Perbankan
( 2293 )Merosot di Investasi Teknologi, SoftBank Catat Rugi Bersih
SoftBank pada Senin (8/11) mengumumkan rugi bersih kuartalan pertama pada 18 bulan, karena penindasan pada perusahaan teknologi di Tiongkok dan kerugian investasi lainnya menghantam portfolio Vision Fund. Perusahaan telekomunikasi yang berubah menjadi raksasa investasi itu juga mengumumkan pembelian kembali saham senilai satu triliun (US$ 8,8), dilaporkan dibawah tekanan dari pemegang saham yang frustasi dengan harga sahamnya yang turun. SoftBank Group telah menggelontorkan ke beberapa nama terbesar di dunia teknologi dan usaha baru, termasuk raksasa e-Commerce Tiongkok Alibaba dan perusahaan jasa tumpangan Didi Chuxing, melalui US 100 miliar Vision Fund.
Tetapi strategi CEO Masayoshi Son untuk menargetkan perusahaan teknologi dan perusahaan rintisan untuk mencari unicorn telah kontroversial dan menyebabkan rollercoaster pendapatan dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan mencatat kerugian bersih 397,9 miliar yen (setara US$ 3,5 miliar pada Juli-September 2021). Itu sangat terpukul oleh penurunan nilai Alibaba, juga memukul perusahaan-perusahaan di negara lain. Perusahaan e-commerce Korea Selatan Coupang, dengan laba bersih semenster pertama turun lebih dari 80% sejak awal tahun.
Secara total Softbank mengatakan kerugian investasi selama kuartal tersebut sebesar 1,66 triliun yen termasuk yang ditimbulkan oleh operasional Vision Fund. "Kami tidak bangga dengan itu. Indikator terpenting kami, nilai aset bersih, turun enam triliun yen. Hanya dalam tiga bulan, ini masalah besar," kata Son, Senin (8/11). Son mengatakan hasilnya dapat diringkas menjadi satu faktor kunci dalam satu kata, yakni Alibaba. Setelah kuartal pertama April-Juni 2021, Son mengatakan, dirinya akan mengambil pendekatan yang hati-hati terhadap investasi di Tiongkok karena mengakui tantangan berat. (Yetede)
BoE Menahan Suku Bunga Meskipun Inflasi melonjak
Bank Sentral Inggris atau BoE pada Kamis (4/11) mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga utama pada rekor rendah 0,1%. Tetapi pihaknya mengisyaratkan adanya kenaikan dalam beberapa bulan mendatang untuk meredam lonjakan inflasi. BoE juga mempertahankan program stimulus untuk mendukung ekonomi Inggris dan dari dampak pandemi Covid-19. Total stimulus ini mencapai hampir 0,1 triliun poundstreling atau US$ 1,4 triliun. Namun BoE menyatakan kemungkinan masih perlu beberapa pengetatan kebijakan moneter sederhana untuk menurunkan laju inflasi.
"Tapi beberapa bulan mendatang kemungkinan perlu menaikkan suku bunga utama untuk membawa inflasi tahunan Inggris kembali ke target bank sentral sebesar 2,0%" kata BoE. Sementara pemerintah Inggris memperkirakan rata-rata inflasi tahunan sebesar 4,0% selama tahun depan. Karena harga energi melonjak dan pembukaan kembali aktivitas ekonomi terdampak krisis pasokan. Sementara Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank sentral Jepang (BoJ) juga menahan kebijakannya untuk saat ini. Baik atas suku bunga maupun stimulus.
