;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5781 )

Perbenihan Padi Unggul dan Risiko Swasembada Beras

25 Jun 2024

Benih padi penentu atas keberhasilan swasembada beras. Ironisnya, di tengah tingginya ancaman iklim ekstrem dan pemanasan global, riset terkait varietas unggul baru (VUB) padi justru nyaris terhenti tiga tahun terakhir. BRIN sebagai lembaga penelitian yang berwenang belum berbuat banyak untuk itu. Peneliti, termasuk pemulia tanaman, di BRIN disibukkan mengejar tulisan untuk publikasi internasional yang harus terbit satu naskah setiap tahun. Jika tak mampu, ancamannya banyak dan bermuara ke pemangkasan tunjangan. Perbenihan padi, seperti perbenihan serealia yang lain, tak dapat terpisahkan dari pemulia tanaman, yang ditopang oleh lembaga penelitiannya, yang menyediakan infrastruktur yang memadai. Mereka harus dibuat senyaman mungkin bekerja sebagai pemulia karena kerja mereka tanpa henti. Jika ada yang berhenti, misalnya karena purnatugas, harus ada penerus yang ikut aktif sebagai pemulia minimal 4-5 tahun bersama menekuni bidang yang sama.

Prof (riset) Sumarno, salah seorang pemulia tanaman dari APPERTANI, mengatakan, penelitian perbenihan berbeda dengan penelitian agronomi, sosial ekonomi, atau lainnya. Penelitian itu harus dilakukan terus-menerus tanpa putus waktu, dalam jangka panjang. Pemuliaan padi telah dilakukan tak putus-putus sejak zaman Belanda, awal kemerdekaan, zaman Pelita, zaman reformasi, dan sekarang. Ironisnya, pekerjaan itu berhenti atau setidaknya redup sejak beralih ke BRIN. Pemerintah baru yang akan segera dilantik sebaiknya memikir ulang perbenihan padi. Jangan dibiarkan petani bergantung pada benih padi abal-abal danrisiko tinggi pencapaian swasembada. Salah satu solusi lebih cepat adalah para pemulia tanaman yang masih ada di BBPSI Padi difungsikan secara optimum sebagai perekayasa Varietas Unggul Benih padi. Dengan dukungan dana publik yang mencukupi, pemanfaatan infrastruktur pendukung pemulia tanaman bisa dioptimalkan. Jangan gara-gara pisah lembaga membuat infrastruktur pemuliaan tanaman padi yang ”telah kuat” jadi mubazir. (Yoga)


Impor Beras Jadi 5,17 Juta Ton

25 Jun 2024

Pemerintah berencana mengimpor 5,15 juta ton beras pada tahun ini untuk menambal penurunan produksi beras yang diperkirakan cukup signifikan. Kuota impor beras itu bertambah dari yang sebelumnya ditetapkan pemerintah sebesar 3,6 juta ton. Merujuk pada Proyeksi Neraca Pangan Nasional Januari-Desember 2024 yang dimutakhirkan pada Mei 2024, Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy mengatakan, realisasi impor beras Januari-April 2024 sebanyak 1,77 juta ton. Pada Mei-Desember 2024, pemerintah melalui Perum Bulog berencana mengimpor 3,4 juta ton beras berdasarkan hasil Rakor terbatas. ”Jadi, total beras yang akan diimpor tahun ini sebanyak 5,17 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 3,6 juta ton telah diterbitkan surat persetujuan impornya,” ujarnya dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (24/6).

