Properti
( 407 )Relaksasi Pajak Properti, Hunian Premium Naik 25%
Bisnis, Surabaya - Penjualan properti di Jawa Timur diprediksi terus meningkat seiring adanya relaksasi pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% mulai Maret - Agustus 2021. Penjualan properti mengalami perbaikan pada akhir 2020 hingga awal 2021. Dengan tambahan stimulus dari pemerintah tentu akan menambah gairah pasar khususnya kelas premium. Momen stimulus dan kondisi harga properti yang relatif sempat terkoreksi seharusnya menjadi kesempatan investor maupun end user untuk membeli properti.
Saat ini, kesempatan investor untuk masuk di sektor properti karena akan ada keuntungan di masa depan. Dengan potensi-potensi tersebut diyakini tahun ini penjualannya bisa naik 70% dibandingkan tahun lalu. Selain stimulus pemerintah, saat ini perbankan juga banyak menghadirkan berbagai program KPR/KPA dengan promo suku bunga yang cukup bersaing. Pengembang tahun ini lebih optimistis dengan produk rumah yang sudah digarap sejalan dengan mulai bergeraknya aktivitas ekonomi, percepatan program vaksinasi, ditambah dengan adanya stimulus pemerintah.
(Oleh - IDS)
Stimulus Sektor Properti, Developer Minta Perpanjangan
Bisnis, Jakarta - Kalangan pengembang properti mendesak pemerintah memperpanjang jangka waktu stimulus pembebasan dan pengurangan pajak pertambahan nilai (PPN) minimal sampai dengan tuntasnya program vaksinasi Covid-19. Para pelaku bisnis juga memandang bahwa pemberian relaksasi tersebut diharapkan dapat berdampak lebih signifikan lagi terhadap kegiatan usaha bila tidak hanya diberikan kepada rumah yang ready stock tetapi juga diperluas untuk rumah inden.
Para pengusaha menyambut baik adanya sejumlah insentif di sektor properti untuk menggerakan kembali aktivitas bisnis tersebut sekaligus menjadi momentum pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, para pengusaha berharap agar jangka waktu pemberian insentif bisa diperpanjang, sehingga tidak hanya berlaku 6 bulan. Rekomendasi bahwa rumah inden bisa dipertimbangkan serius agar juga masuk dalam skema stimulus yang diberikan.
Adapun, mekanisme pemberian insentif menggunakan PPN yang ditanggung pemerintah (DTP) dengan besaran 100% dari PPN yang terutang atas penyerahan rumah tapak atau rumah susun yang ready stock dengan harga jual paling tinggi Rp 2 miliar. Pemberian insentif 50% dari PPN terutang atas penyerahan rumah tapak atau rumah susun dengan harga jual di atas Rp 2 miliar sampai dengan Rp 5 miliar. Insentif PPN hanya berdampak pada pengembang yang memiliki rumah ready stock.
Insentif PPN diberikan kepada pengembang yang tidak memiliki rumah ready stock atau rumah inden yang kebanyakan membangun rumah untuk kalangan milenial. Stimulus insentif PPN inin juga diberikan perpanjangan waktu sampai akhir tahun. Alasannya, pengembang yang tak memiliki rumah ready stock bisa memiliki cukup waktu membangun dan memanfaatkan stimulus ini. Pengaruh stimulus PPN dapat diperpanjang waktunya 2 tahun hingga 3 tahun mendatang.
(Oleh - IDS)
Properti Selama Pandemi, Developer Mulai Bidik Pasar Generasi X dan Y
Bisnis, JAKARTA — Para pengembang properti mulai mengubah target pasar dengan membidik generasi X dan Y yang berpotensi menjadi orang kaya baru di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Managing Director Strategic Business & Service Sinar Mas Land Alim Gunadi mengatakan strategi mengubah target pasar itu diperlukan guna menyesuaikan kebutuhan pasar dan memperhatikan perubahan generasi dan besaran pendapatannya.
Alim menjelaskan generasi X dan Y akan mendominasi golongan pendapatan pada 2020 hingga 2025.
Dia memaparkan generasi X akan mencapai 50% dan generasi Y sebesar 30% dari total jumlah populasi Indonesia 270,2 juta jiwa. Khusus generasi baby boomers diperkirakan tinggal 20%.
