Lingkungan Hidup
( 5820 )Tanaman Kopi Butuh Peremajaan
Tingginya harga kopi di Tanah Air saat ini menjadi momentum untuk memperbaiki ekosistem kopi dari hulu ke hilir. Salah satu yang mendesak dilakukan adalah peremajaan ratusan ribu hektar tanaman kopi yang sudah tidak produktif. Saat ini, rerata nasional produktivitas kopi di Indonesia tergolong rendah lantaran banyak tanaman yang tak produktif karena telah berusia 20 tahun ke atas. Kementan mencatat, pada 2023 terdapat 9,5 % tanaman kopi di Indonesia masuk kategori tanaman tak menghasilkan dan tanaman rusak sehingga perlu peremajaan. Berdasarkan data Bidang Produksi Dinas Perkebunan Sumsel pada Juni 2024, sekitar 60.000 hektar pohon kopi tua masih ditanam di provinsi itu. Jumlah tersebut mencakup 22,5 % dari total kebun kopi di Sumsel.
”Untuk pohon-pohon yang sudah berusia di atas 25-30 tahun, produktivitasnya akan jauh menurun sehingga perlu segera diremajakan,” ujar Ketua Dewan Kopi Sumsel Zain Ismed, Kamis (25/7). Peremajaan dibutuhkan tidak hanya untuk mengganti pohon-pohon tua. Namun, juga memperbaiki pola budidaya yang belum optimal dan mengganti tanaman yang tidak jelas kualitas bibitnya. Peremajaan harus memanfaatkan varietas ataupun klon unggul sehingga menghasilkan produktivitas tinggi dan tanaman yang adaptif dengan perubahan iklim. Peremajaan ini juga untuk mengubah pola jarak tanam yang cenderung rapat menjadi lebih lapang. Dengan demikian, pohon tidak berebut nutrisi dalam tanah. Zain mendorong pemerintah mengambil momentum melonjaknya harga kopi saat ini untuk meyakinkan petani akan pentingnya peremajaan dan budidaya yang lebih baik. (Yoga)
Dongkrak Produktivitas dengan Pola Baru
Rendahnya produktivitas kebun masih jadi masalah utama petani kopi di sejumlah daerah. Melalui komunitas, para petani belajar bersama memperbaiki pola budidaya demi mendongkrak produktivitas kopi. Sinergi sejumlah pihak, mulai dari petani hingga pemerintah, menjadi bagian terpenting. Salah satu komunitas yang berkontribusi membagikan pola budidaya kopi itu ialah Kopista Indonesia. Melalui komunitas Kopista, petani kopi asal Kelurahan Sekincau, Lampung Barat, Lampung, berbagi ilmu tentang budidaya kopi yang baik kepada petani. Komunitas yang berdiri pada 2015 ini sudah mendampingi 250 petani kopi di Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Bengkulu. Menurut pendiri komunitas Kopista, Supriyono (48), Kamis (25/7) rendahnya produktivitas kebun disebabkan mayoritas petani masih melakukan pola-pola lama dalam budidaya kopi.
Mereka membiarkan saja kebun kopinya tanpa diberi pupuk dan dibersihkan. Petani biasanya hanya sesekali menengok kebun menjelang masa panen raya. Selain itu, mayoritas petani tidak berani menargetkan hasil panen. Padahal, dari perhitungan Supriyono, produktivitas kopi minimal harus mencapai 2 ton per hektar agar petani bisa menikmati nilai ekonomi dari komoditas tersebut. Pemerintah juga bisa membangun kebun percontohan yang dapat menjadi lahan belajar bersama. ”Pemerintah dapat memulai semua itu dengan membuat kebun demplot di setiap kecamatan yang bisa menjadi laboratorium lapangan bagi para petani,” katanya. Pengolah kopi di Rimba Candi, Pagar Alam, Frans Wicaksono (58), mengatakan, petani harus berani keluar dari zona nyaman.
Sejauh ini, pola pertanian kopi di Sumsel menyadur teknologi budidaya atau pengolahan pascapanen yang diwariskan turun-temurun. Kebiasaan warisan yang menghambat perkembangan kopi Sumsel ialah menjemur kopi di aspal atau jalan dan membiarkan kopi diinjak ban kendaraan bermotor. “Kebiasaan itu berisiko membuat kopi terkontaminasi kotoran dari ternak yang lalu lalang dan polusi kendaraan bermotor. Apalagi, kopi memiliki kemampuan menyerap aroma di sekelilingnya sehingga kopi yang dijemur di aspal berpeluang memunculkan aroma dan rasa yang tak sedap,” ungkap Frans yang bermukim di Rimba Candi untuk mengelola kebun kopi warisan ayahnya sejak 2015.
