Kredit
( 575 )Tenor KPR Subsidi Akan Diperpendek Jadi 10 Tahun
Pemerintah sedang mengkaji pengurangan tenor atau jangka waktu
kredit pemilikan rumah atau KPR bersubsidi. Pengurangan tenor subsidi KPR dari 20
tahun menjadi 10 tahun diharapkan mendorong perguliran dana lebih cepat dan menjangkau
lebih banyak masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah. Direktur
Pelaksanaan Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Haryo Bekti Martoyoedo
mengatakan, jangka waktu KPR bersubsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan
perumahan (FLPP) menurut rencana diperpendek menjadi 10 tahun. Skema baru itu
masih dalam pembahasan dan diharapkan dapat diterapkan mulai tahun 2025. ”Masih
di simulasi, perkiraan (tenor subsidi KPR) di angka 10 tahun. Kami berharap
(kebijakan itu) bisa diimplementasikan mulai tahun depan,” kata Haryo saat
dihubungi, Kamis (15/2).
KPR-FLPP saat ini memiliki suku bunga tetap (fixed rate)
sebesar 5 % per tahun dengan jangka waktu atau tenor hingga 20 tahun. Kuota penyaluran
KPR-FLPP pada tahun 2024 mencapai 166.000 unit rumah atau senilai Rp 21,04
triliun. Menurut Haryo, dengan skema baru itu nantinya KPR-FLPP bisa tetap
berjangka waktu 20 tahun. Namun, subsidi KPR hanya berlaku untuk masa 10 tahun
dan setelahnya tingkat suku bunga akan ditinjau kembali. Jika nasabah sudah
mampu, dikenai suku bunga KPR mengambang (floating rate). Penyaluran kuota FLPP
pada tahun 2024 ditargetkan sejumlah 166.000 unit rumah atau senilai Rp 21,04
triliun, lebih rendah dibandingkan realisasi penyaluran FLPP tahun 2023, yakni
229.000 unit. Untuk tahun 2024, batasan maksimum harga jual rumah tapak
bersubsidi yang bebas PPN dipatok menjadi Rp 166 juta-Rp 240 juta per unit
menurut zonasi. (Yoga)
Permintaan KPR Tahun Ini Diprediksi Melonjak
Tren permintaan kredit pemilikan rumah atau KPR masih menggeliat
dan diperkirakan meningkat seiring dengan tingginya animo masyarakat untuk
membeli rumah. Berkaca dari tren sebelumnya, penurunan tingkat suku bunga acuan
disinyalir akan menjadi faktor pendorong permintaan KPR pada 2024. Dirut PT
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Nixon LP Napitupulu menyampaikan,
KPR masih menjadi motor penggerak utama kinerja bisnis bagi BTN. Pada 2023, KPR
tumbuh 10,4 % secara tahunan menjadi Rp 257,92 triliun. Dari total pertumbuhan KPR
tersebut, penyaluran KPR bersubsidi tercatat tumbuh 10,9 % secara tahunan menjadi
Rp 161,74 triliun. Sementara KPR nonsubsidi tercatat tumbuh 9,5 % menjadi Rp
96,17 triliun pada 2023.
”Jadi, total KPR tumbuh untuk pertama kalinya double digit
setelah pandemi Covid-19 dan mudah-mudahan angka ini bisa dipertahankan sekaligus
menunjukkan geliat pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan pada segmen KPR
bersubsidi membuktikan bahwa permintaan rumah di masyarakat bawah masih tumbuh
karena kebu tuhan dasar,” katanya dalam Konferensi Pers Kinerja BTN 2023, di
Jakarta, Senin (12/2). Dari total penyaluran KPR bersubsidi oleh industri perbankan,
BTN memiliki pangsa pasar 83 %. Secara keseluruhan, pangsa pasar penyaluran KPR
oleh BTN mencapai 39,1 % dari total penyaluran KPR oleh industri perbankan. Merujuk
hasil Survei Sosial Ekonomi (Susenas) 2023 oleh BPS, backlog kepemilikan rumah
di Indonesia mencapai 9,9 juta unit. Backlog merupakan kesenjangan antara
jumlah rumah terbangun (supply) dan jumlah rumah yang dibutuhkan masyarakat
(demand). BTN optimistis animo masyarakat untuk memiliki rumah akan terus
meningkat. (Yoga)
Cegah Kredit Macet, Fintech Perkuat Scoring
Kredit Mikro Non Subsidi Bank Terus Mengembang
Tetap Tumbuh Cantik di Tengah Tahun Politik
Pinjaman Pendidikan, Mungkinkah?
