Mengamankan Porsi Batu Bara Domestik
Harga komoditas batu bara yang kembali meroket di pasar internasional seakan menjadi berkah manis bagi negara-negara produsen emas hitam. Per Februari 2022, harga batu bara acuan (HBA) si emas hitam menembus angka US$188,38 per metrik ton. Harga ini tentu saja melesat kencang 18,85% dari perniagaan sebelumnya yang baru mencapai US$158,50 per metrik ton. Tingginya harga batu bara ini tidak dapat dilepaskan dari ketegangan politik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Efek ‘kejut’ berupa invasi pagi hari ke Ukraina seperti yang diperintahkan Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pasokan liquefied natural gas (LNG) ke Eropa terganggu. Berdasarkan peta produsen gas dunia, Rusia masuk peringkat kedua setelah Amerika Serikat sebagai produsen liquefied natural gas (LNG).
Ditilik dari kepemilikan cadangan gas, negeri Beruang Merah menduduki posisi puncak. Berdasarkan data BP Statistical Review on World Energy, Rusia memiliki 38 triliun meter kubik cadangan LNG. Posisi kedua disusul oleh Iran, dan Qatar pada posisi ketiga. Lonjakan harga LNG yang cukup luar biasa ini membuat banyak negara mulai mencari sumber energi lain yakni batu bara untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. China, misalnya, mulai mencari batu bara dengan jumlah cukup besar sebagai pengganti bahan bakar LNG untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri. Upaya China untuk menyerap batu bara tersebut cukup agresif dan tarik menarik dengan upaya serupa yang dilakukan oleh negara-negara di Eropa yang masih menghadapi musim dingin
Tags :
#Batu BaraPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023