;
Tags

Investasi lainnya

( 1326 )

Momentum Kebangkitan Saham BUMN

HR1 19 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun saham-saham BUMN, seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan TLKM, telah menjadi sasaran aksi jual investor asing dan mengalami kinerja yang kurang baik belakangan ini, terdapat sejumlah sentimen positif yang dapat memicu rebound pada saham-saham tersebut. Beberapa faktor yang mendukung potensi pemulihan ini antara lain konsolidasi di kalangan BUMN Karya, program pemerintah yang melibatkan BUMN dalam Program Makan Bergizi Gratis, serta pembentukan Danantara yang bertujuan untuk mengonsolidasikan BUMN. Selain itu, peraturan pemerintah yang membebaskan bank-bank BUMN dari risiko politik terkait kredit macet UMKM turut memberikan sentimen positif.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, meyakini bahwa perombakan pengurus BUMN yang dilakukan oleh pemerintah dapat meningkatkan kinerja emiten BUMN, asalkan pengurus yang baru berkompeten dan memiliki komitmen terhadap good corporate governance. Ia juga merekomendasikan investor untuk "buy on weakness" pada saham-saham pelat merah, termasuk BBNI, TLKM, BMRI, JSMR, PTBA, dan ADHI, mengingat prospek positif yang masih ada hingga akhir tahun.

Namun, beberapa analis, seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas, memperingatkan investor untuk berhati-hati terhadap saham BUMN, karena pergerakan indeks BUMN20 saat ini berada dalam tren menurun (downtrend). Felix Darmawan dari Panin Sekuritas juga menekankan bahwa untuk membalikkan tren negatif ini, diperlukan sentimen yang kuat, seperti stabilitas ekonomi global dan kinerja keuangan yang solid.

Kementerian BUMN, melalui Menteri Erick Thohir, tetap fokus pada pembenahan dan peningkatan kualitas BUMN, termasuk memperkuat kerja sama dengan sektor swasta, guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan mencapai keseimbangan antara BUMN, swasta, UMKM, serta investor.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang dihadapi saham BUMN, potensi rebound tetap ada dengan adanya berbagai inisiatif dari pemerintah dan perbaikan di tubuh BUMN. Namun, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memperhatikan perkembangan sentimen pasar dan kebijakan pemerintah.



Ekspansi TLKM untuk Dorong Pertumbuhan

HR1 16 Nov 2024 Kontan
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) optimis mengejar target pertumbuhan pendapatan low single digit hingga akhir 2024. Menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Heri Supriadi, kinerja Telkom di kuartal IV biasanya lebih kuat karena aktivitas liburan yang meningkatkan bisnis seluler. Hingga September 2024, Telkom meraih pendapatan Rp 112,21 triliun, naik tipis 0,88% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kontribusi terbesar dari layanan data, internet, dan teknologi informatika senilai Rp 70,55 triliun.

Telkom juga memproyeksikan margin EBITDA di kisaran 50%-52% tahun ini. Belanja modal (capex) 2024 dialokasikan sebesar 20%-22% dari total pendapatan, sebagian besar untuk mendukung ekspansi layanan 5G dan penguatan broadband tetap (fixed broadband). Heri juga mencatat potensi pertumbuhan dari investasi di bisnis ke bisnis (B2B) melalui penyedia solusi enterprise meski masih dalam tahap awal.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai prospek Telkom hingga akhir 2024 tetap positif, didukung oleh dominasi layanan data dan internet serta diversifikasi ke layanan digital. Ia memprediksi ekspansi 5G dapat menjadi motor utama pertumbuhan pendapatan di era ekonomi digital. Untuk investor, Hendra merekomendasikan strategi "buy on weakness" dengan target harga Rp 2.800 per saham, mencerminkan optimisme terhadap perbaikan kinerja Telkom.

