Lingkungan Hidup
( 5781 )Stok Cukup, Kok Harga Pangan Tetap Naik ?
Kinerja pemerintah memenuhi stok pangan dan menjaga stabilitas harga menjadi sorotan masyarakat menjelang puasa. Sebab, kurang dari dua pekan menjelang puasa, harga pangan tercatat melonjak tinggi. Seperti diketahui, setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri harga pangan selalu naik. Kenaikan harga ini juga dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah menjaga pasokan dan distribusi bahan pangan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, ketersediaan 12 komoditas pangan relatif masih mencukupi menjelang puasa dan Lebaran 2022. Syahrul menyebutkan, stok beras, jagung, bawang merah, cabai merah, daging, ayam, telur ayam, dan minyak goreng masih bisa dipenuhi produksi dalam negeri.
Anggota Komisi IV DPR Suhardi Duka meminta Kementerian Pertanian untuk memastikan keakuratan data atas neraca komoditas 12 bahan pangan yang diklaim mencukupi tersebut. Sebab berdasarkan data yang dia terima pada awal tahun ini, produksi bawang merah mengalami gagal panen. Alhasil, Kementerian Perdagangan telah mengajukan impor dan meminta persetujuan dari Kementrian Pertanian. "Jadi mana yang benar? Kementerian Pertanian menyebut surplus tapi Kementerian Perdagangan minta impor dibuka," jelas Suhardi.
Setelah Minyak Goreng Tak Lagi Langka
Sejak 1 Februari lalu, pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi minyak goreng Rp 14 ribu. Namun, sejak saat itu, minyak goreng berubah menjadi barang langka. Masyarakat Jakarta, bahkan seluruh Indonesia, kesulitan mencari cairan berwarna kuning keemasan tersebut. Sejumlah minimarket dan supermarket sengaja mengosongkan rak khusus produk minyak goreng. Jika pun ada, tak sampai satu jam, stok minyak ludes. Sebaliknya, setelah aturan harga eceran tertinggi dicabut, stock minyak goreng membanjiri minimarket dan supermarket. Namun harganya melambung tinggi. Menurut pantauan Tempo, disejumlah minimarket di wilayah Johar Baru, Cempaka Putih dan Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin, harga minyak goreng kemasan perliter berkisar 24-25 ribu. Sejumlah pedagang kecil kewalahan menghadapi tingginya harga minyak goreng kemasan. Strategi menaikkan harga hingga kurangi porsi jadi cara menutup harga minyak goreng. Tingginya harga pada saat minyak goreng mudah dicari dianggap penyakit bagi masyarakat. (Yetede)
Produsen Tempe Tahu Tagih Janji Subsidi
Ketum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin (21/3) mengatakan, pemerintah berjanji menyubsidi kedelai impor yang dibeli produsen tahu dan tempe Rp 1.000 per kg. Janji pemerintah dinyatakan dalam Rakernas Gakoptindo 22-23 Februari di Surabaya. ”Kami sudah menanyakan realisasi janji itu. Namun, katanya masih dalam pembahasan di rapat terbatas sehingga sampai sekarang belum terealisasi,” kata Aip dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI. Menurut Aip, harga kedelai impor di dalam negeri Rp 12.300 per kg, naik dari Rp 11.500 per kg. Menurut Aip, kedelai impor sebenarnya hanya dibutuhkan untuk bahan baku tempe. Untuk tahu justru lebih baik kedelai lokal karena rasanya lebih enak dan legit serta baunya lebih harum. Gakoptindo membutuhkan 1 juta ton kedelai lokal per tahun.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan menyatakan, pemerintah tengah menyiapkan mekanisme intervensi harga kedelai impor agar produsen tahu dan tempe mampu menjangkaunya. ”Caranya dengan memberikan selisih harga dengan angka tertentu sehingga perajin tahu dan tempe bisa mendapatkan kedelai dengan harga Rp 11.000 per kg,” katanya. Ketua Asosiasi Koro Pedang Nusantara Agus Somamihardja meminta pemerintah menyiapkan substitusi kedelai impor dengan kacang koro pedang (Canavalia ensiformis). (Yoga)
Harga Nikel Global Terus Turun Sejak Transaksi Dibuka Kembali
Harga nikel dunia makin adem. Harga nikel kontrak bergulir tiga bulan di London Metal Exchange berada di US$ 36.915 per ton, Jumat (18/3). Harga nikel anjlok 19% sejak perdagangan dibuka kembali Rabu lalu (16/3). Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi menjelaskan, harga nikel naik sebelum ini akibat memanasnya perang Rusia-Ukraina. "Sehubungan dengan kondisi saat ini di Ukraina sudah sedikit stabil dan sempat ada gencatan senjata, harga turun lagi," ujar Ibrahim, Senin (21/3). Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono menilai, wajar harga nikel terkoreksi seiring meredanya isu geopolitik antara Rusia-Ukraina. Tapi, dalam jangka menengah, harga berpotensi konsolidasi, lantaran isu geopolitik belum usai.
