Properti
( 407 )Cuan Crazy Rich dari Aset Properti
Aset properti sedang naik daun. Orang kaya asal Indonesia mengincar portofolio properti di sejumlah negara sebagai sasaran investasi. Baru-baru ini, salah satu keluarga
crazy rich
Indonesia dikabarkan membeli tiga rumah mewah di kawasan elit Nassim Road, Singapura, senilai US$ 206,7 juta atau Rp 2,3 triliun (asumsi kurs Rp 11.194 per dolar Singapura).
Senior Research Advisor
Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menyebutkan, The Wealth Report 2023 yang dirilis Knight Frank menunjukkan, Singapura menjadi salah satu pilihan bagi orang Indonesia untuk investasi properti. Memang residential property sebagai aset teraman dibandingkan bentuk lainnya. "Para orang kaya menyebutkan preferensi negara yang dibidik untuk membeli rumah yaitu US, UK, Australia, Singapura dan Jepang," kata dia, Kamis (27/4).
Asumsi Singapura sebagai salah satu safe haven market memang mewarnai perspektif konsumen properti di Indonesia. Singapura dipercaya punya tata kelola pemerintah yang transparan, stabilitas politik,
stable currency,
harga yang naik pesat per tahun,
regulated spatial planning,
hingga properti yang berkualitas. "Misalnya di 2021 pertumbuhan harga di kisaran 10%, tahun 2022 berkisar 8,4%. Bahkan harga sewa residensial di awal 2022 naik 21%," kata Syarifah.
Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Lukas Bong bilang, negara yang menjadi sasaran investasi properti orang Indonesia antara lain Singapura, Malaysia, dan Australia. Alasan investasi di luar negeri untuk tujuan pribadi seperti anak bersekolah, medical, dan tempat tinggal, hingga investasi. "Harga properti di Singapura yang tertinggi. Maka dari itu, tidak sembarang investor dari Indonesia bisa membeli, ada kelas tertentu," sebut dia.
INDUSTRI PROPERTI : PENGEMBANG TANCAP GAS PASCALEBARAN
Pengembang perumahan tidak ingin kehilangan momentum pascalebaran dengan langsung tancap gas meningkatkan penjualan properti residensial agar bisa mengompensasi penurunan minat masyarakat sejak Ramadan Emiten properti PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) atau Metland mengaku akan meluncurkan proyek residensial baru, termasuk launching klaster-klaster di sejumlah proyek perumahan pascalebaran tahun ini. Direktur Keuangan MTLA Olivia Surodjo mengatakan bahwa tren penjualan residensial sepanjang Ramadan hingga menjelang Idulfitri cukup menurun. Namun, dia meyakini momentum pembayaran tunjangan hari raya atau THR dapat mendongkrak penjualan setelah Lebaran. “Kami cukup optimistis prospek properti pascalebaran akan kembali normal, walau masih akan ada tantangan, karena properti terutama rumah merupakan kebutuhan mendasar untuk tempat tinggal selain sebagai produk investasi,” katanya, Rabu (26/4). Sepanjang Januari—Maret 2023, MTLA mencatatkan marketing sales yang terdiri atas pre-sales dan recurring revenue mencapai Rp396 miliar dari target Rp1,8 triliun, di mana sekitar 70% di antaranya berasal dari residensial, dan 30% sisanya dari proyek komersial. “Peningkatan pendapatan terjadi di unit bisnis hotel dan mal MTLA, karena lonjakan pengunjung di mal untuk memenuhi kebutuhan Lebaran, hotel yang menggelar program berbuka puasa dan hari raya, serta liburan yang cukup panjang,” ucapnya. General Manager Sales Damai Putra Group Hadi Putra mengatakan bahwa penurunan minat beli pada Ramadan merupakan hal lumrah dan menjadi siklus tahunan di pasar properti.
