Perbankan
( 2293 )Bisnis Indonesia Award 2021, Tak Goyah Diterpa Pandemi
Badai pandemi Covid-19 yang menerpa perekonomian Indonesia sejak tahun lalu tak menyurutkan sejumlah korporasi untuk terus meracik strategi apik dan mencetak pertumbuhan kinerja yang solid. Presiden Komisaris Bisnis Indonesia Group Haryadi B. Sukamdani mengatakan setelah mampu bertahan di tengah pandemi yang berkepanjangan, sejumlah perusahaan justru mampu membukukan kinerja gemilang tanpa mengabaikan prinsip good corporate govermance. "Diajang kali ini, kami mengambil tema growth in pandemic yang ditetapkan untuk memberikan apresiasi kepada emiten dan nonemiten yang tidak sekedar bertahan, tetapi juga mampu menggapai pertumbuhan di era pandemi Covid-19 yang hingga kini belum juga berakhir," ujarnya, kala membuka Bisnis Indonesia Award 2021, Rabu (15/9).
Dalam ajang yang dilaksanakan secara daring ini, ada tiga katagori besar penerima penghargaan, yakni katagori Bank Terbaik, Emiten Terbaik, dan Specialy Award dengan total 40 penghargaan yang diberikan. Wakil Direktur PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, (BMRI) Alexander W. Askandar mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diraih perseroan. Adapun Bank Mandiri berhasil menyabet penghargaan pada katagori Bank Terbaik disektor bank persero. Sementara itu, PT Mark Dynamics Tbk sukses meraih penghargaan pada katagori emiten terbaik disektor barang perindustrian.
Presiden Direktur MARK Ridwan Goh mengatakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur cetakan sarung tangan, tumbuh sangat pesat selama pandemi. Penghargaan lain juga sukses diraih Reynaldi Hermansyah, Presiden Direktur PT Indonesia Infrastucture Finance, sebagai The Most Inspiring CEO for Sustainable Development. Dibawah nahkoda Reynaldi dianggap terus mampu menunjukkan komitmennya dalam menciptakan produk-produk inovatif dengan tetap memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. (YTD)
BI Suntik Likuiditas Rp 118,35 T ke Perbankan per Agustus 2021
Bank Indonesia (BI) terus melakukan injeksi likuiditas atau quantitative easing di perbankan di 2021 ini. Total dana injeksi mencapai Rp 97,34 triliun pada semester pertama dan Rp 21 triliun hingga 31 Agustus 2021, di semester kedua.
Sementara pada 2020, suntikan likuiditas BI mencapai Rp 726,57 triliun. Sehingga secara total sejak 2020, BI telah melakukan injeksi likuiditas sebesar Rp 845 triliun atau setara 5,3 persen PDB.
Menurut Destry, kebijakan ekspansi moneter ini telah membuat kondisi likuiditas perbakan hingga Juli 2021 sangat longgar. Ini terlihat dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi yaitu 32,51 persen.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo juga telah beberapa kali menyinggung soal kebijakan injeksi likuiditas ini. Perry telah memberi sinyal bahwa injeksi likudiitas pada tahun 2022 bakal terus berkurang.
BNI Securities Kantongi Izin Operasi di Singapura
BNI Securities Pte Ltd (BSPL), anak usaha PT BNI Sekuritas (BNIS) resmi memperoleh persetujuan operasi dari Monetary Authority of Singapura (MAS) untuk menjalankan bisnis layanan pasar modal di Singapura. Berdasarkan keterangan resmi, Senin (13/9), izin operasi tersebut diraih pada 8 September 2021. Dengan adanya izin operasi BSPI, maka BNI Sekuritas dapat mejalankan kegiatan layanan pasar modal di Singapura, baik bisnis fixed income brokerage, maupun underwriting melalui BSPL.
Melalui BSPL, Group BNI akan menjadikan BSPL, sebagai pusat kegiatan pasar modal internasional BNI, termasuk menyediakan akses bagi nasabah dan emiten ke global investor dengan fokus awal pada fixed income brokorage atau perdagangan surat utang. Tujuan pembukaan BNI Sekuritas Pte Ltd di Singapura merupakan salah satu strategi BNI Sekuritas dan Group BNI untuk memperkuat posisi sebagai regional player yang dapat memberikan layanan perbankan dan pasar keuangan global.
