Investasi lainnya
( 1334 )Momentum Tingkatkan Iklim Investasi Ekonomi di Indonesia
Pemerintah sudah tidak lagi mengandalkan insentif pajak untuk menarik investasi, sering berlakunya pajak minimum global 15% mulai 2025. Pada titik ini, pemerintah harus agresif mengucurkan insentif nonfinansial demi meningkatkan iklim investasi. Insentif itu bisa berupa kemudahan perizinan dan mendapatkan lahan, kepastian regulasi bagi calon investor, serta pembenahan ketentuan perburuhan. Adapun insentif fiskal sebaiknya diberikan kepada wajib pajak yang memiliki penghasilan kecil. Selain itu, agenda pemberantasan korupsi harus dijalankan maksimal demi memberikan kepastian hukum.
Efisiensi ekonomi juga perlu ditingkatkan, karena biaya logistik Indonesia masih yang tertinggi di kawasan. Skor incremental capital out-put ratio (ICOR) Indonesia juga harus dipangkas, lantaran saat ini mencapai 6, jauh lebih tinggi dari negara-negara tetangga. Ini menandakan ekonomi Indonesia boros modal, namun produktivitasnya rendah. Dengan iklim investasi yang kondusif, sejumlah kalangan menilai, aktivitas penanaman modal di Tanah Air bisa tetap menggeliat di tengah penerapan pajak minimum global. Alasannya, dimata investor, iklim investasi, terutama kepastian hukum dan regulasi lebih fundamental. Adapun insentif pajak dinilai sebagai faktor pertimbangan tambahan. (Yetede)
Kejar Investasi Hingga Rp 1.900 Triliun
Pemerintah menargetkan investasi pada 2025 mencapai US$ 120 miliar atau sekitar Rp 1.900 triliun, naik 15,2% dibanding proyek akhir 2024 sebesar Rp1.650 triliun. Target ini dinilai cukup moderat mengingat realisasi pertumbuhan investasi tahun 2023 pun mencapai 7,5% serta tahun ini yang diproyeksikan bisa tumbuh 16,4%. Namun sejumlah tantangan dalam menggenjot investasi tahun depan juga cukup besar. Tercatat sepanjang Triwulan III Tahun 2024, seperti dikutip situs resmi BKPM, realisasi investasi sebesar Rp431,48 triliun atau meningkat 15,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan sektor hilirisasi, menyumbang Rp91,51% triliun atau 21,2% dari total realisasi triwulan tersebut.
Angka realisasi tersebut tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan 26,15% dari total target investasi tahun 2024, namun juga menjadi wadah bagi penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 650.172 orang. Sementara, sepanjang Januari-September 2024 realisasi investasi senilai Rp1.261,43 triliun. Adapun realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada triwulan III naik 11,62% dibandingkan tahun sebelumnya, dari Rp 178,20 triliun menjadi Rp 198,83 triliun. Sementara Penanaman Modal Asing naik 18,55%, dari kontribusi PMA mencapai 53,92% dari total investasi. Lima besar negara PMA adalah Siangapura (US$ 5,50 miliar), Hong Kong (US$ 2,24 miliar), Bangkok (US$ 1,86 miliar), Malaysia (US$0,99 miliar), dan Amerika Serikat (US$0,84 miliar).
Menjadi Investor yang Sabar
Dalam kamus investasi dikenal istilah casino mentality, yang sangat berbahaya bagi kesehatan keuangan serta mental para investor. Casino mentality atau mentalitas kasino dalam investasi adalah kecenderungan perilaku investor untuk berspekulasi tinggi dengan harapan mendapatkan keuntungan cepat, mirip berjudi di kasino. Mentalitas ini berbahaya karena didorong oleh emosi dan insting jangka pendek, alih-alih analisis yang matang dan strategi jangka panjang. Mengutip pernyataan Warren Buffett, ”Pasar sekarang menunjukkan perilaku investor yang lebih mirip berjudi dibandingkan ketika saya masih muda. Mesin kasino sekarang berada di banyak rumah (dalam bentuk platform trading, bahkan aplikasi judi daring), setiap hari menggoda penghuninya yang tidak memiliki mental investor.”
Pengelolaan keuangan sejatinya tentang menjalankan hidup hari ini dengan sederhana sesuai kemampuan keuangan dan senantiasa mempersiapkan kehidupan di masa depan agar tetap sejahtera. Literasi keuangan mengajarkan bahwa simpanan, tabungan, dan investasi adalah tiga kombinasi strategi yang perlu dilakukan oleh investor untuk mencapai tujuan keuangannya. Pertama, tetapkan tujuan berinvestasi. Secara umum, seorang investor dapat menetapkan tujuan, dari menjaga nilai kekayaan atas inflasi, mencari sumber penghasilan pasif dari aset investasi, hingga mencapai target dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, ibadah haji, dan pensiun.