Selama pandemi Covid-19, menurutnya, pengembang properti harus dapat berinovasi menyediakan produk yang sesuai dengan keinginan generasi yang bakal dominan pada beberapa tahun mendatang.
Sementara itu, Direktur Sales & Marketing Paramount Land M. Nawawi mengatakan berhasil menjual habis rumah seharga Rp1,2 miliar secara online pada 27 Februari 2021.
Menurutnya, kesuksesan penjualan 94 unit rumah di Aniva Junction di Paramount Gading Serpong Tangerang, Banten itu bisa menjadi sinyal kuat pertumbuhan sektor properti pada 2021
Dengan tren dominasi generasi X dan Y, pengembang properti saat ini sudah harus dapat berinovasi menyediakan produk yang sesuai dengan keinginan generasi tersebut.
Selain itu, pengembang perumahan harus lebih waspada dan berhati-hati mengatur arus kas, salah satunya dengan membuat produk hunian yang sesuai dengan kebutuhan dan kemungkinan diminati sehingga diserap pasar.
Pada periode 2020—2025, menurutnya, rumah yang diminati dalam rentang harga Rp1,5 miliar. Hal itu terbukti dari penjualan terbanyak unit rumah yang dibangun Sinar Mas sejak 2018 hingga 2020 yaitu sekitar Rp1,5 miliar.
(Oleh - HR1)
Pengembang Properti Bersiap Cuci Gudang Tahun Ini
Awal pekan ini, Kementerian Keuangan menerbitkan PMK 21/2021 yang berisi insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk harga rumah tapak dan rumah susun hingga Rp 5 miliar. Perinciannya, insentif 100% PPN untuk harga properti di bawah Rp 2 miliar, serta 50% PPN untuk harga properti di atas Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar.
Ada sejumlah kriteria lain untuk meraih insentif tersebut. Syarat itu di antaranya produk rumah tapak dan rumah susun tersebut merupakan produk baru yang diserahkan dalam kondisi siap huni.
Berdasarkan catatan KONTAN, sejumlah emiten properti memiliki persediaan yang nilainya cukup besar. Mereka antara lain PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT PP Properti Tbk (PPRO), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) serta PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).
Head of Research & Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus berpendapat, insentif untuk rumah siap huni terbilang lazim dan pilihan kebijakan yang logis. Meski ada batasan periode insentif hingga Agustus 2021, dia menilai insentif ini membawa prospek positif di tengah pemulihan ekonomi.
Membangkitkan Minat Beli Properti
Berdasarkan informasi yang didapat KONTAN, pemerintah saat ini tengah menyiapkan beberapa kebijakan fiskal bagi industri properti.
Kemkeu sebelumnya lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 81/PMK.010/2019 membebaskan PPN bagi Rumah Umum, Pondok Boro, Asrama Mahasiswa dan Pelajar, serta Perumahan Lainnya. Aturan ini sudah berlaku sejak 20 Mei 2019.
Ada dua insentif yang bisa dinikmati sektor properti. Yakni pertama, pemerintah akan memangkas tarif pajak pertambahan nilai (PPN) atas pembelian properti dari tari yang berlaku saat ini 10% dari harga jual.
Kedua, pemerintah juga akan memangkas tarif pajak penghasilan (PPh) final atas sewa tanah dan bangunan yang tarifnya saat ini 2,5% dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan.
Selain insentif perpajakan, pemerintah juga akan melonggarkan syarat bagi orang asing untuk membeli apartemen. Asalkan, warga asing itu memiliki syarat keimigrasian yang lengkap, termasuk visa, paspor, dan izin tinggal.
Pemerintah juga menetapkan bahwa orang asing berhak membeli gedung bertingkat tinggi, properti hunian di zona ekonomi khusus, zona perdagangan bebas dan pelabuhan, industri zona, dan zona ekonomi lainnya.
Uang Muka 0% Bisa Mengerek Bisnis Properti
Bank Indonesia (Bl) menetapkan Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) sebesar 100% untuk kredit properti. Ini berarti, seluruh dana untuk mengambil kredit properti ditanggung 100% oleh bank, dengan kata lain konsumen menanggung 0% alias tidak perlu membayar down payment (DP) atau uang muka.
