;
Tags

Investasi lainnya

( 1326 )

Prioritas pada Sertifikasi Legalitas Lahan

HR1 07 Jan 2025 Bisnis Indonesia
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) berkomitmen memastikan kepastian investasi melalui legalitas yang kuat, dengan mengalokasikan 40 bidang tanah untuk investor dan pembangunan kawasan Istana Negara. Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menyatakan, sertifikasi tanah seluas 52.000 hektare telah dilakukan bekerja sama dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Hingga akhir 2024, realisasi investasi di IKN mencapai Rp58,4 triliun, masih di bawah target Rp100 triliun. Namun, pada 2025, investasi tambahan diharapkan masuk, termasuk dari Citadel Group asal Malaysia yang akan membangun permukiman, menjadikannya investor asing kedua setelah Delonix Group dari China yang menanamkan modal sebesar Rp500 miliar pada September 2024.

Basuki juga menekankan bahwa prioritas 2025 adalah membangun infrastruktur jalan senilai Rp6,3 triliun untuk mendukung kelancaran proyek investasi. Juru Bicara OIKN, Troy Pantouw, menambahkan bahwa proyek mix-used development oleh Delonix diharapkan meningkatkan daya tarik IKN bagi investor global.

Dengan langkah-langkah ini, OIKN menunjukkan upaya serius dalam menjaga ekosistem investasi dan menarik lebih banyak mitra strategis untuk mewujudkan pembangunan IKN sebagai pusat kegiatan ekonomi baru di Indonesia.

Reksadana Pendapatan Tetap: Pilihan Investasi yang Menjanjikan

HR1 04 Jan 2025 Bisnis Indonesia
Penurunan suku bunga pada 2025 diyakini akan mendukung kinerja positif reksa dana pendapatan tetap, meskipun terdapat tantangan dari sentimen geopolitik dan kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sepanjang 2024, reksa dana pendapatan tetap mencatat kenaikan imbal hasil sebesar 3,3% secara year-to-date (YtD), sementara reksa dana campuran turun 1,05% dan reksa dana saham terkoreksi hingga 8,87% YtD.

Direktur Infovesta Utama, Parto Kawito, memperkirakan reksa dana pendapatan tetap tetap unggul pada 2025, didukung oleh tren penurunan suku bunga meskipun tidak sebesar ekspektasi awal. Investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi masih cenderung menghindari saham, memberikan peluang lebih besar bagi reksa dana jenis ini.

Sentimen global yang memengaruhi kinerja reksa dana tahun ini mencakup kebijakan protektif Trump, melambatnya penguatan dolar AS, dan pelemahan minat terhadap saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, pasar saham Eropa dan negara maju selain AS menunjukkan peningkatan permintaan.

Secara domestik, faktor seperti hasil kerja kabinet, kebijakan ekspor komoditas, dan daya beli masyarakat yang melemah juga menjadi penentu arah pasar reksa dana. Dengan tantangan global dan domestik tersebut, reksa dana pendapatan tetap diproyeksikan tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari stabilitas.

Kesiapan Strategis Hadapi Tekanan Apple

HR1 04 Jan 2025 Bisnis Indonesia
Pemerintah Indonesia tengah bersiap untuk melakukan negosiasi dengan Apple Inc. terkait realisasi investasi perusahaan tersebut di Indonesia. Negosiasi yang dijadwalkan pada 7—8 Januari 2024 di Amerika Serikat diprediksi akan berlangsung sulit. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemerintah akan mempertahankan prinsip keadilan berusaha dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, meskipun Apple diperkirakan akan mengutamakan kepentingan bisnisnya.

Agus menekankan bahwa pemerintah juga menginginkan Apple membangun fasilitas produksi di Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja. Namun, hingga saat ini, Kementerian Perindustrian belum menerima proposal resmi dari Apple terkait rencana investasi senilai US$1 miliar.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa pengumuman resmi terkait kelanjutan investasi Apple di Indonesia akan disampaikan pada 7 Januari 2025. Rosan mengungkapkan bahwa Apple telah mengirimkan surat resmi terkait rencana investasi tersebut, dan perwakilan perusahaan akan datang ke Indonesia untuk membahasnya lebih lanjut.

Negosiasi ini menjadi upaya pemerintah untuk menarik investasi strategis sekaligus memastikan bahwa kerja sama tersebut memberikan manfaat signifikan bagi perekonomian dan tenaga kerja dalam negeri.