Karena menerapkan teknologi budidaya dan pengolahan pascapanen sesuai standar ekspor, Frans mampu memasarkan kopinya ke Uni Emirat Arab. Salah satu pola yang diterapkan Frans adalah membangun ruang pengeringan yang bisa menjaga suhu stabil dan terhindar dari perubahan cuaca tiba-tiba, serta menggunakan alas pengeringan setinggi 1-1,5 meter dari permukaan tanah. ”Sekarang, tidak ada alasan untuk tidak bisa meningkatkan kualitas panen karena ilmunya bisa dipelajari dengan mudah dan gratis di ponsel pintar. Melalui internet, kita tak perlu takut dengan akses pasar. Kita bisa promosi sendiri produk kita lewat media sosial. Kalau kualitas terbukti, bukan kita yang mencari pembeli, melainkan pembeli yang mendatangi kita,” kata Frans. (Yoga)
Saatnya Petani Gembira Memetik Tebalnya ”Cuan” Kopi Robusta
Harga kopi robusta di Tanah Air menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Buah kopi dipetik dengan antusias oleh petani karena tebalnya ”cuan”. Rabu (3/7) ratusan warga bersiap memasukkan buah merah kopi dari karung ke mesin pengupas kulit. Rumah-rumah panggung berjejeran dipenuhi hamparan biji kopi yang dijemur di halaman rumah. ”Kalau harga kopi tinggi, bangga juga dibilang anak petani kopi,” ucap Muhammad Pesi (65).. Petani di Desa Kota Besi, Lampung Barat, bersama istrinya, Mazni(64), anak, menantu, dan cucu memetik buah kopi. Pesi mengatakan, harga kopi tahun ini adalah harga tertinggi yang pernah ia rasakan selama menjadi petani.
Biji kering kopi robusta asalan Rp 70.000-Rp 75.000 per kg dan biji kering kopi robusta petik merah Rp 100.000-Rp 120.000 per kg. Ia telah menjual biji kopi 550 kg dan mengantongi uang Rp 50 juta. Pesi memperkirakan bisa mendapat 1,4 ton biji kopi dari 1.750 pohon kopi di kebun seluas 2 hektar. Semarak dirasakan di kebun hingga pasar. Hiruk-pikuk warga memanggul karung kopi, membolak-balik kopi di pengeringan, hingga menjual kopi ke lapak. Jalan lintas barat Sumatera yang biasanya lengang kini padat oleh truk dan pikap mengangkut kopi. Geliat kopi juga terasa di sentra kopi robusta di Kabupaten Lahat, Kota Pagar Alam, dan Kabupaten Empat Lawang, Sumsel. ”Sekarang, di mata kami, buah kopi di pohon adalah lembaran uang sedang menempel di pohon,” ujar Novian Fazli (50), pemilik kebun kopi seluas 1,5 hektar di Kecamatan Pagar Alam Utara.
Terlambat panen kopi ibarat ”maut” bagi petani karena saat ini rawan pencurian. Kebun Novian tak luput dari incaran pencuri. ”Jumlah kopi yang dicuri 80 kg, nilai kerugiannya Rp 5 juta,” katanya. Demi menjaga kebun, Juhairi (41), petani lainnya, tinggal di pondok yang ada di tengah kebun bersama keluarga. Ia menggarap kebun 3 hektar di Kecamatan Dempo Selatan dengan sistem bagi hasil. Ia baru menjual 327 kg biji kopi kering di gudang kopi dengan harga Rp 70.500 per kg, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar sekolah anak-anak, hingga melunasi utang. Padahal tahun lalu, rata-rata petani kopi hanya mendapat 300-600 kg kopi per hektar dengan harga jual Rp 30.000-Rp 40.000 per kg. Sumsel dan Lampung merupakan daerah penghasil kopi robusta terbesar di Tanah Air. (Yoga)
Rekor Harga Kopi, Momentum Benahi Hulu
Karena itu, saat ini menjadi momentum penting memberdayakan petani kopi untuk menghasilkan kopi berkualitas sehingga harganya terjaga. ”Ke depan, kopi berkualitas yang akan tetap bertahan dengan harga jual tinggi,” kata Romi, Rabu (24/7). Namun, tingginya harga belum seiring produktivitas yang optimal. Di berbagai daerah sentra, produktivitas kopi rendah dan terus menurun. Ketua Dewan Kopi Sumsel, Zain Ismed mengatakan, petani robusta di Sumsel gembira menyambut panen raya karena harga yang melonjak, tapi euforia itu terancam sesaat. ”Masih sebagian kecil petani yang mampu meningkatkan produktivitas kopi di kebun hingga 2-3 ton per hektar,” ujarnya. Sebagian besar kebun hanya menghasilkan 1 ton biji kopi per hektar.