Kebijakan ini berlaku untuk semua jenis properti, seperti rumah tapak, rumah susun, serta ruko/rukan. BI menetapkan kebijakan DP 0% berlaku sejak 1 Maret hingga 31 Desember 2021.
Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Totok Lusida mengapresiasi bank sentral atas penetapan LTV/FTV hingga 100%. Dia berharap kebijakan ini dapat membangkitkan penjualan seluruh pengembang properti dan perlahan membantu pemulihan ekonomi nasional, ungkap dia kepada KONTAN, kemarin.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Daniel Jumali juga mengusulkan sejumlah insentif untuk membangkitkan bisnis properti. Pihaknya mengusulkan agar pemerintah meringankan beban konsumen dalam pembelian rumah subsidi dan segmen menengah bawah di masa wabah korona.
Pembeli Properti di Australia Dapat SHM
JAKARTA – Warga negara Indonesia (WNI) yang membeli apartemen di Australia akan memperoleh sertifikat hak milik (SHM). Di Australia hanya berlaku satu jenis sertifikat, yaitu freehold certificate.
“Orang asing tetap akan mendapatkan jenis sertifikat yang sama dengan penduduk lokal, yaitu SHM yang berlaku seumur hidup dan dapat diwariskan” ujar Manajer Penjualan Crown Group Indonesia, Reiza Arief, dalam siaran pers, Rabu (17/2).
Dia menerangkan, di Australia hanya berlaku satu
jenis sertifikat, yaitu freehold
certificate dan lahan di atas
gedung akan dibagi dalam
bentuk strata ke setiap unit.
Menurut dia, orang asing khususnya dari Indonesia lebih banyak membeli apartemen dibandingkan rumah tapak. Hal itu terjadi karena rumah tapak harganya lebih tinggi dibandingkan unit apartemen, terutama di area yang strategis seperti di dekat CBD dan area sekitar kampus.
Pemeliharaan rumah tapak juga lebih mahal dibandingkan dengan apartemen,
bahkan ada pajak tambahan apabila rumah tapak
tersebut kosong lebih dari
enam bulan yang besarannya sendiri sekitar 1% dari
nilai properti yang dimiliki.
Reiza mengatakan, 70% pembeli dari Indonesia adalah tipe investor dimana mereka mencari properti yang mudah disewakan dan memberikan imbal hasil yang tinggi.
Dia menjelaskan,
persentase penyewa rumah
tapak di Australia adalah
sebesar 14% pada tahun 2009
dan hanya naik sebesar 1%
menjadi 15% pada 2019. Lalu,
persentase penyewa unit
apartemen adalah sebesar
43% pada 2009 dan naik menjadi 56% di tahun 2019. Di
sisi lain, ada penurunan
persentase sebesar 13% bagi
mereka yang membeli dan
tinggal di unit apartemennya, yaitu dari 56% pada
2009 menjadi 43% pada 2019.
(oleh - HR1)
Ciputra Ekspansi di Puncak Tidar Malang
Pengembang properti PT Ciputra Development Tbk mengawali tahun 2021 ini dengan melakukan ekspansi atau pengembangan baru di kota Malang. Mereka mengembangkan pemukiman segmen middle up lewat proyek CitraLand Puncak Tidar Malang.
Agung Krisprimandoyo, Direktur PT Ciputra Development Tbk, mengatakan, pihaknya melihat kondisi ekonomi akan mulai membaik di tahun 2021 ini. Secara umum, market property tahun ini akan mengalami pertumbuhan. Karena ekonomi nasional diperkirakan akan tumbuh 4-5 persen sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat.
Trisena Dipayuda, General Manager CitraLand Puncak Tidar Malang menambahkan, proyek yang dikembangkan berada diatas lahan seluas 32 hektar. Tahap awal dikembangkan satu cluster seluas 7 hektar. Ada 160 unit rumah ditawarkan dari berbagai tipe dengan harga antara Rp 1,2 miliar hingga Rp 4,6 miliar.
Dipicu Vaksinasi Covid -19 Investasi Diprediksi Naik 50 Persen
Investasi global di sektor properti diperkirakan melonjak tajam hingga mencapai 50 persen sepanjang tahun ini. Perkantoran, industri logistik, perumahan, dan pusat data menjadi jenis properti yang disukai investor.