Investasi 2025-2029 Pemerintah Targetkan Rp 13.000 Triliun

KT3 03 Jan 2025 Kompas
Pemerintah menargetkan investasi sepanjang 2025-2029 bisa mencapai Rp 13.302 triliun. Investasi Apple atau pun beberapa perusahaan otomotif asal China akan mengawali di tahun 2025 ini. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P Roeslani menghadap Presiden Prabowo Subianto dan melaporkan rencana-rencana investasi yang akan masuk ke Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/1/2025). Investasi pada 2025 ditargetkan sebesar Rp 1.905 triliun. Target ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan harapan investasi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 8persen. Adapun pada 2029, diperkirakan investasi bisa mencapai Rp 3.414 triliun. Oleh karena itu, sepanjang 2025 sampai 2029, total investasi ditargetkan Rp 13.032 triliun.

”Harapannya, investasi yang masuk ke Indonesia ini bisa juga menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas. Pada saat bersamaan, ini juga akan memberikan kontribusi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi, terutama dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 seperti yang ditargetkan oleh Kementerian PPN/Bappenas,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan seusai pertemuan. Kerja sama lintas kementerian diperlukan untuk mencapai target tersebut. ”Terutama di dalam investasi ini melibatkan 18 kementerian di dalam sistem kami sehingga diharapkankerja sama dengan 18 kementerian itu juga akan makin meningkat ke depannya,” ujarnya. Dengan peningkatan target ini, diperkirakan investasi bisa berkontribusi lebih besar pada pendapatan domestik bruto (GDP). Saat ini, kontribusi GDP terbesar, yakni berkisar 53-54 persen dari konsumsi domestik, sedangkan kontribusi investasi baru 24-25 persen. (Yoga)

Rosan Roeslani Menargetkan Investasi Sebesar Rp 13.032 Triliun pada Periode 2025-2029

KT1 03 Jan 2025 Tempo

Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani menargetkan investasi sebesar Rp 13.032 triliun pada periode 2025-2029 sebagai upaya mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Target ini disampaikannya dalam keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis, 2 Januari 2025. "Di tahun 2025 investasi diharapkan mencapai Rp 1.905 triliun dengan total investasi dari 2025 sampai 2029 itu kurang lebih Rp 13.000 triliun lebih sedikit lah Rp 13.032 triliun. Itu adalah yang saya sampaikan ke Bapak Presiden," ujarnya dalam keterangan resmi pada Kamis, 2 Januari 2025. Investasi itu diharapkan menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. "Terutama dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029 seperti yang ditargetkan seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Bappenas," katanya.

Hilirisasi industri akan memainkan peran signifikan dalam menarik investasi ke Indonesia. Ia berharap kontribusi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang saat ini berada di kisaran 24-25 persen, dapat meningkat lebih tinggi. Rosan turut mengungkap hasil kunjungannya ke Cina, yang berhasil mendapatkan komitmen investasi sebesar US$ 7,46 miliar dari empat perusahaan. Beberapa sektor yang akan menerima investasi tersebut di antaranya mencakup fiberglass, solar panel, hingga perikanan. Perusahaan Trump Investasi Lapangan Golf dan Hotel di Vietnam Senilai Rp23 Triliun "Seperti BYD yang sudah membeli tanah di daerah Subang diharapkan investasi untuk manufakturingnya akan dimulai pada awal tahun depan," tuturnya. Selain dari Cina, Indonesia juga mengharapkan investasi signifikan dari Amerika Serikat, Timur Tengah, dan negara lainnya. Meski target tersebut cukup tinggi, Rosan menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dan lembaga untuk mencapainya. "Ini bukan pekerjaan yang mudah, ini pekerjaan yang sangat berat sehingga diharapkan juga kerja sama dan koordinasi dari semua kementerian terkait," ucap Rosan. Dengan target investasi tersebut, pemerintah optimistis dapat memperkuat perekonomian nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang kompetitif di kancah global. (Yetede)

Ambisi Target Investasi Swasta

HR1 19 Dec 2024 Bisnis Indonesia
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan investasi sebesar Rp47.587,3 triliun selama 2025—2029 untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, seperti yang disampaikan oleh Rd Siliwanti, Staf Ahli Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Bappenas. Sebagian besar investasi, yaitu 86,7%, akan berasal dari sektor swasta/masyarakat, sedangkan sisanya dari pemerintah dan BUMN.

