;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Pertamax Naik Lagi

14 Aug 2024
PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax dari sebelumnya Rp 12.950 menjadi Rp 13.700 per liter. Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis RON 92 itu mulai berlaku pada Sabtu, 10 Agustus 2024, di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina di Provinsi Aceh, Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.  Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, menuturkan kenaikan harga Pertamax mengacu pada tren harga acuan minyak mentah atau Indonesian Crude Price (ICP). Harga rata-rata minyak mentah Indonesia pada Juli 2024 meningkat sebesar US$ 2,68 per barel menjadi US$ 82 per barel. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan ICP Juli 2024 dibarengi dengan peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional. Musababnya, ketegangan di Timur Tengah masih berlanjut, seperti serangan-serangan di Laut Merah. Bergantungnya Indonesia pada impor minyak membuat kenaikan harga minyak global sangat mempengaruhi harga di dalam negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini juga turut menjadi pertimbangan Pertamina menaikkan harga Pertamax. "Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga Pertamax dan masih paling kompetitif untuk BBM RON 92 di Indonesia," ujar Heppy dalam keterangan resmi, Sabtu, 10 Agustus 2024. (Yetede)

Lima Ketahanan Pangan Indonesia

13 Aug 2024
Indonesia memiliki potensi besar mencapai ketahanan pangan, asalkan pemerintah saat ini dan pemerintah mendatang mau serius membenahi sejumlah permasalahan pertanian. Setidaknya ada lima kunci membangun pertahanan pangan, yakni kesejahteraan petani, optimalisasi lahan, mengatasi fenomena iklim, keluar dari stagnasi produksi, dan membasmi hama. Selain itu, pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan anggaran pangan dengan titik berat pada peningkatan  produksi ketimbang impor  demi menciptakan ketahanan pangan. Tahun lalu, berdasarkan data BPS, impor beras mencapai 3 juta ton senilai US$ 1,7 miliar atau Rp 27 triliun, naik dari tahun sebelumnya US$ 143 juta. Mayoritas impor beras dilakukan oleh Bulog deegan dana APBN untuk program bantuan pangan. (Yetede)

Pulihnya Harga Batu Bara

13 Aug 2024
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berpeluang membalikkan kinerja yang kurang menggembirakan pada paruh pertama 2024, seiring ekpektasi pulihnya harga batu bara di semester dua ini.  Pada September sampai Desember 2024, harga batu bara Newcastle diperkirakan naik di US$ 150,50-154,90 per ton, dibandingkan harga rata-rata Juli-Agustus 2024 yang sebesar US$ 138,75 per ton. Peluang emas itu tampaknya tidak akan di sa-siakan ADRO dan PTA untuk biaya mengejar pertumbuhan lebih baik dalam enam bulan terkahir 2024. "Kedua emiten batu bara papan atas ini mengaku akan tetap fokus untuk mempertajam keunggulan operasional dan responsif terhadap perubahan kondisi global di sisa tahun ini. Terlebih, mengingat kinerja keduanya di semester I-2024 yang kurang memuaskan. Laba Adaro pada tahun lalu terpangkas 34,16% secara yoy menjadi US$ 1,64 miliar, begitupun dengan laba OTBA yang longsor 51,42% menjadi Rp6,1 triliun. (Yetede)

Biomassa Sebagai Pengganti Batu Bara di PLTU.

13 Aug 2024
HUTAN alam seluas 420 ribu hektare bakal dibabat dan disulap menjadi hutan tanaman energi akasia serta eukaliptus. Area yang 1,3 kali lipat luas daratan dan perairan Ibu Kota Nusantara yang mencapai 324.332 hektare tersebut merupakan lahan yang disiapkan pemerintah untuk memproduksi pelet kayu. Jutaan ton pelet kayu itu digunakan untuk bahan bakar biomassa sebagai pengganti batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Luasan deforestasi terencana tersebut kami hitung hanya dari 31 izin hutan tanaman energi (HTE) yang diberikan pemerintah untuk menyuplai wood pellet ke PLTU co-firing,” kata Manajer Komunikasi Forest Watch Indonesia Anggi Putra Prayoga kepada Tempo, Senin, 12 Agustus 2024. Ia memperkirakan luas konsesi tanaman energi jauh lebih besar untuk memenuhi kebutuhan 8-14 juta ton pelet kayu per tahun.

Menurut Anggi, pemerintah memiliki target 23 persen bauran energi PLTU batu bara dengan energi terbarukan alias co-firing. Tujuannya adalah mengurangi penggunaan energi fosil sebagai upaya menekan emisi gas rumah kaca. Biomassa yang berasal dari sekam padi, kernel sawit, serbuk gergaji, pelet kayu, dan serpihan kayu itu dipilih sebagai salah satu energi terbarukan. (Yetede)

Pembengkakan Biaya Kilang Pertamina

13 Aug 2024
LEBIH dari setengah jam Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif berkeliling di kawasan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur pada Ahad siang, 11 Agustus 2024. Sudah setahun tak mengecek langsung ke kilang Pertamina ini, dia girang melihat konstruksi fasilitas baru sudah berdiri. Pertamina menyatakan progresnya sudah 91,6 persen dari target. 

