;
Tags

Kredit

( 575 )

PERMINTAAN PEMBIAYAAN : KREDIT BANK LAWAN KELESUAN

HR1 09 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Potensi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diprediksi tak seagresif pada 2022. Dinamika internal yang memasuki tahun politik dan perkembangan global yang kian tak menentu, menjadikan lambatnya permintaan pembiayaan. Proyeksi terakhir yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit bank sebesar 10,7% year-on-year (YoY). Angka itu lebih optimistis dibandingkan dengan perkiraan awal yang disusun lembaga itu yang memproyeksikan kredit tumbuh tahun di kisaran 8,9% YoY.Dalam tiga kuartal terakhir 2023, bank sentral mematok rentang pertumbuhan kredit bank di kisaran 10,4%—10,9%. Pada 2022, pertumbuhan kredit perbankan tercatat 11,4%.Hingga kuartal III/2023, outstanding kredit perbankan senilai Rp6.803,4 triliun atau tumbuh 8,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2022. Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, pertumbuhan kredit masih melaju positif. Namun, pertumbuhannya diperkirakan terbatas di kisaran 7% hingga 9%.Dia menuturkan, pertumbuhan kredit yang diprediksi hanya akan menyentuh single digit, lantaran adanya tren kenaikan suku bunga hingga 25 basis poin ke level 6%. Sementara itu, peneliti dari Lembaga ESED Chandra Bagus Sulistyo mengatakan, pertumbuhan kredit terdorong lantaran aktivitas perekonomian yang menunjukkan kondisi pemulihan sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pemilu. Head of Emerging Business Banking PT CIMB Niaga Tbk. Tony Tardjo menyatakan sejumlah alasan di balik sikap optimistis terhadap laju pembiayaan untuk tumbuh lebih tinggi.Emiten dengan kode saham BNGA itu mematok target penyaluran kredit, khususnya kepada sektor usaha mikro kecil dan menengfah (UMKM) pada sisa tahun ini dapat mencapai digit ganda atau sekitar Rp25 triliun di tengah tren suku bunga yang tinggi. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Agustya Hendy Bernadi mengaku optimistis menghadapi situasi yang akan berkembang pada tahun depan. Bahkan, menurutnya, Pemilu cenderung memberikan dampak positif terhadap perekonomian, sehingga berdampak pada penjualan pelaku UMKM yang merupakan core business BRI. Adapun, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sigit Prastowo mengatakan, hal ini didasarkan capaian Bank Mandiri yang mencatatkan kinerja, di mana kredit perseroan tumbuh 12,71% secara tahunan, melampaui industri 8,96% YoY. Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memproyeksikan penyaluran kredit akan tetap konservatif di 9% hingga 10% pada akhir tahun ini.Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Jahja Setiaatmadja memproyeksikan kenaikan suku bunga memang tidak akan secara langsung memberi dampak kepada sejumlah segmen.

Penyaluran KUR 2023 Terhambat Persyaratan

KT1 03 Nov 2023 Tempo
Kinerja penyaluran KUR yang cenderung seret itu antara lain disebabkan oleh banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kesulitan mengakses pembiayaan KUR karena terganjal persyaratan rekam jejak serta asesmen kelayakan calon debitor.

Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny mengatakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM adalah tidak terpenuhinya syarat kelayakan catatan buku kredit ketika mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga jasa keuangan lainnya. “Sebagian besar UMKM masih tercatat sebagai penunggak KUR di masa pandemi, meski sudah direstrukturisasi dengan bunga yang rendah,” katanya kepada Tempo, kemarin.

Dalam analisis kredit selama ini, terdapat persyaratan wajib lolos Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan SIKP. SLIK memuat riwayat kredit calon debitor yang sering mengganjal proses pengajuan kredit. “Karena itu, penghapusbukuan kredit macet UMKM akan sangat membantu pelaku usaha untuk bangkit dan bergairah mengajukan kredit lagi,” ucap Hermawati. (Yetede)

Penyaluran KUR 2023 Terhambat Persyaratan

KT1 03 Nov 2023 Tempo
Kinerja penyaluran KUR yang cenderung seret itu antara lain disebabkan oleh banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kesulitan mengakses pembiayaan KUR karena terganjal persyaratan rekam jejak serta asesmen kelayakan calon debitor.

Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny mengatakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM adalah tidak terpenuhinya syarat kelayakan catatan buku kredit ketika mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga jasa keuangan lainnya. “Sebagian besar UMKM masih tercatat sebagai penunggak KUR di masa pandemi, meski sudah direstrukturisasi dengan bunga yang rendah,” katanya kepada Tempo, kemarin.

Dalam analisis kredit selama ini, terdapat persyaratan wajib lolos Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan SIKP. SLIK memuat riwayat kredit calon debitor yang sering mengganjal proses pengajuan kredit. “Karena itu, penghapusbukuan kredit macet UMKM akan sangat membantu pelaku usaha untuk bangkit dan bergairah mengajukan kredit lagi,” ucap Hermawati. (Yetede)

Biaya Kredit Perbankan Semakin Melandai

HR1 31 Oct 2023 Kontan
Kualitas kredit perbankan di Tanah Air semakin membaik. Hal ini tercermin dari biaya kredit atau cost of credit (CoC) di sejumlah bank yang mulai melandai. Salah satu contoh, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Per September 2023, CoC Bank Mandiri secara konsolidasi turun 50 basis poin (bps) menjadi 0,96%. Pada September 2022, rasio biaya kredit emiten bank dengan kode saham BMRI itu masih berada di level 1,46%. Rendahnya biaya kredit tersebut, menjadi salah satu penopang pertumbuhan laba Bank Mandiri di sepanjang sembilan bulan tahun ini. Per September 2023, laba BMRI melesat 27,4% secara tahunan menjadi Rp 39,1 triliun. Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, hingga September 2023, Bank Mandiri mencatat perbaikan asset quality indicators antara lain, rasio non performing loan (NPL) turun 75 bps menjadi 1,49%. Melihat pencapaian tersebut, BMRI merevisi target CoC di akhir tahun ini menjadi 1,1% dari sebelumnya 1,1% hingga 1,3%. "Kami melihat dan memproyeksikan bahwa tren perbaikan kualitas kredit akan terus berlanjut sampai akhir tahun 2023 dan stabil di 2024 mendatang," papar Siddik. Bank pelat merah lain yang juga mencatat penurunan biaya kredit adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Hingga semester pertama tahun 2023, CoC BTN turun 19 bps menjadi 1,29%. Sampai akhir tahun ini, BTN akan menjaga CoC di level 1,28%, turun dari tahun lalu yang berada di posisi 1,39%. Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo mengatakan, target penurunan CoC sejalan dengan potensi melandainya NPL. BTN akan menjaga perbaikan NPL di sekitar 3,2%-3,3%. Penurunan CoC juga mendongkrak laba CIMB. Per September 2023, bank yang melantai di BEI dengan kode saham BNGA ini meraup laba bersih Rp 6,3 triliun, naik 25,8% secara tahunan.