Bappenas juga memproyeksikan sejumlah indikator ekonomi, termasuk peningkatan pendapatan nasional bruto menjadi US$7.920 per kapita, penurunan tingkat kemiskinan hingga 4,5—5%, dan penurunan rasio gini menjadi 0,372—0,375 pada 2029. Untuk mencapai hal ini, diperlukan strategi yang mencakup penguatan sektor riil, hilirisasi industri, pembangunan kawasan ekonomi khusus, dan peningkatan produktivitas pertanian. Selain itu, reformasi struktural seperti penyederhanaan birokrasi dan konsistensi regulasi dinilai penting untuk menarik investasi.

Namun, Drajad Wibowo, Staf Ahli Menko Pangan, menyoroti bahwa inkonsistensi kebijakan hilirisasi menjadi penghalang masuknya investasi besar. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus menciptakan iklim investasi yang sehat dengan menjaga stabilitas regulasi.

Di sisi lain, Maria Y. Benyamin, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, melalui peluncuran Bisnis Indonesia Economic and Financial Report (BIEF), berharap laporan tersebut dapat menjadi rujukan untuk mendukung kebijakan ekonomi yang transparan dan akuntabel, membantu pelaku usaha dan pengambil kebijakan dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

ICOR Indonesia yang Terbilang Tinggi Dibanding Negarara Lain

KT1 17 Dec 2024 Tempo
PRESIDEN Prabowo Subianto mempersoalkan skor incremental capital output ratio atau ICOR Indonesia yang terbilang tinggi dibanding negara lain. Ia menyebutkan ICOR Indonesia berada di angka 6, sedangkan sejumlah negara tetangga memiliki ICOR 4 atau 5.  “Artinya, kita dinilai lebih tidak efisien daripada beberapa ekonomi tetangga kita. Bahkan tidak efisiennya itu dinilai 30 persen,” kata Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 10 Desember 2024. ICOR adalah salah satu parameter yang menentukan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. ICOR menggambarkan rasio investasi kapital/modal terhadap hasil yang diperoleh (output) menggunakan investasi tersebut. Jika modal bisa dipakai untuk menghasilkan banyak barang/jasa dengan efisien, nilai ICOR menjadi kecil. Sebaliknya, jika modal yang dibutuhkan besar, tapi barang/jasa yang dihasilkan sedikit, nilai ICOR menjadi tinggi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ICOR Indonesia pada 2023 berada di angka 6,33. Sementara itu, rata-rata ICOR di negara-negara ASEAN pada 2019-2023 jauh lebih rendah, antara lain Malaysia sebesar 2,7; India 3,2; dan Filipina 3,4. ICOR Indonesia hampir selalu meningkat. Pada pemerintahan Presiden Soeharto sebelum krisis 1997, ICOR Indonesia berada di kisaran 4. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono di level 5, lalu di era Presiden Joko Widodo menembus angka 6. Bahkan, pada 2021, ICOR Indonesia sempat berada di level 8,6. Dengan tingginya ICOR, makin banyak kapital yang diperlukan untuk menghasilkan 1 persen pertumbuhan ekonomi.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto tak menampik bahwa investasi di Indonesia masih belum efisien. Hal itu terlihat dari tingginya ICOR Indonesia yang membuat pertumbuhan ekonomi Tanah Air stagnan di angka 5 persen. Politikus Partai Golkar itu menjelaskan, porsi investasi terhadap produk domestik bruto Indonesia di kisaran 30 persen. Dengan ICOR di kisaran 6, pertumbuhan ekonomi Indonesia dihitung 30 dibagi 6, yaitu 5 persen. Airlangga berpendapat penyebab inefisiensi investasi di Tanah Air adalah pemanfaatan modal yang belum optimal. Menurut dia, selama ini modal yang diinvestasikan belum mampu menghasilkan output ekonomi yang sebanding. Ditambah keterbatasan dalam penerapan strategi jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.  (Yetede)

Perbaikan iklim investasi Indonesia

KT3 14 Dec 2024 Kompas (H)

Pemerintahan Prabowo mengandalkan mesin investasi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 %. Namun, hal itu baru bisa tercapai jika pemerintah mampu mengatasi berbagai kendala yang selama ini membuat investasi di Indonesia berbiaya mahal dan inefisien. Selepas pandemi, realisasi investasi di Indonesia selalu tumbuh tinggi memenuhi target. Namun, dampak penggeraknya ke ekonomi belum maksimal sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia terus terjebak di kisaran 5 %, investasi yang tidak efisien sebagaimana tecermin lewat angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang tinggi di level 6,5. ICOR adalah rasio antara investasi dan pertumbuhan ekonomi.