Hal ini akan membantu menghindari keputusan spekulatif yang terlalu berisiko. Maka, investor perlu memulai dengan menetapkan durasi tujuannya dan menentukan toleransi risiko serta sumber modal untuk berinvestasi menggunakan dana non-operasional. Kedua, fokus pada diversifikasi portofolio investasi. Selain produk pasar modal, investor juga memiliki opsi aset alternatif, seperti emas ataupun properti. Praktik diversifikasi akan mengurangi ketergantungan pada satu asset yang berisiko tinggi. Ketiga, berinvestasi berdasarkan data dan analisis yang bertanggung jawab. Keputusan investasi diambil berdasarkan data dan analisis yang matang, bukan hanya karena dorongan emosional atau tren pasar sesaat. Mentalitas kasino berpotensi membawa kerugian besar bagi investor Indonesia. (Yoga)
Cakupan Hilirisasi Harus Segera Diperluas
Cakupan hilirisasi harus segera diperluas, tidak hanya berfokus di komoditas pertambangan, melainkan juga ke komoditas sektor lain, terutama yang terbarukan seperti pertanian, perkebunan, dan kelautan. Selain bisa menopang realisasi target pertumbuhan ekonomi 8%, perluasan hilirisasi tersebut juga bakal mengurangi ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap impor produk atau barang antara (semi-processed goods industry) yang saat ini mencapai sekitar 70% dari total impor.
Dari total realisasi investasi hilirisasi periode Januari-September 2024 yang mencapai Rp272,91 triliun, sebanyak Rp170,78 triliun atau 63% adalah hilirisasi sektor mineral yang meliputi smelter, nikel, tembaga, bauksit, dan timah. Selanjutnya, kehutanan (pulp & paper) Rp33,72 triliun (13%), pertanian (CPO/oleochemical) Rp44,09 triliun (16%), minyak dan gas (petrochemical) Rp17,46 triliun (6%), serta ekosistem kendaraan listrik (baterai kendaraan listrik) Rp 6,86 triliun (2%). Kontribusi realisasi investasi hilirisasi sektor mineral Januari-September 2024 itu bahkan lebih tinggi dibandingkan total nilai investasi sekitar lima tahun kebelakang. (Yetede)
Menguatkan Kepercayaan Investor di Tengah Tantangan Ekonomi
Pemerintahan Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memulai langkah-langkah signifikan dalam menghadapi tantangan ekonomi, dengan fokus pada sektor riil dan pasar keuangan. Meskipun baru dua pekan menjabat, Presiden Prabowo sudah melakukan konsolidasi pemerintahan dengan rapat-rapat terbatas guna merumuskan langkah-langkah strategis. Salah satu perhatian utama adalah penyelamatan perusahaan tekstil besar, PT Sritex, yang menghadapi masalah gagal bayar utang, yang menunjukkan upaya nyata pemerintah untuk mendukung industri yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Di pasar keuangan, arus investasi asing menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, dengan pembelian Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai rekor tertinggi sejak 2017. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, yang juga didorong oleh laporan keuangan positif dari sejumlah emiten besar, seperti bank-bank negara. Meski demikian, pelaku pasar tetap mengharapkan terobosan dan inovasi dari kabinet baru untuk memperkuat iklim investasi, mengingat tantangan terkait koordinasi dan birokrasi antar kementerian yang masih perlu diselesaikan.
Dengan mempertahankan figur-figur kunci seperti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, pemerintahan Prabowo diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar dan terus menarik lebih banyak investasi. Keberhasilan kabinet dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam memastikan prospek ekonomi Indonesia yang positif di masa depan.
Daya Tarik Surat Utang RI di Mata Global
Indonesia kini menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor global, khususnya dari Amerika Serikat, berkat stabilitas politik dan inflasi yang terkendali. Philip McNicholas, Asia Sovereign Strategist Robeco Group Singapura, menekankan bahwa obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang stabil dan menguntungkan di tengah ketidakpastian pasar global. Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mempertahankan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan juga memberikan sinyal kesinambungan kebijakan ekonomi yang lebih aman bagi investor. Meskipun ada tantangan dari penguatan dolar AS dan dinamika pasar global yang berpotensi mempengaruhi yield SUN (Surat Utang Negara), investor tetap melihat potensi keuntungan di Indonesia, terutama dengan yield premium yang lebih tinggi dibandingkan obligasi AS. Namun, pelaku pasar diingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan arah investasi global.