Tetapi bank sentral di negara-negara seperti Brasil, Singapura, Selandia Baru, dan Korea Selatan telah menaikkan biaya pinjaman baru-baru ini. Bank sentral Kanada (BoC) telah mengakhiri program stimulus pembelian obligasi yang signifikan dan memperkirakan kenaikan suku bunga awal, yakni pada 2022. Di Inggris program ekonomi masih belum jelas. Sebelumnya pemerintah Inggris pada September 2021 mengakhiri skema dukungan cuti yang membuat jutaan pekerja sektor swasta tetap bekerja selama pandemi virus corona. (Yetede)
BoJ Turunkan Proyeksi Petumbuhan
Bank Sentral Jepang atau BoJ pada Kamis (28/10) merevisi turun perkiraan pertumbuhan ekonomi Jepang dan mempertahankan kebijakan moneter uang longgar, karena pandemi terus membebani ekonomi terbesar ketiga di dunia ini. Pada laporan triwulanan tentang harga-harga dan ekonomi, bank sentral tersebut memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,4% untuk tahun anggaran hingga Maret 2022. Angka tersebut turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,8%
“Tekanan yang berasal dari Covid-19 kemungkinan akan tetap ada pada konsumsi jasa, sementara ekspor dan produksi diperkirakan melambat secara temporer karena kendala karena sisi pasokan. Namun setelah itu, dengan dampak Covid-19 yang berkurang secara bertahap, terutama arena vaksinasi, ekonomi kemungkinan akan pulih,” kata laporan itu, Kamis (28/10). Untuk prospek jangka panjang yang lebih positif, bank merevisi perkiraan pertumbuhan untuk tahun fiscal hingga maret 2023 menjadi 2,9% dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,7%.
BoJ mempertahankan target inflasi 2% yang sudah berlangsung lama. Target tersebut tetap jauh, terlepas dari bertahun-tahun dan harga melonjak secara global. “Kami terus berharap bahwa BoJ akan tetap bertahan dengan bias pelonggaran (meskipun bank sentral lain mulai melonggarkan program pelonggaran mereka), setidaknya hingga April 2023 ketika Gubernur (Boj Haruhiko) Kuroda dan dua wakil gubernur dijawdalkan untuk mengakhiri masa jabatan mereka,” kata ekonom UBS Masamichi Adachi menjelang keputusan Kamis. (Yetede)
Sektor Andalan Menjadi Tumpuan
Tempo, Jakarta - Perbankan nasional terus berupaya menggenjot penyaluran kredit ini tiga bulan tersisa tahun ini. Sektor dan segmen kredit andalan yang mulai pulih menjadi tumpuan penyaluran kredit untuk mencetak peningkatan pendapatan dari kinerja intermediasi. Terdapat sektor-sektor yang mulai mengalami tren perbaikan kinerja, yaitu sektor yang memiliki karakteristik pemulihan cepat atau berdaya tahan tinggi pada masa pandemi. Meski mulai ekspansif, perusahaan berusaha senantiasa berhati-hati menjaga kualitas portofolio kredit agar tidak memicu risiko kenaikan rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL) di kemudian hari. Pertumbuhan kredit akan dijaga tetap berkelanjutan dengan mengedepankan asesmen yang ketat untuk memastikan kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembayaran di kemudian hari.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan pada keseluruhan tahun ini akan berada di angka 4-5 persen. Pertumbuhan terbesar terjadi pada jenis kredit konsumsi, yaitu sebesar 2,95 persen, diikuti kredit moral kerja yang tumbuh 2,85 persen serta kredit investasi yang tumbuh 0,37 persen.
Terus Cari Sumber Pertumbuhan Baru, BRI Siapkan Roadmap Pemberdayaan UMKM
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus mencari sumber pertumbuhan baru di segmen Ultra Mikro (UMi) dan UMKM untuk menjadi lokomotif perekonomian nasional. Perseroan telah merancang strategi pemberdayaan segmen tersebut, tidak hanya dari sisi pembiayan semata. Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan pembiayaan menjadi fase pemberdayaan itu menjadi layer yang ke-empat dalam fase pemberdayaan segmen UMi dan UMKM.
