Lingkungan Hidup
( 5781 )Kekeringan Berpotensi Menyebabkan Penurunan Produksi Beras
Menggali Potensi Sektor Energi Terbarukan
Kinerja emiten sektor bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) masih dibayangi sejumlah tantangan. Emiten sektor EBT hanya mampu mencetak kenaikan laba tipis, dibarengi pendapatan yang menurun. Tengok saja PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten EBT dengan kapitalisasi pasar terbesar. Pendapatan BREN turun 2,32% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi US$ 290,07 juta di enam bulan pertama 2024. Emiten dari grup konglomerasi milik Prajogo Pangestu ini mengerek keuntungan meski minimalis. Laba bersih BREN tumbuh tipis 0,53% yoy menjadi US$ 57,95 juta. Analyst Stocknow.id, Dinda Resty Angira menilai, kinerja emiten EBT pada separuh pertama tahun ini tak terlepas dari pengaruh makro ekonomi dan tantangan global. Dinda mengamati, penurunan pendapatan emiten EBT terjadi akibat harga jual dan volume penjualan yang melandai. Di sisi lain, peningkatan laba bersih menunjukkan sebagian emiten mampu melakukan efisiensi operasional. Research Analyst Phintraco Sekuritasi, Aditya Prayoga turut melihat emiten EBT masih punya ruang yang besar untuk bertumbuh. Terutama untuk jangka yang lebih panjang, dengan dorongan dari komitmen pemerintah menggenjot bauran EBT dalam pembangkit listrik nasional.
Salah satu segmen EBT yang memiliki potensi pengembangan besar adalah panas bumi. Pemerintah juga telah menetapkan target ambisius guna membantu mencapai tujuan Nol Emisi pada tahun 2060.
Sedangkan PGEO mempunyai PER 16,17 kali, ARKO 52,43 kali dan KEEN 8,02 kali. Kalkukasi Dinda, rata-rata PER pada industri dan sektor energi terbarukan berada di level 74,44 kali. Dus, secara valuasi saham BREN tergolong
overvalued.
Dinda menyarankan investor mencermati posisi valuasi emiten sembari mempertimbangkan potensi pertumbuhan bisnis.Dinda pun menilai saham PGEO dan ARKO layak untuk dikoleksi.
Impor Beras Bulog Berlanjut
Produksi beras nasional 2024 diperkirakan susut 3,8 juta-4 juta ton dari target 32 juta ton. Untuk menambal kekurangan tersebut, Perum Bulog melanjutkan impor beras. Bulog juga diminta Bapanas menambah serapan gabah atau beras dalam negeri sebanyak 600.000 ton. Walau ada potensi produksi beras pada Agustus-September 2024 sebanyak 5,66 juta ton, produksi beras tahun ini tetap lebih rendah dibanding tahun lalu. Merujuk hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi BPS, potensi produksi beras nasional pada Januari-September 2024 sebanyak 24,37 juta ton.
Produksi itu diperkirakan turun 1,78 juta ton atau 6,81 % dibanding realisasi produksi beras Januari-September 2023, di 26,15 juta ton. Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Epi Sulandari, Senin (12/8) mengatakan, stok beras Bulog per 9 Agustus 2024 sebanyak 1,45 juta ton. Stok tersebut terdiri dari cadangan beras pemerintah (CBP) 1,37 juta ton dan komersial sebanyak 79.962 ton. Selama ini, stok beras Bulog digunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan Bantuan Beras bagi 22 juta keluarga berpenghasilan rendah.
Agar program-program itu dapat berjalan hingga akhir tahun 2024 dan Bulog tetap memiliki CBP di awal tahun depan, stok beras harus terus dijaga. ”Upaya menjaga stok beras itu dilakukan melalui impor dan pengadaan beras dalam negeri. Untuk pengadaan beras dalam negeri, Bapanas telah menugaskan kami menambah stok beras sebanyak 600.000 ton,” ujarnya dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta. (Yoga)
Ketahanan Pangan Menjadi Kunci Ketahanan Indonesia
Ketahanan pangan menjadi kunci bagi Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045. Hal ini berkaitan erat dengan aspek kuantitas maupun kualitas, terjangkau, dan merata di seluruh wilayah, sehingga kebutuhan pangan terpenuhi dan masyarakat dapat hidup sehat, aktif, dan produktif. Namun, untuk mencapai ketahanan pangan terdapat sejumlah tantangan dan kendala, baik dari dalam maupun luar negeri, salah satunya adalah keterbatasan lahan dan adanya climate change. UN No 18 Tahun 2012 tentangan Pangan mengamanatkan ketahanan pangan yang berdaulat dan mandiri.
Untuk menuju ketahanan pangan yang demikian, pangan-pangan yang digunakan Indonesia harus bersumber dari lokal. Namun data menunjukkan, impor pangan Indonesia cukup besar, mulai dari beras, kedelai, gandum, bahkan kacang hijau. Berdasarkan Proyeksi Neraca Beras Nasional 2024 yang dimutakhirkan pada Mei 2024, Indonesia berpotensi mengimpor beras hingga 5,17 juta ton sepanjang tahun 2024. Realisasi impor beras pada januari-April 2024 telah mencapai 1,77 juta ton, dan rencana impor pada Mei-Desember 2024 sebesar 3,40 juta ton. (Yetede)
Agenda Transisi Energi Mengabaikan Pemerintah Daerah
Industri Penggilingan Padi
Ribuan penggilingan padi skala kecil (PPK) mati karena kalah bersaing. Begitu laporan investigasi Kompas di wilayah produsen padi di Jawa dan luar Jawa (Kompas, 12/6/2024). Mereka kalah bersaing dengan penggilingan padi skala besar (PPB), tidak hanya dalam perebutan bahan baku gabah, tetapi juga dalam pemasaran beras. PPB menguasai modal, teknologi, serta pasar beras kualitas tinggi. Di pihak lain, kebijakan pemerintah (pusat dan daerah) tak banyak berubah dalam 50 tahun terakhir, sebatas menambah jumlah PPK, tanpa mempertimbangkan kelebihan kapasitas giling, ketersediaan gabah, serta dampaknya terhadap kehilangan hasil dan kualitas beras.
