Kredit
( 575 )Kredit UMKM Bakal Dipacu
Industri perbankan berkomitmen mengoptimalkan penyaluran kredit
kepada sektor UMKM. Hal ini dilakukan melalui pengembangan infrastruktur
digital dan kebijakan pemerintah. Dirut PT Bank BTPN Tbk (Bank BTPN) Henoch
Munandar mengatakan, pihaknya akan terus mendorong penyaluran kredit kepada
segmen UMKM yang saat ini cenderung melambat. Meski ruang gerak yang dimiliki
tidak seleluasa bank pemerintah, BTPN optimistis dapat mendorong penyaluran kredit
UMKM, salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur digital. ”Menurunnya
penyerapan kredit usaha rakyat (KUR) ini mencerminkan kegiatan usaha di segmen
tertentu terbatas. Namun, pembiayaan mikro kami tahun ini justru meningkat
hampir 60 %. Kami akan terus meningkatkan penyaluran kredit UMKM dengan
berbasis infrastruktur digital (digital mikro) sebagai strategi mengatasi
kekurangan infrastruktur masing-masing bank,” katanya seusai acara BTPN
Economic Outlook 2024, di Jakarta, Rabu (22/11).
Peningkatan pembiayaan mikro yang cukup signifikan tersebut salah satunya karena dasar (base)
penyaluran kredit BTPN relatif lebih rendah ketimbang bank pemerintah lainnya.
Selain itu, transformasi digital melalui produk Jenius juga semakin mempermudah
korporasi dalam melakukan penetrasi terhadap segmen mikro. Henoch menambahkan, BTPN
optimistis pada 2024 dapat mencatatkan pertumbuhan produk digital mikro pada
level dua digit atau mencapai 40 %. Hal ini sejalan dengan ketentuan BI yang
mengamanatkan perbandingan kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit perbankan sebesar
30 %. Saat ini rasio kredit UMKM BTPN tercatat 29 persen. Komitmen serupa turut
digaungkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Selama periode
Januari-Oktober 2023, BRI telah menyalurkan KUR Rp 123,51 triliun kepada 2,7
juta debitor atau 63 % dari target yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp
194,4 triliun. (Yoga)
Enam Sektor Terpukul Bunga Tinggi
Penyaluran KUR 80 Persen dari Target
Masalah Subsidi Bunga Hambat Penyaluran KUR
Tahun Pemilu, Kredit Korporasi Makin Lesu
Pertumbuhan Kredit Baru Bank Masih Melambat
Memasuki kuartal IV-2023, pertumbuhan kredit perbankan melambat. Hasil survei penawaran dan permintaan pembiayaan perbankan yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada Senin (20/11) menunjukkan, penyaluran kredit baru pada Oktober 2023 masih tumbuh secara bulanan.
Namun, pertumbuhan kredit Oktober melambat dibandingkan September 2023. Ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada Oktober 2023 hanya 82,1%, lebih rendah dari SBT September 2023 sebesar 92,6%. Dari sisi penggunaan, perlambatan diproyeksi terjadi pada hampir seluruh jenis kredit. Contoh kredit investasi. Survei BI mencatat, SBT kredit investasi pada Oktober 2023 hanya 60,3%, turun dari SBT September 77,7%.
Erwin Haryono, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengatakan, ada sejumlah faktor utama yang memengaruhi perlambatan penyaluran kredit baru pada Oktober 2023.
Hingga akhir tahun ini, penyaluran kredit baru diproyeksi masih melambat. Menurut survei BI, nilai SBT penyaluran kredit baru pada kuartal IV-2023 hanya tumbuh 92,9%, lebih rendah dibanding kuartal III-2023 sebesar 95,6%.
Toh, para bankir tetap optimistis, penyaluran kredit bank hingga akhir 2023 masih positif. Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, sampai akhir 2023, bank ini menargetkan penyaluran kredit bisa tumbuh di kisaran 6%-8%.
Direktur Keuangan Bank Mandiri Tbk (BMRI) Sigit Prastowo lebih percaya diri membidik target pertumbuhan kredit. Dia memperkirakan, penyaluran kredit Bank Mandiri bisa tumbuh 10%-12%. Pada 2022, Mandiri menyaluran kredit Rp 1.202 triliun, naik 14,48% secara tahunan.
Topang Ekonomi, Realisasi Penyaluran KUR Capai 68%
Mengupayakan Pinjaman Daring Produktif dan Terlindungi
Pinjaman daring tumbuh pesat, menunjukkan besarnya kebutuhan
masyarakat akan pendanaan yang mudah. Namun, pertumbuhan itu diwarnai masalah. Tingkat
bunga tinggi, penagihan dengan kekerasan, dan maraknya pinjaman daring ilegal. Pinjaman
daring atau fintech peer-to-peer lending menjadi fenomena menarik pada layanan
sektor jasa keuangan sejak diluncurkan pada 2016. Pengajuan pinjaman yang mudah
dan cepat tak ayal membuat penyaluran pinjaman ini tumbuh pesat, tercermin dari
kinerja pertumbuhan fintech lending. Sampai September 2023, dari 102 platform
yang berizin OJK, outstanding pendanaan yang disalurkan tumbuh 14,28 persen
secara tahunan dengan nominal pendanaan Rp 55,7 triliun. Bahkan, secara
akumulasi total pendanaan per Agustus 2023 telah mencapai Rp 677,51 triliun,
dengan jumlah rekening pengguna, baik pemberi pinjaman (lender) maupun penerima
pinjaman (borrower), telah mencapai 120,88 juta rekening. Lebih dtail,
akumulasi rekening penerima pinjaman mencapai 119,80 juta rekening, sedangkan
rekening pemberi pinjaman 1,08 juta rekening, dengan 19,13 juta rekening
penerima pinjaman dan 180.810 rekening pemberi pinjaman yang aktif.
Pesatnya pertumbuhan industri fintech lending dibayangi
sejumlah tantangan, Pertama, layanan pendanaan ini masih didominasi oleh pinjaman
konsumtif. Penyaluran pendanaan fintech lending ke sektor produktif, seperti
UMKM baru 36,57 %. Kedua, tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat mengenai
pinjaman daring masih sangat rendah. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi
dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022, tingkatliterasi keuangan fintech lending
baru 10,90 %% dengan tingkat inklusi keuangan hanya 2,56 %, masih sangat rendah
(less literate) dibandingkan tingkat nasional yang tingkat literasi dan inklusi
keuangannya masing-masing 49,68 % dan 85,10 %. Tantangan ketiga adalah maraknya
masyarakat yang terjebak pinjaman daring atau kerap disebut pinjol yang ilegal.
Keempat, industri fintech lending juga masih harus mengatasi sejumlah isu. Di
antaranya kebutuhan permodalan, tata kelola dan manajemen risiko, keandalan
sistem teknologi informasi, serta credit scoring industri. (Yoga)
Perbankan Didorong Percepat Penyaluran KUR
Penyaluran KUR Bank Masih Jauh dari Target
Pilihan Editor
-
Pusat Data Kecerdasan Buatan Diluncurkan
04 Jan 2022 -
Tantangan Perbankan 2022
03 Jan 2022









