Perbankan
( 2293 )Pembahasan Tapering dan Kenaikan Suku Bunga AS Picu Outlow
Bank Indonesia (BI) mencatat adanya aliran modal asing yang keluar dari pasar uang dalam negeri mencapai Rp 1,68 triliun berdasarkan data transasksi 3-6 Januari 2022. Hal ini disebabkan dampak dari pembahasan intens terkait tapering dan kenaikan suku bunga acuan Bank Central Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat. Kepala Departemen Pengelolaan Meneter Bank Indonesia Haryadi Ramelan yang dihubungi secara terpisah mengatakan, ada faktor yang menyebabkan aliran modal asing keluar dalam sepekan dan meningkatnya yeild surat utang pemerintah tenor 10 tahun. "Terkait yield US Treasure 10 tahun yang naik selama 1,6% menjadi 1,73%, juga dipengaruhi (Rapat FOMC), lebih khusus lagi menyebut bahwa The Fed berpotensi mempercepat rencana kenaikan Fed Fund rate dari semula Juni menjadi Mei atau bahkan Maret apabila ternyata ancaman inflasi di AS masih persisten," katanya kepada Investor Daily, Sabtu (9/1). (Yetede)
Tantangan Perbankan 2022
Menggeliatnya konsumsi dan produksi akhir tahun 2021 merupakan sinyal positif bagi prospek perekonomian tahun 2022. Selama pandemi, industri perbankan beradaptasi, menyesuaikan perubahan pola konsumsi nasabah yang erat dengan dunia digital, perbankan pun beramai-ramai mengeluarkan layanan perbankan digital, yang menciptakan peluang baru, diantaranya makin besarnya peluang penyaluran kredit ke segmen mikro dan ultra mikro yang belum terjangkau perbankan konvensional. Dengan indikator positif itu, pertumbuhan kredit tahun 2022 diperkirakan mencapai 8-10 %. Meski tahun 2022 disambut optimisme tinggi, masih ada tantangan yang harus diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit bank bisa optimal. Tantangan utama dari kehadiran varian baru Omicron, kemudian faktor eksternal global, seiring pulihnya ekonomi negara maju, normalisasi kebijakan moneter akan terjadi. Bank sentral AS (The Fed), berencana mengurangi stimulus moneter dan menaikkan tingkat suku bunga acuan yang memicu keluarnya dana asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk mencegahnya, dilakukan penaikkan suku bunga acuan di Indonesia. Namun, langkah ini mendorong kenaikan suku bunga kredit perbankan. Dampaknya, permintaan masyarakat akan kredit, ujungnya, pertumbuhan ekonomi bisa tidak optimal. Tantangan lain adalah potensi kenaikan kredit macet (non-performing loan/NPL). (Yoga)
Tantangan Perbankan 2022
Menggeliatnya konsumsi dan produksi akhir tahun 2021 merupakan sinyal positif bagi prospek perekonomian tahun 2022. Selama pandemi, industri perbankan beradaptasi, menyesuaikan perubahan pola konsumsi nasabah yang erat dengan dunia digital, perbankan pun beramai-ramai mengeluarkan layanan perbankan digital, yang menciptakan peluang baru, diantaranya makin besarnya peluang penyaluran kredit ke segmen mikro dan ultra mikro yang belum terjangkau perbankan konvensional. Dengan indikator positif itu, pertumbuhan kredit tahun 2022 diperkirakan mencapai 8-10 %. Meski tahun 2022 disambut optimisme tinggi, masih ada tantangan yang harus diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit bank bisa optimal. Tantangan utama dari kehadiran varian baru Omicron, kemudian faktor eksternal global, seiring pulihnya ekonomi negara maju, normalisasi kebijakan moneter akan