;
Tags

Kredit

( 576 )

Kartu Kredit Indonesia Resmi Hadir, Transaksi Kredit Kini Bisa Lewat QRIS

Saya123 19 Aug 2026 Tim Labirin

Jakarta — Indonesia memasuki babak baru dalam pengembangan sistem pembayaran nasional. Bank Indonesia (BI) bersama industri sistem pembayaran resmi meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) untuk segmen yang lebih luas pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

KKI merupakan instrumen pembayaran berbasis kredit yang pemrosesan transaksinya dilakukan melalui infrastruktur domestik. Seperti kartu kredit pada umumnya, pengguna memperoleh fasilitas deferred payment atau penundaan pembayaran sehingga transaksi dilakukan terlebih dahulu dan kewajibannya dibayar kemudian sesuai ketentuan bank penerbit. Yang membedakan, KKI dirancang terintegrasi dengan ekosistem sistem pembayaran nasional.

Pada tahap awal untuk segmen ritel, KKI hadir dalam bentuk digital dan digunakan sebagai sumber dana pembayaran melalui QRIS. Pengguna dapat melakukan transaksi dengan memindai kode QRIS maupun menggunakan fitur QRIS Tap. Dengan mekanisme tersebut, limit kredit dari KKI dapat digunakan untuk membayar transaksi pada merchant yang menerima QRIS.

Artinya, ketika pengguna memindai QRIS di sebuah merchant, sumber dana pembayaran tidak harus berasal dari saldo rekening atau uang elektronik. Jika fasilitas tersebut telah tersedia dan diaktifkan oleh bank penerbit, pengguna dapat memilih KKI sebagai sumber dana dan nilai transaksi kemudian masuk sebagai kewajiban kartu kredit.

Bukan Kartu Kredit Pemerintah yang Benar-Benar Baru

Meski peluncurannya pada Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat umum, KKI sebenarnya bukan sistem yang sepenuhnya baru.

Cikal bakal KKI telah dikembangkan untuk segmen pemerintah sejak 2022. Pada tahap pertama, KKI pemerintah dengan fitur QRIS diluncurkan pada 29 Agustus 2022. Pengembangannya kemudian dilanjutkan dengan kartu fisik pada Mei 2023 serta fitur pembayaran daring. Instrumen tersebut digunakan untuk membantu transaksi belanja pemerintah pusat dan daerah dengan pemrosesan melalui sistem domestik.

Pada 2026, cakupan KKI diperluas sehingga dapat digunakan oleh masyarakat dan korporasi. Reuters mencatat perluasan tersebut sebagai perkembangan dari sistem kartu kredit yang sebelumnya dikembangkan untuk entitas pemerintah menuju penggunaan ritel yang lebih luas.

Perubahan ini membuat KKI tidak lagi hanya relevan dalam konteks digitalisasi belanja pemerintah, tetapi mulai masuk langsung ke ekosistem pembayaran masyarakat.

Delapan Bank Jadi Penerbit Awal

Pada tahap awal, BI mencatat terdapat delapan Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) yang telah menerbitkan KKI, yakni BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, PermataBank, Bank Mega, serta Bank Syariah Indonesia (BSI). BSI mengembangkan produk tersebut menggunakan skema pembiayaan syariah.

Masyarakat yang ingin menggunakan KKI tidak mengajukan fasilitas tersebut kepada Bank Indonesia, melainkan melalui bank penerbit. Persyaratan pemberian fasilitas kredit, limit, penilaian kelayakan nasabah, hingga fitur yang tersedia mengikuti kebijakan dan manajemen risiko masing-masing bank.

BI menyatakan pengembangan KKI akan dilakukan secara bertahap, baik dari sisi fitur maupun layanan. Pada fase awal, fokusnya adalah penggunaan KKI digital sebagai sumber dana QRIS, sebelum pengembangan lebih lanjut pada kanal pembayaran lainnya.

Apa Bedanya dengan Visa dan Mastercard?

Salah satu pembeda utama KKI terletak pada infrastruktur pemrosesan transaksi.

BI mendefinisikan KKI sebagai instrumen pembayaran dengan fasilitas kredit yang diproses secara domestik melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pemrosesan sekaligus memperkuat kapasitas dan kemandirian sistem pembayaran nasional.