Tahun lalu, pemerintah menetapkan kuota impor beras untuk tahun ini sebanyak 2 juta ton. Pada Februari 2024, kuota impor itu ditambah 1,6 juta ton menjadi 3,6 juta ton. Kemudian pada Mei 2024, rencana impor beras itu bertambah menjadi 5,17 juta ton. Edhy juga menyebutkan, jumlah stok beras sampai akhir 2024 diperkirakan sebanyak 9,6 juta ton. Stok itu dapat dipenuhi jika produksi beras nasional mencapai 31,5 juta ton dan rencana impor 5,17 juta ton beras itu terealisasi semua. Target produksi beras sebanyak 31,5 juta ton itu belum memperhitungkan potensi terjadinya banjir, kekeringan, dan serangan hama penyakit. Kendati begitu, total produksi beras pada tahun ini berpotensi turun cukup signifikan. (Yoga)


Beras Semakin Haus Air

24 Jun 2024

Dalam lima tahun ke depan, suhu bumi berpotensi mencapai rekor terpanas. Akankah padi atau beras semakin haus air? Kerisauan peralihan pemanasan menjadi pendidihan global dinyatakan Sekjen PBB Antonio Guterres pada 28 Juli 2023. Dalam lima tahun ke depan, suhu global bisa melebihi ambang batas 1,5 derajat celsius di atas tingkat praindustri, di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Nyaris setahun kemudian, yakni pada 14 Juni 2024, Presiden Jokowi menggaungkan kembali kerisauan Guterres. Jokowi menyebut kenaikan suhu bumi membuat dunia sedang menuju neraka iklim. ”Hati-hati, satu tahun terakhir ini kita rasakan betul adanya gelombang panas, periode terpanas. Di India bahkan sampai 50 derajat, di Myanmar 45,8 derajat, panas sekali,” ujarnya dalam Rakornas Pengendalian Inflasi 2024.

Merujuk proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Presiden juga menyatakan, 50 juta petani di dunia akan kekurangan air. Jika tidak berbuat apa-apa, dunia bisa mengalami kekurangan pangan dan kelaparan. Di Indonesia, kemarau panjang akibat El Nino pada 2023 telah mengikis produksi beras nasional sebanyak 0,44 juta ton. Pada 2024, Indonesia berpotensi kekurangan beras 3,8 juta ton dari sebelumnya diperkirakan kurang 5 juta ton. Kementan menjelaskan, hal itu terjadi lantaran dampak El Nino tahun lalu berlanjut hingga tahun ini. Luas tanam padi pada Oktober 2023-April 2024 seluas 6,55 juta hektar, turun 36,9 % atau 3,83 juta hektar jika dibanding rerata luas tanam periode 2015-2019 yang mencapai 10,39 juta hektar. Peningkatan kebutuhan pangan dan air akan berjalan beriringan dengan perubahan iklim.

Dalam laporannya bertajuk ”Ending Groundwater Overdraft without Affecting Food Security” yang rilis pada 14 Juni 2024, Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) memperkirakan permintaan tanaman pangan secara global akan meningkat 40 % dan khusus beras 11 % pada 2020 ke 2050. Begitu juga dengan permintaan terhadap air. Dalam periode tersebut, kebutuhan air secara global diperkirakan meningkat 17 %, khusus sektor pertanian 12 %. IFPRI menyarankan penggunaan sumber air tanah diminimalisasi agar tidak terjadi degradasi air dan tanah. Cara lain yang bisa dilakukan dengan mengelola air hujan, mengembangkan benih unggul sesuai kondisi geografis dan curah hujan, teknologi pengairan terukur, dan budidaya pangan organik. (Yoga)


Sudarmaji, Panggilan Pemulia Benih Padi

24 Jun 2024

Gagal panen yang kerap melanda petani di kampungnya membuat Sudarmaji (45) menjadi pemulia benih padi. Setelah menyilangkan puluhan jenis padi dan menyeleksi ratusan galur, dia berhasil menemukan dua benih yang tahan kekeringan dan berumur pendek. ”Saya mulai menyilangkan padi setelah mengikuti pelatihan pemuliaan tanaman tahun 2017,” kata Sudarmaji, di rumahnya di Dusun Besuki, Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jatim, Sabtu (15/6). Pelatihan itu mendatangkan Haji Masroni, pemulia benih senior dari Indramayu, yang aktif di Asosiasi Bank Benih Teknologi Tani Indonesia (AB2TI). Setelah kematian nenek yang membesarkannya sampai SMP, Sudarmaji meninggalkan kampungnya dan tinggal serta belajar di pondok pesantren di Sidoarjo dan Malang, Jatim. Ia kemudian menikah dan tinggal di Magetan menjadi tukang bangunan. Sesekali dia pulang kampung ke Bojonegoro, di mana dia kerap mendengar keluh kesah petani yang gagal panen, terutama disebabkan kekeringan dan serangan hama.

