Investasi lainnya
( 1334 )Investor Obligasi Tunggu Hasil Pemilu
PRODUK BARU : SRI Investasi US$12 Juta
Memasuki tahun kelima berproduksi, PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) mengalokasikan investasi senilai US$12 juta untuk pengembangan produk baru.Michel Lefebvre, President Director PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI) mengatakan SRI saat ini memiliki kapasitas produksi bahan baku ban ramah lingkungan 120.000 ton per tahun.“Kami belum berencana memperluas kapasitas produksi saat ini, meski demikian kami berencana menghadirkan inovasi berupa produk baru. Proyek pengembangannya kami mulai pada tahun ini,” kata Lefebvre di sela-sela Kunjungan Media ke Pabrik SRI di Cilegon, Kamis (30/11/2023). SRI, pabrik solution styrene butadiene rubber pertama dan satu-satunya di Indonesia, saat ini memproduksi butadiene rubber (BR) dan styrene butadiene rubber (SBR). Sekitar 60% produk SRI adalah SBR.Keduanya merupakan bahan baku untuk ramah lingkungan. “Dengan teknologi Michelin, bahan baku tersebut didesain mampu mencegah hilangnya energi dari gesekan ban, membuat bahan bakar lebih hemat, dan menekan emisi CO2.”Direktur SRI Ali Mustofa mengungkapkan BR yang produk dan teknologinya banyak tersedia di pasar itulah yang akan dihentikan produksinya. Adapun produk SSBR akan tetap dipertahankan. SRI adalah bagian penting bagi rantai pasok Michelin secara global, mengingat Michelin hanya memiliki tiga pabrik elastomer di dunia dan PT SRI adalah salah satunya. SRI sendiri merupakan perusahaan patungan antara Michelin dan Chandra Asri Petrochemical. Menelan investasi US$435 juta, SRI mulai berproduksi pada 2018.
Genjot Investasi untuk Mengerek Ekonomi
Upaya Indonesia lepas dari jebakan pertumbuhan ekonomi tahunan 5% masih akan menemui hambatan. Sebab, pemerintah harus mendongkrak kinerja investasi agar berkontribusi lebih besar lagi terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, Rabu (29/11), Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2028 mendatang bisa bergerak di kisaran 5,3% hingga 6,1%. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan tersebut seiring stabilitas ekonomi yang terjaga.
Namun menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus level 6% dan lepas dari jebakan pertumbuhan 5%, Indonesia harus menaikkan porsi investasi pada angka PDB.
Saat ini, kontribusi pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III-2023 sekitar 29,68%. "Kalau mau pertumbuhan ekonomi lebih kencang, maka kontribusi investasi harus dinaikkan menjadi sekitar 40%," ungkap David kepada KONTAN, Kamis (30/11).
Sementara kontributor utama PDB Indonesia masih berasal dari konsumsi rumah tangga dengan persentase lebih dari 50%. Menurut dia, apabila pertumbuhan ekonomi terus bertumpu pada kinerja konsumsi dalam negeri, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan maksimal.
Dia menilai, untuk menggenjot pertumbuhan investasi, pemerintah sebenarnya sudah punya bekal. Salah satunya Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Menurut David, pemerintah perlu memaksimalkan implementasi UU sapu jagat tersebut dan juga mengebut aturan turunan yang belum ada. Dengan ini, para investor akan berbondong-bondong masuk Indonesia.
Meski demikian, David mengingatkan pemerintah tetap perlu waspada dengan beberapa peristiwa yang mampu menjegal kinerja pertumbuhan ekonomi ke depan.Seperti fluktuasi harga komoditas dan konflik global yang belum tahu kapan akan berakhir. Ramalan David, pertumbuhan ekonomi Indonesiaa akan berada di kisaran 5% hingga 5,2% pada tahun 2024.
UMK Dominasi Investasi
Dua tahun terakhir ini, jumlah investasi di Indonesia naik
cukup signifikan. Sebagian besar, sampai 92 %, didominasi usaha skala mikro dan
kecil. Meski kalah dari segi nilai, investasi UMK ini dapat menyerap tenaga
kerja lebih banyak dari usaha menengah dan besar. Berdasarkan data Kementerian Investasi / BKPM, selama periode 4 Agustus
2021 sampai 27 November 2023, sejak diterapkan sistem perizinan usaha daring yang terintegrasi dan berbasis risiko
(online single submission risk based approach/OSS-RBA), total ada 12,71 juta
investasi yang terdaftar di Indonesia. Sebanyak 92 % merupakan investasi di UMK.
Jumlah itu terdiri dari 7,13 juta investasi UMK perseorangan (56,10 % dari
total investasi yang masuk) dan 4,54 juta investasi UMK berbadan usaha (35,78 %).
Adapun investasi oleh usaha skala menengah dan besar hanya 8,11 % dari total investasi
yang terdiri dari 50,18 juta usaha non-UMK perseorangan (0,39 %) dan 981.000
usaha non-UMK badan usaha (7,72 %).
