Lingkungan Hidup
( 5820 )INDUSTRI GAS BUMI : Conrad Salurkan 124 Bcf Gas untuk PGN
Conrad Asia Energy Ltd. mengalokasikan lebih dari 124 miliar kaki kubik (Bcf) gas untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN dari Blok Duyung, Lapangan Mako. Alokasi gas yang cukup besar itu menjadi bagian dari kewajiban pasok dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) yang tertuang dalam revisi rencana pengembangan Blok Duyung, Lapangan Mako. Lewat kesepakatan itu, PGN rencananya bakal mendapat gas murah dengan harga US$5,5 per million british thermal unit (MMBtu). Sementara itu, kewajiban untuk membangun pipa transmisi dari Pipa West Natuna Transmission System (WNTS) ke pembeli di Batam bakal dibebankan ke PGN. “Beberapa perjanjian ini adalah dokumen penting yang menunjukkan kelayakan finansial dari proyek Mako, yang pada gilirannya mendukung nilai dan keberlanjutan finansial proyek,” kata Managing Director dan CEO Conrad Miltos Xynogalas, dikutip Selasa (30/7).
“Perjanjian jual beli gas dengan PGN untuk porsi domestik menjadi langkah penting bagi Conrad dalam upaya komersialisasi lapangan gas dan bisnis kami di Indonesia,” kata dia. Sementara itu, sisa gas yang tidak tersalur untuk PGN bakal dijual untuk SembCorp Gas Pte Ltd., perusahaan pembangkit Singapura. Conrad sebelumnya melaporkan total volume penjualan gas dari Blok Duyung mencapai 293 triliun british thermal unit (Tbtu) dengan potensi penambahan mencapai ke level 392 Tbtu.
Hilirisasi Nikel Yang Membuat Warga Lokal Menjerit
Investasi Serap US$ 618 miliar
Kenaikan Harga Minyakita Sudah di Atas Toleransi
Kenaikan harga Minyakita yang merupakan bagian dari program Minyak Goreng Rakyat dinilai sudah di atas toleransi. Di sejumlah daerah, distributor bahkan sengaja menaikkan harganya di atas harga eceran tertinggi atau HET Minyakita baru yang belum diberlakukan secara resmi. Kenaikan itu terjadi lantaran regulasi baru tentang kewajiban memasok kebutuhan domestik (DMO) dan HET minyak goreng rakyat belum terbit. Saat ini pelaku usaha tengah menunggu peraturan tersebut. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (29/7). Rapat yang dipimpin Irjen Kemendari Tomsi Tohir Balaw itu dihadiri perwakilan pemda serta kementerian dan lembaga yang bergerak di sektor pangan.
Kemendag mencatat, harga rerata nasional Minyakita per 28 Juli 2024 senilai Rp 16.278 per liter, naik 0,71 % dalam sepekan dan 7,8 % sejak awal Januari 2024. Harga minyak untuk rakyat itu sudah 16,27 persen di atas HET Minyakita yang berlaku saat ini, yakni Rp 14.000 per liter. Tomsi mengatakan, kenaikan harga Minyakita tidak bisa hanya dilihat dari kenaikannya setiap pekan. Namun, kenaikan harganya juga perlu dibandingkan dengan HET yang sedang berlaku. Saat ini, harga rerata Minyakita jauh di atas HET Minyakita senilai Rp 14.000 per liter. Bahkan, harga minyak itu lebih tinggi ketimbangHET Minyakita baru, Rp 15.700per liter, yang belum diberlakukan secara resmi.
”Aturan tetap aturan. Kalau mau toleransi harga sembari menunggu terbitnya regulasi baru, boleh-boleh saja. Namun, jangan sampai toleransi harga itu kebablasan di atas HET baru yang belum ditetapkan,” ujarnya. Untuk itu, Tomsi meminta agar Tim Pengendalian Inflasi Daerah mengecek kembali pihak yang menjual Minyakita di atas HET. Hal itu mulai dari gudang, stok, distribusi, hingga pembentukan harganya. Satuan Tugas Pangan juga diminta menegakkan aturan yang berlaku saat ini. Di sisi lain, Kemendag diharapkan mengajak dialog para pelaku usaha terkait agar mereka tetap memenuhi kewajiban dan tidak mematok harga Minyakita terlalu tinggi. (Yoga)
Harga Bawang Putih Normal
Buruh lepas tampak sedang beristirahat di sela-sela membongkar bawang putih impor yang baru tiba di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, Minggu (28/7/2024). Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional, harga bawang putih impor tetap bertahan stabil di kisaran Rp 40.000 per kilogram. (Yoga)
Petani Cemaskan Penurunan Harga Kopi Robusta
Baru saja menikmati lonjakan harga, petani di Sumsel kini dibayangi kecemasan karena harga kopi robusta yang berangsur turun dalam sepekan terakhir. Tidak sedikit petani buru-buru menjual stok kopi yang disimpannya karena takut harga terus merosot. ”Seminggu terakhir, harga kopi anjlok. Banyak petani yang kena prank (tipu) isu harga bakal terus naik. Sekarang, harga kopi justru turun di kisaran Rp 2.000-Rp 5.000 per kg,” ujar petani kopi asal Sindang Danau, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumsel, Setia Budi (38) Senin (29/7).