Hingga tahun 2014 dia membangun rumah sendiri di Besuki. ”Saat itu saya mulai belajar bertani sambil sesekali bekerja di bangunan. Saya juga kerap tanya sama petani lain tentang kesulitan mereka, salah satunya adalah soal benih,” katanya. Sawah warisan nenek seluas 1.700 meter persegi mulai digarapnya, Sudarmaji juga lebih serius mencari benih padi unggul. Pada 2017 dia mendapat informasi pelatihan pemuliaan padi AB2TI di Ponorogo. Dia segera mendaftar dan mengikuti pelatihan bersama 30 petani dari Jateng dan Jatim. Sepulang pelatihan, dia mengumpulkan informasi benih padi yang dibutuhkan petani. ”Saya bertanya kepada petani lain, bahkan pada tengkulak, padi seperti apa yang baik, enak, dan laku dijual,” katanya. Daftar itu ditulisnya dan dijadikan panduan dalam pemuliaan benih padi, diberi judul ”Benih Idaman”, Sudarmaji menyebut beberapa kriteria, di antaranya umur genjah, batang kokok, agak tahan jamur, tahan cekaman air, rasa nasi pulen, bulir panjang, dan beragam kriteria ideal lain.

Dia membuat laboratorium kecil di samping rumahnya, untuk menyemai benih-benih padi hasil persilangan, lalu ditanam di sawah warisan dimana sebagian ditanam benih padi lain untuk konsumsi keluarga. Padi hasil persilangan pertama, disebut benih F1, tak dikonsumsi, tapi untuk benih berikutnya. Benih F1 disilangkan hingga stabil, sampai16 kali persilangan atau F16 sebelum diuji multilokasi dan uji laboratorium sebelum bisa dipatenkan dan dilepaskan. ”Saya menyilangkan hingga mendapat 600 galur, lalu diseleksi menjadi 40 galur,” katanya. Untuk biaya perawatan dan kebutuhan keluarga, Sudarmaji menyewa lahan kakaknya dan ditanami tomat, bawang merah, dan jagung. Dia menyimpan sebagian benih padi di dapurnya. ”Benih yang bisa diselamatkan dan nunggu giliran disemai saya simpan di kulkas. Namun, ini membuat istri marah-marah, katanya, Menjadi pemulia benih padi tak menjanjikan secara ekonomi. Selain waktu untuk pemuliaan yang panjang dan kerap menuai kegagalan, saat berhasil menemukan benih unggul pun belum tentu bisa menghasilkan keuntungan ekonomi, kecuali pemerintah, terutama pemda, mau membeli benih tersebut sebagai bagian dari program untuk didistribusikan ke petani lain.

Kini, mimpi Sudarmaji mendekati kenyataan. Dengan bantuan Tani Center IPB University dan Gerakan Petani Nusantara, dua galur padi hasil pemuliaan Sudarmaji telah diuji laboratorium dan uji multilokasi. Dua benih hasil persilangan Ciherang dan IR-64, yang diberi nama Dramaga 1 dan Dramaga 2, itu dianggap memenuhi syarat benih unggul dan didaftarkan ke Komisi Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) untuk mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Dramaga 2, dinyatakan lolos dan direkomendikasikan PVT ke Kementan untuk pelepasan. Benih ini memiliki karakteristik umur pendek, malai banyak, nasi pulen, cukup tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) 1 dan 2, tahan tungro dan penyakit hawar daun bakteri (HDB), serta cocok tumbuh di lahan tadah hujan di ketinggian 0-600 meter. ”Saya selalu percaya benih yang paling cocok jika dihasilkan dari pemuliaan di lingkungan sendiri karena sudah beradaptasi dengan kondisi setempat. Jadi, saya bekerja ini sebenarnya untuk petani-petani di Bojonegoro. Soal ganjarannya, saya ikhlas, nanti pasti ada yang membalas,” katanya (Yoga)