Sementara itu, kartu kredit dengan prinsipal seperti Visa dan Mastercard menggunakan jaringan pembayaran internasional yang memiliki jangkauan global.

Namun, hadirnya KKI tidak berarti Visa dan Mastercard akan disingkirkan dari Indonesia. BI menegaskan KKI dikembangkan sebagai alternatif tambahan bagi konsumen, bukan sebagai pengganti kartu kredit berprinsipal internasional. Kedua jenis instrumen tersebut tetap dapat berjalan berdampingan dan konsumen dapat memilih sesuai kebutuhan.

Kartu dengan jaringan internasional masih memiliki keunggulan dalam cakupan transaksi global. Sementara KKI memiliki kekuatan pada integrasinya dengan infrastruktur pembayaran domestik, khususnya QRIS. KKI juga dapat menjangkau transaksi di luar negeri pada negara mitra melalui skema QRIS lintas negara sepanjang fasilitas tersebut tersedia.

Menumpang Besarnya Ekosistem QRIS

Integrasi dengan QRIS menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan KKI. Pasalnya, QRIS telah memiliki basis pengguna dan merchant yang sangat luas.

Data Bank Indonesia menunjukkan hingga Juni 2026 terdapat 65,77 juta pengguna QRIS di Indonesia. Jumlah merchant yang menerima QRIS telah mencapai 44,86 juta, dan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sepanjang semester pertama 2026 saja, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nilai mencapai sekitar Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Basis merchant yang besar tersebut membuat pendekatan KKI berbeda dengan ekspansi kartu kredit yang secara tradisional mengandalkan akseptasi jaringan kartu dan mesin Electronic Data Capture (EDC). Dengan menjadikan QRIS sebagai salah satu kanal utama, fasilitas kredit berpotensi digunakan pada spektrum merchant yang lebih luas, termasuk pelaku UMKM.

Bagian dari Kemandirian Sistem Pembayaran

Bagi BI, KKI bukan hanya persoalan menghadirkan produk kartu kredit baru. Pengembangannya menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk memperkuat sistem pembayaran dan ekonomi digital Indonesia.

BI menyebut peluncuran KKI sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas inklusivitas pengguna dan penyelenggara sistem pembayaran, serta meningkatkan daya saing pelaku usaha. Kebijakan tersebut juga ditempatkan dalam kerangka Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 dan agenda penguatan kemandirian ekonomi nasional.

Pada saat yang sama, BI tetap membuka ruang bagi jaringan pembayaran internasional. Karena itu, persaingan ke depan tidak semata-mata mengenai KKI melawan Visa atau Mastercard, tetapi mengenai seberapa besar masyarakat melihat manfaat dari masing-masing jaringan pembayaran.

Bagi konsumen, pada akhirnya pertimbangannya kemungkinan akan kembali pada hal yang paling praktis: kemudahan penggunaan, luasnya penerimaan merchant, biaya, program promosi, keamanan, serta fasilitas yang diberikan oleh masing-masing penerbit.

Kehadiran KKI membuat pilihan itu kini bertambah. Indonesia bukan hanya memiliki QRIS sebagai standar pembayaran berbasis kode QR, tetapi juga mulai membangun instrumen kredit ritel yang bertumpu pada infrastruktur pembayaran nasional.

Sumber: Bank Indonesia, Reuters, detikFinance, dan Kontan.

Risiko Kredit Bermasalah Mengintai di Tengah Kelesuan

HR1 25 Jun 2025 Kontan (H)
Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan Indonesia menunjukkan tren kenaikan dan perlu diwaspadai di tengah tekanan ekonomi yang menurunkan daya beli masyarakat. Data OJK mencatat NPL gross perbankan naik dari 2,08% pada Desember 2024 menjadi 2,24% pada April 2025.

Paul Sutaryono, pengamat perbankan, menilai kenaikan NPL mencerminkan kondisi ekonomi yang kurang baik. Ia menyoroti kontribusi sektor UMKM sebagai pendorong utama kenaikan NPL, dengan rasio NPL UMKM mendekati 5% pada Maret 2025. Paul memperingatkan potensi pemburukan kualitas kredit pada semester II 2025 dan mendorong perbankan untuk lebih selektif menyalurkan kredit. Ia juga menekankan perlunya peran pemerintah melalui peningkatan belanja untuk mendorong sektor riil, serta menyarankan relaksasi kebijakan moneter seperti penurunan giro wajib minimum (GWM) agar bank lebih leluasa menyalurkan kredit.

