Lingkungan Hidup
( 5781 )Ironi Minyak Goreng di Pulau Sawit
Kalimantan merupakan daerah produsen minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, tetapi warganya terimpit kelangkaan minyak goreng di berbagai pelosok, salah satunya masyarakat kampung nelayan Teluk Balikpapan, Kaltim. Tak ada minimarket di sekitar kampung nelayan seperti di Jenebora, Gresik, Kampung Baru, dan Pantai Lango. Mereka harus menyeberangi teluk menuju Kota Balikpapan untuk mencari minyak goreng. Ibu-ibu yang kapal motornya digunakan suami mereka untuk melaut, tak bisa menunggu senja untuk mencari minyak goreng. Mereka harus mengeluarkan Rp 50.000-Rp 60.000 untuk sekali menyeberang teluk selama 20 menit menuju Balikpapan. Tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa karena banyak gerai kehabisan stok minyak goreng.
Titin (40), warga Jenebora, Penajam, Kaltim, pun kesal dengan kelangkaan minyak goreng. Kapal milik perusahaan yang diparkir di dekat tempat nelayan menebar jala kerap merusak alat tangkap tradisional. ”Heran, kok, bisa langka. Padahal, kapal minyak sawit itu setiap hari lewat,” kata Titin (6/3/). Dengan polos ia mengatakan, seharusnya di Kalimantan minyak goreng bisa dijual seperti kacang goreng, murah dan banyak. Kelangkaan juga terjadi di Kalteng. Selin Prescilia (25), ibu rumah tangga di Palangkaraya, harus mengantre 2 jam untuk mendapatkan minyak goreng murah. Ia mengaku membeli minyak goreng eceran dengan harga Rp 46.000 untuk 2 liter. Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, minyak goreng pun susah didapatkan.
Fenomena itu menjadi ironi di tengah besarnya perkebunan sawit di Kalimantan. Berdasarkan Kalbar dalam Angka 2021, luas perkebunan sawit di provinsi itu mencapai 1,9 juta hektar (2020), terluas kedua di Indonesia. Sementara produksinya 4,1 juta ton pada tahun itu.Dari sisi produksi minyak goreng, Kalbar surplus. Direktur Galeri Investasi BEI Universitas Palangka Raya (UPR) Fitria Husnatarina berpendapat, Kalimantan memiliki kapasitas sebagai produsen, tetapi tidak memiliki kapasitas serapan distribusi. Kalimantan dengan rencana pemindahan ibu kota negara, seharusnya mulai disiapkan tak hanya menjadi wilayah produsen, tetapi juga menjadi pasar potensial. (Yoga)
AS Larang Impor Minyak Rusia
Presiden Amreika Serikat (AS) Joe Biden pada Selasa (8/3) mengumumkan larangan impor minyak dari Rusia atas operasi militernya di Ukraina. Larangan ini keluar setelah Partai Demokrat mengancam akan mengeluarkan undang-undang untuk memaksa Biden melakukan hal tersebut meskipun akan berdampak pada lonjakan harga bahan bakar minyak di AS. Data Badan Informasi Energi atau EIA AS menyebutkan bahwa AS pada 2021 mengimpor sekitar 672.000 per barel (bph) minyak mentah dari Rusia. Jumlah itu setara dengan 8% dari total impor AS untuk minyak dan produk turunannya. Sementara sebagian besar impor minyak mentah dan AS berasal dari Kanada, Meksiko, serta Arab Saudi. Sehingga ketergantungan AS terhadap Rusia jauh dibawah kebanyakan negara mitranya di Eropa. Tindakan Presiden Vladirmir Putin telah memprovokasi reaksi keras dari dunia. Sejumlah negara telah menjatuhkan sanksi-sanksi ekonomi terhadap Rusia, para oligarkinya, dan bahkan Putin sendiri. (Yetede)
Belum Ada Pengganti Untuk Memenuhi Pasokan Minyak Rusia
Menurut para analis, meskipun ada pasokan alternatif untuk menggantikan persediaan minyak Rusia, namun tidak akan cukup, atau sulit secara logistik jika AS dan sekutu-sekutunya melarang impor energi Rusia. "Tidak mungkin OPEC+, bahkan gabungan Iran dan Venezuela dapat menutupinya. Yang pasti, hanya beberapa kapasitas Rusia yang bisa diganti," ujar Vandana Hari, pendiri perusahaan intelijen energi Vanda Insight, kepada SNBC pada Selasa (8/3). Alhasil, dilaporkan harga minyak melonjak ke level tertinggi luar biasa, sejak 2008 kendati harganya kemudian turun. Ada juga kekhawatiran bahwa Rusia dapat membalas dengan memangkas pasokan gas alami ke Eropa. Berdasarkan Laporan Badan Energi Internasional (Internasional Energy Agency/IEA), Rusia mengekspor minyak mentah sekitar 5 juta per barel per hari (bph). Dari jumlah itu, ada sekitar 2 juta yang dapat diganti jika anggota OPEC- Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA- secara bersamaan mampu melebarkan kemampuan hingga ke kapasitas maksimum mereka. (Yetede)