Emiten Batubara Masih Merana

24 Jun 2024

Prospek kinerja emiten sektor batubara diperkirakan masih akan lesu seiring harga batubara yang masih relatif datar. Emiten batubara dengan kemampuan efisiensi lebih baik akan jadi pilihan menarik lantaran dinilai paling bisa menahan potensi koreksi kinerja. Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan mengatakan, lesunya kinerja emiten sektor batubara di kuartal pertama tahun ini karena harga jual rata-rata cenderung bergerak turun. Di sepanjang tahun 2024, harga patokan batubara Newcastle relatif stabil rata-rata di level US$ 128 per ton. Harga batubara memang sempat ke level US$ 150 per ton, tetapi saat ini sudah melandai lagi ke US$ 130 per ton. Peningkatan sementara tersebut kemungkinan besar didorong oleh kekhawatiran terhadap kondisi cuaca buruk, khususnya gelombang panas yang melanda Asia Tenggara. Di sisi lain, walau permintaan China tidak sekencang tahun lalu, namun bukan berarti China mengurangi ekspornya terhadap batubara Indonesia. Permintaan dari India juga cukup baik.

Serta, Vietnam juga perlu menjadi sorotan karena adanya kenaikan permintaan. Namun demikian, Rizkia menilai bahwa harga batubara kemungkinan tidak akan melompat lagi, kecuali adanya eskalasi perang yang bisa meningkatkan harga komoditas energi. Oleh karena itu, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan harga batubara global akan cenderung datar di kisaran US$ 126 per ton untuk tahun 2024. Dari sisi produksi, Rizkia melihat, volume produksi emiten batubara mungkin akan meningkat pada kuartal kedua dan kuartal ketiga. Selama tiga tahun terakhir, produksi batubara Indonesia mencapai puncaknya pada periode kedua dan kedua kuartal ketiga karena kondisi cuaca kering yang menguntungkan bagi para penambang. Tahun ini diperkirakan pola tersebut masih akan berlanjut. Dus, ia menilai wajar pergerakan saham ADRO tetap positif dibanding saham emiten batubara lainnya seperti PTBA, ITMG, HRUM. Sebab, ASP batubara ADRO tetap solid secara tahunan walaupun cukup mendatar secara kuartalan di kuartal I-2024.

Di samping itu, ADRO merupakan yang paling baik dalam efisiensi biaya daripada emiten-emiten besar lainnya. Dari sisi penetapan biaya, beban pokok pendapatan pada kuartal pertama turun 17% secara kuartalan menjadi US$ 815 juta. Terutama didukung oleh tarif royalti yang lebih rendah seiring dengan rendahnya harga jual rata-rata dan harga batubara acuan (HBA). Selain itu, biaya tunai turun 33% secara kuartalan menjadi US$ 51,6 per ton. Analis Indo Premier Sekuritas Reggie Parengkuan memaparkan, kinerja ADRO telah melewati konsensus karena biaya tunai berada di bawah ekspektasi seiring rasio pengupasan tanah yang lebih rendah. Dalam riset 20 Mei 2024 Reggie memperkirakan, pencapaian pendapatan emiten batubara akan terus beragam pada kuartal mendatang. Berkaca pada hasil kuartal pertama 2024, ADRO akan terus mengungguli perusahaan batubara lainnya.

Bazar Sembako Jaga Inflasi DKI

21 Jun 2024

Kegiatan bazar sembako murah di Jakarta rutin digencarkan untuk memenuhi ketersediaan pangan murah bagi warga Jakarta. Selain bazar, pada 20-21 Juni digelar pula Jakarta Food Festival. Kedua program ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menjaga inflasi. Kamis (20/6) Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono meninjau Bazar UMKM Pasar Jaya di Kantor Pusat Perumda Pasar Jaya, Cikini, Jakpus. Kegiatan ini diinisiasi BUMD Perumda Pasar Jaya untuk memperingati HUT Ke-497 Jakarta. Mulai dari bahan pokok murah, makanan, pakaian, aksesori, hingga perlengkapan sekolah dijual di bazar. Terdapat 1.000
paket sembako seharga Rp 100.000 per paket. Paket ini terdiri dari beras premium 5 kg, tepung terigu 1 kg, minyak goreng 2 liter, dan gula pasir 1 kg. Disediakan pula cabai merah keriting dan cabai rawit merah. 