Bambang Widayatmoko, Direktur Bisnis Bank Banten, mengakui pihaknya menghadapi NPL tinggi di segmen komersial, khususnya konstruksi dan pengadaan barang. Meskipun NPL gross Bank Banten menurun dari 9,58% pada Maret 2024 menjadi 7,22% pada Maret 2025, angkanya masih jauh di atas batas ideal. Bambang menyebut pihaknya terus melakukan upaya penyelamatan kredit melalui litigasi maupun kerja sama dengan Kejaksaan Tinggi.

Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, juga mengonfirmasi adanya pelemahan daya bayar di segmen ritel akibat menurunnya daya beli masyarakat. Namun, CIMB Niaga berhasil menurunkan NPL gross dari 2,21% pada Mei 2024 menjadi 1,86% pada Mei 2025. Hal ini dicapai lewat strategi selektif dalam penyaluran kredit, termasuk fokus pada segmen UKM menengah dengan ticket size rata-rata Rp 4 miliar.

Kenaikan NPL perbankan menandakan tekanan ekonomi yang nyata, terutama pada sektor UMKM. Perbankan diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, sementara pemerintah didorong untuk memperkuat stimulus fiskal guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kualitas kredit perbankan.

Perbankan Fokus Kucurkan Kredit ke Sektor Prioritas

HR1 25 Jun 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) terus menggulirkan kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM, perdagangan, dan ekonomi kreatif. Insentif KLM, seperti diskon giro wajib minimum, diberikan kepada bank yang memenuhi target rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM).

Raden Agus Trimurjanto, Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY, menjelaskan banknya aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Per Mei 2025, BPD DIY mencatat kredit sektor prioritas mencapai Rp 1,42 triliun untuk perdagangan, serta sektor lain seperti perantara keuangan, akomodasi, jasa, dan konstruksi. Rasio RPIM bank ini tercatat 45,3%, jauh di atas syarat BI minimal 30%, sehingga BI memberikan insentif berupa diskon giro wajib minimum 5% dari DPK. Agus menegaskan komitmennya mendukung UMKM melalui pembiayaan langsung.

Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, menyatakan BCA juga menyalurkan kredit ke sektor prioritas dan mendapat insentif KLM berupa pembebasan giro wajib minimum. Kredit BCA sendiri tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 924,2 triliun pada Mei 2025.

Meski insentif KLM sudah disalurkan signifikan—Rp 372 triliun per minggu kedua Juni 2025—penyaluran kredit perbankan nasional tumbuh lebih lambat, hanya 8,1% yoy pada Mei 2025, turun dari 9,6% pada Januari.

Trioksa Siahaan, Senior Vice President LPPI, menilai kebijakan insentif KLM memang baik, tetapi belum cukup mampu mendongkrak kredit ke sektor prioritas karena risiko sektor-sektor ini relatif tinggi. Selain itu, ia menekankan pentingnya perbaikan ekonomi makro dan daya beli masyarakat agar bank lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

Kebijakan BI mendorong kredit ke sektor prioritas mendapat sambutan dari bank seperti BPD DIY dan BCA, tapi realisasi penyaluran kredit nasional masih melambat, memerlukan dukungan lebih luas dari sisi perbaikan ekonomi.

NPL Perbankan RI Kalah Saing dengan Negara Tetangga

HR1 24 Jun 2025 Kontan
Industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan ganda berupa masalah likuiditas dan kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan / NPL) di tengah tekanan ekonomi makro domestik dan global. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NPL gross perbankan nasional naik ke 2,24% per April 2025, dari 2,08% pada Desember 2024. Angka ini lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Singapura (1,22%) dan Malaysia (1,4%), meski masih lebih baik daripada Filipina (3,3%) dan Thailand (2,9%).

Steffano Ridwan, Direktur Utama Maybank Indonesia, mengakui NPL Indonesia lebih tinggi, bahkan rasio gross impaired loans (GIL) Maybank Indonesia mencapai 4,02%, jauh di atas Maybank Malaysia (1,15%) dan Maybank Singapura (0,49%). Namun ia menjelaskan, ini terkait struktur pasar domestik yang sangat besar di segmen ritel dan mikro, yang secara alamiah lebih berisiko. “Di Indonesia karena kita memiliki jumlah populasi yang besar (ritel) dan juga besarnya bisnis mikro, tentunya NPL bank di Indonesia secara umum akan lebih tinggi,” jelas Steffano.