terjadi. Bank sentral AS (The Fed), berencana mengurangi stimulus moneter dan menaikkan tingkat suku bunga acuan yang memicu keluarnya dana asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk mencegahnya, dilakukan penaikkan suku bunga acuan di Indonesia. Namun, langkah ini mendorong kenaikan suku bunga kredit perbankan. Dampaknya, permintaan masyarakat akan kredit, ujungnya, pertumbuhan ekonomi bisa tidak optimal. Tantangan lain adalah potensi kenaikan kredit macet (non-performing loan/NPL). (Yoga)
Mempertanyakan Komitmen Aksi Iklim Bank BUMN
Data BNPB menyebutkan sepanjang 2021 terjadi 2.841 bencana alam yang didominasi bencana iklim. Kejadian bencana naik 19,4 % dari 355 pada 2020 jadi 424 kejadian pada 2021. Jumlah pengungsi dan terdampak bencana naik 153 % dari 265.913 orang jadi 672.736 orang.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, kerugian ekonomi Indonesia akibat krisis iklim mencapai Rp 100 triliun per tahun, meningkat seiring ekstremnya cuaca. Semua pihak memiliki peran menghentikan krisis iklim ini, termasuk sektor perbankan, terutama bank BUMN. Desember 2021, koalisi #BersihkanIndonesia, gabungan ormas sipil yang mengajak masyarakat aktif mendorong perubahan kebijakan energi dan lingkungan, mengirimkan surat kepada para CEO bank BUMN, seperti Bank Mandiri dan BNI, agar menghentikan pendanaan ke sektor batubara. yang mempercepat terjadinya krisis iklim, namun hingga penghujung 2021, belum ada hasilnya, Padahal, jika membaca Sustainability Report-nya, mereka berkomitmen ikut mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), penyebab krisis iklim. (Yoga)
Efek Tappering Off, Imbal Hasil SBN Bisa Terkerek Naik di 2022
BI bersiap hadapi efek kebijakan tapering off dari bank sentral AS (The Fed), yang akan meningkatkan suku bunganya tahun depan. Gubernur BI Ferry Warjiyo memperkirakan The Fed menggerek suku bunga pertengahan tahun depan, yang mempengaruhi pebingkatan suku bunga surat utang pemerintah AS atau US Treasurry. Bila US Treasury naik, Indonesia harus menyesuaikan, Ferry menyebut, BI dan pemerintah memperkirakan imbal hasil SBN bisa terkerek di 50 basis poin (bps). Peningkatan suku bunga The Fed bisa menimbulkan ketidakpastian pasar keuangan yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, yang merurut Ferry bisa dijaga dengan intervensi pasar spot, pasar domestic non deliverable forward (DNDF) dan pembelian SBN di pasar sekunder. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman melihat peningkatan suku bunga The Fed mendepresiasi nilai tukar rupiah di 14.600 per USD, lebih rendah dari akhir tahun ini 14.400 per USD. (Yoga)
Kenaikan Suku Bunga dan Galur Omicron
Bank sentral Inggris atau BoE (16/12/2021), jadi bank sentral negara G-7 pertama yang menaikkan suku bunga acuan sejak pandemi Covid-19 memukul ekonomi global. BoE menyebut, tekanan inflasi mendasari kenaikan suku bunga, inflasi kemungkinan mencapai level 6 % pada April, 3 kali target. Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 galur Omicron merugikan pedagang ritel dan restoran. Namun, BoE terdorong menghentikan lonjakan harga agar tidak jadi masalah jangka panjang. Tertangkap perubahan dinamika dan pilihan responsnya, pengambil kebijakan tiap negara mencari cara meredam dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.
