;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

BAHAN BAKAR NABATI : Antrean Uji Coba B40

24 Jul 2024

Pelaksanaan uji coba di sejumlah sektor tersebut bakal dilakukan setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sukses menggunakan B40 di kereta api. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, uji coba penggunaan B40 di industri pertambangan, alat berat, alat perkapalan, dan pembangkit listrik bakal dilakukan di Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam waktu dekat. Pemerintah pun menyiapkan pasokan Biodiesel B40 sebanyak 16 juta kiloliter untuk menyukseskan rencana tersebut. Dirinya optimistis penggunaan B40 bisa meningkatkan penghematan devisa negara dari pengurangan impor Solar. Selain itu, peningkatan pemakaian biodiesel juga akan makin menurunkan emisi karbon di Indonesia. Pada 2023, penghematan devisa dari penggunaan B35 di sektor otomotif dan non-otomotif mencapai Rp122 triliun. Di kereta api, B40 digunakan oleh Kereta Api Bogowonto relasi Yogyakarta—Pasar Senen untuk menguji ketahanan genset KA Bogowonto selama 1.200 jam. Vice President of Logistics PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Suryawan Putra Hia menyampaikan bahwa pihaknya saat ini menggunakan 300 juta liter bahan bakar B35, dan tidak memengaruhi performa mesin kereta api.

Pemerintah Minta Stok Beras Hasil Panen Raya Jangan Ditahan

23 Jul 2024

Harga beras terus merangkak naik hingga pekan ketiga Juli 2024. Untuk itu, pemerintah meminta para pelaku usaha tidak menahan stok beras hasil panen raya April-Mei 2024. Perum Bulog juga diminta segera menggelar operasi pasar beras terfokus. BPS mencatat, per pekan ketiga Juli 2024, harga rerata nasional beras di tingkat eceran Rp 15.078 per kg, naik 0,27 % dibanding harga rerata beras Juni 2024. Jumlah daerah yang meng alami kenaikan harga beras bertambah menjadi 116 kabupaten / kota atau 32,22 % dari seluruh kabupaten / kota di Indonesia. Padahal, pada akhir Juni 2024, jumlahnya baru 72 kabupaten / kota. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah, Senin (22/7) menjelaskan, setiap Juni dan Juli, harga beras biasanya naik karena neraca produksi-konsumsi beras selalu defisit, lantaran tidak banyak daerah yang panen padi di bulan-bulan tersebut.

”Namun, nanti pada Agustus dan September, produksi beras akan meningkat karena memasuki musim panen padi selanjutnya,” ujarnya dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta. Direktur Pembenihan Hortikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Inti Pertiwi Naswhari juga menjelaskan serupa. Menurut dia, harga beras naik lantaran panen raya padi musim tanam (MT) I pada April-Mei 2024 telah berakhir. Pada Juni-Juli 2024, sebagian besar wilayah di Indonesia baru memasuki awal MT II. ”Kalau ingin harga beras tidak naik, pelaku usaha jangan menahan stok beras hasil panen raya. Keluarkan stok itu. Bulog juga perlu mengeluarkan stok beras untuk menstabilkan harganya,” tutur Inti. (Yoga)


Harga Batu Bara Menyala, Sahamnya Kian Membara

23 Jul 2024

Saham-saham emiten batu bara menunjukkan kinerja impresif dalam satu bulan terakhir, dengan kenaikan  hingga +17%. Harga batu bara global yang berpeluang menanjang di paruh kedua 2024, bakal menjadi tambahan mesin baru bagi kinerja saham emiten produsen emas hitam tersebut. Kalangan analis bahkan menaikkan rating sektor tambang ini menjadi overweight, dengan target harga saham emiten yang cukup menggiurkan. Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan  dan Christian Sitorus meyakini, produsen batu bara akan menaikkan harga jualnya sejalan dengan besarnya biaya penambangan. Dalam catatan BRI Danareksa, biaya penambangan telah naik +14-15% atau US$ 11-20 per ton dalam lima tahun terakhir, terutama didorong oleh peningkatan tarif royalti. (Yetede)

Angan-angan Swasembada Pangan

23 Jul 2024
Pemerintah tak bisa lepas dari ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi pangan lokal semakin mengecil. Hal itu membuat target swasembada yang dicanangkan Presiden Joko Widodo semakin jauh. "Penyebab utama produksi pangan menurun adalah lahan yang semakin terbatas," kata pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori kepada Tempo, Jumat, 19 Januari 2024.

Mengutip data Badan Pertanahan Nasional 2019, dia menuturkan, luas lahan pertanian tercatat 7,46 juta hektare. Lahannya lebih luas dibanding pada 2018 yang sebesar 7,1 juta hektare. Namun, dibanding pada 2016 dan 2017, luas lahan justru menyusut. Pada 2016, luas lahan pertanian mencapai 8,18 juta hektare. Lalu turun menjadi 8,16 juta hektare pada 2017.