Rusli, Wakil Direktur Utama Bank Victoria International, berpendapat kualitas aset perbankan Indonesia sebenarnya bisa bersaing secara global jika ekonomi domestik lebih kompetitif. Ia menyoroti dominasi pemerintah dan isu korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) yang mengekang sektor swasta. “Kalau isu KKN hilang, nanti otomatis NPL daripada industri perbankan itu bisa bersaing di kancah global,” tegas Rusli.

Brian Indradjaja, Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, menilai kondisi NPL sektor ritel di Indonesia sudah sulit dikendalikan, bahkan beberapa bank dalam situasi yang parah. Ia menekankan perlunya langkah perbaikan untuk memulihkan kesehatan NPL. Brian juga mencatat, sejumlah bank kini mulai menahan ekspansi kredit ritel demi menjaga kualitas kredit, terutama karena daya beli masyarakat yang sedang melemah.

Struktur kredit perbankan Indonesia yang padat segmen ritel dan mikro membuat risiko NPL lebih tinggi. Namun dengan reformasi tata kelola, penguatan sektor swasta, dan penyesuaian strategi penyaluran kredit, industri perbankan nasional tetap berpotensi meningkatkan kualitas aset dan bersaing secara regional.

Melonjaknya Rekening Macet Pinjaman Daring

KT3 24 Jun 2025 Kompas

Rasio kredit macet pinjaman daring terus naik setahun terakhir, karena minimnya penilaian awal dan tingginya tingkat suku bunga. Karena itu, penerapan mitigasi risiko akan ditingkatkan. Regulator akan mengintegrasikan data pinjaman daring kedalam sistem layanan informasi keuangan atau SLIK serta meminta pelaku industri memperkuat mitigasi risiko. Berdasarkan data OJK pada April 2025, rasio kredit macet atau tingkat wanprestasi 90 Hari (TWP90) industri pinjaman daring mencapai 2,93 %, meningkat dibanding bulan sebelumnya, di 2,77 % dan akhir 2024, di 2,6 %. Jumlah rekening penerima pinjaman daring yang berstatus macet pada Maret 2025 mencapai 789.883 rekening, juga meningkat dibanding akhir 2024, di 539.990 rekening. Bahkan, rekening macet tersebut dalam setahun terakhir melonjak 51,13 %. Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi berpendapat, risiko gagal bayar meningkat seiring lonjakan saldo pinjaman daring yang tercatat Rp 80 triliun.

Selain akibat kondisi ekonomi, naiknya kredit macet tak lepas dari mudahnya akses pinjaman tanpa seleksi berdasarkan kemampuan bayar. ”Walau TWP90-nya di bawah 5 %, ada beberapa platform yang TWP90-nya di atas 5 %,”katanya, Senin (23/6). Contohnya, masih ada kelompok pelajar yang tidak memiliki penghasilan tetap, tapi dapat mengakses pinjaman daring, tampak dari saldo pinjaman perorangan kelompok umur di bawah 19 tahun yang meningkat 53,17 % secara tahunan menjadi Rp 323,86 miliar pada Maret 2025. Naiknya rasio kredit macet pinjaman daring juga terjadi karena masyarakat cenderung mengambil pinjaman untuk kebutuhan konsumtif. OJK mencatat, jumlah penyaluran pinjaman pada sektor produktif Maret 2025 mencapai Rp 7,05 triliun atau 25,25 % total penyaluran pinjaman, menurun dibanding akhir tahun lalu, di Rp 8,45 triliun atau terkontraksi 16,59 %, dengan porsi 30,19 % dari total pinjaman. (Yoga)


Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi

HR1 23 Jun 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan melambat pada Mei 2025, hanya tumbuh 8,43% yoy, lebih rendah dibanding April dan akhir 2024. Penyebab utamanya adalah pergeseran perilaku korporasi yang lebih memilih pendanaan lewat penerbitan obligasi.