Konsep pinjaman biaya pendidikan APBN tengah dirumuskan oleh Kemenkeu
bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kemungkinan akan seperti
student loan di AS. Wacana ini menguat setelah muncul polemik mahasiswa yang membayar
biaya kuliah menggunakan pinjaman daring. Tanggapan warga dan mahasiswa
beragam. Bayyu Putra Hadhiana (29) Karyawan swasta sekaligus mahasiswa S-1
mengatakan, Aku setuju student loan, yang memudahkan orang berpenghasilan
bulanan rendah bisa mendapat pendidikan yang sama. Aku setuju kalau skemanya
tak berbunga karena selama ini yang bikin berat adalah bunganya. Kalau ada
bunga, bisa jadi uang kuliah tunggal (UKT) jauh lebih mahal pada akhir
perhitungan. Skema lainnya, jangka waktu pelunasan tak ditentukan, tetapi
peminjam bisa mengembalikan setelah memiliki pendapatan tertentu.
Elisabeth Dian Selvita (24) Karyawati swasta di Jakarta
mengatakan, buat aku yang punya impian untuk studi Psikologi Profesi, setuju
saja dan mendukung adanya program student loan. Apalagi sekarang kondisi finansial
orangtua sudah enggak seperti dulu dan studi Psikologi Profesi itu juga enggak
bisa disambi kerja. Perlu ada asesmen lewat background checking seperti orang
mau ambil kredit di lembaga keuangan supaya tepat sasaran dan benar-benar uangnya
bisa dikembalikan. Carolus Arya Pandu Yasa (26), Karyawan swasta di Jakarta, sepakat
denganprogram student loan untuk pendidikan. Cuma, harus ada pengawasan yang
ketat. Pemerintah sebaiknya selektif dalam memilih orang-orangnya, juga profil
universitasnya, yang berkualitas dan tepercaya, serta pastikan penerimanya bisa
mendapatkan pekerjaan. Jangan sampai ketika sudah dapat student loan, nanti si
penerima justru kesulitan mengembalikan karena susah cari kerja. (Yoga)
Menambah Porsi Kredit UMKM
KREDIT EKSPANSIF BANK JUMBO
Tantangan penyaluran kredit yang muncul seiring transisi iklim suku bunga mahal tak membuat optimisme kalangan perbankan surut. Bank-bank jumbo bahkan tetap memancangkan target pertumbuhan hingga dua digit pada tahun ini. Jika ditelusuri, target itu sejatinya selaras dengan proyeksi Bank Indonesia (BI), yakni di kisaran 10%—12% pada tahun ini, dan 11%—13% pada tahun depan. Sasaran itu bakal dicapai melalui penerapan kebijakan makroprudensial yang longgar. Faktanya, empat bank terbesar di Tanah Air, yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) percaya diri dapat menyalurkan kredit secara agresif. BBCA menyebut pertumbuhan penyaluran kredit industri pada 2024 sebesar 8%—10% secara tahunan (year-on-year/YoY). Adapun, tiga bank jumbo lain, yakni BBNI memproyeksi pertumbuhan kredit 9%—11%, BBRI 11%—12%, dan BMRI 13%—15%. Bila dibandingkan dengan kinerja tahun ini, proyeksi BBCA, BBRI, dan BMRI lebih moderat sedangkan BBNI lebih ekspansif. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan proyeksi kinerja kredit bertolak pada prospek pertumbuhan ekonomi RI pada 2024 sebesar 5% yang memberikan ruang pertumbuhan intermediasi perbankan. Industri seperti makanan minuman, kesehatan, pertanian dan perkebunan serta segmen terkait environmental, social, and governance (ESG) turut menjadi incaran perusahaan.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan bahwa industri perbankan menghadapi tantangan likuiditas yang ketat pada 2023.
Di sisi lain, BBRI membuka ruang penyesuaian suku bunga kredit dan deposito seiring dengan adanya ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada tahun ini.
Direktur Utama BBRI Sunarso memprediksi suku bunga global turun pada akhir kuartal II/2024. Dengan demikian, ada peluang suku bunga acuan BI ikut turun. Menurutnya, penyesuaian itu berlaku setidaknya pada paruh kedua sehingga perusahaan harus bertahan di era likuiditas ketat dan suku bunga mahal.
Dengan demikian, dia berharap bisa mencapai pertumbuhan kredit melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Fokus di sektor ini juga melibatkan optimalisasi Holding Ultramikro (UMi). Optimisme serupa sebelumnya disampaikan Direktur Keuangan BBNI Novita Widya Anggraini. Dia memproyeksikan penyaluran kredit tahun ini tumbuh hingga dobel digit berkat kinerja ekonomi yang mendorong permintaan kredit.
Lalu, Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja mengatakan ekspansi industri perbankan masih ada. Perusahaan turut membuka ruang untuk melakukan penyesuaian suku bunga ke depan.
“Kami akan terus memperkuat bauran kebijakan, moneter tetap pro stability sambil melihat celah-celah pada semester II/2024 apakah ada ruang untuk penurunan suku bunga, menstabilkan kurs,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2023, Rabu (31/1). Dihubungi terpisah, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menyebut transisi kebijakan moneter bakal berdampak pada kinerja kredit dan NIM, terutama pada kuartal IV/2024.