Berdasar laporan Statistik Kopi Indonesia 2022 yang dirilis BPS, luas kebun kopi di Indonesia 1.279.570 hektar dengan total produksi 786.191 ton pada 2021. Rata-rata produktivitas kebun kopi di Tanah Air hanya 0,817 ton per hektar. Bahkan, data Kementan menyebut luas kebun kopi di Indonesia tahun 2023 susut menjadi 1.268.906 hektar dengan produksi 756.096 ton. Produktivitas kopi masih jauh di bawah target Presiden Jokowi. Saat kunjungannya ke Lampung Barat, Jumat (12/7), Presiden mengakui produktivitas masih berkisar 1-2 ton per hektar. Presiden ingin memacunya hingga 8-9 ton per hektar. Sinergi antara petani, swasta, dan pemerintah diperlukan untuk menjamin produktivitas dan kualitas kopi di Tanah Air serta meningkatkan kesejahteraan petani di hulu. (Yoga)
KOPI ARABIKA SUMATERA, Tersohor di Kafe, Terpuruk di Kebun
Kopi arabika Sumatera di ambang kritis. Harganya meroket di pasar, tapi petani terpuruk di kebun lantaran hasil panen terus anjlok. Persoalan ini tak kunjung diatasi dari tahun ke tahun. Saat ini, produksi kopi arabika di Sumatera hanya 600 kg per hektar per tahun. Jauh dari potensi 2,5 ton. Lesunya pertanian kopi arabika Sumatera tampak di berbagai sentra penghasil kopi arabika di dataran tinggi sekeliling Danau Toba, mulai dari Kabupaten Toba, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Samosir, Simalungun, hingga Karo. Harga beras kopi (greenbean) yang berkisar Rp 110.000-Rp 120.000 per kg tak membuat petani bergairah. Sebagian besar kebun kopi di daerah itu didominasi tanaman tua, batangnya meranggas, daunnya menguning, dan lahannya dipenuhi gulma.
Lambok Siburian (46), petani kopi di Lintong Nihuta, Humbang Hasundutan, sudah berbulan-bulan tak mengurus kebunnya yang tinggal 1,5 hektar. Mengenakan masker dan mantel hujan, dia menyemprot pestisida di ladang cabai merah yang bersebelahan dengan kebun kopi itu. ”Dulu ladang ini juga saya tanam kopi, tapi saya babat karena hasilnya sangat rendah dan terus berkurang. Harga kopi memang sedang tinggi, tetapi tetap tak cukup untuk biaya dapur dan sekolah anak karena produksinya sedikit,” kata Lambok. Begitulah nasib para petani penghasil kopi spesialti yang sangat dihargai di pasar dunia.