Sejalan dengan itu, NIB yang diterbitkan pun didominasi UMK.
Dari total 6,59 juta NIB yang keluar pada periode yang sama, sebesar 98,96 %
adalah NIB untuk UMK. Mayoritas merupakan NIB usaha mikro (96,2 %) dan usaha kecil
(2,76 %). Mayoritas investasi UMK yang masuk bergerak di sector perdagangan
eceran yang risiko usahanya rendah, sector jasa lainnya, konstruksi, atau investasi
manufaktur kecil dan sederhana, seperti alas kaki dan tekstil rumahan. Direktur
Deregulasi Penanaman Modal Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal
BKPM Dendy Apriandi, Selasa (28/11) seusai diskusi bertema ”OSS-RBA Terkini:
Upaya Perbaikan dan Tantangan Implementasi di Daerah” yang diselenggarakan
Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). di Jakarta, mengatakan,
investasi UMK hanya banyak dari segi jumlah, tetapi nilainya tidak terlalu
besar. (Yoga)
Puluhan Pensiunan Guru di Jakarta Teperdaya Investasi Bodong
Lindungi Bumi dengan Investasi Hijau
Minat masyarakat berinvestasi
di investasi hijau meningkat dari waktu ke waktu. Laporan dari Global
Sustainable Investment Alliance (2021) mencatat, terdapat kenaikan 15 % pada
investasi berkelanjutan dengan total dana kelola 35,3 triliun USD selama empat tahun
terakhir di seluruh dunia. Masyarakat semakin sadar akan dampak permasalahan
lingkungan ke kehidupan manusia, baik dari aspek sosial, politik, maupun
ekonomi. Laporan Bank Dunia (2009) memperkirakan bahwa perubahan iklim dapat
memberikan dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, yaitu 2,5 % - 7 %
dari PDB pada tahun 2100 seiring meningkatnya biaya kesehatan dan lingkungan.
Negara-negara di dunia,
termasuk Indonesia, telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung
proyek-proyek ramah lingkungan yang mengedepankan prinsip environmental,
social, and governance (ESG), seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah,
dan efisiensi energi. Salah satu sumber pendanaan untuk menyukseskan proyek ramah
lingkungan berasal dari investasi masyarakat yang berinvestasi di investasi
hijau, yang tidak hanya berpotensi mendapat keuntungan, tetapi juga mengambil
bagian untuk melestarikan bumi. Investasi hijau mengedepankan aspek 3P(people,
planet, and profit) dalam pengelolaannya. (Yoga)
Investasi Hotel di RI Tetap Tumbuh di Tengah Penurunan Asia-Pasifik
Investasi hotel di wilayah Asia-Pasifik pada 2023 diprediksi
menurun. Di tengah tren penurunan regional itu, investasi hotel di Indonesia tetap
mengalami pertumbuhan yang ditopang, antara lain, pengembangan hotel-hotel baru
di destinasi wisata hingga kota kecil. Laporan bertajuk ”Hotel Investment
Highlights Asia-Pacific” yang dirilis Hotel & Hospitality Group JLL, yang
dikutip pada Jumat (24/11) memprediksi nilai investasi hotel di Asia-Pasifik
pada 2023 sekitar 10,1 miliar USD atau menurun 14 % dibanding tahun sebelumnya,
dipengaruhi berbagai faktor eksternal, seperti tekanan ke naikan suku bunga,
inflasi, dan ketidakpastian ekonomi global. Perusahaan manajemen investasi dan
real estat global itu mencatat penurunan pada sebagian besar metrik pengukuran.
Hingga Oktober 2023, tercatat 130 transaksi hotel di 13 pasar di Asia-Pasifik,
turun dari 168 kesepakatan selama periode yang sama pada 2022. Total volume
investasi 5,9 miliar USD, turun 39,79 % secara tahunan dari 9,8 miliar USD.
Sementara itu, tarif rata-rata per kamar selama Januari-Oktober
2023 tercatat 291,6 USD atau turun dibandingkan periode sama tahun lalu yang
sebesar 368,9 USD. Jumlah kunci hotel yang ditransaksikan menjadi 24.800 atau
turun secara tahunan dari sebelumnya 27.990. Investasi hotel yang lebih rendah,
di Australia dan Selandia Baru meskipun ada pertumbuhan tingkat harga harian
rata-rata (ADR) yang kuat dan pemulihan okupansi yang stabil di kota-kota
besar. Hingga akhir tahun ini, JLL memperkirakan volume investasi di negara itu
960 juta USD. Investasi hotel di Indonesia diprediksi terus mengalami
pertumbuhan. Tingkat hunian hotel di kota-kota besar di Indonesia terus meningkat
dengan pendapatan per kamar tersedia (RevPAR) melebihi RevPar hotel dari sebelum
masa pandemi.