Sistem Baru Pengawas DMO Batu Bara
Meroketnya harga batu bara dunia membawa berkah sekaligus potensi persoalan bagi Indonesia. Pakar Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, mengatakan, di satu sisi, kenaikan harga batu bara mengerek penerimaan bagi negara. Di sisi lain, kata dia, potensi ketidakpatuhan pengusaha dalam memenuhi aturan wajib pasok kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO batu bara) semakin tinggi. Pemerintah meluncurkan Sistem Informasi Mineral dan Batu Bara (Simbara), yang mengintegrasikan data produksi stok, hingga ekspor mineral dan batu bara dari hulu hingga hilir. Sistem ini meliputi data perizinan tambang, rencana penjualan, verifikasi penjualan pembayaran penerimaan negara bukan pajak (PNBP), ekpsor, pengangkutan/pengapalan, serta devisa hasil ekspor. Menurut Fahmi, sistem ini seharusnya bisa mendukung pemerintah memperketat pengawasan DMO Batu Bara. (Yetede)
Harga Minyak Mendidih, Harga Produk Siap Naik
Harga minyak mentah di pasar global menembus US$ 120 per barel. Kondisi ini menekan para pebisnis, terutama yang memiliki eksposur BBM dominan terhadap biaya produksi. Mengutip Bloomberg, Selasa (8/3) pukul 21:30 WIB, harga minyak mentah jenis WTI menyentuh US$ 124,38 per barel, sementara harga minyak brent US$ 126,75 per barel. Bersamaan dengan itu, harga BBM nonsubsidi di sejumlah SPBU di Indonesia naik lagi. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang merasakan dampak negatif dari kenaikan harga minyak. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menilai, kenaikan harga minyak mentah bisa menekan kinerja sejumlah sektor industri, salah satunya industri manufaktur.
Apindo menyebutkan, kenaikan harga minyak maupun komoditas energi lainnya juga akan memicu inflasi, terutama jika pelaku usaha menaikkan harga jual produknya akibat peningkatan biaya produksi. Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudistira menilai, inflasi di sektor produsen telah naik 2,74% (qoq) pada kuartal IV-2021. Artinya, para produsen telah merasakan kenaikan biaya produksi sebelum harga minyak melambung seperti sekarang. "Akan tetapi, produsen belum mentransmisikan kenaikan biaya produksi ini kepada harga jual produk di level konsumen," tutur dia.
Geopolitik Panas, Harga Logam Mulia Semakin Hot
Konflik antara Rusia dan Ukraina menjadi berkah bagi investor emas batangan. Harga emas produksi Logam Mulia, anak usaha Aneka Tambang (Antam), kembali ke atas Rp 1 juta. Secara umum, harga logam mulia masih berpotensi menguat, selama konfilk Ukraina dan Rusia belum berakhir. Alwi Assegaf Analis Global Kapital Investama memprediksi harga paladium berpotensi tetap menguat paling tinggi lantaran Rusia merupakan produsen paladium terbesar. Alwi memprediksi paladium bisa mencapai US$ 3.715 per ons troi di akhir tahun nanti. Analis Monex investindo Futures Faisyal juga memprediksi di akhir kuartal I-2022 harga emas berpotensi naik ke US$ 2,050 per ons troi.Meski begitu, Faisyal menyarankan pelaku pasar mencermati potensi pembalikan arah harga logam mulia bila konflik Rusia dan Ukraina selesai. Jika terjadi koreksi, harga emas di akhir tahun berpotensi ke US$ 1.900 per ons troi.
Mengamankan Porsi Batu Bara Domestik
Harga komoditas batu bara yang kembali meroket di pasar internasional seakan menjadi berkah manis bagi negara-negara produsen emas hitam. Per Februari 2022, harga batu bara acuan (HBA) si emas hitam menembus angka US$188,38 per metrik ton. Harga ini tentu saja melesat kencang 18,85% dari perniagaan sebelumnya yang baru mencapai US$158,50 per metrik ton. Tingginya harga batu bara ini tidak dapat dilepaskan dari ketegangan politik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Efek ‘kejut’ berupa invasi pagi hari ke Ukraina seperti yang diperintahkan Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pasokan liquefied natural gas (LNG) ke Eropa terganggu. Berdasarkan peta produsen gas dunia, Rusia masuk peringkat kedua setelah Amerika Serikat sebagai produsen liquefied natural gas (LNG).