Nama kopi Lintong diambil dari nama Kecamatan Lintong Nihuta, satu dari enam kecamatan penghasil kopi spesialti di Humbang Hasundutan. Namun, nasib petaninya tidak setenar nama dan cita rasa kopinya yang mendunia. Hal serupa dialami kopi Mandheling, kopi spesialti dari Mandailing Natal dan sekitarnya. Dari lahan kopinya, ia panen 80 kg kopi (gabah kering) per bulan. Dengan harga Rp 50.000 per kg, Lambok memperoleh Rp 4 juta per bulan selama dua kali panen raya dalam setahun. ”Panen raya hanya berlangsung 2-3 bulan. Dari kopi saja, tidak cukup untuk dapur dan biaya sekolah anak,” ujar Lambok. Tanaman kopi diserang hama dan penyakit tanaman, khususnya penggerek buah dan karat daun. Produktivitas kopi yang diserang hama menurun dan harganya murah. (Yoga)
Surip Mawardi, Pengabdian di Jalan Sepi Pertanian Kopi
Pengabdian Profesor Surip Mawardi (68) pada kopi tak berhenti setelah pensiun dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jauh dari tanah kelahiran di Klaten, dia membangun kebun kopi edukasi di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut. Hampir setiap hari petani kopi ”bersekolah” di kebun kopi arabika Sumatera itu. ”Industri kopi berisik di hilir, tetapi sunyi di hulu. Banyak yang berinvestasi membangun kafe, sekolah barista, hingga rumah sangrai dengan modal besar. Tapi, pertanian kopi di hulu ditinggalkan,” kata Surip di kebun kopinya di Silangit, Siborongborong, Jumat (21/6). Hal itu tergambar di perkebunan kopi di dataran tinggi sekitar Danau Toba. Kebun-kebun kopi didominasi tanaman tua, meranggas, dipenuhi gulma, dan tak ada pohon penaung. Hasil buah kopi pun seadanya. Kebun kopi yang dibangun Surip di ketinggian 1.413 meter di atas permukaan laut, kontras dibanding kebun lain.
Kopi arabika dari berbagai varietas berbuah sangat lebat dan teduh di bawah pohon-pohon lamtoro. Produktivitas kopi arabika Sumatera sangat rendah, di Sumut, produktivitasnya hanya 600 sampai 700 kg per hektar per tahun, jauh dari potensi 2.300 kg. Surip menunjukkan hal-hal mendasar yang harus diperbaiki dan sudah diterapkan di kebun kopi seluas 2,5 hektar yang dia tanami secara bertahap sejak 2020. ”Petani harus melihat sendiri hasilnya baru mau menerapkannya,” kata Surip yang sudah 43 tahun bergelut di dunia kopi. Prinsip utama yang dia terapkan adalah kembali pada filosofi Batak, sinur na pinahan, gabe na niula (peternakan dan pertanian terpadu memberi hasil melimpah). Filosofi itu satu tarikan napas dengan climate smart coffee dan regenerative coffee farming yang sudah diterapkan Surip. Kebun kopi itu terintegrasi dengan peternakan sapi dan kuda.
Perbaikan pertanian kopi dilakukan dari penggunaan bibit unggul. Ada 20 varietas kopi arabika yang ditanam, yang mendominasi adalah Andungsari 1 dan Komasti (Komposit Andungsari Tiga), penerus varietas Sigarar Utang yang mendominasi tanaman kopi di Sumut. ”Sigarar Utang adalah varietas kopi yang bagus pada masanya. Penerusnya, Andungsari 1 dan Komasti, varietas bandel yang dihasilkan Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) melalui penelitian selama 27 tahun,” kata Surip. Kebun kopi itu, dalam 1 hektar memuat 2.810 lubang, yang ditanami dua tanaman sehingga 1 hektar bisa ditanami 5.620 batang kopi. Kebun kopi itu masih bisa tumpeng sari. Jauh lebih efisien dibanding yang diterapkan petani, yakni 2.000 tanaman per hektar. Yang tidak kalah penting adalah penggunaan pohon penaung, yakni lamtoro.