Moch Amin Nurdin, pengamat perbankan, menilai obligasi lebih murah dalam jangka panjang dengan bunga 6–8%, jauh lebih rendah dibanding bunga kredit bank rata-rata 9,75% pada Mei. Selain bunga yang lebih tinggi, kredit bank juga menuntut biaya tambahan seperti provisi, administrasi, dan agunan, yang menambah beban calon debitur.

Sylvanus Gani, CFO Adira Finance, membenarkan penerbitan obligasi lebih kompetitif dari sisi biaya pendanaan. Karena itu, Adira terus mendiversifikasi sumber pendanaan untuk memperoleh struktur biaya terbaik.

Danan Dito, analis Pefindo, menambahkan meski obligasi lebih murah, prosesnya lebih kompleks—ada bookbuilding, izin OJK, dan birokrasi. Namun ia juga menyoroti sikap bank yang makin konservatif menyalurkan kredit akibat ketidakpastian ekonomi dan daya beli yang belum pulih.

Data Pefindo menunjukkan mandat penerbitan obligasi yang belum listing hingga Mei mencapai Rp 88,27 triliun, dengan sektor multifinance dan tambang paling aktif.

Meski begitu, M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, optimistis pihaknya bisa mempertahankan dominasi di segmen wholesale. Ia menyebut kredit korporasi Bank Mandiri naik 20% per Maret, dan menargetkan pertumbuhan kredit 10–12% pada 2025, dengan fokus pada sektor energi, tambang, perkebunan, dan ekosistem bisnis strategis.

Perlambatan kredit bank mencerminkan tren korporasi mencari pendanaan lebih murah lewat pasar modal, sementara bank perlu beradaptasi dengan menjaga keseimbangan antara risiko dan daya saing biaya kredit.

Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit

HR1 20 Jun 2025 Kontan
Industri perbankan Indonesia pada Mei 2025 berupaya memperbaiki profitabilitas di tengah tantangan biaya dana tinggi dan likuiditas ketat dengan menaikkan bunga kredit. Bank Indonesia (BI) mencatat margin keuntungan naik tipis 3 bps ke 2,04% pada April, sementara suku bunga dasar kredit (SBDK) juga naik ke 9,27%.

Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, menegaskan bahwa menjaga margin bunga bersih (NIM) sangat penting untuk mengantisipasi potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL) yang bisa menekan laba. Ia menjelaskan NIM CIMB Niaga turun ke 3,99% pada kuartal I-2025 akibat kenaikan biaya dana, jauh dari level ideal 5%. Menurut Lani, likuiditas pasar yang ketat membuat penurunan bunga kredit sulit meski BI rate sudah turun dua kali tahun ini.

Di sisi lain, Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, mengatakan BCA mampu mencatat kenaikan NIM dari 5,6% ke 5,8% di kuartal I-2025. Hal ini didorong rasio dana murah yang tinggi (82,9%) dan pertumbuhan kredit yang solid. Namun, Hera menekankan bahwa profitabilitas bukan hanya soal margin, tetapi juga keseimbangan dengan kualitas aset dan pengelolaan risiko NPL.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mengingatkan bahwa secara industri NIM menurun ke 4,45% pada April 2025 dari 4,56% setahun sebelumnya. Ia menilai penurunan ini mencerminkan ketatnya persaingan pendanaan. Dian menekankan pentingnya perbankan tidak hanya mengandalkan selisih bunga, tetapi juga mendorong efisiensi operasional dan pengelolaan risiko kredit. Ia memperkirakan NIM akan stabil dan moderat ke depan jika transmisi penurunan suku bunga berjalan efektif dan kredit tumbuh.

Meski beberapa bank seperti BCA bisa menjaga margin lebih baik, perbankan secara umum menghadapi tekanan margin akibat biaya dana tinggi dan risiko kredit. Penyesuaian bunga kredit jadi strategi mempertahankan profitabilitas, tetapi keseimbangan dengan kualitas aset dan efisiensi tetap kunci penting untuk menjaga kinerja berkelanjutan.