Heru mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mempertahankan laju inflasi. Ia berharap kegiatan ini dapat menstabilkan ekonomi di wilayah Jakarta, termasuk menstabilkan  harga bahan pokok. ”Dalam rangka menyambut ulang tahun Jakarta serta bentuk upaya menjaga inflasi agar terkendali, Pemprov DKI Jakarta melalui rekan-rekan BUMD menyelenggarakan serangkaian acara bazar pangan murah. Kali ini, Pasar Jaya mengadakan sembako murah melalui bazar UMKM agar bisa menjangkau masyarakat,” tutur Heru. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta telah  memberikan tugas kepada dinas terkait untuk berupaya dalam menstabilkan ekonomi di wilayah Jakarta. ”Banyak tugas yang diberikan oleh Pemda DKI Jakarta kepada Food Station, Pasar Jaya, dan Dharma Jaya untuk menjaga stabilitas ekonomi, menjaga stabilitas harga, di wilayah Jakarta,” ucapnya. (Yoga)

Bahlil, Merauke, & Percepatan Swasembada Gula

21 Jun 2024

Melalui Kep pres 15/2024 tentang Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, Presiden Jokowi menunjuk Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satgas. Satgas adalah lembaga adhoc. Pembentukan satgas dimaksudkan untuk mengambilalih tugas-tugas yang melekat pada kementerian/lembaga (K/L). Keberadaan satgas, dengan demikian, adalah pengakuan K/L yang tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) mengurusi industri gula tidak berfungsi sebagaimana mestinya.Penunjukan Bahlil tentu bukan tanpa alasan. Selama jadi menteri, Bahlil terbukti sebagai salah satu die hard Jokowi. Bahlil selalu tampil sebagai pembela terdepan tatkala ada kebijakan pemerintah yang dinilai melawan nalar publik. Dengan sikapnya itu, di satu sisi, Bahlil potensial menjadi musuh publik. Di sisi lain, ia juga jadi ujung tombak Presiden untuk mengeksekusi kebijakan-kebijakan yang telah ditentang publik. Sebagai politikus Golkar, Bahlil teruji melakoni dua sisi itu. Berbeda dengan pejabat profesional. 

Penunjukan Bahlil sebagai Ketua Satgas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol di Merauke mesti dibaca dari dua aspek. Pertama, mengefektifkan eksekusi. Saat satgas dibentuk, usia pemerintahan Jokowi tinggal 5 bulan. Dengan kepiawaiannya, Bahlil diharapkan fokus pada eksekusi. Kedua, menghindari kegagalan berulang. Seperti dimaklumi, pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Merauke ‘ditabalkan’ sebagai lumbung pangan. Lewat proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate pada 2010, Merauke diproyeksikan jadi pusat produksi jagung, tebu, dan kayu sebagai pangan dan energi. Belasan investor masuk, tapi 3—4 tahun kemudian tutup operasi. Tiada tersisa. Di Keputusan Menko Perekonomian No. 418/2023 tentang Peta Jalan Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol Sebagai Biofuel 2024—2030 ditulis ada potensi lahan 2 juta ha yang cocok untuk tebu. Semua di luar Papua. Benar, Merauke dan Papua ditulis daerah yang cocok untuk tebu. Tapi tidak disebutkan luasannya. Merujuk laporan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (2010), 500.000 ha dari total areal 711.071 ha yang sesuai industri gula di luar Jawa ada di Papua. Dari 500.000 ha, 220.000 ha ada di Merauke. Kesesuaian lahan adalah hal dasar. Jika lahan tak sesuai, potensi gagal besar. 