ICOR dipakai untuk mengukur tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi biaya investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Dengan ICOR 6,5, investasi di Indonesia terhitung berbiaya tinggi dan tidak efisien. Apalagi jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain yang ICOR-nya berada di kisaran 3-5. Menyadari hal ini, pemerintahan Prabowo bertekad menekan angka ICOR dari posisi 6,5 ke level 4. Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, jika Indonesia bisa menurunkan ICOR ke level 4, target pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2025 yang dipasang Presiden Prabowo bisa dicapai.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, Jumat (13/12) menilai, pemerintah akan menghadapi PR yang sangat besar untuk menekan tingkat ICOR, karena banyak faktor yang membuat investasi di Indonesia berbiaya mahal. Mulai dari birokrasi yang berbelit, perizinan usaha yang rumit, tumpang tindih regulasi, biaya logistik yang tinggi, pembangunan infrastruktur yang tidak terintegrasi dan sesuai kebutuhan industri, hingga masifnya korupsi. ”Ini memang target yang menantang. Untuk jangka pendek, yang paling dekat yang bisa dilakukan pemerintah adalah melanjutkan mempercepat perizinan di lapangan. Perbaikan sistem harus terus dilakukan,” tutur Andry di Jakarta. (Yoga)  


Izin iPhone 16 Menanti Komitmen Investasi

HR1 13 Dec 2024 Bisnis Indonesia
Pemerintah Indonesia memastikan belum akan memberikan izin edar untuk produk iPhone 16 di Indonesia karena Apple Inc. belum memenuhi persyaratan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 35% maupun menunjukkan keseriusan membangun fasilitas produksi di Tanah Air. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada rencana konkret dari Apple untuk mendirikan pabrik di Indonesia, meskipun penjualan produk Apple di pasar domestik telah mencapai Rp30 triliun pada 2023.

Agus juga menyoroti minimnya kontribusi Indonesia dalam rantai pasok global Apple, dengan hanya satu perusahaan lokal, Geo Corporation, yang menjadi bagian dari ekosistem Apple. Pemerintah berharap Apple dapat memperkuat keterlibatannya di Indonesia, mengingat potensi pasar yang besar.

Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa Apple berencana merealisasikan investasi senilai US$1 miliar pada 2026. Komitmen ini sudah disampaikan secara tertulis kepada pemerintah, namun pembahasannya masih dalam tahap penyempurnaan.

Hingga Apple memenuhi komitmen investasi dan syarat TKDN, izin edar iPhone 16 tetap tertunda sebagai langkah pemerintah untuk memastikan keuntungan lebih besar bagi ekonomi dan industri lokal.

Indonesia Membutuhkan Investasi Sebesar Rp13.528 triliun

KT1 12 Dec 2024 Investor Daily (H)
Indonesia membutuhkan investasi sebesar Rp13.528 triliun dalam kurun 2025-2029 guna mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8% per tahun seperti yang di canangkan Presiden Prabowo Subianto. Dari total kebutuhan investasi tersebut, sebagian diharapkan bisa dipenuhi melalui investasi hilirisasi sejumlah  komoditas unggulan yang hingga 2040 diprediksi memerlukan investasi US$ 618 miliar atau setara dengan Rp9.826 triliun. Dengan kebutuhan investasi Rp13.528 triliun selama periode 2025-2029, maka rata-rata investasi yang diperlukan dalam setahun adalah senilai Rp 2.705,6 trliun. Sedangkan dengan kebutuhan investasi hilirisasi yang sebesar Rp 9.826,2 triliun hingga 2040, maka kebutuhan rata-rata investasi per tahun adalah Rp 614,14 triliun. Ini artinya, setiap tahun investasi hilirisasi diharapkan bisa berkontribusi rata-rata sekitar 22,7% dari total kebutuhan investasi nasional. Menteri investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, investasi akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi selain konsumsi rumah tangga dan ekspor. (Yetede)