Sehari sebelumnya Bank Sentral AS (The Fed), akan mengakhiri program pembelian surat utang dan mengisyaratkan tiga kali kenaikan suku bunga acuan tahun depan. The Fed mengisyaratkan, lonjakan inflasi adalah risiko terbesar, bukan potensi kerusakan ekonomi dari varian Omicron yang menyebar cepat. Gubernur The Fed Jerome Powell antusias tentang kekuatan pasar kerja AS. ”Ekonomi tidak lagi membutuhkantambahan dukungan kebijakan,” katanya. (Yoga)
Masa Panen Bank
Kebangkitan kinerja perbankan menunjukkan tren yang membesarkan hati. Tumbuh perlahan tapi pasti dengan kondisi keseluruhan yang cukup solid. Kucuran kredit kepada debitur terus meningkat untuk sektor-sektor yang mulai kembali bergairah. Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan, hingga November 2021, outstanding kredit perbankan tercatat Rp 5.694,9 triliun atau meningkat 4,4% secara year-on-year (yoy). Peningkatan penyaluran kredit pada November 2021 terjadi pada seluruh jenis kredit. Kredit Modal Kerja tumbuh menguat. Sedangkan kredit investasi yang pada Oktober masih kontraksi 0,2%, pada November 2021 berbalik arah tumbuh positif sebesar 3,4% (yoy). Bukan hanya semangat memompa kredit, bank pun patuh dalam mentransmisikan kebijakan suku bunga BI dengan memangkas suku bunga kredit maupun simpanan. (Yetede)
Waspada, Modus Kejahatan Perbankan di Era DIgital
Era digital membuat hidup semakin gampang. Di sektor keuangan, hampir semua transaksi ritel bahkan sudah menggunakan kanal digital. Direktur Teknologi Informasi dan Operasi PT Bank Negara Indonesia (BBNI) YB Hariantono mengatakan, risiko kejahatan perbankan yang paling susah dicegah datang dari sisi nasabah. "Seperti penipuan social engineering. Ini susah karena berada di luar kontrol bank," katanya pada KONTAN, Kamis (23/12). Di sisi lain, nasabah juga harus waspada. Seperti jangan memposting data diri pribadi dan main percaya dengan media sosial. Ibarat kata, percuma sudah digebok, tapi kunci gembok gampang diambil penjahat.
BI-Fast Jadikan Biaya Transfer Antarbank Rp. 2.500 Per Transaksi
BI menerapkan BI-Fast sebagai sistem pembayaran nasional mulai Selasa (21/12/2021) mengganti Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia atau SKNBI. Transfer antar bank Rp 2.500 per transaksi, lebih rendah dari SKNBI, Rp 6.500 per transaksi. Harapannya, meningkatkan volume transaksi hingga dorong pemulihan ekonomi. Gubernur BI Perry Warjiyo jelaskan BI-Fast adalah infrastruktur sistem pembayaran ritel nasional yang memfasilitasi pembayaran ritel real time, aman, efisien, dan tersedia setiap saat, 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Maksimal transaksi BI-Fast diawal adalah Rp 250 juta per transaksi.
Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia Santoso Liem menyampaikan dukungan dan komitmen industri terkait inisiatif BI sebagai sarana reformasi lanskap digitalisasi pemulihan ekonomi nasional. Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teuku Riefky menjelaskan, kebijakan ini menguntungkan dari sisi perbankan maupun nasabah. ”Pada ujungnya ini semua untuk meningkatkan produktivitas,” ujarnya. (Yoga)
Bank Dunia akan Suntik Negara-Negara Termiskin dengan Bantuan US$ 93 M
Bank dunia akan membantu negara-negara termiskin di dunia mendapat suntikan dana US$ 93 miliar. Dana tambahan akan digunakan untuk meningkatkan bantuan bagi pemulihan pandemi dan program lainnya, kata pengumuman lembaga itu pada Kamis.Itu adalah penambahan terbesar yang pernah ada untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) yang memberikan hibah untuk 74 negara, sebagian besar berada di wilayah Afrika. "Komitmen yang dermawan hari ini oleh mitra kami adalah langkah penting untuk mendukung negara-negara termiskin dalam upaya mereka utuk pulih dari krisis Covid-19," kata Presiden Bank Dunia David Malpas, Rabu (15/12). Bank Dunia mengatakan, dana tersebut akan membantu negara-negara lebih mempersiapkan diri untuk krisis di masa depan. (Yetede)