Meski saham TLKM terkoreksi 35,70% sejak awal tahun dan kini berada di Rp 2.540 per saham, prospek jangka panjang Telkom di sektor telekomunikasi tetap menjanjikan. Dengan peningkatan kontribusi layanan digital dan efisiensi operasional, TLKM diharapkan terus menjadi pemain utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Saham Lapisan Kedua Mulai Tersisih

HR1 15 Nov 2024 Kontan
Saham lapis kedua (second liner) yang sebelumnya sempat menguat kini mulai tertekan, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar. Contohnya, saham Grup Bakrie seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mengalami koreksi setelah kenaikan signifikan. Selain itu, IDX SMC Composite juga menunjukkan tekanan serupa. Hal ini diiringi oleh nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia yang menurun menjadi sekitar Rp 10 triliun, dibandingkan rata-rata tahunan Rp 12,8 triliun.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan pasar sedang wait and see karena pengaruh ketidakpastian global, seperti hasil Pilpres AS dan kebijakan suku bunga. Sementara itu, saham-saham big cap yang sudah terdiskon dari nilai intrinsiknya kembali menarik perhatian investor.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mencatat bahwa aliran dana juga mengarah pada saham-saham IPO, seperti PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) yang terus mencatatkan kenaikan signifikan. Di tengah sentimen ini, ia merekomendasikan strategi membeli saham blue chip yang oversold atau memiliki valuasi terdiskon. Saham sektor keuangan, bahan baku, konsumer, dan energi seperti BMRI, BBCA, BRIS, ICBP, dan ADMR dianggap menarik untuk diakumulasi dengan pendekatan dollar-cost averaging.

Untuk investor jangka pendek, peluang window dressing pada Desember bisa dimanfaatkan untuk meraih keuntungan dari potensi rally pasar. Namun, Audi mengingatkan, untuk saham second liner, investor perlu mencermati momentum pergerakan harga dan berinvestasi dengan strategi jangka pendek. Dengan kondisi pasar saat ini, saham blue chip tetap menjadi opsi utama untuk mengurangi risiko.

Produk Derivatif Jadi Opsi Investasi Alternatif

HR1 13 Nov 2024 Kontan
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi meluncurkan Kontrak Berjangka Saham (KBS) atau single stock futures (SSF) pada 12 November 2024. Produk derivatif ini memulai debut perdagangan dengan membukukan 149 kontrak senilai Rp 84,8 juta. Sejak soft launching Agustus lalu, total transaksi SSF mencapai 1.107 kontrak dengan nilai Rp 749,9 juta.

SSF berbasis lima saham unggulan: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Setiap saham memiliki tiga periode kontrak (1, 2, dan 3 bulan), memberikan total 15 seri SSF yang dapat diperdagangkan.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BEI, Firza Rizqi Putra, menyatakan bahwa BEI akan fokus pada edukasi dan sosialisasi SSF hingga akhir 2024. Tahun depan, BEI menargetkan 1 juta kontrak dan peningkatan jumlah investor hingga 5% dari total investor saham. Upaya ini didukung dengan penambahan anggota bursa (AB) derivatif, yang saat ini mencakup PT Binaartha Sekuritas, PT Ajaib Sekuritas Asia, dan PT Phintraco Sekuritas. BEI juga memproses izin bagi 12–13 perusahaan sekuritas lainnya.

Presiden Direktur Phintraco Sekuritas, Ferawati, dan Direktur Utama Binaartha Sekuritas, Adi Indarto Hartono, optimistis terhadap potensi pertumbuhan nasabah derivatif. Ferawati menargetkan lebih dari 1.000 investor, sementara Adi menyebut pihaknya sudah memiliki 200 nasabah derivatif.

Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menggarisbawahi manfaat SSF sebagai alternatif investasi yang menawarkan keuntungan melalui capital gain dan perlindungan (hedging) saat pasar bearish. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai produk ini akan meningkatkan likuiditas pasar sekaligus memberikan peluang bagi investor agresif. Kehadiran SSF dianggap sebagai langkah positif untuk memperkaya instrumen investasi di Indonesia.

Investasi China Dorong Optimisme Pasar

HR1 12 Nov 2024 Kontan
Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke China pada 8-10 November 2024 membawa dampak positif bagi investasi Indonesia, dengan total investasi yang berhasil diraih mencapai US$ 10,7 miliar atau sekitar Rp 156 triliun. Kunjungan ini menghasilkan sejumlah kesepakatan bisnis antara emiten Indonesia dan perusahaan China, termasuk kerjasama PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dengan Envision Energy untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), serta kerjasama PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan Tencent Cloud dan Alibaba Cloud dalam penguatan infrastruktur komputasi awan.

Selain itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan GEM Co Ltd juga menjalin kolaborasi untuk pembangunan smelter nikel dengan teknologi HPAL di Sulawesi Tengah, yang akan meningkatkan produksi nikel untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik. Kerjasama ini menunjukkan potensi besar bagi emiten yang terlibat, dengan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan industri energi hijau dan teknologi di Indonesia.