Ibrahim menilai, saat ini para spekulan di pasar juga mulai merealisasikan keuntungan. Dengan demikian, harga kembali turun dan mendekati harga wajar. "Harga wajar nikel berada di level US$ 19.000 per ton," kata dia. Meski begitu, jika konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memburuk, terbuka peluang harga nikel mencapai US$ 50.000 per ton. Namun jika ketidakpastian di pasar global mereda, harga nikel akan bergerak turun kembali ke kisaran level support di US$ 22.000 per ton.
Melecut Investasi di Sektor Hulu Migas
Pada awal tahun ini, pemerintah menargetkan investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) mencapai US$$17 miliar. Penetapan tersebut tercatat melampaui target pada tahun lalu sebesar US$15,9 miliar. Tentu saja target ini cukup menantang di tengah kondisi sektor hulu migas yang kurang begitu kondusif. Di sisi lain, produksi minyak mentah dalam negeri masih jauh dari harapan. Hal itu dikarenakan lapangan di Indonesia sudah mulai menua sehingga secara alamiah jumlah produksi akan menyusut. Penurunan produksi ini sudah ditahan dengan memanfaatkan teknologi enhanced oil recovery (EOR). Teknologi EOR merupakan salah satu metode pengurasan minyak tingkat lanjut untuk mengoptimalkan produksi sebuah lapangan migas.
Tentu saja masalah itu menambah panjang pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan para pemangku kepentingan. Di tengah kondisi yang sedemikian menantang dan target investasi yang tinggi, bertiup angin segar munculnya komitmen dari Petronas dan BP di tiga dari empat wilayah kerja (WK) yang dilelang oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ketiga WK atau blok migas itu adalah North Ketapang, Agung I, dan Agung II. Pemerintah memang tidak tinggal diam dengan kondisi investasi migas yang stagnan beberapa tahun ini. Beberapa hal di atas menjadi bukti bahwa pemerintah terus berupaya menyelesaikan pekerjaan rumah pemerintah di sektor migas yang terkenal bermodal besar, berteknologi maju, dan berisiko tinggi ini.
Cegah Penyalahgunaan Minyak Goreng Curah
Ketum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri (20/3) mengatakan, pasokan minyak goreng curah masih sangat terbatas sehingga sejauh ini sulit didapati di pasar. Kalaupun ada, harganya melejit di atas HET Rp 14.000 per liter, mencapai Rp 20.000-Rp 25.000 per liter, disebabkan disparitas harga yang tinggi antara minyak goreng kemasan dan curah. Komisioner Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, memprediksi, dalam waktu dekat, stok minyak goreng kemasan akan melimpah di pasar, harganya akan terkoreksi, sementara minyak goreng curah yang seharusnya untuk subsidi menjadi langka. Pihak yang dirugikan adalah masyarakat kelas ekonomi menengah-bawah yang kebutuhan pokoknya seharusnya dijamin oleh negara.
Untuk mengatur penyediaan minyak goreng curah, diterbitkan Permenperin No 8 Tahun 2022 tentang Penyediaan Minyak Goreng Curah untuk Kebutuhan Masyarakat, UMKM dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Minyak goreng curah bersubsidi itu hanya boleh dijual ke masyarakat serta UMKM dengan HET Rp 14.000 per liter. Perusahaan produsen minyak goreng curah harus terlebih dahulu mendaftar ke Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) dan mencantumkan data identitas perusahaan berupa kapasitas dan rencana produksi, rencana penggunaan bahan baku CPO, dan rencana distribusi. (Yoga)
Emiten Tambang dan Bank Paling Cuan
Sekitar 23 emiten anggota indeks LQ45 telah melaporkan kinerja keuangan 2021. Mayoritas mengalami perbaikan kinerja, dengan emiten bank dan tambang memimpin pertumbuhan laba. Sementara emiten BUMN Karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatatkan penurunan laba. Analis B-Trade Raditya Krisna Pradana menilai, perbaikan kinerja emiten perbankan besar selaras dengan pemulihan ekonomi. Dia memprediksi, kinerja emiten perbankan masih berpeluang naik, terdorong tren kenaikan suku bunga.