ARAL LAJU KREDIT KONSUMSI

HR1 28 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Kredit konsumsi perbankan dihadapkan pada situasi yang pelik antara potensi peningkatan aktivitas konsumsi menjelang Pemilu 2024, tantangan instabilitas ekonomi global, dan tingginya suku bunga acuan. Sejauh ini, pasar global masih dibayangi oleh ketidakpastian yang tinggi akibat sikap hawkish The Fed dan konflik geopolitik yang memanas. Hal ini pun berimbas pada perekonomian nasional, yaitu terkereknya suku bunga Bank Indonesia ke level 6% dan melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga kian mendekati Rp16.000.Di tengah tantangan ini, pemerintah meluncurkan stimulus baru yakni pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN-DTP) untuk pembelian properti di bawah Rp2 miliar. Corporate Secretary PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., Ramon Armando, memproyeksikan perhelatan pemilu dapat meningkatkan konsumsi masyarakat, khususnya kepada sektor makanan dan minuman, logistik, transportasi, pakaian, serta aneka jasa. “Secara historis jumlah uang yang beredar juga akan cenderung bertambah ketika pemilu yang akan semakin merangsang peningkatan konsumsi masyarakat, dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan kredit konsumsi," katanya kepada Bisnis, Jumat (27/10). Lebih lanjut, BTN memandang adanya insentif baru PPN-DTP akan makin mendongkrak kredit konsumtif, khususnya di segmen KPR yang menjadi andalan BTN. “Tahun ini dan tahun depan, kami membidik kredit tumbuh sekitar double digit,” kata Direktur Consumer BTN, Hirwandi Gafar.Pandangan BTN tersebut pun turut diafirmasi oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. Menurutnya, pemilu memberikan momentum yang baik bagi pertumbuhan perekonomian nasional, termasuk kredit bank. Pada 2014, kredit konsumtif sebenarnya tumbuh cukup tinggi yakni 11,51% year-on-year (YoY) menjadi Rp1.014 triliun. Namun, tingkat pertumbuhan tersebut melambat dibanding 2013 yang sebesar 13,67% YoY. Hal yang sama kembali terulang pada 2019, bahkan lebih parah. Pertumbuhan kredit konsumtif melambat menjadi hanya 5,81% YoY senilai Rp1.559 triliun dibanding tahun sebelumnya yang tumbuh 10,35% YoY. Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), Sunarso, mengatakan meskipun insentif PPN-DTP baik, faktor lain yang akan menentukan efektivitasnya adalah konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat. “Ada analisis ekonometrika bahwa loan demand dan loan growth itu elastis terhadap konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat,” ujar Sunarso.Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengamini bahwa segmen kredit yang paling terdampak oleh kenaikan suku bunga acuan adalah segmen kredit konsumsi. "Untuk kredit konsumer, itu sangat price sensitive," tutur Jahja.

Menahan Kegetiran Kredit Konsumsi

HR1 28 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Angin paceklik yang berembus ke sektor konsumsi lamat-lamat mulai terasa. Kalangan perbankan sudah mengendus terjadinya pengurangan belanja masyarakat. Ramainya proses kontestasi menjelang Pemilu 2024 masih bisa diperhitungkan membawa efek positif terhadap belanja. Namun, momentum ini juga bisa memicu keadaan sebaliknya. Apalagi, Bank Indonesia (BI) pada tengah bulan ini sudah mengatrol suku bunga acuan. BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) naik ke level 6%, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,75%.Kebijakan moneter BI tersebut niatnya untuk menjaga stabilitas nilai rupiah yang kini sudah nyaris mencapai Rp16.000 per dolar AS lantaran terpukul oleh faktor global seperti fluktuasi suku bunga The Fed. Namun, suka tak suka, kebijakan moneter ini ikut memengaruhi dinamika kredit konsumsi perbankan. Kenaikan suku bunga dapat membuat pinjaman kredit jadi lebih mahal. Keadaan ini dapat mengurangi minat konsumen meminjam uang untuk pembelian rumah dan mobil. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) telah membeberkan sinyal bahwa saat ini sudah terjadi penurunan penjualan mobil, baik dari sisi ritel maupun penjualan dari pabrik ke diler (wholesales). Data penjualan mobil wholesales pada September 2023 susut 10,12% menjadi 79.883 unit dibandingkan dengan penjualan Agustus 88.878 unit (month-to-month). Jika dihitung secara tahunan (year-on-year/YoY), amblesnya penjualan mobil pada September 2023 menjadi lebih dalam lagi, yaitu 20,11% mengingat penjualan mobil pada September 2022 masih sebanyak 99.986 unit. Di sektor properti, angin paceklik kredit konsumen justru dirasakan pengembang lebih kencang. Sudah sejak lama bisnis di sektor perumahan belum bisa berkembang normal seperti keadaan sebelum pandemi. Hal ini terlihat dari kecilnya penyerapan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan perumahan di bawah Rp2 miliar (non-MBR). Stimulus pemerintah bahkan sudah siap dikucurkan membantu industri properti yang tampak terseok-seok.

