Perbankan
( 2293 )BTN Cetak Laba Bersih Rp 2,37 Triliun
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp 2,37 triliun pada 2021. Kenaikan laba ditopang penyaluran kredit yang tumbuh 5,66 % dari Rp 260,11 triliun pada 2020 menjadi Rp 274,83 triliun pada 2021. ”Kami optimis, saat ekonomi makin pulih, permintaan KPR dapat meningkat lebih tinggi,” kata Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo, Selasa (8/2), di Jakarta. (Yoga)
Bunga Deposito, Tak Indah Lagi
Bisa dibilang bunga deposito kini tak menarik lagi karena angkanya terus merosot ke titik nadir. Berdasarkan data BI, rata-rata bunga deposito jangka 1 bulan perbankan nasional per akhir November 2021 hanya 3,05 % per tahun, terendah sepanjang sejarah Indonesia. Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan bunga deposito, yang paling berpengaruh tentulah suku bunga acuan BI, yakni BI 7-day (Reverse) Repo Rate (BI-7DRR). Setiap pergerakan suku bunga acuan akan diikuti dengan cepat oleh perbankan. Transmisi dari suku bunga acuan ke suku bunga deposito berjalan sempurna. Sejak November 2018, BI-7DRR secara konsisten menurun, dari 6 % menjadi 3,5 % saat ini. Tren penurunan suku bunga acuan tersebut tak terlepas dari rendah dan stabilnya inflasi beberapa tahun terakhir serta upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.
Bunga deposito semakin menukik ke bawah karena selama pandemi, likuiditas perbankan sangat melimpah, tercermin dari rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/dana pihak ketiga yang per November 2021 mencapai 154,9 % dan 34,24 %, di atas ambang batas 50 % dan 10 %. Rendahnya suku bunga deposito juga mempercepat kebangkitan industri reksa dana yang sebelumnya terpuruk akibat berbagai skandal oleh sejumlah manajer investasi. Merosot sejak Februari 2021, jumlah unit penyertaan dan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana kembali tumbuh mulai Juni 2021. (Yoga)
Jenius Luncurkan Fitur Untuk Permudah Investasi Reksa Dana
Jenius dari PT Bank BTPN Tbk meluncurkan fitur investasi untuk mempermudah pengguna melakukan investasi Reksa Dana langsung dari aplikasi Jenius. Digital Banking Business Product Head Bank BTPN Waasi B Sumintardja menjelaskan, setelah melalui proses kokreasi dengan masyarakat digital savvy, Jenius meluncurkan fitur investasi ini "Fitur ini juga semakin melengkapi sederet fitur-fitur di aplikasi Jenius yang membantu digital savvy untuk bertransaksi, mengatur cash flow, dan menabung," jelas Waasi dalam keterangan resmi, Jumat (4/2) seperti dilansir Antara.
Bank Allo Rampungkan ”Right Issue”
Allo Bank Indonesia atau Bank Allo telah menyelesaikan penawaran saham baru (rights issue). Pada keterbukaan informasi kepada BEI, Finance, Planning & Control Division Head Bank Allo Aryanto Halawa menyatakan, PT Bukalapak.com Tbk, Abadi Investment Pte Ltd, dan PT Indolife Investama Perkasa resmi menjadi pemegang saham Allo Bank bersama pemegang saham sebelumnya. (Yoga)
Empat Bank BUMN Kuasai Mayoritas Pasar Kredit
Di tengah pandemi, perbankan nasional mampu membukukan pertumbuhan penyaluran kredit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan pertumbuhan kredit nasional naik 5,24% year on year (yoy). Dari Rp 5.482 triliun menjadi Rp 5.769 triliun sepanjang 2021. Di masa pandemi pula, tercipta rekor baru penyaluran kredit. Bank Mandiri secara konsolidasi mencatatkan kredit Rp 1.050,16 triliun di 2021, naik 8,86% secara tahunan dibanding tahun 2020 sebesar Rp 964,72 triliun. Nilai itu berkontribusi 18,2% terhadap total pasar kredit. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi menyatakan, kredit korporasi masih menjadi salah satu motor penggerak. Dengan realisasi Rp 370 triliun atau tumbuh 8% secara konsolidasi.