Menakar Baik Buruknya Masuk BRICS
PRESIDEN Prabowo Subianto mesti ekstra hati-hati sebelum memutuskan bergabung menjadi bagian BRICS, aliansi ekonomi yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan Cina. Ibarat pisau bermata dua, keanggotaan Indonesia di organisasi kerja sama ekonomi global itu bisa memiliki dampak positif sekaligus negatif. Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan keinginan Indonesia bergabung dengan BRICS saat hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS Plus di Kazan, Rusia, pada 24 Oktober 2024. Menurut dia, keputusan tersebut merupakan implementasi politik luar negeri yang bebas-aktif. BRIC didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan Cina pada 2009. Nama BRIC berasal dari huruf depan tiap negara tersebut. Organisasi ini memfokuskan perhatian pada peluang investasi di antara negara-negara anggotanya. Pada 2011, Afrika Selatan ikut bergabung sehingga nama organisasi ini berubah menjadi BRICS. Pada Januari 2024, sejumlah negara, seperti Iran, Mesir, Etiopia, dan Uni Emirat Arab, bergabung menjadi anggota BRICS.
Prabowo yakin keanggotaan Indonesia dalam BRICS bisa memperluas kemitraan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Argumentasi ini di satu sisi masuk akal. Secara keseluruhan, negara-negara anggota BRICS mencakup sekitar 30 persen dari luas daratan dunia dan 43 persen populasi global. Afrika Selatan memiliki ekonomi terbesar di Afrika, sementara Brasil, India, dan Cina termasuk di antara sepuluh negara teratas dunia dalam hal populasi, luas wilayah, serta produk domestik bruto nominal. Negara-negara anggota BRICS sudah lama menjadi tujuan ekspor Indonesia. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang mengurangi tarif dan hambatan nontarif bagi produk ekspornya. Pun Indonesia dapat mengurangi dampak volatilitas dolar Amerika Serikat dengan memanfaatkan penggunaan mata uang bilateral BRICS dalam perdagangan. Di sisi investasi juga menggiurkan. Negara-negara anggota BRICS berkontribusi sebesar US$ 9,25 miliar atau sekitar 21,2 persen dari total penanaman modal asing di Indonesia. Wajar Presiden Prabowo tergiur memasukkan Indonesia menjadi anggota BRICS dengan harapan bisa meningkatkan pasar ekspor sekaligus menarik investor. (Yetede)
SBN Ritel Terpengaruh oleh Melemahnya Daya Beli
Mencermati Investasi Barang Mewah
Investasi dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari investasi emas hingga kripto. Ada pula jenis investasi lain yang jarang dilirik khalayak, yakni investasi barang mewah, semisal barang-barang mode, seni, dan mobil. Selain untuk bergaya dan mengejar prestise, tak sedikit yang melirik jual-beli barang mewah sebagai instrument investasi. Dalam laporan Statista, pendapatan pasar untuk barang-barang mewah pada tangan kedua (second hand) alias bekas diestimasi tembus 7 miliar USD secara global pada 2022, setara Rp 109,15 triliun dengan kurs Rp 15.593 per USD. Angkanya diproyeksikan dua kali lipat pada 2028 hingga 15,4 miliar USD atau Rp 240,13 triliun. Dari seluruh region, pasar barang-barang mewah didominasi Amerika Utara pada 2022.
Pasar yang paling menguntungkan untuk tangan kedua berasal dari segmen arloji, diikuti kulit mewah., McKinsey & Company menilai, pasar penjualan kembali barang-barang mewah meningkat karena munculnya bermacam-macam platform penjualan digital, seiring perubahan perilaku konsumen. Jenama-jenama memperhatikan tren pasar jual-beli barang mewah bekas yang mulai bertumbuh. ”Orang-orang terpikat dengan membeli barang antik. Ada passion pada pembeli yang muncul dengan berkaca ke masa lalu seperti memproyeksi masa depan,” ujar spesialis desain kontemporer Stephen Crafti dikutip dari The Sydney Morning Herald. Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi, Jumat (25/10) mengatakan, investasi barang mewah hanya dilakukan segelintir orang. Pasarnya pun kecil.
Barang-barang investasi tidak hanya produk mewah bermerek ternama, tetapi juga sesuatu yang memiliki nilai kenangan atau memori. Salah satunya barang-barang olahraga dari para pemain kawakan. Melansir dari Kiplinger, barang kenangan olahraga memiliki nilai yang meningkat dari waktu ke waktu. ”Barang-barang koleksi olahraga yang berkualitas telah menjadi alternatif investasi yang solid. Ada akses terhadap kreasi. Lokapasar yang banyak diketahui orang juga memacu momentum ini,” kata Thomas Ruggie, pendiri dan CEO Destiny Family Office, perusahaan penasihat investasi. Produsen barang mewah memang menyasar kelompok kelas atas yang jumlahnya cenderung lebih kecil. Tidak hanya untuk bergaya, barang bernilai hingga miliaran rupiah juga dapat menjadi instrument investasi meski nilainya lebih fluktuatif. (Yoga)
FDI Dibutuhkan untuk Mensupport Program Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pilihan Editor
-
Agenda Kebijakan Biden Akan Tersusun di 2022
29 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









