Kredit
( 575 )PERMINTAAN KREDIT : LEMAH KALA LIKUIDITAS BERLIMPAH
Industri perbankan menjadi motor utama bagi dunia usaha dalam melakukan ekspansi. Perlahan, penyaluran kredit oleh bank meningkat sekaligus menjadi sinyal pemulihan ekonomi di Tanah Air. BI rate berpeluang besar akan mengalami penurunan pada 2024 seiring dengan penurunan FFR [Fed Fund Rate]. Kemungkinan besar penurunan akan terjadi pada kuartal II/2024,” ujar Chief Economist PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Anton Hendranata saat berbicara dalam diskusi Tantangan Pelik Ekonomi di Tahun Pemilu pada 13 Desember 2023.Dalam kajian yang disusunnya, penurunan BI 7 Days Repo Rate (BI7DRR) sebesar 1% akan mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan sebesar 0,36%, lalu pertumbuhan kredit rumah tangga sebesar 0,07%, dan pertumbuhan kredit produktif sebesar 0,11%.Alurnya, ketika suku bunga acuan turun akan diikuti dengan menipisnya biaya investasi. Biaya investasi yang turun berpotensi mendorong permintaan terhadap kredit produktif yang akan mengungkit output baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun kenaikan pendapatan. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20—21 Desember 2023, Bank Indonesia masih mempertahankan BI7DRRdi level 6%.Bank sentral juga melaporkan permintaan kredit sampai dengan November 2023 masih kuat dengan pertumbuhan sebesar 9,7% year-on-year (YoY). Angka itu masih sejalan dengan sasaran proyeksi pertumbuhan kredit pada 2023 di kisaran 9%—11%.
Dari sisi permintaan kredit modal kerja (KMK) tumbuh paling kuat 10,2% YoY, diikuti kredit investasi 9,4%, dan kredit konsumsi sebesar 9,1%.Terdapat empat sektor ekonomi yang kreditnya tumbuh digit ganda yakni jasa sosial/masyarakat, pertambangan, pengangkutan, dan jasa dunia usaha.
Sementara itu, pergerakan suku bunga kredit pada 2023 cenderung naik. Sampai dengan November 2023, suku bunga rata-rata kredit berada di level 9,29% atau lebih tinggi dari posisi pada akhir 2022 sebesar 9,15%.
Menurut Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani, daya serap kredit sedang tidak banyak, terlebih di tengah ketidakpastian jelang tahun politik.
ermintaan kredit, katanya akan turut dipengaruhi oleh suku bunga yang cenderung naik bertahap dan diperkirakan melandai pada semester II/2024.“Perbankan sebenarnya sedang tidak mudah. Bank yang tidak efi sien akan susah bertahan di masa yang datang. Karena demi menjaga tetap kompetitif di pasaran, mereka membutuhkan modal yang besar, sementara margin makin tipis karena suku bunga kredit hanya bisa naik terbatas,” katanya.Industri bank memilih target penyaluran kredit yang tak agresif.“Kami masih tetap menargetkan pertumbuhan kredit korporasi sekitar 7% pada tahun ini,” ujar Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan.Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Royke Tumilaar menyatakan perseroan optimistis dengan pertumbuhan kredit 9%—10% pada tahun ini.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky berpandangan saat ini perbankan masih sulit menyalurkan kredit karena sektor riil yang cenderung turun.
Aturan Baru Bunga Pinjaman Diharapkan Beri Manfaat Lebih Besar
OJK telah menerbitkan ketentuan baru yang mengatur tata
kelola industri pinjaman daring, salah satunya mengenai suku bunga pinjaman.
Aturan baru tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara optimal oleh para
pelaku usaha industri pinjaman daring sehingga tidak membebani masyarakat.
