Kredit
( 575 )Bos Sritex Menjadi Tersangka Korupsi
Kejagung menahan Iwan Setiawan Lukminto yang dulunya Komisaris Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Bos perusahaan konfeksi yang pada Oktober lalu dinyatakan pailit itu disangka korupsi terkait pemberian kredit dari Bank Jabar Banten dan Bank DKI. Diperkirakan, kerugian negara akibat korupsi itu Rp 692,9 miliar. Iwan Setiawan ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa di kantor Kejagung, Jakarta, sepanjang Rabu (21/5). Kejagung juga menetapkan dua tersangka lain, yakni Dirut Bank DKI tahun 2020, Zainuddin Mappa dan pemimpin Divisi Komersial dan Korporasi Bank BJB, Dicky Syahbandinata. Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Abdul Qohar di Kejagung, Rabu malam, mengatakan, penyidik telah menemukan alat bukti yang menunjukkan adanya tindak pidana korupsi dalam pemberian kredit dari Bank BJB dan Bank DKI kepada Sritex.
”Penyidik memperoleh alat bukti yang cukup telah terjadi tindak pidana korupsi pemberian kredit beberapa bank pemerintah kepada Sritex dengan total outstanding atau tagihan yang belum dilunasi hingga Oktober 2024 sebesar Rp3,58 triliun,” kata Qohar. Tagihan terhadap Sritex berasal dari sejumlah bank, antara lain Bank Jateng Rp 395,6 miliar, Bank BJB Rp 543,9 miliar dan Bank DKI Rp 149 miliar. Tagihan juga berasal dari bank sindikasi, yakni BNI, BRI, LPEI, serta 20 bank swasta dengan total tagihan Rp 2,5 triliun. Penyidik menemukan pelanggaran hukum karena kredit diberikan tanpa analisis yang memadai, juga tidak sesuai prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan. Sritex diduga tidak menggunakan kredit untuk modal kerja sebagaimana tujuan dari pemberian kredit. Pinjaman dari bank itu malah disalahgunakan untuk membayar utang kepada pihak ketiga dan membeli asset nonproduktif, seperti tanah. Iwan Lukminto dijemput penyidik Kejagung di Surakarta, Jateng, Selasa (20/5) malam. (Yoga)
BI Guyur Likuiditas
Kondisi Likuiditas Perbankan Diprediksi Mulai Mengendur
Tekanan dalam Penyaluran Kredit Industri Manufaktur
Di tengah tantangan ekonomi domestik dan global, penyaluran kredit terhadap industri manufaktur diperkirakan mengalami tekanan. Namun, industri penopang perekonomian nasional dan penyerap tenaga kerja ini membutuhkan dukungan pembiayaan. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, Minggu (18/5) mengatakan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai sektor manufaktur padat karya tengah mengalami tekanan berat yang memengaruhi kelayakan penyaluran kredit perbankan. Dalam jangka pendek hingga menengah, Josua memperkirakan, prospek penyaluran kredit ke sektor TPT akan bersifat selektif dan konservatif.
Ini mempertimbangkan daya saing industri, kondisi keuangan perusahaan, serta risiko struktural dan kebijakan eksternal. ”Industri TPT mengalami pelemahan struktural dan siklikal sekaligus, mulai dari penurunan produktivitas, ketergantungan pada tenaga kerja tidak terampil, hingga tekanan likuiditas dan beban utang tinggi,” katanya. Di sisi lain, bank mengantisipasi risiko kredit dan gagal bayar akibat tingginya utang (leverage) dan tekanan likuiditas yang dialami perusahaan tekstil. Ada pula risiko regulasi Permendag No 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor yang justru mengakibatkan pasar dalam negeri dibanjiri produk impor sehingga memperlemah daya saing industri domestik.
Selain itu, risiko eksternal berupa volatilitas harga bahan baku global, pelemahan rupiah, dan rencana tarif resiprokal AS turut menambah ketidakpastian terhadap daya saing dan keberlanjutan ekspor. Menurut Josua, kepercayaan bank terhadap kemampuan industri TPT dalam memenuhi kewajiban finansial jangka panjang sejalan dengan pailitnya PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Bank cenderung hanya menyalurkan kredit ke perusahaan TPT yang memiliki rekam jejak kuat, struktur permodalan sehat, serta strategi bisnis ekspor-impor yang terdiversifikasi. (Yoga)
Pengajuan Kredit UMKM Masih Terkendala
Sebagian pelaku UMKM masih enggan mengambil kredit perbankan. Kendala yang dihadapi mereka pun masih sama, yakni tingginya suku bunga kredit, tidak adanya agunan, serta kecilnya jumlah pinjaman yang diajukan. Demikian temuan dalam laporan Studi Barometer Usaha Kecil yang dirilis Mastercard bersama 60 Decibels bertajuk ”Striving to Thrive The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2024/2025”, yang dipaparkan di Jakarta, Kamis (15/5). Laporan ini berdasarkan hasil survei kepada 827 pelaku UMKM selama Oktober-Desember 2024. Dari hasil survei, 27 % pelaku UMKM mengaku tidak mengakses kredit dengan alasan terbesar tidak membutuhkannya dan cenderung telah menjalankan bisnis lebih dari setahun. Mereka yang tidak mengambil pinjaman notabene lebih mengandalkan pendapatan serta tabungan sendiri.