KREDIT SEKTOR PERTANIAN : BPD PERLUAS AKSES PERMODALAN

HR1 28 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Tak dapat dimungkiri, para petani di daerah masih kesulitan dalam mengakses layanan perbankan guna meningkatkan permodalan agar memperlancar usahanya. Di sinilah Bank Pembangunan Daerah memainkan peran penting untuk memberikan permodalan yang terjangkau bagi para petani di tengah melambungnya harga pupuk nonsubsidi di pasaran. Terbaru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat program Kredit/Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP) pun mendorong perbankan di Bali untuk memprioritaskan petani agar mendapat akses pembiayaan jelang masa tanam. Program ini merupakan inisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama perbankan di Pulau Dewata.Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali I Nyoman Sudharma menjelaskan bahwa program KPSP merupakan satu langkah diversifi kasi pembiayaan untuk pengembangan sektor unggulan Pulau Dewata di luar sektor pariwisata dan sesuai dengan arah ekonomi kerti Bali. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor unggulan Bali selain pariwisata. Dia memandang bahwa selama ini BPD Bali sudah menyalurkan pembiayaan kepada petani melalui program pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam program KPSP ini, dua Subak di Kabupaten Tabanan yakni Subak Bengkel dan Subak Jaka menjadi proyek percontohan atau pilot project. Pemilihan utama di Kabupaten Tabanan bukan tanpa alasan. Pasalnya, Tabanan selama ini menjadi lumbung beras Bali dan komoditas lainnya seperti sayur. Pada program KPSP ini, selain mendapat pembiayaan, petani juga diberikan asuransi atau penjaminan. Langkah ini dilakukan guna memberikan rasa aman kepada petani dan meminimalisir kerugian jika terjadi gagal panen.Sementara itu, Kepala Kantor OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Kristrianti Puji Rahayu menjelaskan bahwa program pembiayaan KPSP merupakan generic model kedua setelah program kredit melawan rentenir yang telah diluncurkan sebelumnya. “Pembiayaan sektor pertanian melalui KPSP ini akan membiayai mulai dari petani membeli bibit, membeli pupuk, sampai masa panen. Selain itu juga akan dilakukan pendampingan termasuk diberikan asuransi. Nanti hasilnya dibeli oleh offtaker,” jelasnya. Ekonom Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar Raka Suardana memandang bahwa model pembiayaan seperti program KPSP ini sangat membantu petani, apalagi penyalurannya menjelang masa tanam yang diproyeksikan bakal berlangsung pada dalam waktu satu atau dua bulan ke depan. Bisnis mencatat bahwa Kepala Tim Kelompok Perumusan KEKDA Wilayah dan Provinsi BI Bali Rahmad Adi Nugroho menjelaskan bahwa penyaluran pembiayaan dari bank belum menyasar semua sektor. “Penyaluran kredit di Bali relatif imbang jika dilihat berdasarkan jenis penggunaannya, namun berdasarkan lapangan usahanya masih terfokus pada perdagangan dan akomodasi makan minum,” jelasnya. Salah satu upaya yang dilakukan Bank Indonesia yakni dengan peningkatan besaran total insentif makroprudensial yang dapat diterima bank. Total insentif tersebut terdiri dari insentif atas pembiayaan kepada sektor prioritas paling tinggi sebesar 1,5%, insentif atas penyaluran KUR dan kredit UMKM meningkat dua kali lipat menjadi paling tinggi sebesar 1%, dan insentif atas penyaluran pembiayaan hijau paling tinggi sebesar 0,3%.

Likuiditas Mengetat, Perbankan Optimistis Target Kredit Tetap Tercapai

KT3 26 Oct 2023 Kompas

Kenaikan suku bunga acuan berpotensi mengakibatkan pengetatan likuiditas industri perbankan. Meski demikian, sejumlah bank besar optimistis penyaluran kredit dapat terus bertumbuh hingga akhir tahun didukung permodalan yang kuat. Sebelumnya, BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 % karena ketidakpastian global yang terus meningkat hingga mengakibatkan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir terdepresiasi mendekati Rp 16.000 per dollar AS. Dirut BRI Sunarso mengatakan, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan tersebut akan berdampak pada pengetatan likuiditas perbankan. Meski begitu, sampai saat ini kinerja BRI masih positif yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), likuiditas yang memadai, dan permodalan yang kuat.

