Melecut Investasi di Sektor Hulu Migas
Pada awal tahun ini, pemerintah menargetkan investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) mencapai US$$17 miliar. Penetapan tersebut tercatat melampaui target pada tahun lalu sebesar US$15,9 miliar. Tentu saja target ini cukup menantang di tengah kondisi sektor hulu migas yang kurang begitu kondusif. Di sisi lain, produksi minyak mentah dalam negeri masih jauh dari harapan. Hal itu dikarenakan lapangan di Indonesia sudah mulai menua sehingga secara alamiah jumlah produksi akan menyusut. Penurunan produksi ini sudah ditahan dengan memanfaatkan teknologi enhanced oil recovery (EOR). Teknologi EOR merupakan salah satu metode pengurasan minyak tingkat lanjut untuk mengoptimalkan produksi sebuah lapangan migas.
Tentu saja masalah itu menambah panjang pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan para pemangku kepentingan. Di tengah kondisi yang sedemikian menantang dan target investasi yang tinggi, bertiup angin segar munculnya komitmen dari Petronas dan BP di tiga dari empat wilayah kerja (WK) yang dilelang oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ketiga WK atau blok migas itu adalah North Ketapang, Agung I, dan Agung II. Pemerintah memang tidak tinggal diam dengan kondisi investasi migas yang stagnan beberapa tahun ini. Beberapa hal di atas menjadi bukti bahwa pemerintah terus berupaya menyelesaikan pekerjaan rumah pemerintah di sektor migas yang terkenal bermodal besar, berteknologi maju, dan berisiko tinggi ini.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023