Kredit
( 576 )Alternatif Kredit bagi UMKM dengan Pinjaman Daring
Di tengah kredit yang melambat, industri fintech peer to peer lending atau pinjaman daring memiliki peluang besar untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor UMKM. Kendati demikian, industri pinjaman daring cenderung menunggu dan melihat peluang pembiayaan ke depan. Data BI menunjukkan, penyaluran kredit UMKM oleh perbankan pada Maret 2025 tercatat tumbuh 1,95 % secara tahunan, terus melambat dari setahun terakhir, dimana pada Maret 2024 berada di 8,17 %. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Mohamad Faisal, mengatakan, kondisi itu meningkatkan peluang bagi industri pinjaman daring untuk menyalurkan pembiayaan UMKM. Sebab, perbankan memiliki pakem kehati-hatian dan berbagai persyaratan lain yang cukup ketat, seperti agunan.
”Fintech lending bisa menawarkan kredit dengan persyaratan yang lebih mudah, tidak harus menggunakan agunan sebagaimana di perbankan dan juga proses yang lebih cepat karena mereka (pinjaman daring) relatif lebih agile dibandingkan dengan bank-bank umumnya,” kata Faisal, Selasa (13/5). Industri pinjaman daring juga dapat mengambil peluang pembiayaan berskala kecil yang notabene tidak diambil oleh industri perbankan. Dengan kemampuannya, pinjaman daring dapat memenuhi banyaknya permintaan pembiayaan berskala kecil dari sektor UMKM tersebut. (Yoga)
Realisasi Penyaluran KUR Triwulan I-2025
Seorang pekerja terlihat sedang menggoreng kerupuk di sebuah tempat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pembuatan kerupuk tapioka di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (12/5/2025). Berdasarkan data yang didapat Kementerian UMKM, sepanjang triwulan I-2025, realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) baru mencapai Rp 57,51 triliun, masih jauh dari target tahun ini yang sebanyak Rp 300 triliun, dimana lebih dari 50 persen realisasi distribusi KUR menyasar ke sektor-sektor produksi terutama yang padat karya. (Yoga)
Pertumbuhan Kredit Valas Mulai Tertahan
Pertumbuhan kredit valuta asing (valas) perbankan Indonesia masih mencatatkan angka dua digit hingga Maret 2025, yakni 13,3% year-on-year (yoy). Namun, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, mencerminkan sikap hati-hati pelaku usaha dan perbankan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta volatilitas nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 17.052 per dolar AS pada April.
Sejumlah bank besar seperti Bank Mandiri, CIMB Niaga, dan BCA tetap menyalurkan kredit valas, namun dengan pendekatan kehati-hatian.
M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menyatakan bahwa mereka menyalurkan kredit valas secara selektif, terutama ke sektor ekspor-impor yang dianggap prospektif dan tangguh. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas aset di tengah volatilitas pasar.
Rusly Johannes, Direktur Business Banking CIMB Niaga, menambahkan bahwa CIMB juga berhati-hati dengan risiko valas yang semuanya di-hedging. Kredit valas mereka stabil dan banyak disalurkan ke sektor pertanian dan tambang.
Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP Komunikasi Korporat BCA, mengatakan bahwa BCA menjaga pertumbuhan kredit valas secara terukur, dengan nilai mencapai US$ 3 miliar (sekitar 5% dari total kredit). Mereka juga melakukan stress test secara konsisten dan menjaga likuiditas serta modal yang kuat.
Meskipun menghadapi tantangan global dan depresiasi rupiah, bank-bank besar tetap menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan kredit valas, asalkan disertai mitigasi risiko yang disiplin dan penyaluran ke sektor yang resilien.