”Pertumbuhan DPK BRI hingga kuartal III-2023 tercatat 13,21 persen secara tahunan menjadi Rp 1.290,29 triliun. Jumlahnya jauh di atas pertumbuhan DPK industri perbankan yang pada Agustus 2023 tercatat 6,24 % secara tahunan. Kemudian, LDR (loan to deposit ratio) BRI terjaga di level 87,76 %, jauh di atas ketentuan regulator,” katanya dalamkonferensi pers Pemaparan Kinerja BRI Kuartal III-2023 secara virtual, Rabu (25/10). Di sisi lain, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BRI tercatat sebesar 27,48 %. Dengan likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat tersebut, Sunarso optimistis BRI mampu mengantisipasi berbagai risiko dalam tiga bulan ke depan sekaligus mendorong pertumbuhan BRI melalui penyediaan jasa layanan keuangan serta pembiayaan dan pemberdayaan UMKM. (Yoga)

Kredit Tumbuh 12,35%, BRI Semakin Kuat, Selama 9 Bulan Cetak Laba Rp 44,21 Triliun

KT1 26 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Ditengah tantangan dan ketidakpastian perekonomian global karena meningkatnya tensi  geopolitik dunia. PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berhasil menjaga kinerja keuangan yang impresif hingga akhir Kuartal III 2023. Keberhasiannya BRI Group menjaga kinerja positif  tersebut ditunjukkan  dari asset yang secara konsolidasi meningkat  9,93% year on year (yoy) menjadi Rp1.851,97 triliun.  Pertumbuhan aset tersebut  juga diiringi dengan perolehan laba dalam 9 bulan yang mencapai sebesar Rp 44,21 triliun atau tumbuh 12,4% yoy. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI  Sunarso dalam pemaparan Kinerja keuangan BRI Triwulan III 2023 pada Rabu (25/10). Sunarso mengungkapkan  bahwa kontributor utama  penopang kinerja positif BRI tersebut  diantaranya adalah  penyaluran kredit yang  tumbuh double digit, kualitas kredit yang juga terjaga, serta proporsi fee-based income yang porsinya terus meningkat terhadap keseluruhan pendapatan BRI. (Yetede)

Depresiasi Rupiah Gerus Kapasitas Penyaluran Kredit Perbankan

KT3 25 Oct 2023 Kompas (H)

Depresiasi rupiah menekan industri perbankan karena berpotensi menggerus kemampuan penyaluran kredit dan meningkatkan risiko kredit. Penguatan dollar AS akan terus terjadi seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global. Mengacu pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah terpantau sedikit menguat. Pada penutupan pasar, Selasa (24/10) nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.869 per dollar AS, menguat 0,46 % dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni Rp 15.943 per dollar AS. Secara kalender berjalan, rupiah sempat menyentuh level terkuatnya di level Rp 14.632 per dollar AS pada 4 Mei 2023. Sementara itu, nilai tukar rupiah paling lemah pada 23 Oktober. Saat itu nilainya Rp 15.943 per dollar AS atau terdepresiasi 2,2 % dibandingkan penutupan pada 2022.

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah berdampak terhadap jumlah penyaluran kredit (exposure) perbankan dalam bentuk dollar AS. Hal ini karena adanya selisih akibat depresiasi nilai tukar rupiah. “Bagi perbankan, secara rasional, exposure dalam dollar AS akan otomatis naik dalam ekuivalen rupiah sehingga akan juga menaikkan ATMR (aset tertimbang menurut risiko). Namun, tentu saja tergantung dari porsi exposure tersebut,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (24/10). ATMR merupakan jumlah aset bank dengan pertimbangan risiko, seperti kredit, pasar, dan operasional. Kenaikan ATMR tersebut, salah satunya, akan menurunkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) yang berarti kemampuan penyaluran kredit bank menjadi terbatas. (Yoga)