;
Tags

Kredit

( 575 )

Sejumlah Bank Masih Menunjukkan Kinerja Positif di Lini Kartu Kredit

KT1 30 May 2025 Investor Daily (H)
Di tengah melambatnya laju pertumbuhan kredit konsumsi nasional, sejumlah bank masih  menunjukkan kinerja positif di lini kartu kredit. Mengandalkan strategi digitalisasi, perbankan berusaha tetap relevan saat maraknya layanan buy now  pay later (BNPL). Sebanyak dua bank besar milik negara, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI/BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tetap mendorong digitalisasi, inovasi produk, dan kemitraan strategis   untuk mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis kartu kredit di tengah tekanan daya beli masyarakat. BI mencatat, kredit konsumsi per April 2025 tumbuh sebesar 8,97% secara yoy. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan Desember 2024 yang mencapai 10,62% (yoy). Perlambatan tersebut terjadi di hampir seluruh segmen kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit multiguna. Meski demikian, BNI mencatatkan pertumbuhan penggunaan kartu kredit hingga April 2025. BNI juga menyadari tantangan dalam menghadapi era digitalisasi keuangan yang kian kompetitf, terlebih dengan adanya paylater. Oleh sebab itu, bank pelat merah ini memperkuat proses akuisisi kartu kredit secara digital. (Yetede)

Strategi Baru di Tengah Kredit yang Lesu

HR1 28 May 2025 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia (BI) merevisi target pertumbuhan kredit tahun 2025 dari proyeksi awal 11%–13% menjadi hanya 8%–11% akibat kondisi makroekonomi yang melemah dan perlambatan penyaluran kredit. Meski demikian, mayoritas bank tidak langsung mengubah rencana bisnis bank (RBB) mereka karena telah mengantisipasi situasi ini sejak awal tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka ruang bagi revisi RBB pada pertengahan tahun jika diperlukan.

Beberapa bank seperti CIMB Niaga dan Bank Tabungan Negara memilih pendekatan konservatif dengan menurunkan target pertumbuhan kredit atau mempertahankan target tahun sebelumnya, sambil mengoptimalkan sumber pendapatan nonbunga dan menegakkan prinsip “liquidity first” karena persaingan dana pihak ketiga yang ketat. Sementara itu, Citibank Indonesia berencana melakukan penyesuaian RBB pada akhir Juni 2025 untuk menyesuaikan target kredit berdasarkan kinerja ekonomi kuartal I dan II.

Dalam menghadapi perlambatan kredit dan likuiditas, BI juga menurunkan suku bunga acuan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memangkas tingkat suku bunga penjaminan simpanan guna mengurangi biaya dana perbankan dan melonggarkan persaingan likuiditas. Meski kompetisi dana tetap ada, terutama jika bank menargetkan pertumbuhan kredit tinggi, persaingan tersebut diperkirakan masih dalam tingkat yang terkendali (manageable).

Secara keseluruhan, langkah BI merevisi target kredit disikapi dengan hati-hati oleh industri perbankan yang lebih fokus pada konservatisme, efisiensi biaya, dan diversifikasi sumber pendapatan di tengah tantangan ekonomi saat ini.


Bunga Acuan Bank Besar Jadi Barometer Pasar

HR1 28 May 2025 Kontan
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan tingkat bunga penjaminan sebesar 25 basis poin (bps)—menjadi 4% untuk bank umum dan 6,5% untuk BPR—dengan harapan perbankan akan segera mengikuti penyesuaian ini, sejalan dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,5%. Langkah ini bertujuan agar biaya dana bank menyusut dan menciptakan ruang penurunan bunga kredit, yang penting untuk mendorong pertumbuhan kredit tahun ini.

Namun, kenyataannya bunga simpanan justru masih naik per April 2025, terutama pada tenor satu dan tiga bulan. Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa perbankan masih saling menunggu langkah, khususnya dari bank-bank besar. Menurutnya, LPS telah memberi sinyal dengan menurunkan bunga penjaminan agar pasar mulai bergerak.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan bahwa pihaknya masih memantau kebijakan bank besar sebelum menyesuaikan bunga simpanan. Ia mengakui bahwa meskipun BI rate turun, tingginya kebutuhan likuiditas akibat penyaluran kredit membuat biaya dana sulit turun cepat.