Sepanjang 2023, Damai Putra Group menargetkan perolehan marketing sales atau pra-penjualan sebesar Rp1,49 triliun. Adapun, per 30 Maret 2023, pihaknya berhasil membukukan pra penjualan 70% dari target 3 bulan senilai Rp450 miliar. Sementara itu, realisasi marketing sales Damai Putra Group sepanjang 2022 mencapai 85% dari target Rp1,45 triliun. Hadi optimistis pihaknya dapat memenuhi target marketing sales tahun ini. Menurutnya, Damai Putra Group bakal meluncurkan enam produk properti dari proyek baru maupun existing, berupa ruko komersial, rumah tapak, hingga apartemen pada tahun ini guna mencapai target marketing sales. Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) memilih untuk menahan pemasaran produk properti selama Ramadan, mengingat siklus penjualan tengah menurun pada periode tersebut. Direktur CTRA Harun Hajadi mengatakan bahwa siklus penjualan properti residensial selama Ramadan memang selalu mengalami penurunan dan diakui sebagai hal biasa yang terjadi setiap tahun. Alasannya, konsumsi masyarakat terkonsentrasi pada kebutuhan Idulfitri, sedangkan kebutuhan rumah tidak begitu tinggi pada periode ini.
Tahun Ini Jadi Tahun Tantangan bagi Industri Perkantoran
Tahun 2023 diprediksi masih menjadi tahun yang cukup menantang untuk industri perkantoran. Hal ini disebabkan oleh pasokan ruang perkantoran yang masih cukup tinggi. Di DKI Jakarta, misalnya, pasokan baru ruang perkantoran diprediksi mencapai 460.000 meter persegi. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI) Paulus Totok Lusida berpendapat, pandemiCovid-19 dan perkembangan teknologi yang memungkinkan kerja jarak jauh telah mengurangi jumlah kebutuhan ruang kantor. Hal itu berlanjut ketika pandemi sudah mereda karena sebagian perkantoran tidak mewajibkan pekerja hadir secara fisik di kantor. Akibatnya, keterisian ruang perkantoran berkurang.
Sementara itu, pemulihan dunia usaha seiring melandainya kasus Covid-19 membutuhkan waktu, selain krisis ekonomi di luar negeri yang turut berdampak ke dunia usaha di dalam negeri. Dampaknya dirasakan pada berkurangnya ekspansi ruang perkantoran. Kekosongan ruang perkantoran akan menimbulkan pengeluaran tambahan (overhead cost) dan biaya dana (cost of money) yang perlu dipertimbangkan pengembang. Di tengah kekosongan ruang perkantoran, pengembang perkantoran dinilai perlu menahan ekspansi gedung. ”Ruang perkantoran masih banyak yang kosong, perlu diisi dulu baru bangun (gedung) lagi,” kata Totok saat dihubungi, Jumat (21/4). (Yoga)
IBU KOTA BARU : TRIN Nilai Proyek IKN Potensial
PT Perintis Triniti Properti Tbk. atau Triniti Land mengungkap proyek Ibu Kota Nusantara termasuk wilayah potensial yang layak digarap oleh perseroan. Presiden Direktur dan CEO PT Perintis Triniti Properti Tbk. (TRIN) Ishak Chandra menyatakan alasan itu menjadi dasar ketertarikannya untuk berkontribusi dalam pembangunan tahap pertama Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Kalimantan Timur. Menurutnya, Triniti Land melalui konsorsium Triniti menanamkan modal sebesar Rp1,8 triliun untuk mengerjakan tujuh tower hunian bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di IKN Nusantara. Adapun, pemerintah menargetkan pembangunan hunian ASN ini dapat selesai pada 2024. Ishak mengatakan alasan utama perusahaan tertarik berinvestasi di IKN yakni untuk memperluas portofolio di sejumlah wilayah potensial. Hal itu karena IKN menjadi proyek besar yang mendukung emisi nol dan hanya akan mengembangkan 25% dari area Nusantara, sedangkan 75% menjadi area hijau berupa hutan yang dilindungi 65% dan area hijau untuk produksi pangan 10%.