Jumlah tersebut relatif berkurang dibanding hasil survei tahun lalu, yang melaporkan sebanyak 67 % usaha mikro dan kecil tak mengambil kredit selama 12 bulan terakhir. Kendati demikian, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi kendala yang sama ketika hendak mengakses kredit. Tingginya tingkat suku bunga kredit menjadi salah satu hambatan yang paling sering dilaporkan (27 %). Data OJK per Februari 2025 menunjukkan, rerata suku bunga dasar kredit bank umum kepada segmen mikro sebesar 10,76 %, segmen kecil 9,74 % dan segmen menengah 9,5 %. Pelaku UMKM juga masih menghadapi sejumlah tantangan saat hendak mengajukan kredit, seperti kurangnya agunan (13 %) dan kecilnya jumlah pinjaman (13 %). Hasil dari Studi Barometer 2024/2025 turut menemukan, dukungan bisnis kepada UMKM telah meningkatkan keuntungan dan kinerja. (Yoga)
Layanan Paylater Perbankan Tumbuh Pesat
Bisnis Kartu Kredit Masih Menjanjikan
Industri perbankan masih mencatatkan kinerja bisnis kartu kredit yan tumbuh positif pada tiga bulan pertama tahun ini, ditengah daya beli masyarakat yang melemah. Meski demikian, perbankan tetao mewaspadai kondisi perekonomian ke depannya. Seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang hingga Maret 2025, kartu kredit masih menjadi salah satu alat pembayaran andalan bagi nasabah BCA. Jumlah kartu kredit yang beredar mencapai 4,91 juta. Nilai transaksi kartu kredit tumbuh 9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 32 triliun, didukung ativitas masyarakat di berbagai sektor. Totak outstanding pinjaman konsumer lainnya (mayoritas berasak dari kartu kredit) meningkat 13,9% (yoy) menjadi Rpp 23,3 triliun.
"Di di sisi kualitas portfolio, NPL (non performing loan) kartu kredit BCA pada kuartalk pertama 2025 tetap terjaga, sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian dan menejmen resiko yang disiplin. Kami berharap kualitas portfolio kartu kredit BCA tetap terjaga di level yang mana di level yang manageable hingga akhir tahun," tutur Vice President Corporate Communication and Social Responsbility BCA Hera F Haryn kepada Investor Daily. Dari sisi transaksi, penggunaan kartu kredit BCA di merchant semakin mudah dengan hadirnya fitur contactless, sehingga nasabah cukup unutk menyelesaikan transaksi. BCA juga secara konsisten berupaya memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra bisnis serta menghadirkan beragam promo menarik di berbagai segmen, untuk mendukung nasabah yang semakin beragam. (Yetede)
BRI Menyiapkan Startegi Jaga Aset Tetap Sehat
Saat ini kondisi ekonomi global penuh dengan tekanan akibat
dampak dari tensi geopolitik dan perang tarif. Menghadapi kondisi tersebut, PT
Bank Rakyat Indonesia (BRI menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kualitas
asset dan pembiayaan tetap sehat, khususnya di segmen UMKM yang menjadi fokus
bisnis utama perseroan. Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menyampaikan
bahwa di tengah tekanan yang terjadi, BRI tetap mengedepankan prinsip
pertumbuhan yang selektif guna menjaga kualitas kredit secara berkelanjutan.
Sebagai bank dengan porsi pembiayaan UMKM terbesar di Tanah Air, BRI
mencatatkan penyaluran kredit UMKM hingga Maret 2025 sebesar Rp1.126,02 triliun
atau setara 81,97% dari total portfolio. Langkah ini pun menjadi penting agar
pertumbuhan pembiayaan tetap selaras dengan kondisi pasar, tanpa mengorbankan
aspek kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Hal ini tercermin dari membaiknya rasio non performing loan
(NPL) BRI dari 3,11% pada akhir triwulan 1-2025. Perbaikan serupa juga terlihat
pada rasio laoan at risk (LAR) yang membaik atau turun dari 12,68% di akhir
triwulan 1-2025. “Tentunyakita memperkuat fungsi monitoring dan juga early
warning system, sehingga dapat mengetahui kondisi nasabah dan juga antisipasi apabila terjadi potensi keburukan,” ungkap
Mucharom. (Yetede)
Alternatif Kredit bagi UMKM dengan Pinjaman Daring
Di tengah kredit yang melambat, industri fintech peer to peer lending atau pinjaman daring memiliki peluang besar untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor UMKM. Kendati demikian, industri pinjaman daring cenderung menunggu dan melihat peluang pembiayaan ke depan. Data BI menunjukkan, penyaluran kredit UMKM oleh perbankan pada Maret 2025 tercatat tumbuh 1,95 % secara tahunan, terus melambat dari setahun terakhir, dimana pada Maret 2024 berada di 8,17 %. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Mohamad Faisal, mengatakan, kondisi itu meningkatkan peluang bagi industri pinjaman daring untuk menyalurkan pembiayaan UMKM. Sebab, perbankan memiliki pakem kehati-hatian dan berbagai persyaratan lain yang cukup ketat, seperti agunan.
”Fintech lending bisa menawarkan kredit dengan persyaratan yang lebih mudah, tidak harus menggunakan agunan sebagaimana di perbankan dan juga proses yang lebih cepat karena mereka (pinjaman daring) relatif lebih agile dibandingkan dengan bank-bank umumnya,” kata Faisal, Selasa (13/5). Industri pinjaman daring juga dapat mengambil peluang pembiayaan berskala kecil yang notabene tidak diambil oleh industri perbankan. Dengan kemampuannya, pinjaman daring dapat memenuhi banyaknya permintaan pembiayaan berskala kecil dari sektor UMKM tersebut. (Yoga)
Penurunan Suku Bunga Jadi Kunci Akselerasi Kredit
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