Budi mengatakan, sejak Senin (22/7), harga biji kopi robusta dari petik buah asalan turun dari Rp 70.000-Rp 71.000 per kg menjadi Rp 68.000 per kg. Selanjutnya, harga terus turun Rp 1.000-Rp 1.500 per kg setiap hari hingga sekarang berada di angka Rp 63.000 per kg. ”Terakhir kali harga kopi Rp 63.000 per kg terjadi pada akhir April sampai Mei lalu,” katanya. Banyak petani kecewa dengan penurunan harga itu. Sebab, tak sedikit petani menyimpan hasil panen atau tak langsung menjualnya saat harga kopi Rp 70.000 per kg.
Mereka telanjur percaya spekulasi bahwa harga akan terus naik hingga di atas Rp 80.000 per kg. Namun, kini yang terjadi justru sebaliknya. Harga bukannya terus naik, melainkan merosot. Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang mereka himpun, penurunan harga itu karena gudang besar di Bakauheni, Lampung, penuh dan masih menunggu pengiriman ke negara-negara tujuan ekspor. Basis harga di Lampung turun, tetapi tidak signifikan. ”Jadi, ada kemungkinan penurunan harga drastis di tingkat petani karena ada permainan tengkulak. Mereka coba mengambil kesempatan di tengah basis harga yang sedang turun,” ujarnya. (Yoga)
Pelajaran dari Harga Kopi
Kenaikan harga kopi robusta seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal. Petani harus sejahtera dan ekosistem kopi dalam negeri makin kuat. Tren kenaikan permintaan kopi dunia dan merosotnya pasokan diprediksi membuat harga kopi robusta bertahan tinggi. Mengacu laporan Organisasi Kopi Internasional (ICO) tahun 2024, permintaan kopi global diperkirakan terus tumbuh dengan laju 2,0 % dan 2,5 % setiap tahun. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan standar hidup menjadi salah satu pendorong pertumbuhan konsumsi kopi di masa depan. Adapun mayoritas lonjakan konsumsi kopi dunia diprediksi dari negara berkembang.
Kemungkinan pengurangan lahan yang cocok untuk kopi hingga 50 % pada 2050 bakal menjadi ekses paling ekstrem akibat perubahan iklim. Tantangan lain adalah volatilitas harga akibat berkurangnya pasokan dan kenaikan biaya produksi (Kompas.id, 27/7/2024). Petani kopi robusta Indonesia seharusnya menikmati masa-masa bahagia karena harga kopi terus naik. Tapi, akibat anomali rantai pasok, mereka tak bisa merasakan dampak positif lonjakan harga itu. Mereka mungkin saja terjebak dalam sistem ijon dan rantai perdagangan yang merugikan. Pada saat-saat mendatang, perubahan iklim harus mendapat perhatian lebih serius. Para peneliti perlu didorong agar bisa mencermati dampak perubahan iklim pada pertanian kopi.
Lembaga penelitian perlu menghasilkan varietas yang bisa beradaptasi dengan perubahan iklim. Para petani harus menyiapkan diri dengan perubahan iklim. Mereka perlu berinvestasi guna kelangsungan pertanian kopi dalam jangka panjang. Kenaikan harga saat ini harus bisa memperbaiki ekosistem kopi dari hulu hingga hilir. Petani kopi harus mendapatkan manfaat dari kenaikan ini sekaligus memperbaiki dan menyiapkan pertanian kopi kita di masa depan. Kejadian ini juga menjadi pelajaran berharga untuk peneliti, kalangan bisnis, pemerintah, dan lain-lain agar bisa memanfaatkan peluang sekaligus membuat antisipasi jika keadaan berubah. Tak selamanya kenaikan harga terus terjadi. (Yoga)
DAYA SAING HULU MIGAS : AJAK CHINA KE TIMUR INDONESIA
Beragam upaya dilakukan pemerintah untuk mengungkit daya tarik industri hulu minyak dan gas bumi atau migas nasional. Potensi Indonesia bagian timur pun terus dikemukakan agar ‘pesonanya’ makin memancar. Setidaknya ada dua perusahaan migas asal China yang memastikan bakal melakukan joint study di Indonesia bagian timur. Nantinya, kedua perusahaan itu bakal fokus melakukan eksplorasi wilayah yang selama ini belum tergarap optimal. Sinopec Group dan Petrochina diklaim bakal melakukan joint study di area Buton dan Timor yang telah ditetapkan sebagai area joint study sejak bulan lalu. Kedua wilayah tersebut menjadi bagian dari lima area yang belakang terus ditawarkan oleh pemerintah kepada sejumlah investor. Bila mengutip data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Indonesia memiliki 128 cekungan. Dari jumlah tersebut, baru 20 cekungan yang sudah berproduksi.
