Investasi lainnya
( 1326 )Konsumen Mulai Cemas Soal Ketersediaan Lapangan Kerja
Gelombang Konsolidasi Besar Segera Dimulai
Saham PTRO dan TPIA Bangkit
Konsumen China Kesulitan Membeli Emas
Kementerian PU Buka Peluang Investasi
Pertumbuhan Ekonomi Sedang Menurun
Harian ini edisi tanggal 6 Februari 2025 mungkin diterima pembaca sebagai bacaan biasa saja. Namun ada satu reportase dan satu tajuk yang seyogyanya membangunkan kita semua dari mimpi indah bahwa Pemerintah akan mewujudkan PDB Indonesia mencapai 8% dalam beberapa tahun mendatang. Satu reportase melaporkan bahwa ekonomi Indonesia terus tergerus oleh penurunan produktivitas yang cukup signifikan. Disinyalir bahwa itu terjadi tertama karena menurunnya jumlah kelas menengah akibat melambatnya kinerja industri manufaktur. Dengan kata lain, deindustrialisasi sudah dan sedang terjadi, sementara daya asing sektor manufaktur Indonesia terus menurun.
Bersamaan dengan itu, beberapa negara tetangga yang memiliki competitive advantage terus melesat meninggalkan Indonesia dalam hal menarik Foreign Direct Investment atau FDI di sektor-sektor di mana adahulu Indonesia memiliki sayang saing yang kuat seperti tekstil dan pakaian jadi serta alas kaki. Demikian pula dengan FDI, negara-negara tetangga kita mampu mengundang investasi asing yang memainkan peran kunci dalam pertumbuhan masa depan. Seperti sektor-sektor jasa, digital dan AI, kesehatan, dan industri hijau. Seolah menjawab kekhawatiran publik bahwa perekonomian Indonesia "tidak baik-baik saja" di tahun 2024, Menteri Keuangan menyatakan bahwa belanja sebagai shock absorber untuk menjaga konsumsi masyarakat, menjaga stabilitas ekonomi, dan mendukung agenda pembangunan. (Yetede)
Meraup Keuntungan dari Saham yang Salah Harga
Saham Anjlok, Kekayaan Taipan Ikut Tergerus
Pemain Energi Terbarukan Berburu Investasi
Duo Hartono Ramaikan Serie A Italia
Pengeluaran klub-klub sepak bola pada bursa transfer awal 2025, dengan Manchester City tercatat sebagai klub paling boros dengan pengeluaran mencapai Rp3,78 triliun, mendatangkan delapan pemain, termasuk Omar Marmoush yang menjadi pemain termahal dari Eintracht Frankfurt dengan biaya Rp1,3 triliun. Meskipun klub-klub besar mendominasi, ada kejutan dari klub Serie A, Como 1907, yang menempati posisi kedelapan dengan belanja transfer sebesar Rp855,18 miliar, bahkan mengalahkan AC Milan yang hanya menghabiskan Rp843,01 miliar. Como 1907, yang baru promosi ke Serie A, membeli 14 pemain, dengan Maxence Caqueret sebagai pembelian termahal.
Di balik belanja besar ini, Como 1907, yang dimiliki oleh Hartono bersaudara dari Grup Djarum, berusaha memperbaiki performa tim agar tetap bertahan di Serie A setelah 21 tahun penantian untuk promosi kembali. Hartono bersaudara, yang tercatat sebagai pemilik klub terkaya di Italia, juga terlibat dalam revitalisasi klub melalui investasi dan dukungan keuangan sejak akuisisi mereka pada 2019.
Keberhasilan Como 1907 untuk kembali ke Serie A setelah melewati masa-masa sulit, termasuk kebangkrutan pada 2017, menunjukkan betapa pentingnya investasi yang mereka lakukan untuk membangun stabilitas keuangan dan daya saing di liga tertinggi Italia. Dengan pengelolaan yang cermat, diharapkan klub ini dapat terus berkembang meskipun saat ini berada di zona degradasi.
Pilihan Editor
-
Waspada Robot Trading Berbasis MLM dan Ponzi
31 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Ikhtiar Mengejar Pengemplang BLBI
29 Jan 2022