Mengawal Kebutuhan Rumah Milenial
Transit Oriented Development (TOD) atau pembangunan yang berorientasi pada transportasi umum tengah menjadi buah bibir. Konsep pembangunan kota yang menempatkan transportasi massal sebagai pusat hunian kini menjadi primadona milenial. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan mendorong aksesibilitas ke transportasi umum. TOD memungkinkan masyarakat untuk hidup dan bekerja di dekat stasiun kereta api atau halte bus. Skema TOD pertama kali digulirkan raja real estat dari Amerika, Thomas Lowry, pada 1865. Dia memberi nama Twin Cities Rapid Transit (TCRT). Awalnya, konsep ini diimplementasikan di St. Louis Park dan Columbia Heights, AS. Lahirnya konsep TOD di Indonesia seiring dengan perkembangan transportasi massal, seperti commuterline, mass rapid transit (MRT), dan light rail transit (LRT). Proyek TOD diinisiasi oleh pemerintah, karena sejumlah lahan dikelola oleh badan usaha milik negara (BUMN). Kementerian BUMN melaporkan telah menyelesaikan 8.348 unit apartemen proyek hunian milenial dengan total pendanaan mencapai Rp5 triliun. Dari jumlah tersebut, telah terjual sebanyak 65%. Pembeli proyek apartemen itu kebanyakan dari kalangan milenial, mencapai 41%. Hunian milenial tersebut dibangun di sejumlah lokasi, antara lain Depok, Jakarta, Tangerang, Bogor, dan Karawang. Presiden Joko Widodo baru saja meresmikan apartemen berbasis TOD yang berada di Depok. Apartemen yang bernama Samesta Mahata Margonda itu terdapat 940 unit. Sebanyak 733 unit telah terjual atau sekitar 78%. Menurut harian ini, pembangunan hunian TOD sangat positif dipacu guna memenuhi kebutuhan perumahan di Indonesia. Apalagi, seperti diucapkan Presiden, 75% wilayah Indonesia merupakan laut dan 25% darat. Hal itu menimbulkan keterbatasan lahan di Indonesia.
Industri Properti Mampu Menggerakkan Perekonomian
Industri properti telah mampu membuktikan diri menjadi salah satu leading sector yang mampu menggerakkan perekonomian Indonesia. Saat ini, industri properti di Indonesia bukan lagi hanya sekadar real estat dan perumahan, namun juga meliputi kawasan komersial/superblok, transit oriented development (TOD), kawasan industri, Kawasan Ekonomi Khusus, hingga kawasan pariwisata. Berdasarkan backlog perumahan dalam data Susenas 2020, keluarga yang belum memiliki rumah masih mencapai 12,75 juta. Angka ini berpotensi meningkat seiring pertumbuhan rumah tangga baru yang diperkirakan mencapai 700–800 ribu KK setiap tahun.
“Untuk itu, implementasi new urban development perlu diintegrasikan ke dalam kebijakan pengelolaan perkotaan dengan pemanfaatan lahan secara efisien, sistem transportasi yang saling terintegrasi, serta penyediaan fasilitas publik yang layak dan nyaman,” ujar Menkor Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam siaran pers, Senin (10/4). Pernyataan Airlangga dilontarkan saat saat menyampaikan keynote speech secara daring dalam acara Diskusi Properti bertema Kontribusi Industri Bagi Perekonomian Nasional dan peluncuran buku Membangun Indonesia melalui Industri Properti, di Jakarta, Senin.