Delapan cekungan lainnya sudah dilakukan pengeboran, tapi belum berproduksi. Ada juga 19 cekungan yang diindikasikan menyimpan cadangan hidrokarbon; 13 cekungan yang sudah dibor, tetapi tidak ditemukan cadangan; serta 68 cekungan yang belum dibor. Sebanyak 68 cekungan yang belum pernah dibor itulah yang kebanyakan ada di Indonesia bagian timur, laut selatan Indonesia, dan bagian paling utara Tanah Air. “Setelah nanti joint study selesai, selanjutnya penawaran langsung wilayah kerja migas, penetapan pemenangnya, dan kegiatan eksplorasi migas,” kata Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Kementerian ESDM Ariana Soemanto beberapa waktu lalu. Kedatangan investor asal Negeri Panda menjadi ‘penyegar’ bagi industri hulu migas nasional, karena belum ada perusahaan yang serius meminati Wilayah Kerja Akimeugah I dan II yang ada di Cekungan Warim, salah satu kawasan yang diklaim memiliki potensi hidrokarbon besar di Indonesia bagian timur.
Putar Otak Warung Kopi di Tengah Pesta Petani
Diprediksi harga kopi tetap tinggi hingga tiga tahun ke depan. Pemilik warung kopi menjaga bisnisnya dengan menaikkan harga secangkir kopi, subsidi silang dari produk nonkopi, dan beralih ke kopi impor. Furqan Alfadhli (35) menyambut hangat para tamu di tengah dinginnya cuaca pegunungan kawasan Besemah Serasan, Kecamatan Pagar Alam Selatan, Sumsel, Rabu (3/7/2024) malam. Pemilik Warung Zaks Coffee by Kopi Ngobrol itu tak panik meski biji beras (greenbean) kopi premium telah menembus Rp 100.000-Rp 120.000 per kg, meningkat tiga kali lipat dibanding tahun lalu.
Ia telah mengantisipasi sejak harga kopi mulai merangkak naik, dengan menaikkan harga jual produk minumannya 10-20 % dalam dua bulan terakhir. Dia berkomunikasi dengan para pemilik warung kopi lainnya di Pagar Alam. Kenaikan harga disepakati bersama-sama. ”Demi kelangsungan usaha, harga produk minuman kami tak mungkin tak naik. Kalau tak naik, kami bisa gulung tikar,” ujar Furqan yang kini menjual produk minumannya Rp 10.000-Rp 25.000 per cangkir. Sejauh ini, tingkat penjualan Zaks Coffee tetap stabil di kisaran 10-15 gelas per hari. Untuk ukuran warung kopi di Pagar Alam, itu sudah baik. Di sana, hampir semua warga punya kebun kopi sendiri sehingga budaya yang berkembang adalah ngopi di rumah.
”Bahkan, ada anekdot, ngapain beli kopi di warung kalau bisa ngopi gratis di rumah,” kata pengusaha warung kopi sejak 2016 itu. Terkait pasokan bahan baku, menurut dia, tidak ada masalah karena para pemilik warung kopi punya rekanan petani masing-masing. Tinggal pemilik warung saja mau segera membeli atau tidak. Penyuplai kopi sekaligus pemilik Warung Pempek dan Kopi (Peko) di kawasan Bangun Jaya, Kecamatan Pagar Alam Utara, Iwan Ridwan (43) tengah menghadapi dilema. Seiring berkurangnya stok kopi dan harus membeli bahan baku berharga tinggi, Iwan sempat dua kali menaikkan harga jual produknya 20-30 % sebulan terakhir.
