Kredit
( 575 )Cicilan KPR Meningkat Walau Likuiditas Mengetat
Meski rata-rata suku bunga dasar kredit menurun dalam lima tahun terakhir, cicilan kredit pemilikan rumah dengan skema mengambang justru cenderung meningkat. Kenaikan ini diduga terjadi akibat pengetatan likuiditas yang mendorong bank menaikkan cicilan KPR. Mengutip data OJK, rerata suku bunga dasar kredit (SBDK) jenis KPR per Februari 2025 sebesar 9,09 %, dengan rentang 5,54-12,75 %. Meski turun dibanding Januari 2025, di 9,18 %, SBDK jenis KPR meningkat dibanding Februari 2024, di 8,98 %. Rerata SBDK jenis KPR cenderung turun dibanding lima tahun lalu, yakni pada Februari 2020 yang sebesar 10,6 % dengan rentang 3,01-30,23 %. Posisi itu juga masih di bawah kondisi sebelum pandemi Covid-19, dengan rerata SBDK jenis KPR pada akhir 2019 mencapai 10,79 %.
Pengamat perbankan, Paul Sutaryono, mengatakan, cicilan KPR dengan suku bunga mengambang (floating rate) cenderung meningkat belakangan ini. Padahal, suku bunga acuan masih dipertahankan oleh BI sebesar 5,75 %. ”Likuiditas mengetat. Alasan ini mendorong bank menaikkan cicilan KPR,” katanya, Senin (28/4). OJK mencatat, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan per Maret 2025 mencapai Rp 9.010 triliun atau tumbuh 4,75 % secara tahunan, lebih rendah disbanding Februari 2025 yang tumbuh 5,75 % secara tahunan dan Maret 2024 yang tumbuh 7,44 % secara tahunan. Di sisi lain, langkah BI menahan suku bunga acuan diharapkan tidak membuat suku bunga kredit perbankan naik signifikan. Langkah itu juga dapat menjaga momentum perekonomian di tengah menurunnya perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia menjadi 4,7 persen pada 2025. (Yoga)
Pertumbuhan Kredit UMKM Masih Tertahan oleh Daya Beli
Pertumbuhan Kredit UMKM Masih Tertahan oleh Daya Beli
BTN Mencatatkan Kenaikan Laba Bersih
BI Mengoptimalkan Kebijakan Likuiditas ke Perbankan
Kredit Tumbuh Melambat di Tengah Ketidakpastian
Bank Bersaing Tekan Biaya Dana Murah
Kredit Konsumsi Ikut Tersendat karena Daya Beli Lesu
Perlambatan penyaluran kredit konsumsi hingga Februari 2025 menjadi indikator utama bahwa daya beli masyarakat masih belum pulih. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit konsumsi hanya sebesar 9,4% secara tahunan, melambat dibanding akhir 2024. Penyebab utama perlambatan ini adalah tingginya suku bunga, yang bahkan terus naik di beberapa bank besar.
Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyatakan bahwa penyesuaian bunga dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menekankan pentingnya menjaga kualitas aset melalui pendekatan konservatif, meskipun segmen kendaraan bermotor dan KTA masih mencatat pertumbuhan. Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Kepatuhan Bank OK, Efdinal Alamsyah, yang memilih langkah selektif demi menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi.
Secara umum, perbankan memilih strategi konservatif demi menjaga kualitas kredit, mengingat tingginya risiko kredit konsumsi akibat tekanan pada daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi makro yang belum stabil.
Penyaluran Kredit UMKM Masih Mini
Kredit Investasi Tetap Tumbuh Meski Tantangan Ada
Di tengah perlambatan pertumbuhan kredit secara umum, kredit investasi justru menunjukkan tren positif dan menjadi penopang utama pertumbuhan kredit perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Februari 2025 kredit investasi tumbuh 14,62% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kredit secara keseluruhan yang tumbuh 10,3%.
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan mencerminkan optimisme pelaku bisnis terhadap prospek ekonomi Indonesia, meski tidak selalu terlihat di ruang publik. Ia menyebut pelaku bisnis sedang aktif berekspansi, hanya saja "tidak diumumkan di TikTok".
Bank Mandiri, melalui M. Ashidiq Iswara (Ossy), mencatat kredit investasi tumbuh lebih tinggi lagi, yakni 25,6% yoy, dengan dukungan utama dari sektor manufaktur, perdagangan, dan jasa. Ossy optimistis pertumbuhan kredit secara keseluruhan bisa mencapai 10%-12% di akhir 2025, dengan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian.
Sementara itu, Hera F. Haryn dari Bank Central Asia (BCA) menyampaikan bahwa kredit investasi merupakan komponen besar dari kredit korporasi BCA, menyumbang 35% dari total pembiayaan. Sektor pertambangan non-migas dan energi menjadi kontributor utama pertumbuhan tersebut. Per Februari 2025, total outstanding kredit BCA telah mencapai Rp 900,66 triliun, mendekati capaian tahun penuh 2024 sebesar Rp 922 triliun.
Tren kredit investasi yang tumbuh kuat di tengah kondisi ekonomi yang menantang menunjukkan optimisme sektor usaha terhadap pemulihan dan ekspansi jangka panjang.
Pilihan Editor
-
Startup Bukan Pilihan Utama
24 Jan 2023 -
Mendag Pastikan Minyak Kita Tetap Diproduksi
30 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023 -
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023