BNI Sekuritas telah mempunyai izin sebagai perantara pedagang efek, pinjaman emisi efek, dan agen penjualan reksa dana sedangkan aktivitas manager investasi dilakukan melalui anak usahanya, PT BNI Asset Management. Bisnis perantara pedagang efek melayani transaksi untuk saham, obligasi negara, maupun obligasi korporasi. Dengan lebih dari 175 ribu account, saat ini bisnis perantara dagang efek BNI Sekuritas pada akhir Agustus 2021 menduduki peringkat ke-6 dari frekwensi transaksi saham dan peringkat ke-9 untuk volume transaksi saham. (YTD)
BNI Securities Kantongi Izin Operasi di Singapura
BNI Securities Pte Ltd (BSPL), anak usaha PT BNI Sekuritas (BNIS) resmi memperoleh persetujuan operasi dari Monetary Authority of Singapura (MAS) untuk menjalankan bisnis layanan pasar modal di Singapura. Berdasarkan keterangan resmi, Senin (13/9), izin operasi tersebut diraih pada 8 September 2021. Dengan adanya izin operasi BSPI, maka BNI Sekuritas dapat mejalankan kegiatan layanan pasar modal di Singapura, baik bisnis fixed income brokerage, maupun underwriting melalui BSPL.
Melalui BSPL, Group BNI akan menjadikan BSPL, sebagai pusat kegiatan pasar modal internasional BNI, termasuk menyediakan akses bagi nasabah dan emiten ke global investor dengan fokus awal pada fixed income brokorage atau perdagangan surat utang. Tujuan pembukaan BNI Sekuritas Pte Ltd di Singapura merupakan salah satu strategi BNI Sekuritas dan Group BNI untuk memperkuat posisi sebagai regional player yang dapat memberikan layanan perbankan dan pasar keuangan global.
BNI Sekuritas telah mempunyai izin sebagai perantara pedagang efek, pinjaman emisi efek, dan agen penjualan reksa dana sedangkan aktivitas manager investasi dilakukan melalui anak usahanya, PT BNI Asset Management. Bisnis perantara pedagang efek melayani transaksi untuk saham, obligasi negara, maupun obligasi korporasi. Dengan lebih dari 175 ribu account, saat ini bisnis perantara dagang efek BNI Sekuritas pada akhir Agustus 2021 menduduki peringkat ke-6 dari frekwensi transaksi saham dan peringkat ke-9 untuk volume transaksi saham. (YTD)
Menko Airlangga Apresiasi OJK dan Perbankan Bantu Akses Pembiayaan UMKM-Sektor Informal
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar terpenting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Jumlah UMKM yang mencapai 99,9 persen dari pelaku usaha juga telah berhasil menyerap tenaga kerja sebesar 97 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Secara keseluruhan, UMKM telah berkontribusi sebesar 61,07 persen terhadap PDB Indonesia atau senilai Rp 8.573,89 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan perbankan dalam membantu menyelamatkan UMKM dan sektor informal di masa pandemi.
Dalam webinar yang bertajuk "OJK Dorong Perbankan Selamatkan UMKM dan Sektor Informal" yang diselenggarakan oleh Alika Communication, Kamis (9/9), Menko Airlangga juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama bagi permulihan UMKM dan sektor informal saat ini adalah akses pembiayaan.
"Keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan yang diberikan oleh OJK dan perbankan. Saya sangat mengapresiasi OJK dan perbankan atas dukungannya dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional, terutama untuk UMKM dan sektor informal," ujar Menko Airlangga.
Bank Digital sebagai Branchless Banking
Perkembangan teknologi semakin maju, bahkan sangat pesat di era Pandemi Covid-19 seperti saat ini karena masyarakat menginginkan kemudahan-kemudahan dalam mengakses berbagai layanan dalam bermacam bisnis Industri. Industri perbankan juga berlomba dalam memberikan layanan berbasis digital karena telah menjadi gaya hidup saat ini dan masa depan dalam kehidupan masyarakat. Perbankan digital memberikan pelayanan selayaknya bank konvensional secara umum, namun memiliki perbedaan yaitu segala urusan pelayanan perbankan dilakukan secara mandiri melalui smartphone. Perbankan digital memungkinkan pelanggan untuk meperoleh layanan secara self service tanpa harus datang ke kantor.
Ada beberapa perbedaan antara bank digital dan m-banking, sms banking, dan e-banking maupun lainnya yang berbasis internet. perbedaan itu adalah layanan m-banking, sms banking, dan e-banking merupakan layanan sendiri yang bisa diakses lewat smartphone dengan fitur mulai dari pembayaran, pembelian, transfer, sampai dengan penarikan tunai tanpa kartu di mesin ATM. Di benua Asia ada WeBank dari Tiongkok yang tidak dikendalikan oleh bank tapi oleh fintech Tencent. Tidak ada izin operasi sebagai bank, tidak ada kantor cabang, hanya kantor-kantor pusat di Tencent.
Sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), bank digital didefinisikan sebagai Bank Berbadan Hukum Indonesia yang menyediakan dan menjalankan usaha yang utamanya melalui elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat. Selain wajib menyediakan modal inti senilai Rp 10 trilliun, ada beberapa syarat yang ditetapkan OJK untuk bank digital. Yaitu pertama memiliki model bisnis dengan penggunaan teknologi. Kedua, memiliki kemampuan untuk mengelola model bisnis perbankan digital dan prudent dan berkesinambungan.
Perkembangan bisnis bank digital memberikan banyak harapan terhadap layanan yang lebih baik kepada masyarakat karena mudahnya diakses dimanapun dan kapanpun. Selain itu dengan adanya penghematan belanja modal serta biaya operasional mendirikan untuk kantor diharapkan juga dapat menekan biaya operasional bank yang berujung pada tingkat suku bunga menjadi lebih menarik dan kompeitif. Jadi, kita akan melihat dan melayani perbankan yang lebih praktis, lebih mudah, cepat, dan efisien kapanpun dan dimanapun. (YTD)
Digitalisasi Layanan, Bank Mandiri Kenalkan EDC Android
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk fokus memperkuat positioning sebagai modern digital banking melalui konsistensi dalam melakukan transformasi layanan. Kali ini, Bank Mandiri mengenalkan Mesin Electronic Data Capture (EDC) Android yang akan meningkatkan kemudahan dan kenyamanan transaksi nasabah. Pasalnya, EDC Android ini dapat terintegrasi dengan berbagai layanan lain seperti system point of sales (POS), aplikasi merchant, dan juga platform promosi dan loyalti. Selain itu EDC Android dapat menerima lebih banyak alternatif pembayaran menggunakan QR code, nirsentuh dan wearrables.
Kerjasama ini ditandai melalui seremoni peluncuran Mandiri EDC Android bersama dengan Sogo Indonesia di Jakarta, Selasa (24/8). Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto, Managing Director Sogo Indonesia Handaka Santosa, Direktur Utama Yokke Niniek S Rahardja, serta diikuti oleh beberapa merchant utaman Bank Mandiri secara virtual. "Untuk merealisasikan visi Bank Mandiri menjadi partner finansial utama pilihan nasabah, kami terus beradaptasi dan mengadopsi perkembangan terkini terkait alat pembayaran digital agar dapat memberikan nilai tambah yang optimal kepada nasabah dan mitra merchant," jelas Aquarius dalamketerangannya, Selasa (24/8)
Menurut Niniek Rahardja, Mandiri EDC Android ini merupakan solusi Yokke sebagai payment dan technology enabler yang selalu hadir memberikan solusi yang tepat dan inovatif bagi merchant, bank partners, fintech, dan costumers. "Tujuan utama kami adalah menghadirkan pengalaman bertransaksi yang aman, nyaman, mudah, dan cepat bagi semua stakeholders dalam ekosistem pembayaran di Indonesia," Pungkas Niniek. (YTD)
Bank Digital Diharapkan Membentuk Ekosistem Baru
Peraturan baru Jasa Otoritas Keuangan (POJK) mensyaratkan bank digital berkontribusi terhadap pengembangan ekosistem keuangan guna mempercepat peningkatan inklusi keuangan. Bank dengan layanan digital penuh ini diharapkan bersinergi dengan fintech dan lembaga keuangan bukan bank lainnya agar penetrasi layanan keuangan menembus seluruh lapisan masyarakat. Tiga beleid yang baru adalah POJK No.12/POJK.03/2021 tentang Perubahan POJK No.34/POJK.03/2018 tentang penilain Kembali Pihak Utama Lembaga Jasa Keuangan.
Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Aviliani mengatakan, apabila bank melakukan kerjasama dengan non bank yang berbasis Teknologi Informasi (IT), resiko bisa saja hanya ditanggung perbankan. Padahal, investasi perbankan pada teknologi informasi sangat besar, maka perlu diatur juga dari sisi nonbank. "Saya usul ke OJK terkait SDM pengawasan bank digital ini, maka remunerasi juga harus naik. OJK harus mencari talenta terbaik yang dapat mengawasi bank digital, terutama dari sisi kejahatan siber," kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, diterbitkan POJK No12/POJK.03/2021 salah satunya bertujuan untuk mendukung akselerasi konsulidasi bank sebagai upaya untuk penguatan struktur, serta peningkatan ketahanan dan daya saing perbankan, sehingga lebih kontributif dalam perekonomian nasional. Tujuan lainnya adalah mendorong akselerasi transformasi digital, khususnya transformasi strategi bisnis bank kearah digital banking dengan menekankan pada aspek efisiensi layanan, perlindungan nasabah, termasuk keamanan data nasabah.