Jacintha Tabalujan Herzog, Kepala Divisi Capital Markets JLL
Indonesia, berpendapat, dua transaksi penjualan hotel berbintang di Jakarta
pada 2023 memberikan indikasi pemulihan industri perhotelan di Indonesia.
Kinerja hotel di Bali juga dilaporkan membaik walaupun kedatangan kembali grup
wisatawan dari China belum terjadi ”Diharapkan tahun 2024 tren investasi hotel
di Indonesia tetap stabil dan meningkat dengan melihat industri hotel yang
membaik di kota-kota bisnis, termasuk Bali, dengan kedatangan turis yang dirasa
tetap akan meningkat pada 2024,” kata Jachinta dalam keterangan pers, Jumat
(24/11). Dalam laporan JLL ”Jakarta Property Market Update Triwulan III-2023”,
volume investasi hotel di Indonesia diperkirakan 220 juta USD atau Rp 3,46
triliun (kurs Rp 15.731). Investasi perhotelan terus tumbuh seiring dengan
fundamental sektor hotel yang kuat. Investasi senilai 220 juta USD pada
tahun ini lebih tinggi dibanding tahun 2022,
yakni 174 juta USD atau Rp 2,73 triliun. (Yoga)
Upaya Tarik Investasi Rp 23 Triliun dari China
Upaya Tarik Investasi Rp 23 Triliun dari China
PR PENTING GAET ASING
Gegap gempita pembangunan megaproyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara terus dikumandangkan pemerintah hingga ke penjuru dunia. Tujuannya, menarik pemodal yang amat dibutuhkan untuk memenuhi pembangunan pusat pemerintahan baru. Namun, pemerintah rupanya masih harus bekerja keras untuk menggaet lebih banyak investor, termasuk asing. Apalagi hingga kini, investasi asing murni yang masuk ke Nusantara masih nihil. Padahal masuknya investor asing dianggap penting lantaran digadang-gadang membawa dana jumbo. Kehadiran investor asing yang lebih banyak juga dapat mencerminkan kuatnya daya tarik investasi dalam negeri. Tak ayal, realisasi investasi di IKN pun tergolong mini, yakni Rp35 triliun per November 2023, dan ditargetkan Rp45 triliun pada pengujung tahun. Padahal, total kebutuhan dana pembangunan IKN mencapai Rp466 triliun. Faktanya, dari jumlah tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya berkontribusi 20% atau Rp93,2 triliun. Artinya, dengan asumsi realisasi senilai Rp45 triliun, Otorita IKN (OIKN) masih harus berburu modal Rp327 triliun. Sumber Bisnis di institusi yang bertugas menarik modal mengatakan, ada dua kendala yang melandasi ragunya pemodal asing di Nusantara. Pertama, tidak adanya garansi imbal hasil dari modal yang ditanamkan. Kedua, pembagian porsi modal yang kurang imbang antara investor asing dan mitra domestik. "Mereka selalu minta jaminan," kata sumber Bisnis, Senin (20/11). Kisah sedih di Nusantara ini mengulang cerita serupa tahun lalu, ketika ada dua konsorsium asing yang batal investasi di Nusantara. Salah satunya SoftBank Group Corp. yang menunda penanaman modal senilai US$40 miliar, lantaran adanya ketidaksepakatan soal kompensasi berupa konsesi lahan di kawasan tersebut. Sementara itu, Presiden Joko Widodo, saat memberikan keterangan pers kemarin, Senin (20/11), menyadari betul tingginya urgensi pemodal asing dalam pembangunan megaproyek itu. Kepala Negara menambahkan, saat ini pemerintah memang memprioritaskan investor domestik untuk membantu meringankan beban fiskal negara dalam membangun megaproyek itu. Deputi Bidang Pembiayaan dan Investasi OIKN Agung Wicaksono mengatakan investasi asing yang masuk menghadapi kendala ketika proses pengajuan berada pada tahap evaluasi. Tenaga Ahli Menteri Investasi Rizal Calvary Marimbo mengatakan proses pembangunan IKN memang membutuhkan waktu cukup lama, sehingga masuknya investasi asing pun tak bisa cepat. Sementara itu, kalangan ekonom memandang mundurnya investor asing dari proyek Nusantara merupakan hal yang cukup wajar, karena infrastruktur dasar yang belum sepenuhnya tuntas. Direktur Eksekutif Center of Reform of Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan investasi di sebuah kota baru bersifat jangka panjang, sehingga keuntungan baru dikantongi investor pada beberapa tahun setelah beroperasinya pusat pemerintahan baru.
Pilihan Editor
-
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
16 Feb 2021 -
Rasio Utang Luar Negeri RI Nyaris 40% dari PDB
16 Feb 2021 -
Tersangka Baru Kasus Asabri Bertambah Lagi
17 Feb 2021 -
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
15 Feb 2021 -
Sejak Pandemi Fokus Pasar Lokal
15 Feb 2021