Elevasi Merauke datar. Iklimnya, terutama di Malind, Kurik, Jagebob, Muting, dan Okaba cocok buat tebu. Ini ditandai perbedaan musim hujan dan kering yang tegas. Bahkan, bulan kering di Merauke lebih lama sebulan dari Lampung, sentra produsen tebu dan pabrik gula terpenting di luar Jawa. Ini menguntungkan karena periode panen dan giling lebih lama. Agar tidak berulang, Bahlil dengan Satgas perlu memeriksa penyebab kegagalan MIFEE di masa lalu. Dari belasan investor, ada 5 korporasi swasta yang mengantongi izin menanam tebu dan membangun pabrik gula di Merauke, yaitu Rajawali Corpora, Medco, Wilmar, Hardaya, dan Astra Agro. Tatkala hutan dibuka untuk tebu, ekosistem pun terganggu. Chilo yang kehilangan inang lalu menyerang tebu, yang kandungan gulanya 100 kali dari gelagah. Tujuh varietas tebu ludes. Kala kebun pabrik gula Bungamayang dibuka di Lampung, tebu diserang walang dan gulma rayutan (Ipomoea triloba). Serangan menurun kala luas kebun bertambah. Konsep keseimbangan ekosistem ini mesti diterapkan di Merauke. Tantangan berikutnya adalah potensi konflik dengan masyarakat. Saat MIFEE bergulir, hampir semua korporasi berkonflik dengan masyarakat adat. Baik karena batas tanah maupun jumlah kompensasi. Bukan hanya izin formal dari birokrasi, restu warga mesti dikantongi korporasi.

KONTRAK KERJA SAMA MIGAS : Skema Cost Recovery Kembali Diminati

21 Jun 2024

Sejumlah perusahaan minyak dan gas bumi atau migas berbondong-bondong mengajukan perubahan kontrak kerja sama dari semula gross split menjadi cost recovery. Keekonomian proyek menjadi alasan yang paling banyak diajukan dalam permohonan tersebut. Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan bahwa skema kontrak cost recovery memang cenderung lebih menarik untuk diadopsi oleh kontraktor kontrak kerja sama atau KKKS ketimbang gross split. Alasannya, dalam skema gross split, biaya operasi hulu migas nantinya bakal dipulihkan oleh negara, sehingga risiko eksplorasi dan pengembangan lapangan migas bisa ditekan oleh KKKS. Untuk diketahui, gross split mulai diperkenalkan di Indonesia pada 2017, dan diproyeksi bisa menggantikan cost recovery yang sudah diberlakukan sejak 1960-an. Penggunaan gross split juga didorong oleh kekhawatiran terhadap tingginya cost recovery yang harus dikeluarkan pemerintah. 

Perbedaan mendasar antara skema gross split dan cost recovery adalah biaya operasi yang pada gross split menjadi tanggung jawab kontraktor, sedangkan biaya operasi dari skema cost recovery menjadi tanggungan pemerintah. Hanya saja, gross split biasanya memberikan bagian hasil produksi yang lebih besar kepada kontraktor dibandingkan dengan cost recovery. Adapun, praktisi industri hulu migas Hadi Ismoyo menerangkan bahwa pengajuan peralihan kontrak kerja sama oleh KKKS disebabkan oleh skema gross split yang cenderung menyulitkan perusahaan dalam menyusun rencana pengembangan lapangan migas. Untuk diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifi n Tasrif kembali menyetujui permohonan perubahan skema kontrak bagi hasil dari gross split menjadi cost recovery. Kali ini, empat blok migas garapan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bakal kembali menggunakan cost recovery. 