Sementara Bank BNI menyalurkan kredit Rp 582,43 triliun sepanjang tahun lalu, naik 5,3% yoy dibanding tahun 2020 sebesar Rp 553,1 triliun. BTN menyalurkan kredit Rp 273,46 triliun hingga 11 bulan pertama 2021 tumbuh 5,84% yoy dibanding November 2020 yang senilai Rp 258,35 triliun. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto menyatakan, secara konsolidasi, kredit BRI tembus Rp 1.026,42 triliun pada akhir September 2021. Hitung punya hitung, empat bank BUMN itu semakin dominan dalam penyaluran kredit perbankan.Laba Perbankan 2021 Tumbuh Signifikan
Industri perbankan mencatatkan laba signifikan pada 2021, bahkan melampaui perolehan 2019 atau sebelum pandemi Covid-19. Penyaluran kredit melaju seiring pulihnya perekonomian. Hal itu menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan laba perbankan. Bank terbesar kedua di Tanah Air, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, mencatat laba bersih Rp 28,03 triliun pada 2021 atau tumbuh 66,8 % dibandingkan 2020. Dirut Bank Mandiri Darmawan Junaidi (27/1), menjelaskan, pertumbuhan laba bersih itu ditopang optimalisasi fungsi intermediasi perseroan dan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Laju tahunan kredit secara konsolidasi bertumbuh 8,86 % menjadi Rp 1.050,16 triliun. Segmen kredit korporasi menjadi motor penggerak pertumbuhan dengan realisasi Rp 370 triliun atau tumbuh 8 % secara tahunan. Penyaluran kredit UMKM pada Bank Mandiri meningkat 15 %, menembus Rp 103,5 triliun.
Bank terbesar ketiga di Indonesia, PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, juga mencatat laba bersih konsolidasi 2021 sebesar Rp 31,4 triliun dan tumbuh 15,8 % dibandingkan 2020. Dirut BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, peningkatan laba berasal dari pertumbuhan penyaluran kredit 2021 sebesar 8,2 %. Total kredit yang disalurkan BCA Rp 636,98 triliun pada 2021. Pertumbuhan kredit BCA terjadi di hampir semua segmen, dan paling tinggi ditopang segmen korporasi dan KPR. Pertumbuhan tertinggi kredit BCA terjadi pada sektor KPR yang mencapai 8,2 % sebesar Rp 97,5 triliun. Jahja menjelaskan, pertumbuhan kredit yang meningkat tersebut dipicu kondisi ekonomi yang terus membaik. (Yoga)
Tiongkok Kembali Pangkas Suku Bunga Pinjaman
Bank sentral Tiongkok kembali memangkas suku bunga pinjaman bank pada Kamis (20/1) untuk meningkatkan laju ekonominya yang sedang tersendat. Dukungan kebijakan ini sangat dibutuhkan terutama untuk perusahaan-perusahaan pengembang properti. Harga saham dan obligasi perusahaan properti tiba-tiba melonjak karena penurunan suku bunga baru dari bank sentral Tiongkok (PBoC). Bank sentral menyatakan telah menurunkan suku bunga dasar kredit (LPR) pinjaman satu tahun menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,8% pada Desember 2021. Tetapi investor mendapatkan kembali kepercayaan ditengah ekspektasi pelonggaran peraturan. Pihaknya juga memangkas suku bunga untuk kebijakan pinjaman satu tahun pada Senin (17/1). Tiongkok adalah satu-satunya ekonomi utama yang berkembang pada 2020, karena dapat mengendalikan wabah dengan cepat. (Yetede)
Satgas BLBI Kembali Sita Aset Texmaco Rp 1,96 Triliun