Menurut Miftahul Khaer, analis Kiwoom Sekuritas, kunjungan Prabowo ini menjadi katalis yang menjanjikan bagi pertumbuhan emiten, terutama yang terlibat dalam sektor energi dan teknologi. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas juga menilai bahwa kerjasama ini bisa mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi, meski memerlukan waktu untuk terealisasi. Untuk itu, investor disarankan mencermati kinerja fundamental emiten-emiten yang terlibat, dengan rekomendasi akumulasi beli untuk GOTO dan trading buy untuk INCO.

Instrumen Bank Sentral Tekan Daya Tarik Aset Lain

HR1 12 Nov 2024 Kontan (H)
Bank Indonesia (BI) terus mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik likuiditas dari pasar uang. Per Oktober 2024, total nilai operasi moneter BI melonjak menjadi Rp 1,08 kuadriliun, naik signifikan dari Rp 763,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh outstanding SRBI yang mencapai Rp 960,66 triliun, meningkat 638% dibandingkan Oktober 2023.

SRBI menarik perhatian berbagai institusi, termasuk bank, dana pensiun, dan asuransi. Direktur SME & Retail Funding BTN, Muhammad Iqbal, menyebut imbal hasil SRBI lebih menarik dibandingkan instrumen BI lainnya. BTN sendiri meningkatkan penempatan di SRBI menjadi Rp 57,56 triliun per Agustus 2024, naik dari Rp 43,32 triliun tahun lalu. Budi Sutrisno, Direktur Utama Dana Pensiun BCA, menilai SRBI sebagai alternatif yang kompetitif dibanding deposito, terutama dalam kondisi suku bunga tinggi.

Namun, ada dampak negatif dari penerbitan SRBI yang jumbo. Ekonom Indo Premier Sekuritas, Luthfi Ridho, mengkritik bahwa penyerapan likuiditas yang besar oleh SRBI berisiko memperketat likuiditas bank, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang naik menjadi 86,91% per September 2024. Perbankan lebih memilih memarkir dana di SRBI yang aman ketimbang menyalurkan kredit, sehingga mengurangi multiplier effect ekonomi. Danan Dito, analis Pefindo, menambahkan bahwa SRBI juga mengurangi minat bank terhadap obligasi korporasi, dengan penyerapan turun menjadi Rp 107,04 triliun pada Oktober 2024.

Meskipun demikian, dengan imbal hasil yang mencapai 7,04% untuk tenor 12 bulan, SRBI tetap menjadi pilihan utama bagi investor. Namun, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, perlu kebijakan yang mendorong perbankan agar lebih aktif menyalurkan kredit, bukan sekadar memanfaatkan instrumen moneter seperti SRBI.

Yandex Lirik Indonesia: Peluang Baru di Infrastruktur Digital

HR1 12 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), mengungkapkan bahwa perusahaan teknologi asal Rusia, Yandex, berencana untuk berinvestasi di Indonesia. Yandex tertarik untuk membangun infrastruktur digital, seperti pusat data (data center) dan menjajaki kolaborasi dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta pembinaan talenta digital. Meski nilai investasinya belum diumumkan, Nezar menilai minat ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menjanjikan.

Nezar menegaskan bahwa perusahaan asing, termasuk Yandex, harus mematuhi regulasi Indonesia jika ingin berinvestasi. Selain itu, ia menyebutkan bahwa Indonesia saat ini menjadi target investasi berbagai perusahaan global dari Rusia, China, Amerika, hingga Eropa.

Dalam upaya lain, Hokky Situngkir, Dirjen Aplikasi Informatika Komdigi, menyoroti langkah pemerintah dalam memberantas judi online. Hingga 9 November 2024, lebih dari 5,1 juta situs judi online telah berhasil diblokir oleh kementerian, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan ekosistem digital yang aman.

Raksasa Teknologi AS dan Rusia Investasi Teknologi AI di Indonesia

KT1 11 Nov 2024 Investor Daily (H)
Menteri Komukasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkap, perusahaan raksasa teknologi yang berbasis di Amerika Serikat (AS), yaitu Microsoft, dan Yandex Group, perusahaan teknologi yang berbasis di Rusia, berminat untuk berinvestasi di Indonesia. Keduanya  tertarik untuk mengembangkan ekosistem kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di Indonesia. Meutya mengaku banyak perusahaan teknologi informasi global yang berminat investasi mengembangkan ekosistem AI di Indonesia Menurut Meutya, keterikan kedua perusahaan tersebut, karena melihat potensi pengembangan teknologi AI sangat besar dan stratgeis untuk mendukung kemajuan digital di Indonesia. "AI berkembang sangat cepat di dunia. Peran AI bagi manusia pun terus meningkat di berbagai sektor. Kami mengapresiasi  minat yandex Group dan Microsoft untuk menanamkan investasi di Indonesia," ungkap Meutya.