"Ke depannya kita tidak hanya melayani pembiayaan saja. Pembiayaan itu mungkin layer yang ke-empat, sekalipun nanti di fase dasar, BRI punya peran disitu. Contohnya adalah bagaimana masyarakat bisa menjangkau layanan dengan menabung, pencatatan keuangan itu fase-fase yang dasar. Kemudian (fase kedua) meningkat nanti menjadi literasi bisnis. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas mereka, berjualan lebih banyak, kemudian juga menambah tenaga kerja lebih banyak." ujara Supari
Fase ketiga dari pembayaran yang dilakukan BRI yakni fase pemberdayaan digital, dimana tidak hanya mendorong pelaku usaha go digital, namun juga BRI mampu menunjukkan pekerjanya untuk menjadi "penyuluh digital". Supari pun memberikan gambaran "Sampai dengan sekarang kemampuan menabungnya telah mencapai 50% dari kemampuan menabung saat sebelum pandemi. Ini adalah indikator terbaik, tinggal bagaimana kita semua menjaga ini, setidaknya dengan disiplin protokol kesehatan baik oleh masyarakat maupun pihak UMKM," tambahnya. (Yetede)
Laba Bersih BSI Capai Rp 1,48 T
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi mengatakan, masyarakat melihat perbankan syariah sebagai alternatif layanan jasa keuangan karena lebih transparan.
Hery yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menjelaskan, di tengah kondisi ekonomi yang menantang karena pandemi Covid-19, total aset perbankan syariah secara nasional tetap tumbuh.
Sedangkan kinerja BSI di semester I/2021, mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,48 trillun, atau naik sekitar 34,29% secara year on year (yoy). Kenaikan laba tersebut dipicu pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) berkualitas.
Dana Pihak Ketiga, Deposito Perorangan 'Bergeser'
Dana pihak ketiga dari segmen simpanan berjangka atau deposito sepanjang tahun ini menyusut. Hingga Agustus 2021, senilai simpanan berjangka kelompok perorangan tercatat Rp1. 388,5 triliun. Berdasarkan data analisis uang beredar yang dirilis Bank Indonesia pada pekan lalu, simpanan perjangka perorangan itu lebih rendah dibandingkan dengan posisi Desember 2020 sebesar Rp.1.456,6 triliun.
Executif Vice President Secretariat & Corporate Communication PT Bank Central Asia Tbk. Hera,F Haryn mengatakan bahwa ada kecenderungan nasabah saat ini memilih menempatkan dananya ke intrusmen investasi. Bank dengan sandi BBCA itu mencatatkan peningkatan pada kinerja wealth manegement sejalan dengan minat dan antusiasme investasi dari nasabah yang meningkat." Ini terlihat dari pertumbuhan asset under management (AUM) produk reksa dana, obligasi, bancassurance yang mencapai 45% secara tahunan (sampai dengan Juni 2021)," ujarnya, Minggu (26/9). Bank Indonesia (BI) mencatat dana penghimpunan itu melambat dibandingkan dengan posisi juli 2021. "Kondisi likuiditas perbankan pada Agustus 2021 sangat longgar, tercermin pada alat likuid terhadap DPK yang tinggi yakni 32,76% dan pertumbuhan DPK sebesar 8,81%,"kata Gubernur BI Perry Warjiyo, pekan lalu.
Dalam kesempatan lain, transformasi digital di industri perbankan dinilai mampu memicu kebangkitan Bank Pembangunan Daereh atau BBPD. "Dengan hadirnya layanan digital keuangan saat ini, sudah seharusnya menjadi pemicu bagi BPD untuk lebih bangkit dan melihatnya sebagai peluang " ujar Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Purbaya Yudhi Sadewa, Jum'at (24/9). Berdasarkan data LPS, tiering dan nominal yang dijamin oleh LPS pada total simpanan BPD per Agustus 2021 mencapai sekitar Rp655 triliun. Tiering simpanan dengan saldo Rp100 juta hingga Rp200 juta naik paling tinggi sebesar Rp3,38 triliun. (yetede)
Jangkau Kebutuhan Masyarakat, Transaksi Digital Tumbuh Tinggi
Transaksi keuangan berbasis digital yang terus meningkat menjadi indikasi masyarakat makin menerima model layanan keuangan nontunai. Akseptasi publik meluas disaat pandemi Covid-19.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Agustus 2021 meningkatkan sejalan dengan penerimaan dan preferansi masyarakat dalam berbelanja daring, perluasan pembayaran digital, dan akselerasi digital banking.