Namun, di balik kemajuan itu, proyek revitalisasi kilang Pertamina ini masih menyimpan masalah. "Ada hal yang harus diselesaikan antara pemilik proyek dan kontraktor," ujarnya.  Enggan menjelaskan secara spesifik, Arifin mengatakan tantangannya berkaitan dengan biaya proyek yang bertambah. Wabah pandemi Covid-19 hingga perang Rusia dan Ukraina menjadi pemicu kenaikan ongkos proyek yang seharusnya rampung pada 2021 ini. Dalam kesepakatan final investasinya, proyek ini bernilai US$ 7,5 miliar.

Pembengkakan biaya ini mulai terdeteksi sejak 2022. Sumber Tempo yang terlibat dalam proyek RDMP Balikpapan menyatakan ada kenaikan ongkos US$ 1,2 miliar per 2022. Menurut dia, konsorsium kontraktor yang, salah satunya, terdiri atas Hyundai Engineering Co Ltd mengklaim tambahan biaya akibat aktivitas konstruksi terhambat pembatasan kegiatan selama masa pandemi berlangsung. Kontraktor juga harus menanggung kenaikan ongkos sewa peralatan dan pengiriman barang dari luar negeri. (Yetede)

Kekeringan Berpotensi Menyebabkan Penurunan Produksi Beras

13 Aug 2024
PRESIDEN Joko Widodo alias Jokowi mengatakan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog masih cukup untuk memenuhi konsumsi domestik. "Mencapai 1,7 juta ton," ujarnya saat mendatangi Pasar Beringin Buntok, Kalimantan Tengah, Kamis, 27 Juni lalu. Meski begitu, Presiden mewanti-wanti ancaman kekeringan yang berpotensi terjadi pada Juli hingga Oktober tahun ini. Menurut Jokowi, kekeringan berpotensi menyebabkan penurunan produksi beras. Dia meminta Kementerian Pertanian menambah bantuan pompa air hingga 70 ribu unit sebagai sarana mitigasi kekeringan dan untuk mencegah kegagalan panen. Apalagi, Jokowi melanjutkan, saat ini harga beras di seluruh dunia mulai mengalami kenaikan akibat gelombang kekeringan.

Kekhawatiran itu cukup beralasan. Sebab, menurut perkiraan Badan Pusat Statistik, produksi beras pada 2024 berpotensi turun hingga 2 juta ton. Berdasarkan Kerangka Sampel Area BPS, produksi beras pada Januari-Juni 2024 sebesar 16,43 juta ton. Sedangkan di periode yang sama pada 2023, angka produksi beras mencapai 18,63 juta ton. Dengan demikian, terjadi penurunan jumlah produksi sebesar 2,2 juta ton dibanding produksi tahun lalu.  

Penurunan jumlah produksi itu berimbas kenaikan harga beras di sejumlah daerah. Pelaksana tugas Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan jumlah kota dan kabupaten yang mengalami kenaikan harga beras pada akhir Juni 2024 bertambah menjadi 63. Namun secara nasional harga beras menurun 0,95 persen dibanding pada Mei 2024.  Kementerian Pertanian tak menampik fakta bahwa produksi beras di dalam negeri terus menyusut. Untuk mengatasi hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku sudah memaksimalkan penggunaan pompa di sentra produksi supaya produksi gabah tetap maksimal meski pada musim kemarau. (Yetede)

Menggali Potensi Sektor Energi Terbarukan

13 Aug 2024

Kinerja emiten sektor bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) masih dibayangi sejumlah tantangan. Emiten sektor EBT hanya mampu mencetak kenaikan laba tipis, dibarengi pendapatan yang menurun. Tengok saja PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten EBT dengan kapitalisasi pasar terbesar. Pendapatan BREN turun 2,32% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi US$ 290,07 juta di enam bulan pertama 2024. Emiten dari grup konglomerasi milik Prajogo Pangestu ini mengerek keuntungan meski minimalis. Laba bersih BREN tumbuh tipis 0,53% yoy menjadi US$ 57,95 juta. Analyst Stocknow.id, Dinda Resty Angira menilai, kinerja emiten EBT pada separuh pertama tahun ini tak terlepas dari pengaruh makro ekonomi dan tantangan global. Dinda mengamati, penurunan pendapatan emiten EBT terjadi akibat harga jual dan volume penjualan yang melandai. Di sisi lain, peningkatan laba bersih menunjukkan sebagian emiten mampu melakukan efisiensi operasional. Research Analyst Phintraco Sekuritasi, Aditya Prayoga turut melihat emiten EBT masih punya ruang yang besar untuk bertumbuh. Terutama untuk jangka yang lebih panjang, dengan dorongan dari komitmen pemerintah menggenjot bauran EBT dalam pembangkit listrik nasional. 