Paling tidak, kopi robusta bubuk dari petik buah asalan naik dari Rp 90.000-Rp 100.000 per kg menjadi Rp 120.000 per kg sebulan lalu dan naik lagi menjadi Rp 140.000 per kg sepekan terakhir. Produk itu kebanyakan disuplai kepada penjual selanjutnya (reseller) di Palembang, Jakarta, dan Bekasi. Akibatnya penjualan kopi bubuk merosot 50 kg dari biasanya 100 kg-150 kg per bulan, karena menghilangnya pembeli yang mengisi warung kopi untuk segmentasi konsumen menengah ke bawah. Tak sedikit pembeli beralih pada kopi campur jagung yang harganya jauh lebih murah. ”Mereka rela menurunkan kualitas bahan baku ketimbang harus kehilangan konsumen,” ujar Iwan. (Yoga)
Supriyono, Guru Lapangan Para Petani Kopi
Sembilan tahun terakhir, Supriyono (48) bergiat mengajak petani untuk merawat kebun kopi. Selama puluhan tahun, sebagian besar petani masih menggunakan cara lama dalam budidaya kopi. Mayoritas petani tidak merawat kebunnya dengan serius. Mereka membiarkan saja kebun kopinya tanpa diberi pupuk dan dibersihkan. Produksi kopi robusta petani di Lampung, pernah merosot tajam dari di atas 1 ton per hektar menjadi hanya 300-400 kg per hektar akibat musim yang kian tak menentu. Jika terus dibiarkan, petani kopi sulit menggapai sejahtera. Jangankan ditabung, uang hasil panen kopi pun tak cukup untuk biaya hidup hingga musim panen berikutnya. Supriyono yang diberi tanggung jawab mengurus kebun kopi orangtuanya merasa senasib dengan ribuan petani kopi di Lampung.
Pria lulusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu mempelajari budidaya kopi dan memilih menjadi petani. Supriyono mengikuti berbagai pelatihan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Ia juga menimba ilmu budidaya kopi dari Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar. Dari situ Supriyono memahami bahwa perawatan kebun yang baik menjadi kunci utama mendongkrak produksi kopi. Perawatan tanaman kopi, mulai dari pemupukan, pemangkasan, hingga peremajaan tanaman kopi harus benar-benar diperhatikan. Dalam setahun, pemupukan tanaman kopi setidaknya harus dilakukan tiga kali, yakni saat fase sebelum berbunga, fase setelah berbunga, dan fase pengisian buah, yang menentukan banyak sedikitnya jumlah buah ceri kopi yang akan dihasilkan.
Supriyono menghitung agar tiap hektar kebun kopinya menghasilkan 2 ton biji kopi (green bean). Ia merancang agar setiap tanaman kopi setidaknya mempunyai 18 ranting produktif. Supriyono juga bereksperimen menambah populasi tanaman kopi di kebunnya. Jika petani kopi umumnya menanam 2.000-2.500 batang tanaman kopi di lahan seluas 1 hektar, dia mencoba sistem pagar dengan meningkatkan populasi tanaman kopi menjadi 4.000 batang per hektar. Dengan pola tanam intensitas tinggi tersebut, 1 hektar lahan kopi bisa menghasilkan 3-4 ton biji kopi. Supriyono yang tinggal di Kelurahan Sekincau, Lampung Barat, juga mengembangkan budidaya kopi arabika, karena tempat tinggalnya berada di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Letak geografis wilayah itu mendukung pengembangan kebun kopi arabika yang jumlahnya masih sedikit di Lampung.
Setelah sukses mempraktikkan ilmu dan memberi contoh nyata kepada petani lainnya, ia membuat komunitas Kopista Indonesia pada 2015. Saat ini, ada sekitar 250 petani kopi di Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan beberapa daerah di Bengkulu yang bergabung. Lewat komunitas tersebut, Supriyono berbagi ilmu secara sukarela dengan para petani tentang budidaya kopi. Ia mengubah pola pikir para petani kopi untuk berani menargetkan hasil panen minimal 2 ton per hektar. Dengan produksi minimal 2 ton dan harga green bean kopi minimal Rp 30.000 per kg, petani setidaknya memiliki pendapatan Rp 60 juta per hektar per tahun dari hasil panen kopi. Apabila dikurangi biaya operasional perawatan kebun, 40 dari hasil panen, petani mendapatkan pendapatan bersih Rp 36 juta.
Supriyono pun menjadi guru lapangan bagi para petani kopi. Hampir setiap pekan, ia berkeliling ke kebun-kebun petani demi memberikan ilmu tentang budidaya kopi. Ia mengajari dengan cara praktik langsung cara manajemen kebun kopi dengan yang baik. Semua itu ia lakukan tanpa bayaran sepeser pun. Ia juga membuka jejaring antara petani dan beberapa perusahaan eksportir kopi. Petani dibina untuk melakukan pengolahan pascapanen dengan baik agar harga jual green bean bisa lebih tinggi. Di saat harga kopi robusta melonjak mencapai Rp 70.000 per kg seperti sekarang, para petani kopi yang rajin merawat kebunnya pun kelimpahan rezeki. Jerih payah Supriyono mengajari para petani terbayar petani-petani binaannya tersenyum bahagia. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