Sementara itu Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida menyatakan bahwa pandemi Covid-19 saat ini telah mengubah aktivitas yang kita lakukan dalam banyak hal menjadi melalui digital. Dikutip dari media sosail resmi OJK, ada tiga manfaat digitalisasi di sektor jasa keuangan Tanah Air yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Pertama, menutup kesenjangan inklusi keuangan terutama untuk populasi yang kurang terlayani (underserver). Kedua, menyediakan layanan pembayaran dan pembiayaan inovatif untuk pengembangan dan pemberdayaan UMKM, dan ketiga, memiliki peran dalam mendorong digitalisasi sektor jasa keuangan (SJK) dan financial technology pada perekonomian Indonesia.
Menurut Direktur Jaringan dan Retail Banking Bank Mandiri Aquarius Rudianto, penerbitan kartu kredit corporate card yang bekerja sama dengan Mastercard bertujuan memberikan kemudahan pembayaran nontunai kepada UKM. "Kartu kredit ini juga menawarkan kemudahan pembayaran secara digital sehingga dapat semakin membantu kelancaran aktivitas para pelaku usaha," kata Aquarius.
Pekan lalu Chef Operating Officer Digital Business PT Bank MNC International Tbk, Teddy Tee menyatakan aplikasi Motion Tee menyatakan aplikasi Motion Banking diharapkan mampu menjangkau nasabah-nasabah baru. Aplikasi dihadirkan untuk menyatu berbagai aplikasi MNC Bank dan fitur perbankan lainnya dalam bentuk aplikasi yang mudah diakses dan penuh fitur andalan. (yetede)
Remitansi Bank Bertumbuh
Meski menghadapi financial technology (fintech), bisnis remitansi atau pengiriman uang dari dan ke luar negeri sejumlah bank tercatat bertumbuh hingga Agustus 2021. Bank BNI misalnya, mencatatkan frekuensi dan volume transaksi remitansi tumbuh sekitar 5% secara year on year (yoy) hingga Agustus 2021. Direktur Tresuri & Internasional BNI, Henry Panjaitan mengungkapkan, jumlah transaksi remitansi BNI pada periode tersebut mencapai 2,9 juta. Volume lebih dari US$ 50 miliar. Dari situ, BNi mengantongi fee based income Rp 125 miliar. Bank Mandiri mencatat penurunan transaksi remitansi retail sebesar 5% yoy akibat pembatasan kegiatan. Namun, volume transaksi naik 40% yoy, fee based tumbuh sekitar 1%.
Kinerja Moncer Bank Jumbo
Perdagangan saham emiten perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan masih bergerak positif hingga akhir tahun. Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma, mengatakan perkiraan ini didasari kinerja positif sejumlah emiten perbankan hingga pengujung semester pertama 2021. Ia mengatakan kinerja emiten sektor perbankan masih berpotensi terus naik sampai akhir tahun ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 0,05 persen secara tahunan pada Juli 2021. Kredit perbankan pada periode tersebut didorong oleh kredit konsumsi yang tumbuh 2,4 persen serta kredit usaha mikro, kecil, dan menengah yang naik 1,93 persen. Ekonom dan peneliti dari Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai perbaikan kinerja perbankan akan menarik minat investor untuk memegang portofolio bank yang mencatatkan perbaikan kinerja. Apalagi Bank Indonesia juga memprediksi tingkat penyaluran kredit pada tahun ini akan meningkat dibanding pada tahun lalu, seiring dengan pelonggaran restriksi pergerakan masyarakat.