Sementara itu, Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah, menyebut bahwa penyesuaian bunga simpanan akan dilakukan secara bertahap dalam enam bulan ke depan, tergantung pada strategi dan kondisi likuiditas bank masing-masing.

Meski ada dorongan kuat dari BI dan LPS untuk menurunkan bunga simpanan, realisasinya masih tertahan oleh dinamika pasar dan strategi likuiditas perbankan, dengan bank besar menjadi penentu arah kebijakan industri.

Rasio NPL Jadi Ancaman Bank-Bank Kecil

HR1 27 May 2025 Kontan
Meskipun secara nasional rasio kredit bermasalah (NPL) industri perbankan Indonesia masih tergolong rendah — yakni 2,17% per Maret 2025 menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) — terdapat sejumlah bank yang mencatat NPL gross tinggi, bahkan melampaui ambang batas sehat 5%. Kondisi ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap kualitas aset perbankan, terutama di tengah pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

Contohnya, Bank Amar Indonesia mencatatkan NPL gross sebesar 10,89%, tertinggi di industri. Namun, menurut David Wirawan, SVP Finance Bank Amar, rasio tersebut disebabkan oleh fokus penyaluran kredit ke segmen UMKM, yang memang memiliki risiko tinggi. Ia menegaskan bahwa dengan cadangan kerugian (provisi) yang memadai, NPL net Bank Amar tetap rendah di 1,48%, yang dianggap aman.

Bank KB Bukopin, Bank Banten, dan Bank of India Indonesia juga mencatat NPL gross di atas 7%, namun masing-masing mengklaim telah melakukan pencadangan risiko yang memadai. Bambang Widayatmoko, Direktur Bisnis Bank Banten, menyebutkan bahwa kredit bermasalah utamanya berasal dari segmen komersial, khususnya konstruksi dan pengadaan, dan pihaknya telah menempuh penyelesaian baik litigasi maupun non-litigasi.

Sementara itu, Trioksa Siahaan, Senior VP dari LPPI, menilai bahwa tingginya NPL di beberapa bank masih merupakan warisan dampak pandemi, ditambah dengan belum optimalnya penghapusan atau pencadangan kredit bermasalah, serta berakhirnya program restrukturisasi kredit. Ia menekankan pentingnya bank untuk fokus terlebih dahulu pada penurunan NPL dan penguatan likuiditas, sebelum melakukan ekspansi kredit besar-besaran.

Industri perbankan Indonesia secara umum masih stabil, tingginya NPL di beberapa bank memerlukan pengawasan dan strategi mitigasi yang kuat. Tokoh-tokoh seperti David Wirawan, Bambang Widayatmoko, dan Trioksa Siahaan menegaskan pentingnya pencadangan risiko yang proporsional, selektivitas dalam penyaluran kredit, serta pengelolaan portofolio yang hati-hati demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan kredit.

UMKM Sulit Akses Kredit di Tengah Risiko Meningkat

HR1 26 May 2025 Kontan
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tekanan signifikan yang terlihat dari lemahnya pertumbuhan kredit dan memburuknya kualitas aset di segmen ini. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit UMKM hanya sebesar 2,3% secara tahunan per April 2025, dengan kredit mikro bahkan mengalami kontraksi 2,5%. Rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM juga meningkat menjadi 4,36%, menandakan risiko yang makin tinggi di sektor ini.

Sekretaris Perusahaan BRI, Hendy Bernadi, menjelaskan bahwa BRI kini lebih ketat dalam menilai kapasitas bayar debitur pada kredit mikro karena tidak diperbolehkannya agunan tambahan, sehingga bank harus berhati-hati menyalurkan kredit. Sementara itu, Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability Maybank, menyatakan bahwa Maybank fokus pada usaha menengah atas yang profil risikonya lebih bisa diantisipasi, namun tetap memberikan kredit mikro melalui kerjasama dengan lembaga keuangan lain dan fintech.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa lambatnya pertumbuhan kredit UMKM disebabkan oleh menurunnya permintaan akibat stagnasi omset dan aktivitas usaha. Sedangkan EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, menyebutkan bahwa BCA berupaya mendorong kredit UMKM dengan menawarkan suku bunga khusus untuk UMKM yang berbasis lingkungan sosial, tata kelola baik, dan pengusaha wanita.