Salah satu segmen EBT yang memiliki potensi pengembangan besar adalah panas bumi. Pemerintah juga telah menetapkan target ambisius guna membantu mencapai tujuan Nol Emisi pada tahun 2060. Sedangkan PGEO mempunyai PER 16,17 kali, ARKO 52,43 kali dan KEEN 8,02 kali. Kalkukasi Dinda, rata-rata PER pada industri dan sektor energi terbarukan berada di level 74,44 kali. Dus, secara valuasi saham BREN tergolong overvalued. Dinda menyarankan investor mencermati posisi valuasi emiten sembari mempertimbangkan potensi pertumbuhan bisnis.Dinda pun menilai saham PGEO dan ARKO layak untuk dikoleksi.

Impor Beras Bulog Berlanjut

13 Aug 2024

Produksi beras nasional 2024 diperkirakan susut 3,8 juta-4 juta ton dari target 32 juta ton. Untuk menambal kekurangan tersebut, Perum Bulog melanjutkan impor beras. Bulog juga diminta Bapanas menambah serapan gabah atau beras dalam negeri sebanyak 600.000 ton. Walau ada potensi produksi beras pada Agustus-September 2024 sebanyak 5,66 juta ton, produksi beras tahun ini tetap lebih rendah dibanding tahun lalu. Merujuk hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi BPS, potensi produksi beras nasional pada Januari-September 2024 sebanyak 24,37 juta ton.

Produksi itu diperkirakan turun 1,78 juta ton atau 6,81 % dibanding realisasi produksi beras Januari-September 2023, di 26,15 juta ton. Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Epi Sulandari, Senin (12/8) mengatakan, stok beras Bulog per 9 Agustus 2024 sebanyak 1,45 juta ton. Stok tersebut terdiri dari cadangan beras pemerintah (CBP) 1,37 juta ton dan komersial sebanyak 79.962 ton. Selama ini, stok beras Bulog digunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan Bantuan Beras bagi 22 juta keluarga berpenghasilan rendah.

Agar program-program itu dapat berjalan hingga akhir tahun 2024 dan Bulog tetap memiliki CBP di awal tahun depan, stok beras harus terus dijaga. ”Upaya menjaga stok beras itu dilakukan melalui impor dan pengadaan beras dalam negeri. Untuk pengadaan beras dalam negeri, Bapanas telah menugaskan kami menambah stok beras sebanyak 600.000 ton,” ujarnya dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta. (Yoga)


Ketahanan Pangan Menjadi Kunci Ketahanan Indonesia

12 Aug 2024

Ketahanan pangan menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045. Hal ini berkaitan erat dengan aspek kuantitas maupun kualitas, terjangkau, dan merata di seluruh wilayah, sehingga kebutuhan pangan terpenuhi dan masyarakat dapat hidup sehat, aktif, dan produktif. Namun, untuk mencapai ketahanan pangan terdapat sejumlah tantangan dan kendala,  baik dari dalam maupun luar negeri, salah satunya adalah keterbatasan lahan dan adanya climate change. UN No 18 Tahun 2012 tentangan Pangan mengamanatkan ketahanan pangan yang berdaulat dan mandiri.

Untuk menuju ketahanan pangan yang demikian, pangan-pangan yang digunakan Indonesia harus bersumber dari lokal. Namun data menunjukkan, impor pangan Indonesia cukup besar, mulai dari beras, kedelai, gandum, bahkan kacang hijau. Berdasarkan Proyeksi Neraca Beras Nasional 2024 yang dimutakhirkan pada Mei 2024, Indonesia berpotensi mengimpor  beras hingga 5,17 juta ton sepanjang tahun 2024. Realisasi impor beras pada januari-April 2024 telah mencapai 1,77 juta ton, dan rencana impor pada Mei-Desember 2024 sebesar 3,40 juta ton. (Yetede)

Agenda Transisi Energi Mengabaikan Pemerintah Daerah

10 Aug 2024
TRANSISI energi terus menjadi topik panas di tengah upaya dunia meredam laju perubahan iklim akibat peningkatan suhu bumi. Indonesia termasuk negara yang paling disorot. Laporan terbaru Energy Institute yang dipublikasikan pada akhir Juni 2024 menempatkan Indonesia di peringkat kesembilan dalam daftar negara dengan konsumsi bahan bakar fosil terbesar di dunia. Hingga 2023, konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia ditaksir mencapai 2.514 terawatt-jam (TWh), terbesar kelima di Asia setelah Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan.  

Pemerintah sebenarnya telah berkomitmen mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC), pemerintah menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor energi sebesar 12,5 persen secara mandiri dan 15,5 persen dengan dukungan internasional. Konsumsi bahan bakar fosil secara bertahap akan digantikan energi terbarukan yang rendah emisi.

Terlepas dari implementasinya yang masih jauh dari targetnya, komitmen transisi energi tersebut juga membawa konsekuensi di tingkat tapak. Transisi akan berdampak pada ekonomi daerah, terutama yang selama ini bergantung pada pertambangan dan pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU batu bara. Transisi energi juga akan mendorong pencarian sumber-sumber energi baru, yang erat kaitan dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat lokal. (Yetede)