Direktur Penelitian Bank Umum OJK Muhammad Miftah mengatakan, bank di Tanah Air belum ada yang memenuhi ketentuan bank digital, namun baru sebatas masuk katagori sebagai bank yang melakukan layanan perbankan digital. Sejumlah bank tengah melakukan strategi pemenuhan modal inti minimun untuk menjadi bank digital, salah satunya PT Bank Digital BCA. Meski termasuk katagori kelompok usaha bank dibawah BCA, BCA digital berencana untuk menambah modal menjadi di atas 1,35 trilliun.
Pada kesempatan terpisah, Head of Equity Research BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin mengatakan, group BRI memiliki potensi ekosistem bank digital yang terbesar. "Bank pelat merah seperti BRI memiliki digitalisasi yang besar, lantaran memiliki sumber daya yang lengkap seperti didukung oleh skala, modal, jaringan, dan satelit," ucapnya.
Euforia Bank Digital Berlebihan
Euforia kehadiran bank digital di Indonesia berlebihan. Pasalnya, sejumlah tantangan akan dihadapi bank digital kedepannya. Untuk bisa sukses dan berkelanjutan, bank digital harus bersinergi dengan ekosistem agar memiliki basis nasabah yang kuat, mendorong nasabahnya aktif bertransaksi, dan menawarkan produk yang bagus dan user friendly. Tak hanya itu, bank digital juga mesti didukung SDM yang mapan seperti programer dan data analyst yang terbaik di bidangnya, serta modal yang besar.
Berdasarkan riset The Boston Consulting Group (BCG), dari 249 bank digital yang ada diseluruh dunia, hanya 13 yang profitable. Misalnya di Korea Selatan, dari tiga bank digital yang ada di negeri ginseng itu hanya satu yang profitable, salah satunya WeBank yang merupakan model dari berbagai digital bank.
Bank digital dalam bisnisnya mengandalkan artificial intelegence (AI) dan machine learning, namun membutuhkan pengalaman dan waktu. Sehingga untuk mendapatkan di awal, maka bank digital memerlukan modal besar. "Dari opportunity, 2020 volume transaksi digital banking itu Rp 27 ribu trilliun, tahun ini diharapkan tumbuh 19% menjadi Rp 32 ribu trilliun. Sehingga, kedepannya akan terus meningkat usaha bank untuk memberikan layanan lebih luas melalui bank digital," ungkap Wakil Ketua Perbanas Ahmad Sidik.
Sebagai pendatang baru, bank digital maih memiliki perjalanan panjang karena memerlukan ekosistem yang lengkap. "Kalau kita lihat, sekarang asing suka sekali dengan berita teknologi di Indonesia. Apalagi, kalau kita lihat sikap keras Tiongkok yang sudah menyebabkan dana di negara tersebut bergeser ke emerging matket salah satunya Indonesia yang mulai menuju era digital. Tapi perjalanan bank digital masih panjang." ucap Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee.
Perbanas juga menyambut baik penerbitan POJK 12 tentang bank Umum dan POJK 13 tentang Penyelenggara Produk Bank Umum oleh OJK. Menurut Siddik, dari POJK 12 terlihat ada ketegasan mengenai definisi bank digital, serta aturan main kepemilikan bank digital. "POJK mendekatkan level palying field bank dan fintech, memberikan ruang bank lebih inovatif menerbitkan produk digital. Salah satunya mempercepat proses perizinan produk menjadi 14 hari kerja," ujar Sidik. Lebih lanjut, Kemkominfo juga perlu meningkatkan SDM digital. Ini adalah kunci transformasi. Selain itu, juga menyediakan talenta-talenta digital. Saat ini Indonesia membutuhkan 600 ribu talenta digital untuk proses transformasi ini. (YTD)
Dukungan Dana Perbankan untuk Hulu Migas
Perbankan dalam negeri menganggap sektor industri hulu minyak dan gas bumi masih menarik untuk dibiayai meski transisi ke energi bersih mulai berjalan. Pendanaan tersebut sangat berarti dalam mendukung target pemerintah memproduksi minyak sebanyak 1 juta barel per hari pada 2030.Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Santoso Liem, menuturkan perusahaan tetap mendukung kebijakan pemerintah dengan membiayai proyek migas sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. “Industri migas memiliki efek berganda pada berbagai aspek perekonomian nasional,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Hingga Juni 2021, pembiayaan BCA untuk sektor pertambangan migas mencapai Rp 4,7 triliun.Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Aestika Oryza, menuturkan pembiayaan untuk sektor migas masih dijalankan. BRI, kata dia, memberikan kredit korporasi untuk mendanai proyek-proyek strategis pemerintah yang berdampak luas. “Faktor lain yang menjadi pertimbangan, yakni pembiayaan tersebut mampu memberikan nilai tambah yang lebih baik, seperti rantai nilai, transaksi, dan jasa bank lain,” kata dia.