Bank Indonesia diperkirakan mengerek bunga tahun ini, mengekor bank sentral AS. "Apabila suku bunga acuan naik, maka suku bunga simpanan dan kredit akan berpotensi naik juga, sehingga ini menjadi katalis positif bagi perbankan,” terang Raditya, Minggu (20/3). Raditya juga menilai saham bank seperti BBTN dan BBNI masih menarik. Ia mematok target harga BBTN Rp 1.970 dan BBNI di Rp 8.700. Ia juga merekomendasikan ANTM dengan target Rp 2.800 dan ASII dengan target Rp 6.900. Sementara emiten rokok diperkirakan masih tertekan, terdampak kenaikan harga cukai dua tahun terakhir.
Siasat Emiten CPO Jaga Laba
Emiten produsen minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) dan turunannya harus memutar otak lebih keras guna merespons perubahan kebijakan pemerintah yang sangat dinamis. Jika tak responsif, momentum kenaikan harga CPO bakal sulit dioptimalkan untuk memacu kinerja korporasi. Pemerintah menerbitkan beleid anyar pungutan ekspor produk CPO dan turunannya pekan lalu. Dalam Peraturan Menteri Keuangan No.23/PMK.05/2022, batas atas pengenaan pungutan ekspor CPO direvisi naik dari maksimal US$1.000 per ton menjadi US$1.500 per ton. Dampaknya, tarif maksimum ekspor yang mulanya flat US$175 per ton ketika harga CPO di atas US$1.000 per ton, akan bertambah secara progresif sampai menyentuh batas harga terbaru US$1.500 per ton.
Direktur Utama PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) Lucas Kurniawan mengatakan kenaikan pungutan tersebut dapat dipahami, karena hasil pungutan direncanakan akan digunakan sebagai subsidi harga minyak goreng curah. Namun dia menilai, kenaikan tarif yang signifikan dan berlaku relatif singkat juga berpotensi menyebabkan koreksi harga beli tandan buah segar (TBS) dari petani secara signifikan pula. Pada 2021, sekitar 34,12% atau 434.123 ton TBS yang diolah ANJT berasal dari pembelian pihak ketiga. Menurutnya, sejak akhir 2021 ANJT menjual seluruh produk CPO yang diproduksi ke pasar dalam negeri guna mendukung pemenuhan pasokan domestik
Transisi Energi: Pertamina Optimalkan Geothermal
PT Pertamina (Persero) menyasar optimalisasi panas bumi atau geothermal untuk mendukung program transisi energi yang terus didorong pemerintah. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa perseroan memainkan peran penting dalam memimpin transisi industri energi Indonesia dengan menargetkan bauran energi dan pengurangan emisi melalui target penurunan emisi gas rumah kaca yang lebih komprehensif sebesar 30% sebelum 2030. Dia menjelaskan, Pertamina melakukan beberapa inisiatif strategis untuk mempercepat transisi energi, seperti meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi, pengembangan kilang hijau, pengembangan bioenergi, komersialisasi hidrogen, gasifikasi, serta inisiasi ekosistem baterai dan penyimpanan energi terintegrasi.
Selain itu, kata dia, Pertamina juga mendukung Pemerintah Indonesia dalam Presidensi G20 yang telah memilih transisi energi sebagai salah satu prioritas utamanya. Sebagai bagian dari The Business 20 Task Force on Energy, Sustainability, and Climate, Pertamina memiliki prioritas yang sama dengan G20 Indonesia, yakni menjadi katalisator yang kuat untuk pemulihan hijau dan berjalan seiring dengan prinsip ketahanan energi, pemerataan energi, dan kelestarian lingkungan.Rusia Embargo Minyak akan Memukul Semua
Kremlin menyatakan pada Senin, (21/2) bahwa embargo terhadap impor minyak Rusia akan berdampak langsung pada semua orang. Peringatan itu dikeluarkan setelah sejumlah negara Uni Eropa (UE) termasuk beberapa negara Baltik menyerukan embargo minyak dan gas Rusia. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dipastikan menghadiri pertemuan puncak UE tentang Ukraina pada Kamis (24/3) di Brusels, Belgia. Yang akan memperdebatkan harga energi dan ketahanan pasokannya. "Embargo seperti itu akan berdampak sangat serius kepada pasar energi dunia, dan akan berdampak sangat negatif terhadap ketahanan energi Eropa," ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. Selaku produsen terbesar dunia, Saudi mengingatkan bahwa serangan pemberontak Yaman terhadap fasilitas minyaknya itu akan mengancam langsung pasokan global. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