Menurut Khudori, perluasan lahan pertanian menjadi kebutuhan mendesak. Potensi lahan yang bisa dimanfaatkan masih besar, terutama untuk lahan rawa dan gambut kering. Lahan tersebut paling banyak berada di luar Pulau Jawa, dengan kesuburan tanah bervariasi, dari level 2 hingga 4. Pemanfaatan lahan tersebut membutuhkan waktu hingga lima tahun agar produktif secara optimal dan stabil. “Pada tahap awal, butuh investasi infrastruktur, ketersediaan air, teknologi, dan yang paling penting kesiapan pemerintah.”

Kebijakan pemerintah di sektor pertanian, kata Khudori, juga memprioritaskan korporasi dibanding para petani. Salah satu contohnya program food estate. Khudori menilai pemerintah berseberangan dengan amanat undang-undang yang menyebutkan sumber daya alam dimanfaatkan sebesar-sebesarnya untuk kemakmuran rakyat. (Yetede)

Petambak Mulai Panen Garam

22 Jul 2024

Petambak terlihat sedang memindahkan garam ke dalam gerobak di Desa Padelegan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Jawa Timur, pada Hari Minggu (21/7/2024). Tambak-tambak garam di kawasan tersebut mulai panen perdana. Saat ini, harga garam masih cukup rendah, yaitu Rp 700.000 per ton, akibat masih banyaknya stok garam panenan musim lalu. (Yoga)

Bisnis Hulu Migas Masih Prospektif

22 Jul 2024
Meski saat ini tengah tren investasi green energy yang mengarah pada energi baru terbaru (EBT), namun bisnis di sektor hulu minyak dan gas (migas) Indonesia diyakini masih prospektif. Hal ini karena Indonesia masih memiliki potensi sumber daya dalam jumlah besar. namun, untuk mengelolanya, dibutuhkan investasi dalam jumlah besar. Karenanya, pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang kondusif, sehingga perusahaan multinasional  bersedia kembali menanamkan investasi di dalam negeri. Industri hulu migas Indonesia pernah berjaya dengan tingkat produksi minyak lebih dari 1 juta barel per hari (bph) dan menjadi anggota negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC). Indonesia tercatat telah dua kali mengalami puncak produksi, yaitu tahun 1977 ketika produksi minyak mencapai 1,685 juta bph dan puncak produksi kedua terjadi tahun 1991 saat produksi minyak kembali pada kisaran 1,669 juta bph. (Yetede)

Pertamina Geotermal Jadi Raja Emiten Panas Bumi

22 Jul 2024
Kompetisi di sektor energi panas bumi (geotermal) di Tanah Air tak lengkap apabila tak menyeret dua pemain besar, yaitu anak usaha. Grup Pertamina PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), serta portofolio energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Parjogi Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Selain BREN yang menjadi favorite pelaku pasar, PGEO juga diunggulkan karena dinilai memiliki pendapatan stabil dan total kapasitas produksi panas bumi terbesar di dunia. Equity Analyst PT OCBC Sekuritas Kevin Jonathan Panjaitan dalam risetnya yang dipublikasikan baru-baru ini menerangkan, alasan menjagokan PGEO di antaranya dilihat dari ambisi PGEO dalam memperkuat kapasitas produksi. Emiten bersandi saham PGEO itu diketahui menargetkan kapasitas produksi mencapai 1,0 GW pada 2026, meningkat dari kapasitas terpasang saat ini sebesar 672 MW. Lalu pada 2023, PGEO juga mengincar kapasitas terpasang bertambah lebih besar menjadi 1,6 GW. (Yetede)

'KUTUL' Beras Impor

22 Jul 2024

Manajemen produksi, rantai pasok, dan tata kelola beras kembali menjadi sorotan. Dugaan manipulasi impor beras yang melibatkan Perum Bulog dengan perusahaan asal Vietnam pun mencuat. Hal ini menandai ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan swasembada pangan. Parahnya lagi, pemangku kebijakan tengah melakukan evaluasi atas ketentuan yang mengatur peta lahan sawah di 8 provinsi, lantaran masih terbatasnya ruang untuk merealisasikan program satu juta rumah. Jika tak ditata dengan bijak, lahan produktif pun bakal kian menyusut. Implikasinya, produksi beras tereduksi dan importasi makin tinggi yang membuka celah adanya 'hengki pengki' oleh oknum-oknum tertentu.