BPS (2020) melaporkan, jumlah PPK mengambil porsi 95 % dari total 170.000 usaha penggilingan padi (PP), sementara porsi PPB hanya 0,6 %. Secara keseluruhan, jumlah PPK berkurang sekitar 10.000 unit dibanding data BPS tahun 2012. Dalam periode yang sama, separuh atau 1.000 unit PPB tutup usaha, karena ketersediaan gabah yang terus berkurang, kelebihan kapasitas giling, serta kebijakan harga eceran tertinggi (HET) yang memasung industri PP. Dalam dua dekade terakhir, preferensi konsumen beras banyak berubah. Penelitian Perhepi (2017) memperlihatkan, Pertama, tempat pembelian beras yang semula dilakukan di pasar tradisional beralih ke pasar modern (minimarket, supermarket dan hypermarket), beras curah, beralih ke beras dalam kemasan bermerek.
Kedua, kualitas dan kuantitas beras yang dikonsumsi masyarakat juga berubah. Konsumsi beras per kapita cenderung turun. Di pihak lain, kualitas beras yang dikonsumsi semakin baik dan beragam. Konsumen lebih memilih beras putih/bening, banyak beras kepala, sedikit beras patah, rasa pulen, kecuali wilayah tertentu. Misalnya konsumen di Sumbar yang lebih menyenangi beras pera, memilih beras dari varietas lokal, seperti Rojolele, Pandanwangi, Solok, serta dibungkus dalam kemasan 5 kg atau 10 kg. Perubahan itu ”ditangkap” PPB yang terus berinovasi menghasilkan beras dengan berbagai atribut sesuai keinginan konsumen. Ironisnya, beras kualitas medium yang dihasilkan PPK tak banyak lagi diminati konsumen.
PPK kurang insentif untuk naik kelas, misalnya menjadi penggilingan padi skala menengah (PPM). Mereka sudah puas dengan produksi yang dihasilkan masih laku dijual. Artinya, semakin besar permintaan beras medium dan beras asalan, makin kurang berminat mereka berubah. Pemerintah baru perlu mengambil sejumlah kebijakan baru dengan empat tujuan. (i) menurunkan kehilangan hasil pada aktivitas pengeringan gabah dan penggilingan, termasuk meningkatkan rendemen giling;(ii) meningkatkan jumlah beras berkualitas; (iii) meningkatkan nilai tambah dari produksi sampingan yang berkualitas dan berstandar; (iv) mampu mengelola stabilitas harga gabah. Pemerintah harus bertindak sebagai fasilitator dan regulator agar terwujud kerja sama harmonis antara PPK dan PPB. (Yoga)
NU dan Muhammadiyah Mengelola Tambang Batu Bara
Rencana Mempertahankan PLTU
Harga Kopi Mulai Turun
Setelah menembus harga Rp 70.000-Rp 75.000 per kg, harga jual biji kopi atau green bean jenis robusta di tingkat petani di Lampung berangsur turun dalam dua pekan terakhir. Petani disarankan tidak tergesa-gesa menjual hasil panen karena harga kopi diperkirakan kembali naik. Tren penurunan harga kopi di tingkat petani, menurut Ketua Dewan Kopi Lampung Mukhlis Basri, lebih dalam dibanding kondisi di pasar dunia. Harga kopi di terminal London memang turun, tapi tidak begitu signifikan. Pada Selasa (6/8) harga jual harian kopi robusta di terminal London berkisar 4.066 USD-4.173 per ton atau Rp 67,5 juta (kurs Rp 16.190). Kopi berada pada rentang harga 4.500 USD-4.600 USD atau Rp 72,85 juta-Rp 74,47 juta pada Juli 2024.
Saat ini, harga jual kopi asalan ditingkat petani di Lampung berkisar Rp 52.000-Rp 55.000 per kg. Harga jual kopi petik merah berkisar Rp 100.000-Rp 120.000 per kg. Menurut Mukhlis, penurunan harga kopi di tingkat petani yang signifikan tersebut lebih dipengaruhi oleh industri besar, yang untuk sementara menghentikan pembelian kopi dari petani. Selain karena stok gudang yang sudah penuh, para eksportir kopi masih memantau pergerakan harga kopi. Di sisi lain, masa panen raya kopi di sejumlah daerah di Lampung masih terus berlangsung. Tidak tertutup kemungkinan langkah industri menahan sementara pembelian kopi itu dilakukan agar harga kopi di tingkat petani semakin merosot.
Karena itu, para petani diminta untuk tidak tergesa-gesa memanen dan menjual seluruh kopinya. Dalam beberapa bulan ke depan, harga kopi robusta diperkirakan naik seiring berkurangnya stok bahan baku di gudang industri. Saat stok berkurang, industri akan kembali aktif mencari bahan baku sehingga harga komoditas bisa kembali terdongkrak. Malvin Syavana (45), petani kopi asal Kecamatan Sekincau, Lampung Barat, mengatakan, saat ini sebagian besar petani kopi di wilayah itu baru memasuki masa panen raya. ”Kalau sudah dijemur, kopi ini saya simpan sambil menunggu harga kopi naik lagi. Perkiraan kami, harga kopi akan kembali naik pada September 2024,” ujarnya. (Yoga)
Nikel Merangkak Turun
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