Kepala Pasar Modal Global Colliers International Tony Horrell mengatakan investor optimistis adanya pasar yang akan rebound pada 2021. Menurutnya, kepercayaan investor ini dipicu vaksinasi Covid-19 di berbagai negara.
Berdasarkan analisis Colliers, kami, investor masih banyak yang minat untuk berinvestasi di industri properti seiring dengan telah ditemukannya vaksin dan adanya stimulus yang diberikan pemerintah.
Colliers memperkirakan investor akan menjajaki semua jenis aset properti hingga proyek infrastruktur publik. Adapun sektor investasi yang bakal diminati untuk sektor properti yakni perkantoran, industri logistik, perumahan, dan pusat data.
Bakrieland Garap Rasuna Park Rp 7 Triliun
PT Bakrieland Development Tbk (Bakrieland) berencana menggarap proyek properti terpadu (mixed use) Rasuna Park bersama mitra strategis dari luar negeri. Biaya pengembangan (development cost) proyek berkonsep transit oriented development (TOD) itu ditaksir mencapai sekitar Rp 7 triliun. Direktur PT Bakrieland Development Tbk Agus Jayadi Alwie mengatakan, dalam membangun proyek hasil kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta itu Bakrieland akan menggandeng investor asing. Corporate Secretary PT Bakrieland Development Tbk Yudy Rizard Hakim menambahkan, ada sejumlah investor asal Jepang, Korea, dan Tiongkok yang telah dijajaki Bakrieland.
Agus Jayadi menjelaskan, pembicaraan lanjutan dengan Pemprov DKI Jakarta telah dimulai lagi pada kuartal III dan IV 2020. Kini, kerja sama yang dilakukan disepakati menjadi berupa pemanfaatan lahan dengan jangka waktu 30 tahun, dan selanjutnya dapat diperpanjang. Rasuna Park yang terletak di Kuningan, Jakarta Selatan, itu diyakini akan menjadi landmark di kawasan tersebut. Pembangunan Rasuna Park akan dilaksanakan dalam dua atau tiga tahap. “Tahap pertama mencakup apartemen, fasilitas olahraga, universitas, dan lifestyle mall,” ujar Agus.
Agus Jayadi juga menjelas kan, di tengah pandemi Covid-19 yang menghantam bis nis properti di Tanah Air, subsektor properti komersial seperti hotel dan ritel paling terpukul. “Pandemi Covid-19 menurunkan daya beli masyarakat, sedangkan para investor menahan diri. Penurunan itu membuat pendapatan usaha pengembang turun. Pendapatan kami hingga 30 September 2020 turun 35%,” tuturnya. Hingga akhir September 2019, penjualan Bakrieland tercatat sebesar Rp 729 miliar. Sedangkan pada periode sama 2020 sekitar Rp 476 miliar. “Akibat pandemi, kami menutup operasional hotel dan theme park. Ini membuat pendapatan turun 35%, dan menyebabkan rugi usaha Rp 105 miliar hingga September 2020,” ujar direktur PT Bakrieland Development Tbk Buce Yeef.
Agus Jayadi menambahkan, untuk rumah tapak masih ada permintaan walau tidak sebesar saat kondisi normal. Oleh karena itu, Bakrieland terus membangun proyek rumah tapak pada 2021. Proyek itu ada di Sidoarjo, Jawa Timur, dan di Bogor, Jawa Barat. Sektor dua proyek tersebut, lanjut dia, adalah Kahuripan Park. Ini adalah proyek cluster rumah segmen menengah hingga menengah-atas yang dikembangkan di atas lahan seluas 3,8 ha. Masih di sektor dua, tambah dia, Bakrieland mengembangkan Kahuripan Terrace. Proyek ini merupakan cluster rumah pertama Kahuripan Nirwana, yang dibangun di atas lahan seluas 6 ha untuk segmen menengah hingga menengah atas.
Proyek lain yang tetap berjalan adalah Bumi Tirta Pakuan,
Bogor. Ini merupakan proyek
perumahan segmen menengah bawah dengan total area
pengembangan 12,5 ha, dengan
kapasitas total 680 unit.
Pengembangan yang dilakukan saat ini merupakan tahap
pertama, seluas 7,5 ha, dengan
kapasitas 412 unit. Perkembangan pembangunan infrastruktur
proyek telah mencapai 40%.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