Ditilik dari kepemilikan cadangan gas, negeri Beruang Merah menduduki posisi puncak. Berdasarkan data BP Statistical Review on World Energy, Rusia memiliki 38 triliun meter kubik cadangan LNG. Posisi kedua disusul oleh Iran, dan Qatar pada posisi ketiga. Lonjakan harga LNG yang cukup luar biasa ini membuat banyak negara mulai mencari sumber energi lain yakni batu bara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. China, misalnya, mulai mencari batu bara dengan jumlah cukup besar sebagai pengganti bahan bakar LNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri. Upaya China untuk menyerap batu bara tersebut cukup agresif dan tarik menarik dengan upaya serupa yang dilakukan oleh negara-negara di Eropa yang masih menghadapi musim dingin
Harga Jual BBM Terus Dikaji
Harga minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh level 139 USD per barel pada awal pembukaan perdagangan Senin (7/3) kendati kemudian turun ke 125 USD per barel. Lonjakan harga minyak mentah itu kian menekan harga jual BBM di Indonesia. PT Pertamina (Persero) tengah mengkaji kemungkinan kenaikan harga BBM non subsidi di dalam negeri. Pengajar Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Fahmy Radi mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia kian menekan harga BBM dalam negeri. Dampaknya, kenaikan harga jual BBM sulit dihindari. Apabila harga tidak dinaikkan, APBN bakal tertekan lantaran harus menutup selisih harga jual BBM.
Sebelumnya, Pertamina telah 2 kali menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Tak hanya Pertamina, perusahaan swasta sektor ritel BBM di Indonesia pun turut menaikkan harga, seperti Shell Indonesia. Senada dengan Fahmy, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menambahkan, menaikkan harga BBM jenis premium dan solar bersubsidi adalah pilihan yang sulit bagi pemerintah. Pasalnya, kondisi ekonomi yang masih tertekan pandemi belum membuat daya beli masyarakat pulih seutuhnya. Namun, apabila harga kedua jenis BBM bersubsidi itu tidak dinaikkan, APBN kian tertekan. Menurut Pjs Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, pihaknya masih terus memonitor perkembangan harga minyak mentah dunia. Sementara itu, Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea mengatakan, pihaknya memahami kekhawatiran mengenai harga BBM. Berbagai faktor menjadi penentu harga jual BBM Shell di Indonesia. (Yoga)
Politeknik Siapkan SDM Energi Terbarukan
Pemerintah bekerja sama dengan The Swiss State Secretariat for Economic Affairs dalam program Renewable Energy Skills Development (RESD). Melalui program ini, perguruan tinggi vokasi didorong untuk melakukan riset dan inovasi serta mencetak SDM yang dibutuhkan dalam sektor industri energi terbarukan. Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Wikan Sakarinto, Senin (7/3) menjelaskan, program RESD dilakukan dengan membuka program D-4 konsentrasi energi terbarukan di lima politeknik negeri. (Yoga)
Krisis Harga Pangan Global
Indeks harga pangan global mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 2 bulan terakhir dan diprediksi bertahan tinggi beberapa waktu ke depan. Lonjakan harga pangan serta energi yang kian memicu kenaikan inflasi global ini pada akhirnya berpotensi mengerek inflasi di dalam negeri Indonesia yang relatif terkendali sekarang, terutama dengan ketergantungan pada impor untuk komoditas pangan tertentu yang masih tinggi. IMF memprediksi harga energi serta pangan akan bertahan tinggi dalam waktu yang lama. Ancaman inflasi pangan itu harus menjadi perhatian serius dan menuntun ke aksi bersama global karena mengancam penduduk termiskin dunia, terutama Amerika Latin dan Afrika.
Lonjakan harga serta kelangkaan sejumlah komoditas pangan impor di dalam negeri yang berlangsung berbulan-bulan harus diakui juga disebabkan oleh faktor lemahnya mitigasi dan respons kebijakan pemerintah menghadapi tren kenaikan harga pangan global. Menghadapi tekanan inflasi pangan yang mengancam daya beli masyarakat bawah, koordinasi kebijakan pemerintah, BI, dan instansi terkait lain menjadi penting. Karena itu penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan membenahi tata kelola dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, stok, distribusi, hingga harga. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