Investor Asing Ragu Melanjutkan Investasi

HR1 09 Nov 2024 Kontan (H)
Divestasi yang dilakukan oleh sovereign wealth funds (SWF) seperti Temasek dan GIC di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sikap hati-hati investor asing terhadap pasar domestik. Temasek, misalnya, kini hanya memiliki 19,99% saham di PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND) setelah sebelumnya menjual 23,39% saham di PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP) senilai Rp 563,58 miliar. GIC juga mengurangi kepemilikan di beberapa emiten, termasuk PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan mempertimbangkan divestasi saham lainnya, seperti di Bukalapak (BUKA) dan Elang Mahkota Teknologi (EMTK).

Namun, aksi investasi tetap terjadi, seperti yang dilakukan oleh Siam Cement Group (SCG) dari Thailand, yang mengakuisisi 44,48% saham PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) senilai Rp 9,98 triliun. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menarik bagi investor dengan strategi tertentu. Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama, menilai daya tarik bursa Indonesia tetap kuat berkat stabilitas ekonomi dan potensi pasar domestik yang besar.

Di sisi lain, pengamat pasar modal Teguh Hidayat dan Budi Frensidy mencatat bahwa sikap investor asing masih dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan pemerintah baru. Mereka cenderung mengadopsi pendekatan wait and see, apalagi dengan volume transaksi harian yang relatif kecil di bursa Indonesia. Agus Pramono, pengamat pasar modal, menyoroti bahwa karakteristik dan strategi investasi institusi besar berbeda-beda. Contohnya, GIC lebih fokus pada pengembalian investasi jangka menengah, sedangkan SCG lebih bersifat strategis untuk mengembangkan sinergi bisnis.

Wawan mengingatkan bahwa investor lokal sebaiknya tidak asal mengikuti jejak investor besar, karena faktor-faktor seperti likuiditas saham sering menjadi pertimbangan mereka yang mungkin berbeda dengan kebutuhan investor ritel. Secara keseluruhan, meskipun beberapa investor asing mengerem langkahnya, potensi pasar Indonesia tetap menarik dengan strategi yang tepat.

Sektor Energi Terimbas Efek Trump

HR1 08 Nov 2024 Kontan
Saham sektor energi dan tambang mineral logam di sektor barang baku menghadapi tekanan signifikan, seperti tercermin dari koreksi indeks sektor energi sebesar 0,91% ke 2.681,44 dan indeks sektor barang baku yang anjlok 3,47% ke 1.340,66 pada Kamis (7/11). Penurunan ini turut membebani Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang melemah 1,90% ke level 7.243,86. Analis menilai volatilitas ini dipengaruhi oleh sentimen global, terutama kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa volatilitas saham berbasis komoditas dipengaruhi oleh perubahan harga emas dan respons pasar terhadap kebijakan Trump. Muhamad Heru Mustofa, Research Analyst Phintraco Sekuritas, menjelaskan bahwa kemenangan Trump mendorong investor untuk beralih dari aset safe haven seperti emas ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi, yang menyebabkan penurunan harga emas ke level US$ 2.670 per ons troi. Produksi minyak AS yang meningkat dan stabilisasi pasokan global juga memberikan tekanan pada harga minyak dan gas. Harga batubara melandai akibat produksi China, namun berpotensi naik karena permintaan musim dingin dan kebijakan Trump yang mendukung energi berbasis fosil.

Ayu Dian dari Reliance Sekuritas menilai kebijakan Trump yang pro-energi fosil dapat menjadi katalis positif bagi sektor energi. Emil Fajrizki dari Stocknow.id menyarankan strategi trading saham dengan rekomendasi beli saham MDKA dan ADRO, sementara investor diminta untuk menunggu momentum pada saham seperti TINS. Heru Mustofa merekomendasikan buy on support untuk MDKA dan ANTM, tetapi menyarankan wait and see untuk saham INCO dan INDY. Miftahul Khaer mengusulkan trading buy untuk ANTM dan UNTR, serta wait and see untuk saham seperti MDKA dan ITMG.