Sebelumnya, OJK telah menerbitkan Surat Edaran (SE) No 19/SEOJK.06/2023 tentang
Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi. Melalui
SE ini, OJK mengatur berbagai kegiatan usaha pinjaman daring, mulai dari
mekanisme penyaluran dan pelunasan, batas maksimum manfaat ekonomi (suku
bunga), hingga mekanisme penagihan. Aturan berlaku per 1 Januari 2024, dengan
bunga pinjaman produktif 0,1 $ per hari atau 36 persen per tahun dan menjadi
lebih rendah 0,067 % per hari atau 24,45 % per tahun pada 2026. Sementara itu,
batas atas bunga pinjaman konsumtif ditetapkan sebesar 0,3 % per hari atau
109,5 % per tahun dan berturut-turut akan diturunkan menjadi 0,2 % per hari
atau 73 % per tahun pada 2025 dan menjadi 0,1 % per hari atau 36 % per tahun
pada 2026.
SE OJK No 19/2023 itu juga menetapkan, batas maksimum denda
keterlambatan sama dengan batas atas suku bunga pinjaman. Secara keseluruhan,
batas suku bunga dan denda keterlambatan ditetapkan tidak lebih dari 100 %
nilai pendanaan yang diberikan. Pebriansyah (23), pelaku usaha minuman
tradisional di Kabupaten Sleman, DIY, Kamis (4/1/2024), menyebut, sebagian modal
usahanya berasal dari pinjaman daring. Ketentuan baru mengenai bunga pinjaman
itu diharapkan tidak lagi memberatkan pelaku usaha yang menerima pinjaman
sehingga dapat memberikan manfaat lebih besar. ”Kalau harapannya, bunganya
wajar saja dan syukur-syukur bisa lebih rendah karena bunga pinjaman itu mengurangi
keuntungan,” ucapnya. Perbandingan keuntungan antara saat ambil pinjaman daring
dan bukan, 1:3. ”Dengan modal sendiri bisa untung Rp 300.000, dari pinjaman
daring karena bayar bunga, untungnya hanya Rp 100.000,” ucapnya. (Yoga)
Aliran Kredit Perbankan ke BUMN Masih Deras
Penyaluran Kredit UMKM Menanjak
Kredit Menganggur Kredit Perbankan Melambat
Pemerintah Anggarkan Subsidi KUR Rp 47,78 Triliun
MEMANTIK KREDIT DI TAHUN POLITIK
Kinerja moncer penyaluran kredit pada tahun ini diperkirakan berlanjut pada 2024 kendati iklim ekonomi masih dibayangi oleh sejumlah tantangan mulai dari ketidakpastian global hingga penyelenggaraan Pemilu. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan industri perbankan memiliki bantalan tebal untuk melewati tahun 2024. Dari sisi eksternal, dia menilai konflik geopolitik telah diperhitungkan pasar sehingga diyakini tak akan menggoyah perkembangan industri. Situasi kondusif juga dipicu oleh rencana Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan mengakhiri era suku bunga tinggi. Dari sisi internal, penurunan suku bunga acuan The Fed akan diikuti oleh penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Penurunan suku bunga ini bisa menjadi mesin bagi penyaluran kredit.
Dia pun menyinggung soal antisipasi dampak berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19 pada pengujung Maret 2024. Hal itu tecermin pada penebalan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) untuk menangkal risiko kenaikan kredit bermasalah. Di sisi lain, dia meyakini kondisi makroekonomi di Tanah Air akan menguat sejalan dengan penyelenggaraan Pemilu yang berjalan lancar. Penyelenggaraan Pemilu akan memperkuat sendi-sendi konsumsi sehingga mendorong kebutuhan kredit. Mengacu pada Analisis Uang Beredar yang dirilis Bank Indonesia hingga November 2023, pertumbuhan periode kali ini melampaui realisasi pada Oktober 2023. Realisasi penyaluran kredit pada November 2023 tumbuh 9,7% secara tahunan dari 8,7% Year-on-Year (YoY) pada bulan sebelumnya. Berbeda dengan OJK dan BI, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Trioksa Siahaan justru memberikan perkiraan awal terkait kredit perbankan dengan angka yang lebih rendah, tumbuh berkisar 5%—7%. Sejumlah bank di Tanah Air membidik target penyaluran kredit double digit pada 2024. Melansir data yang dihimpun dari Bloomberg Selasa (26/12), PT Bank Mandiri Persero Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 10%—12% pada 2024. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) kompak menetapkan target 10% untuk tahun depan.