Kebangkitan di sektor properti pascapandemi Covid-19 telah membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di berbagai sektor dan menggerakkan sedikitnya 175 multiplier effects. Selain itu, bangkitnya sector properti juga turut meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini dibuktikan dengan tumbuhnya ekonomi Indonesia di tahun 2022 sebesar 5,31% (ctc). (Yetede)
Sektor Properti Topang Perekonomian
Industri properti teruji tahan banting dalam menghadapi krisis ekonomi di masa pandemi Covid-19. Kontribusi properti terhadap perekonomian nasional perlu terus didukung sehingga bisa optimal menggerakkan industri lain yang terkait properti. Hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) memperlihatkan, sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan selama periode 2018-2022 berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar Rp 2.349 triliun hingga Rp 2.865 triliun per tahun, setara 14,63-16,3 % terhadap PDB nasional. Sektor property tercatat memiliki keterkaitan dengan 185 sektor industri lain. Ketua Umum Kadin Indonesia M Arsjad Rasjid mengemukakan, industri properti merupakan sektor usaha yang paling tahan banting di tengah krisis.
Keterkaitan industri properti terhadap 185 sektor usaha yang terkait properti memiliki dampak pembangunan yang sangat besar dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional. ”Industri properti menjadi penopang utama dalam perekonomian Indonesia,” ujar Arsjad, dalam diskusi ”Kontribusi Industri Properti terhadap Perekonomian Indonesia” yang diselenggarakan harian Kontan dan LPEM FEB UI di Jakarta, Senin (10/4. Acara tersebut juga dibarengi dengan peluncuran buku Membangun Indonesia melalui Industri Properti. Kepala Kelompok Kajian Ilmu Regional dan Kebijakan Energi LPEM FEB UI Uka Wikarya mengemukakan, peran strategis sektor properti, real estat, dan jasa konstruksi tecermin dari kontribusi terhadap perekonomian nasional yang tidak pernah kurang dari 12 % per tahun, bahkan di masa pandemi Covid-19. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengemukakan, industri properti merupakan sektor terdepan yang menggerakkan perekonomian negara. (Yoga)
Penggunaan Instrumen Pajak atas Tanah Kosong
Pada tahun 2017 pemerintah pernah memunculkan wacana penerapan instrumen kebijakan pajak tambahan atas tanah kosong dalam bentuk tarif progresif dengan tujuan mengoptimalkan penggunaan lahan dan juga mencegah para spekulan tanah untuk berinvestasi di lahan kosong dalam waktu yang relatif panjang tanpa adanya pemanfaatan yang produktif. Namun hal ini masih sebatas wacana dan sampai saat ini belum ada realisasi. Pemajakan atas tanah yang diterapkan sekarang lebih berorientasi untuk menambah penerimaan negara (budgetair), sedangkan fungsi pajak untuk mengatur penggunaan tanah (regulerend) masih kurang diterapkan.
Akibat dari tidak adanya pajak yang ditujukan untuk mengatur penggunaan tanah, terjadi penguasaan lahan-lahan idle (bank tanah) oleh para pengembang properti diseluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPN sampai dengan Q1 tahun 2020, bank tanah (landbank) yang dimiliki oleh hanya 6 pengembang besar telah mencapai nilai 37.2 Triliun rupiah, sedangkan jumlah pengembang properti diseluruh Indonesia mencapai lebih dari 6.000 perusahaan. Hal ini berpengaruh pada berkurangnya tanah yang dapat digunakan oleh masyarakat menengah kebawah dalam memiliki hunian yang terjangkau.
Berdasarkan azas
efisiensi, pengenaan pajak tambahan untuk tujuan mengatur penguasaan tanah oleh
kelompok tertentu paling memungkinkan dan
tepat adalah dengan melalui pengenaan tarif tertinggi Pajak Bumi dan Bangunan. Diharapkan dengan
bertambahnya beban pajak tersebut maka pemilik tanah akan segera melakukan
langkah-langkah pemanfaatan tanah atau menjualnya kepada pihak lain
yang memerlukan.