Kondisi kredit UMKM yang melemah dan meningkatnya NPL memerlukan intervensi pemerintah serta strategi perbankan yang lebih selektif dan inovatif untuk menjaga keberlanjutan pembiayaan sektor ini.

Penyaluran Kredit UMKM pada Empat Bulan Pertama Tahun Ini Masih Belum Lancar

KT1 26 May 2025 Investor Daily (H)
Penyaluran kredit usaha UMKM pada empat bulan pertama tahun  ini masih seret, meskipun sudah mulai meningkat. Adanya penurunan suku bunga  acuan Bank Indonesia (BI Rate) bisa menjadi harapan baru kebangkitan UMKM ke depan. Setelah sempat melambat dalam dua bulan terakhir, per April 2025 kredit UMKM tumbuh 2,3% secara yoy menjadi Rp 1.400,1 triliun. Realisasi ini mulai menunjukkan sinyal pemulihan, dibanding posisi Maret 2025 yang hanya naik 1,7% (yoy). Mengacu data uang beredar BI, perbaikan terutama terlihat pada kredit usaha kecil menengah. Per April, kredit kecil tumbuh 9,5% (yoy) menjadi Rp469 trliun naik dari maret  yang tumbuh 8,4% (yoy) menjadi Rp309,7 triliun per April bulan sebelumnya cuma naik 0,05% (yoy). Sedangkan, kredit mikro masih mencatatkan kontraksi yang dalam yakni 2,5% (yoy)  menjadi Rp 621,5 triliun. Penurunan ini lebih dalan dari kontraksi 2,1% (yoy) posisi Maret 2025. Dari penggunaannya, kredit UMKM untuk modal kerja tumbuh 0,8% (yoy) atau tembus Rp1.007,8 triliun, membaik dari bukan sebelumnya yang naik 0,2% (yoy). Kemudian, kredit investasi UMKM meningkat 6,5% (yoy) menjadi Rp 392,3 triliun, juga membaik dari bulan sebelumnya yang tumbuh 5,5% (yoy). (Yetede)

Lesunya Pertumbuhan Kredit

KT1 24 May 2025 Investor Daily (H)
Lesunya pertumbuhan kredit per April 2025 salah satunya dikontribusi dari kredit modal kerja yang tumbuh melambat. Ini dikarenakan permintaan dari sektor  riil yang juga melemah, sehinga di sisi permintaan kredit modal kerja menurun dan diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun. Berdasarkan data uang beredar yang dirils BI, kredit ya disalurkan perbankan per April 2025 sebesar Rp7.886. 5 triliun, tumbuh 8,5% secara yoy. Dari jenis penggunaannya, kredit modal kerja (KMK) pada empat bulan pertama tahun ini hanya naik 4,4% (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 6,2% (yoy). Perkembangan KMK terutama bersumber dari pertumbuhan sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan yang meningkat 10,1% (yoy) menjadi Rp544,2 triliun per April 2025. Pertumbuhan kredit ini  (yoy). Selain itu melambat dari posisi Maret 2025 yang sebesar 12,8% (yoy). Selain itu, kredit sektor industri pengolahan juga tumbuh melambat dari 8,3% (yoy). Selain itu, kredit dektor industri pengolahan juga tumbuh melambat dari 8,3% (yoy) per Maret 2025 menjadi naik 5,2,(yoy) per April 2025 dengan nilai kredit Rp842,3 triliun (Yetede)