NIM yang Terus Mengalami Tekanan

KT1 20 Jun 2025 Investor Daily (H)
Ditengah masih tingginya risiko akibat ketidakpastian ekonomi global, perbankan mencari pendapatan lain selain dari bunga. Terlihat dari margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang terus mengalami tekanan. Hingga posisi April 2025, NIM perbankan berada di level 4,45% melandai dari bulan sebelumnya 4,51%. Selain itu juga turun dari posisi April 2024 yang bertengger di posisi 4,56%. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) mencatatkan suku bunga dasar kredit (SBDK) per April 2024 yang bertengger di posisi  4,56%. Meskipun demikian, BI mencatatkan suku bunga dasar kredit (SBDK) per April 2025 mengalami peningkatan secara bulanan, terutama pada kelompok bank pembangunan daerah (BPD). SBDK per April 2025 tercatat sebesar 9,27%, atau meningkat terbatas sebesar 2 basis points (bps) dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan SBDK ini terjadi bersamaan dengan moderasi pertumbuhan kredit secara tahunan dalam satu bulan terakhir, di mana kredit April naik 8,8% (yoy) menurun dari 9,16% pada bulan sebelumnya. Namun demikian, kenaikan SBDK pada April 2025 lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 12 bps. (Yetede)

Kredit dan DPK Makin Tersendat-sendat

KT1 19 Jun 2025 Investor Daily
Kinerja intermediasi perbankan terus melemahkan hingga posisi Mei 2025. Apabila dibandingkan dengan awal tahun, pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) membutuhkan dukungan, bukan hanya dari sisi makroprudensial, tetapi juga fiskal. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan, peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan. Kredit pada Mei 2025 tumbuh sebesar 8,43% secara tahunan (yoy), lebih rendah dari 8,88% (yoy) pada April 2025. Pertumbuhan ini terus menurun apabila dibandingkan dengan awal tahun, di mana kredit meningkat 10,27% (yoy) per Januari 2025, kemudian meningkat menjadi 10,3% (yoy) per Februari 2025. Pelemahan mulai terjadi pada Maret 2025 dengan pertumbuhan kredit sebesar 9,16% (yoy), lalu berlanjut ke posisi April 2025 dengan kredit tumbuh 8,8% (yoy). Melihat realisasi tersebut, BI akhirnya memutuskan untuk memangkas target pertumbuhan target pertumbuhan kredit  yang awalnya 11-13% (yoy) di akhir tahun ini, menjadi berkisar 8-11%. Perry menjelaskan, dari sisi penawaran, prefensi perbankan pada penanaman surat-surat berharga masih kuat ditengah standar penyaluran  kredit (lending standard) yang mulai meningkat. (Yetede)

Bunga Kredit Diminta Turun Saat Kredit Melambat

HR1 19 Jun 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan nasional melanjutkan tren perlambatan hingga Mei 2025, dengan outstanding kredit hanya tumbuh 8,43% (yoy), turun dari 8,88% di April dan 10,39% pada Desember 2024. Perlambatan terutama terlihat pada kredit modal kerja (4,94%) dan konsumsi (8,82%), meskipun kredit investasi masih relatif kuat di 13,74%.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan bahwa perbankan semakin selektif menyalurkan kredit, terlihat dari meningkatnya standar penyaluran. Bank juga masih kuat menempatkan dana pada surat berharga. BI memproyeksikan kredit sepanjang 2025 hanya tumbuh di kisaran 8–11%, sehingga mendorong perbankan menurunkan bunga kredit demi mendukung pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi. BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial, termasuk insentif likuiditas (KLM), serta berencana meningkatkan sinergi dengan pemerintah, otoritas keuangan, perbankan, dan pelaku usaha untuk memperluas sumber pendanaan kredit.

Sementara itu, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengungkapkan BCA menjaga keseimbangan profitabilitas, likuiditas, dan kualitas kredit dengan target pertumbuhan penyaluran kredit hanya 6–8% pada 2025. Kredit BCA masih tumbuh dua digit 11,8% yoy di Mei, tetapi melambat dibandingkan April.

Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, menargetkan pertumbuhan kredit 10% tahun ini. Namun, ia mengakui tantangan berat masih ada, seperti perlambatan ekonomi dan ketidakpastian geopolitik, meski penurunan BI rate menjadi sentimen positif. Bank Oke sendiri mencatat pertumbuhan kredit hanya 3,5% di 2025 berjalan.

Perlambatan kredit perbankan menimbulkan risiko bagi laju ekonomi nasional. BI mendorong penurunan bunga kredit agar pembiayaan lebih terjangkau, sementara perbankan dituntut menyeimbangkan penyaluran kredit dengan manajemen risiko yang ketat.