Satgas bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kembali melakukan penyitaan aset Jaminan Group Texmaco yang dimilki Marimutu Sinivasan senilai Rp 1,96 triliun. Hingga kini total aset Texmaco yang disita tercatat mencapai Rp5,29 triliun. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD dalam keterangan resminya, Kamis (20/1). Aset Texmaco yang disita kali ini mencakup 159 bidang tanah dengan total luas 1,93 juta m2. Sebelumnya, tanggal 23 Desember 2021, satgas BLBI juga telah menyita aset Texmaco berupa 587 bidang tanah seluas 4,79 juta m2. Perkiraan nilai total aset yang telah disita dari Group Texmaco dalam 2 tahap penyitaan mencapai Rp 5,29 triliun. Sementara itu, sebanyak 10 hingga 11 oknum pegawai Diretorat Jendral Kekayaan Negara Kementerian Keuangan telah ditahan Bareskrim Polri lantaran terlibat dalam kasus dugaan surat pemalsuan surat jaminan aset berharga BLBI. (Yetede)
Momentum Bank Dulang Cuan
Capaian kinerja pada 2021 yang diramal moncer bakal menjadi modal kuat bagi bank dalam memacu bisnis pada 2022. Demikian pula dengan tren positif sejumlah indikator ekonomi yang diyakini menjadi katalis positif bagi bank dalam mengerek kredit di tengah situasi menantang akibat pandemi Covid-19. Pelaku industri perbankan optimistis kinerja pada 2022 akan baik kendati tetap mewaspadai dampak dari penurunan kualitas kredit.
Alhasil, meriahnya permintaan kredit yang diimbangi dengan tingkat suku bunga rendah, serta berbagai terobosan inovasi perbankan, mengungkit laba yang dibukukan bank. Bahkan, saat dana pihak ketiga (DPK) menumpuk lantaran laju kredit belum naik tinggi, bank masih bisa mendulang cuan dari penempatan dananya di surat berharga negara. Berdasarkan data Bisnis Indonesia Resources Center (BIRC), laba bersih bank sampai dengan kuartal III/2021 mencapai Rp103,52 triliun. Nilai itu telah melampaui kinerja laba pada akhir 2020 yang tercatat Rp98,32 triliun. Sementara itu, konsensus analis di Bloomberg memperkirakan laba bersih sebanyak sembilan bank papan atas pada 2021 sekitar Rp106,91 triliun. Kelompok bank itu rata-rata mewakili 74% dari total laba industri perbankan nasional. (Lihat infografik) Mengacu pada asumsi tersebut, laba di industri perbankan nasional pada 2021 dapat menyentuh Rp130 triliun—Rp140 triliun.
Cegah Jadi Gimmick, OJK Siapkan Beleid Bank Digital
Fenomena saat ini, bank bermodal cekak mendapat investor baru. Lalu investor menyebut institusi yang mereka bandari itu sebagai bank digital. Dan menimbulkan euforia di bursa saham. Bank digital menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menyebutkan, nasabah memang membutuhkan layanan yang serba digital. Namun, tak boleh melupakan keamanan dan perlindungan nasabah.
Makanya OJK akan menyusun aturan transformasi digital perbankan yang mengatur terkait pengelolaan data nasabah, keamanan siber, layanan nasabah, hingga keamanan transaksi. Termasuk juga permodalan bank dengan opsi mendirikan bank digital baru dengan modal Rp 10 triliun. Atau transformasi bank yang sudah ada menjadi digital dengan modal yang sudah ada sebesar Rp 3 triliun. "Ini kami sebut digital maturity banking, artinya bank yang menyebut dirinya sebagai bank digital ada ukurannya bagi OJK. Bisa kami ukur seberapa jauh layanan digital yang dimiliki. Jadi tidak semua bank bisa mengatakan dirinya sebagai bank digital," ujar Heru kepada KONTAN, pekan lalu.