PEMBIAYAAN PERKULIAHAN, Pemerintah Godok ”Student Loan” lewat LPDP
Menanggapi ramainya isu pinjaman daring untuk membayar biaya kuliah akhir-akhir ini, pemerintah merencanakan pemberian pinjaman kepada mahasiswa melalui dana abadi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP. Desain besarnya masih digodok agar dalam jangka panjang tidak menjerumuskan mahasiswa dalam jerat utang. Menkeu Sri Mulyani mengatakan, konsep pinjaman biaya pendidikan melalui APBN yang saat ini sedang dirumuskan bersama Dewan Pengawas LPDP itu kemungkinan akan menyerupai program student loan yang diterapkan di AS. Di sejumlah negara maju, seperti AS, konsep student loan diberikan kepada mahasiswa untuk membiayai keperluan selama kuliah. Pembayaran pinjaman itu dicicil saat mahasiswa sudah lulus dan bekerja.
”Saat ini, LPDP sedang membahasnya,” kata Sri Mulyani, Selasa (30/1) di Jakarta. Meski demikian, rencana itu masih dikaji dengan saksama agar program tersebut tidak justru membebani mahasiswa. Berkaca dari praktik student loan di AS, pinjaman itu justru bisa membebani mahasiswa secara jangka panjang setelah mereka lulus kuliah. ”Kita harus tetap waspada. Nanti kita akan melihat bagaimana keterjangkauan dari pinjaman itu agar tidak memberatkan pelajar, tetapi juga tetap bisa mencegah moral hazard dan memberi afirmasi bagi kelompok tidak mampu. Itu semua kombinasi yang akan kita capture dalam desain student loan,” kata Sri Mulyani.
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto mengatakan, persoalan dana untuk biaya kuliah sudah ada sejak lama. Peran lembaga jasa keuangan untuk memberikan pembiayaan uang kuliah pun sudah ada sejak dulu. Pada zaman Orde Baru, namanya Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI). Namun, saat itu manajemen risiko skema tersebut lemah sehingga banyak kredit macet. Banyak mahasiswa yang setelah lulus kuliah malah tidak mengangsur kreditnya. Akhirnya program itu pun dihentikan. Ryan mengusulkan bagi mahasiswa yang kepepet perlu membayar uang kuliah bisa mengakses kredit multiguna perbankan. (Yoga)
Mahasiswa dalam Incaran Pinjaman Daring
Pembayaran uang kuliah melalui pinjol ramai diperbincangkan
dan berawal dari cuitan akun @itbfess di media sosial X sejak Kamis (25/1). Cuitan
itu berbunyi, ”Anjaaay, disuruh pinjol sama itb! Kami segenap civitas akademik
ITB mengucapkan SELAMAT MEMBAYAR CICILAN BESERTA BUNGANYA”. Aplikasi pinjol
yang menawarkan layanan itu bernama Danacita. Hingga Senin (29/1) petang, cuitan
tersebut telah disukai lebih dari 15.000 pengguna X dan dicuitkan kembali
sebanyak 2.308 kali. Rata-rata respons warganet negatif. Kebanyakan
menyayangkan adanya tawaran semacam itu. Usut punya usut, Danacita juga
mengadakan kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi lain. Salah satunya,
UGM.
Intan Putri Dahlia (27), mahasiswa Magister Akuntansi, Fakultas
Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, tak tahu kampusnya menjalin kerja sama dengan
layanan pinjol. ”Memang bisa membantu, tapi seharusnya pinjamannya tidak
menggunakan bunga, sebab bukan untuk keperluan konsumtif,” kata Intan. Bagi
Intan, mekanisme pinjaman daring malah berpotensi memberatkan para mahasiswa di
kemudian hari. Pasalnya, terdapat bunga pinjaman yang harus dibayarkan sewaktu
mencicil angsuran setiap bulan.
Kompas mencoba menggunakan simulasi pinjaman Danacita sebesar
Rp 16 juta, sesuai biaya uang kuliah tunggal (UKT) milik Intan per
semester.Hasilnya, angsuran yang harus dibayarkan Rp 1,65 juta per bulan selama
12 bulan. Dengan pinjaman itu, mahasiswa mengeluarkan uang sebesarRp 19,84 juta
untuk satu semester. Mahasiswa justru membayar Rp 3,84 juta lebih banyak
dibandingkan dengan seharusnya. Biaya tambahan berasal dari biaya bulanan
platform senilai 1,75 % dan biaya persetujuan 3 %.
Sekretaris Universitas UGM Andi Sandi Antonius Tabusassa
Tonralipu mengatakan, perjanjian kerja sama antara FEB UGM dan Danacita dilakukan
sejak Juni 2022. Tawaran itu bisa dipakai oleh semua mahasiswa UGM. ”Sebanyak
33 orang yang menggunakan itu, 80 % adalah mahasiswa pascasarjana dan sudah
bekerja,” kata Andi. Opsi pinjaman daring juga tidak diwajibkan. Jalur itu
menjadi pilihan terakhir jika ada permasalahan uang kuliah. ”UGM juga punya
anggaran sendiri untuk teman-teman yang kesulitan. Kami mengalokasikan 5 % dari
SPI atau sumbangan pengembangan institusi,” kata Andi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