Dilema Berdikari & Impor Beras

22 Jul 2024

Kegiatan impor pangan lagi-lagi jadi sorotan. Kali ini yang dibincangkan publik adalah kasus dugaan korupsi dalam kegiatan impor beras yang bisa mencoreng kredibilitas pemerintah. Hal itu bermula dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menerima laporan yang menyebut dugaan mark-up impor dilakukan terhadap 2,2 juta ton beras dan kerugian negara terkait dengan biaya demurrage di pelabuhan. Kondisi tersebut bisa menurunkan penilaian terhadap rapor pemerintah yang sepanjang tahun ini disibukkan dengan dinamika krisis beras sehingga harus melakukan importasi baik untuk memenuhi cadangan maupun bantuan sosial. Impor, meski acapkali menimbulkan polemik, menjadi andalan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri ketika pasokan beras terbatas. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras terus menurun. Luas panen pun kian susut, demikian pula produktivitas yang stagnan. Dalam 5 tahun terakhir, luas panen di Tanah Air hanya berkisar 10,2 juta hektare (ha) dan angka produksi pun terus turun tersisa 53,9 juta ton. Lahan memang menjadi salah satu masalah. Penyusutan lahan sawah memang telah menjadi dilema. Satu sisi, pemerintah membutuhkan area yang luas untuk memenuhi program sejuta rumah guna mengatasi backlog perumahan yang mencapai 10 juta unit. Di sisi lain, lahan yang luas juga diperlukan untuk menjaga produktivitas sawah dan ketersediaan pangan. Saat ini rata-rata luas tanam hanya 500.000 ha per bulan. Importasi dilakukan bertahap. Sampai dengan Juni 2024, Bulog sudah menjalankan 5 tahap importasi dengan jumlah sekitar 300.000 ton beras dalam setiap tahap. Artinya, sepanjang semester I/2024 Bulog mengimpor sekitar 1,5 juta ton beras. Dalam prosesnya, bobot impor dipecah dalam 10—12 lot di kisaran 25.000—30.000 ton di setiap tahap dan disebar ke 26 pelabuhan penerima. Kongkalikong dan ketidakjelasan diduga masih terjadi dalam praktik impor beras terutama dari besaran fee dari perusahaan asing yang ditugaskan melakukan ekspor, dan biaya atau denda demurrage atau batas waktu pemakaian peti kemas di dalam pelabuhan. Idealnya, pemerintah harus lebih cermat dalam mendesain impor dengan menekan risiko dalam konteks penyalahgunaan wewenang maupun manipulasi harga.

Bisnis Kelola Sampah Bantu Ketahanan Pangan

19 Jul 2024

Indonesia menjadi pasar potensial bisnis pengelolaan sampah. Selain karena banyaknya sampah yang belum terkelola dengan baik, teknologi pengolahan sampah mampu menghasilkan banyak nilai tambah, termasuk bagi industri peternakan dan perikanan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK melaporkan, jumlah timbulan sampah yang dihasilkan dari seluruh wilayah Indonesia mencapai 35,83 jutaton pada 2022. Dimana 13,39 juta ton atau 37,37 % belum terkelola. Masih banyaknya sampah yang belum dikelola menjadi peluang bagi bisnis pengelolaan sampah. Ketua II Asosiasi Black Soldier Fly (BSF) Indonesia, sebuah asosiasi pegiat larva lalat tentara hitam, Markus Susanto di sela-sela acara Festival Ekonomi Sirkular, di Jakarta, Rabu (17/7) menyebut bahwa peluang usaha yang menarik saat ini adalah pengelolaan sampah organik dengan teknologi larva lalat tentara hitam (black soldierfly) atau maggot.

Potensi bisnis pengolahan sampah dengan maggot sangat besar karena sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia berjenis organik, terutama dari sisa makanan. Berdasar data SIPSN KLHK, volumenya 40,7 % dari total timbulan sampah se-Indonesia. Pengolahan sampah oleh maggot menghasilkan beragam manfaat. Tak hanya mengurai sampah menjadi komponen pupuk tanaman, maggot yang dibudidaya dengan sampah juga bisa menjadi sumber pakan bagi hewan. ”Hampir semua TPA di Indonesia bermasalah dan potensi maggot yang besar belum dimanfaatkan. Di sisi lain, Indonesia butuh 20 juta ton pakan ternak dan 12 juta ton pakan ikan, tapi sebagian besar bahan bakunya impor. Indonesia juga masih menyubsidi pupuk Rp 40 triliun pada 2024. Jadi, bayangkan kalau ini semua disinergikan secara holistik, Indonesia akan menjadi salah satu negara produsen protein terbesar di dunia,” ungkap Markus. Implementasi ini telah diterapkan, termasuk di perusahaan pengolahan sampah yang Markus kelola, PT Maggot Indonesia Lestari. (Yoga)