omzet
lumayan. Dalam satu hari, dia bisa mengantongi Rp 1,5 juta dengan keuntungan
bersih Rp 400.000. Erni (45), salah satu pegawai Vicky, cukup terbantu dengan
usaha ini. Dalam sehari, ia memperoleh upah Rp 100.000. Uang itu ditabung untuk
pulang kampung ke Sukabumi, Jabar, pada
Idul Fitri nanti. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023