Rusun Rp 10.000 untuk Para Pemulung
Asmani (40) bersemangat membuka pintu kamar unit hunian di lantai lima Rusun Sentra Timur Terpadu Pangudi Luhur, Kota Bekasi, Jabar, Jumat (24/3) siang. ”Semua lengkap, dari meja makan, tempat tidur, kompor gas, sampai piring, sendok, juga ada. Saya dan suami ke sini, hanya bawa pakaian saja,” kata ibu dengan tiga anak itu. Kondisi unit di lantai lima yang ditempati Asmani bersama suami bertipe 24, dengan satu kamar tidur, sa tu ruang tamu, satu kamar mandi, satu ruang memasak (dapur), dan balkon. Dia akhirnya merasakan keseruan mandi di rumah yang dilengkapi shower. Pengalaman itu merupakan pengalaman pertama yang dia rasakan setelah menginjak usia 40 tahun, kata perempuan asal Karawang, Jabar itu.
Wajah ceria juga menyelimuti Ozmah (50), warga lain yang baru dua minggu tinggal di lantai dua Rusun Sentra Timur Terpadu Pangudi Luhur. Perempuan itu, Jumat sore, menggendong cucunya berkeliling di halaman depan rusun. Tempat tinggal yang dia tempati saat ini kondisinya jauh berbeda dengan lapak yang dia huni sejak tiga tahun lalu di Duren Jaya. Lapak yang sebelumnya ditempati perempuan asal Karawang itu hanya cukup untuk dua orang. Di lapak itu, Ozmah selama tiga tahun tinggal bersama suami yang menderita penyakit saraf terjepit, yang berakhir dengan kelumpuhan.
Rusun Sentra Timur Terpadu Pangudi Luhur merupakan rusun yang dibangun Kementerian PUPR bersama Kementerian Sosial bagi eks gelandangan dan pengemis yang dibina Kementerian Sosial. Rusun satu menara yang berlantai lima itu memiliki 93 unit tipe 24. Dari 93 unit itu, lima unit untuk difabel dan 88 unit tipe regular dengan kapasitas tampung 362 orang. Total anggaran untuk membangun rusun tersebut Rp 34,5 miliar. Dirjen Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto mengatakan, pihaknya juga tengah membangun hunian serupa untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di tempat lain. Rusun serupa yang sedang dalam proses pembangunan ada di Jaktim dan Solo, Jateng. Terkait biaya sewa, masyarakat yang tinggal di rusun itu dikenai biaya sewa per unit Rp 10.000 per bulan. Penentuan biaya sewa itu sudah dihitung dan disesuaikan dengan pendapatan pemulung yang berkisar Rp 300.000 sampai Rp 600.000 per bulan. Warga yang tinggal di Rumah Susun Sentra Timur Terpadu Pangudi Luhur juga dibatasi masa tinggalnya, selama tiga tahun. (Yoga)
Ciputra Menggenjot Proyek Baru
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) melalui anak usahanya PT Ciputra Residence menargetkan pertumbuhan bisnis segmen hunian residensial hingga 50% pada tahun 2023. Grup Ciputra sudah mempersiapkan sejumlah strategi. Satu diantaranya adalah meluncurkan dua hingga tiga proyek baru di sepanjang tahun ini.
"Tahun ini ada beberapa proyek, yang terbaru sudah meluncur Citra Garden Serpong, nanti menyusul Citra City Sentul, dan ada pula yang di Medan," ungkap
Managing Director
PT Ciputra Residence Budiarsa Sastrawinata kepada KONTAN, kemarin.
Proyek anyar Citra Garden Serpong merupakan
green development
dengan total luas pengembangan mencapai 350 hektare (ha). Selain itu, Ciputra akan terus mengembangkan proyek
existing
dengan menambah dan membuka klaster-klaster hunian baru, terutama di wilayah kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya, Medan dan Makassar.
Sebelumnya,
Head of Investor Relation
Ciputra Development, Aditya Ciputra Sastrawinata memerinci perolehan
marketing sales
tahun 2022 berasal dari kontribusi penjualan produk perumahan yang menjadi kontributor utama dengan menyumbang 79% terhadap total penjualan. Sumbangsih berikutnya adalah penjualan ruko yang berkontribusi sebesar 17%, diikuti penjualan apartemen 3%, dan perkantoran 1%.
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