Tanaman penaung membuat produksi lebih tinggi dan aroma kopi lebih kuat. Dengan pertanian terpadu dan terintegrasi dengan peternakan, kebun kopi menjadi subur. Tantangan terbesar pengembangan kopi di Sumut, petani tidak percaya kopi bisa membawa kesejahteraan. Hasil kopi dianggap tak menguntungkan sehingga banyak kebun kopi dibiarkan terbengkalai. Surip membuktikan, kopi bisa memberikan kesejahteraan. Dengan hasil 2,3 ton beras kopi (green bean) per hektar per tahun dan harga Rp 100.000 per kg, pendapatan petani bisa mencapai Rp 230 juta per tahun. Penghasilan bersih petani bisa mencapai Rp 161 juta per tahun setelah dipotong biaya operasional dan investasi 30 %. Syaratnya, petani harus professional dalam bertani kopi dengan menerapkan prinsip pertanian terpadu dan cara budidaya yang baik (good agriculture practice). Petani harus berpegang pada sains, teknologi, teknik, dan matematika. (Yoga)
Transisi Semu Energi Bersih
Angan-angan Semu Tinggalkan Batu Bara
PENGEMBANGAN EBT : Jalan Mulus Proyek Pembangkit Listrik Hijau
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan telah memasuki tahap pengadaan. Targetnya, proyek senilai US$850 juta itu bisa beroperasi pada 2028. Saat ini, kata dia, PLN terus melakukan koordinasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga terkait untuk mencari jalan tengah dari problem TKDN yang menghambat pembangunan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), termasuk PLTA Upper Cisokan. “Saat ini PLN terus berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral , serta Kementerian Perindustrian untuk menyelesaikan isu terkait dengan TKDN,” katanya, Rabu (24/7). Eksekusi proyek PLTA Upper Cisokan memang sempat molor, kendati PLN telah mengamankan pinjaman dari Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) sejak 2022. Secara bersamaan, Kementerian ESDM juga sedang meyakinkan sejumlah lender multilateral untuk menyalurkan pinjaman pada proyek EBT di Indonesia. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menuturkan, dirinya telah meyakinkan sejumlah lender ihwal perubahan regulasi TKDN di dalam negeri saat ini.
GOYAH DAYA SAING MIGAS
Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) sedang limbung. Di tengah upaya menggapai target lifting yang tidak kunjung tercapai, rupanya daya saing sektor tersebut masih kalah oleh negara tetangga. Merujuk pada data yang diterbitkan IHS Markit, Indonesia Investor Attractiveness di sektor hulu migas berada di posisi 9 dari 14 negara Asia Pasifik. Bahkan di regional Asean, Indonesia hanya unggul dari Vietnam dan Myanmar. Secara keseluruhan, attractiveness rating hulu migas Indonesia berada di angka 5,30. Jika diamati, kondisi tersebut berbanding lurus dengan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas. Lembaga tersebut mencatat setidaknya ada tiga kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), yakni Mubadala Energy, Pertamina Hulu Energi, dan Petronas yang ingin melepas sebagian hak partisipasi wilayah kerja yang saat ini dikelolanya. Mubadala Energy diketahui tengah melakukan pembicaraan untuk divestasi lanjutan sebagian hak partisipasi atau farm-out di wilayah kerja (WK) Andaman I, dengan tujuan untuk berbagi risiko pengembangan lapangan migas yang dikelolanya. Alasan serupa digunakan oleh PT Pertamina Hulu Energi yang ingin farm-out dari WK Ogan Komering, Sumatra Selatan. Sementara itu, Petroliam Nasional Berhad (Petronas) atau Petronas juga berencana melakukan farm-out dari Blok North Madura II dan Blok Bobara. Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengakui, daya tarik investasi hulu migas di Indonesia cenderung menurun dalam 5 tahun terakhir.
Pendapat itu dikuatkan dengan hasil riset lembaga independen Fraser Institute yang mencatat skor Investment Attractiveness Index Indonesia hanya mencapai 45,17 pada tahun lalu. Skor itu menempatkan Indonesia di peringkat 56 dari 86 negara. Padahal, skor Investment Attractiveness Index Indonesia pada 2019 berada di level 73,09 atau berada di posisi 27 dari 76 negara. Moshe Rizal, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas, mengatakan iklim investasi hulu migas nasional mesti lebih atraktif, karena harus bersaing dengan negara lain yang juga berupaya mengoptimalkan potensi di dalam negerinya. Sementara itu, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan, farm-out biasanya dilakukan KKKS untuk memitigasi risiko dengan mengundang mitra yang dianggap kompeten, berpengalaman, dan memiliki kemampuan finansial yang kuat. Tujuannya agar ada check and balance di internal pengelola WK migas tersebut, sebelum mengajukan usulan kegiatan kepada pemerintah. Menurutnya, SKK Migas memastikan bakal terus menjaring mitra potensial baru untuk berinvestasi di lapangan migas Indonesia. Sejumlah perusahaan migas global kelas menengah diklaim telah menunjukkan minat untuk masuk ke pasar Indonesia. Senada, Direktur Pembinaan Hulu Migas Kementerian ESDM Ariana Soemanto menuturkan, pemerintah telah memperbaiki skema kontrak dan insentif untuk KKKS.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