Kepala Riset PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menyebut meskipun permintaan pinjaman cenderung melambat selama Pemilu, penurunan suku bunga utama bank sentral dapat memacu permintaan dan mempertahankan margin perbankan. Di sisi lain, BCA akan fokus pada industri pertambangan untuk mengompensasi sektor lain yang berisiko menurun. BCA juga akan meningkatkan pembiayaan properti dan otomotif yang dapat memanfaatkan insentif dari bank sentral. Sementara itu, BRI menilai Pemilu memberikan manfaat bagi kelompok masyarakat ‘akar rumput’ yang menjadi pangsa pasar utama perusahaan. Adapun, BNI menggarap sektor konsumer, transportasi laut, dan proyek penghiliran yang sedang berjalan untuk menjaga pertumbuhan kredit pada 2024. Bank lainnya seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menargetkan pertumbuhan positif kredit 8%—10% pada 2024. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan pertumbuhan kredit tersebut bakal dimotori oleh ritel dan UMKM. Dia menyebut tantangan utama yang saat ini dihadapi perusahaan adalah terkait rasio margin bunga bersih. Pada bagian lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) meyakini segmen konsumsi rumah tangga dan perdagangan bakal tetap melaju.
Memacu Fungsi Intermediasi Perbankan
Pelaksanaan Pemilihan Umum 2024 yang diharapkan berlangsung aman dengan proyeksi penurunan suku bunga dan inflasi yang terjaga dapat menjadi katalis bagi para pelaku usaha untuk tak lagi bersikap wait and see sehingga pertumbuhan kredit berpotensi terus melaju. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini stabilitas politik yang ditopang oleh makin kondusifnya iklim usaha akan memudahkan pencapaian target laju kredit perbankan di atas dua digit. Dalam wawancara kepada Bisnis, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan keyakinan tersebut sejalan dengan rencana bisnis bank yang menunjukkan hampir semua bank menargetkan pertumbuhan kredit di atas 10% pada 2024. Sasaran dua digit tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi laju kredit saat ini.
Bank Indonesia mencatat kredit perbankan tumbuh 9,74% secara tahunan pada November 2023, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 8,99%. Peningkatan pembiayaan tersebut didorong oleh peningkatan permintaan kredit sejalan dengan tetap terjaganya kinerja korporasi dan rumah tangga.Perhelatan pesta politik diyakini akan mendorong sisi pengeluaran yang pada gilirannya menggerakkan konsumsi sebagai salah satu motor roda pertumbuhan ekonomi. Menggeliatnya sisi konsumsi tersebut akan berjalan mulus di tengah tren suku bunga pada tahun depan yang diperkirakan melandai seperti yang disampaikan The Fed dalam sidang Federal Open Market Committee terakhir. Pada 14 Desember 2023, Bank Sentral AS mengisyaratkan untuk memangkas suku bunga sebanyak tiga kali tahun depan. Sikap dovish The Fed tersebut jauh lebih lunak dibandingkan dengan pertemuan pada November lalu. Kala itu, The Fed bahkan menegaskan masih terlalu prematur memikirkan pemangkasan suku bunga.
Intermediasi merupakan salah satu fungsi lembaga keuangan bank melalui cara penarikan atau penghimpunan dana dari para penabung. Kemudian, dana yang dihimpun ini disalurkan kembali dalam bentuk pinjaman kepada pihak-pihak yang membutuhkan baik untuk kepentingan konsumtif maupun produktif. Kuatnya laju kredit ini juga tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang secara konsisten berada di atas 5%. Realisasi inflasi yang stabil ini merupakan bekal kuat bagi Tanah Air untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Pada tahun depan, tingkat inflasi bahkan diproyeksikan bisa lebih ditekan dengan sasaran 2,5% ± 1%. Tingkat inflasi terkendali menjadi salah satu faktor penting bagi laju ekspansi konsumsi yang menjadi salah satu penggerak produk domestik bruto. Salah satu kunci tercapainya angka pertumbuhan tersebut yakni pada konsumsi masyarakat yang juga membutuhkan pembiayaan usaha.
Perbankan Kucurkan Kredit Properti Rp1.294,5 Triliun
Lampaui Target, Kredit Bank Mandiri Tumbuh Rp 2,62 Triliun
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