Keempat lapangan migas itu adalah Blok Offshore Southeast Sumatra (OSES), Offshore North West Java (ONWJ), Attaka, dan Tuban East Java. Persetujuan migrasi kontrak itu pun akhirnya turut mengerek perkiraan anggaran cost recovery pada tahun depan. Kementerian ESDM minta tambahan anggaran pengembalian operasi hulu migas US$8,5 miliar—US$8,7 miliar ke DPR. Hingga April 2024, realisasi cost recovery telah mencapai US$2,12 miliar atau 25,7% total anggaran dari keseluruhan anggaran cost recovery yang disiapkan tahun ini sebanyak US$8,25 miliar. Sementara itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meminta agar bagian negara tidak berkurang selepas empat blok migas garapan PHE kembali menggunakan cost recovery. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto meminta penerimaan negara meningkat seiring dengan pengembalian kontrak bagi hasil menjadi cost recovery atau pengembalian biaya operasi hulu migas untuk sejumlah blok migas PHE. Di sisi lain, Tjip turut meminta PHE untuk menyelesaikan komitmen kerja pasti atau KKP yang telah tertuang dalam pengembangan blok migas tersebut.

BAHAN BAKU BATERAI EV : Produk Turunan Nikel Bebas Bea Keluar

21 Jun 2024

Pengusaha industri pengolahan dan pemurnian nikel bisa bernapas lega setelah pemerintah memastikan tidak bakal mengenakan bea keluar untuk komoditas bahan baku baterai kendaraan listrik turunan dari bijih nikel yang diolah di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pihaknya telah sepakat dengan sejumlah negara lain untuk membebaskan bea keluar bahan baku baterai kendaraan listrik. Hal itu dilakukan untuk menjamin pasar ekspor turunan nikel di tengah tren proteksi dagang dunia saat ini. Dia menjelaskan, pemerintah memang tidak berpikir untuk menerapkan bea keluar untuk produk antara dan turunan lanjutan dari bahan baku baterai tersebut. Pasalnya, pemerintah awalnya hanya mengincar penambahan nilai dari produk mentah dan multiplier effect yang dihasilkan. 

Belakangan, kata Luhut, sejumlah negara tengah intens untuk menjajaki kemungkinan kerja sama rantai pasok dan investasi turunan nikel dengan Indonesia. Sementara itu, Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso mengatakan, sejumlah negara belakangan mengangkat kampanye negatif soal tata kelola tambang nikel di Indonesia. Kampanye negatif soal nikel itu disebabkan oleh keberhasilan penghiliran bijih nikel untuk industri baterai di dalam negeri. “Khususnya nikel yang membuat negara lain merasa terancam, maka negative campaign seperti dirty nickel yang diusung negara lain terhadap produk nikel Indonesia dikenakan tarif, agar tidak kompetitif,” katanya.

Penurunan Nilai Ekspor Batubara dan CPO Diganjal Komoditas Lain

20 Jun 2024

Neraca perdagangan Indonesia masih surplus di tengah perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama dan gejolak nilai tukar rupiah. Penurunan permintaan serta harga komoditas batubara dan minyak sawit juga mampu disubstitusi dengan sejumlah komoditas lain. BPS, Rabu (19/6) merilis, neraca perdagangan migas dan nonmigas Indonesia pada Mei 2024 surplus 2,93 miliar USD. Capaian itu membuat Indonesia mencatatkan surplus dagang selama 49 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Hal itu tidak lepas dari kinerja ekspor migas dan nonmigas yang tumbuh 13,82 % secara bulanan dan 2,86 % secara tahunan menjadi 22,33 miliar USD. Adapun impornya senilai 19,4 miliar USD atau naik 14,82 % secara bulanan dan turun 8,83 % secara tahunan.

Peningkatan nilai ekspor pada Mei 2024 tersebut terutama didorong peningkatan ekspor nonmigas. Secara umum, kinerja ekspor itu masih didominasi tiga komoditas utama, yakni bahan bakar mineral, termasuk batubara; lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk CPO dan produk turunan; serta besi dan baja. Namun, pertumbuhan nilai ekspor tertinggi justru terjadi pada komoditas selain tiga komoditas ekspor utama itu. Sejumlah komoditas itu adalah alas kaki yang tumbuh 33,82 % secara bulanan; kendaraan dan bagiannya 26,8 %; nikel dan produk turunan 26,77 %; mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya; serta bijih logam,terak, dan abu 25,5 %.