Menanti Penurunan Suku Bunga Kredit Baru

KT1 23 May 2025 Investor Daily (H)
Suku bunga kredit baru pada April 2025 masih mengalami peningkatan secara bulanan. Dengan adanya pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% diharapkan transmisi ke suku bunga kredit bisa segera dilakukan untuk menjadi daya ungkit di sisi permintaan. Meskipun rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah terpantau stabil sebesar 9,19% pada April 2025, namun suku bunga kredit untuk fasilitas  kredit baru mengalami peningkatan sebesar 21 bps secara bulanan menjadi 9,63%. Berdasarkan data BI, kenaikan suku bunga kredit  baru terjadi  pada mayoritas kelompok bank, kecuali bank pelat merah. Kenaikan suku bunga baru terjadi pada kelompok kantor cabang bank asing (KCBA), bank pembangunan daerah (BPD), dan bank umum swasta nasional (BUSN) yang masing-masing naik sebesar 64 bps, dan 39 bps. Sebaliknya, suku bunga kredit baru  pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)  menurun 30 bps secara bulanan, terindikasi sebagai upaya menjaga daya saing di pasar kredit. (Yetede)

BI Guyur Likuiditas

KT1 22 May 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan kredit perbankan nasional per April 2025 semakin melemah, hanya tumbuh 8,8% secara year on year (yoy). Melihat realisasi ini, Bank Indonesia (BI) memangkas target pertumbuhan kredit dari level optimistis sebesar 11-13% (yoy), turun ke 8-11% (yoy). Dengan pertumbuhan kredit uang terus melambat sejak awal tahun ini, BI jor-joran mengguyur likuiditas supaya perbankan bisa lebih efektif mendorong penyaluran kredit. Di sisi lain, BI juga memangkas suku bunga acuan 7 days reserve repo rate (B17DRRR) 25 basis poin (bps) dari 5,75% menjadi 5,5%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan. Kredit pada April 2025 tumbuh sebesar 8,88% (yoy), lebih rendah dari 9,16% (yoy) pada maret 2025. Pertumbuhan ini terus turun dari akhir Desember 2024 yang tumbuh 10,39% (yoy). dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit oleh bank (lending standard) masih baik, terutama pada sektor pertanian, LGA ( Listrik, GGas, dan Air) dan jasa sosial. Kondisi likuiditas semakin mengetat terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang kembali melambat, yakni hanya naik 4,55% (yoy) per April 2025 dibandingkan awal Januari 2025 yang tumbuh 5,51%. (Yetede)

Target Kredit Direvisi, BI Lebih Realistis

HR1 22 May 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia mengalami perlambatan hingga April 2025, mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa kredit hanya tumbuh 8,88% yoy, turun dari 9,16% pada Maret, dan menjadi laju pertumbuhan terlemah sejak September 2023.

Perlambatan paling terasa terjadi pada kredit konsumsi dan modal kerja, masing-masing hanya tumbuh 8,97% dan 4,62% yoy, dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 10,61% dan 8,35%. Satu-satunya sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif adalah kredit investasi, yang naik 15,86% yoy.

Merespons tren ini, Gubernur BI Perry Warjiyo menurunkan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi 8%-11% dari sebelumnya 11%-13%. Namun, Perry tetap optimistis bahwa pertumbuhan kredit akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran kebijakan makroprudensial.

Perry menegaskan, “BI akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi.”

Dari sisi perbankan, beberapa bank besar telah mengantisipasi perlambatan ini. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan target konservatif sebesar 6%-8% yoy, meskipun per April 2025 kredit mereka masih tumbuh kuat sebesar 12,8% yoy. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyebutkan bahwa ekspansi kredit tetap dilakukan secara selektif, mempertimbangkan stabilitas ekonomi dan profil risiko debitur.

Sementara itu, Bank Mandiri tetap percaya diri dengan target pertumbuhan kredit 10%-12%, seiring kredit mereka yang tumbuh 16,5% hingga Maret 2025. M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menegaskan bahwa fokus akan tetap pada sektor prospektif dengan prinsip kehati-hatian.

Meskipun laju kredit melambat, sinyal positif masih ada dari pertumbuhan kredit investasi dan kesiapan bank-bank besar dalam mengelola ekspansi secara hati-hati. Harapan peningkatan pertumbuhan tetap bergantung pada respons kebijakan moneter dan pemulihan permintaan domestik.