Kredit Berkelanjutan Tumbuh Subur
Sertifikat Masih Tertahan walau KPR sudah Lunas
Dalam beberapa tahun terakhir, Ombudsman RI paling banyak menangani kasus fraud perbankan yang berkaitan dengan kredit pemilikan rumah atau KPR. Sebagian masyarakat tidak mendapatkan sertifikat meski KPR sudah lunas. Di sisi lain, pemerintah memiliki agenda besar yang juga menyangkut KPR, yakni program pembangunan 3 juta rumah. Kepala Keasistenan Utama III Ombudsman RI (ORI) Yustus Yoseph Maturbongs menyampaikan, terdapat 14 jenis bentuk fraud perbankan berdasarkan penanganan laporan Ombudsman RI di sektor keuangan. Kasus yang paling banyak ditangani berkaitan dengan analisis kredit dan KPR. ”Tetapi, yang paling (sering) itu KPR. Jadi, orang sudah lunas KPR, tetapi sertifikatnya belum dapat bertahun-tahun,” katanya seusai diskusi publik bertajuk ”Pencegahan Malaadministrasi dan Penegakan Hukum terhadap Kejahatan di Sektor Perbankan”, Kamis (8/5) di Jakarta.
Kasus KPR bermasalah itu biasanya dialami masyarakat atau nasabah KPR dengan tenor panjang, 15-20 tahun. Mereka tak mendapatkan sertifikatnya lantaran pihak pengembang atau notaris menghilang atau bermasalah secara hukum. Selain itu, ditemukan pula kasus para debitor yang menghilang atau tidak diketahui keberadaannya. Dengan kata lain, obyek KPR telah bertahun-tahun ditinggalkan dan tidak dilunasi, tetapi kemudian dating penghuni baru. Puncak dari tren tersebut terjadi pada 2021-2022. Namun, perkembangannya mulai menurun seiring perbaikan mekanisme KPR oleh perbankan dan asesmen yang dilakukan oleh ORI. ”Kerugian masyarakat yang diselamatkan di sektor perbankan lumayan. Dari total Rp 500 miliar penyelamatan kerugian masyarakat, bisa setengah dari itu disumbang sektor perbankan atau mencapai sekitar Rp 200 miliar (sejak 2021),” ujarnya. (Yoga)
Likuiditas Ketat, Perbankan Perlu Langkah Waspada
Perbankan Harus Lebih Selektif dalam Menyalurkan Kredit
Kredit Pemilikan Rumah Terdampak Melemahnya Ekonomi
Pelemahan daya beli masyarakat kian kentara dan tampak dari melambatnya laju pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I-2025. Kondisi ini turut dirasakan industri perbankan dalam penyaluran kredit konsumsi, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR). Bank akan tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi makro dan global dalam menentukan suku bunga kredit. Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 jauh di bawah perkiraan dan ekspektasi pasar yang masih berada dalam kisaran 4,9 %.
”Perlambatan yang signifikan dari 5,02 % pada triwulan IV-2024 dan laju paling lambat sejak triwulan III-2023 menggaris bawahi tantangan yang terus berlanjut saatini dan mencerminkan permintaan domestik yang kurang optimal,” katanya, Senin (5/5). Porsi konsumsi rumah tangga juga menyusut dari triwulan I-2024 di 54,9 % menjadi 54,5 % pada triwulan I-2025. Perlambatan tersebut turut berdampak terhadap kinerja industri perbankan, khususnya penyaluran kredit konsumtif. Ini telah terefleksi dari pertumbuhan kredit konsumsi rumah tangga oleh perbankan yang turut melambat, khususnya KPR.
Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI), kredit rumah tangga oleh perbankan per Maret 2025 mencapai Rp 1.868,55 triliun atau tumbuh 9,49 % secara tahunan, melambat dibanding Februari 2025 di 10,52 % dan Maret 2024 sebesar 10,35 %. Pertumbuhan KPR sebagai komposisi terbesar dalam kredit rumah tangga pun ikut merosot, dari tumbuh dua digit sepanjang setahun terakhir menjadi 8,9 % pada Maret 2025. Adapun porsi penyaluran KPR rumah tangga mencapai 42,99 % dari total kredit rumah tangga perbankan. (Yoga)
Industri Perbankan Mencatatkan Fasilitas Kredit yang Belum Diserap Debitur
Bank Mandiri Pimpin Deretan Bank Beraset Jumbo
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









