Investasi lainnya
( 1334 )Mengoptimalkan Daya Tarik KEK
Daya Tarik Investasi Jatim Terus Meningkatkan Situasi Kondusif
Emas Tetap Primadona di Tengah Ketidakpastian
Peningkatan Peran Investasi dalam Perekonomian
Struktur ekonomi Indonesia bergantung pada empat komponen utama: konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, dan impor. Hingga kuartal III/2024, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi, dengan kontribusi mencapai 53,08%. Namun, tekanan terhadap konsumsi rumah tangga meningkat akibat menurunnya daya beli masyarakat, penurunan kelas menengah, serta perubahan dari sektor formal ke informal. Untuk mengatasi hal ini, sektor investasi menjadi komponen penting yang dapat diandalkan. Kontribusi investasi terhadap PDB sedikit meningkat pada kuartal III/2024, mencapai 29,75%. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan P. Roeslani, mengungkapkan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan utama bagi investor asing, dengan potensi investasi yang luas di sektor mineral, perkebunan, perikanan, dan kelautan, yang dapat dimaksimalkan melalui hilirisasi. Namun, tantangan bagi pemerintah adalah mengatasi hambatan yang dapat mengurangi minat investor. Upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan dan menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda menjadi kunci untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.
Investasi masih mengandalkan sektor tambang
Pemerintah menargetkan kenaikan investasi dari target Rp 1.900 triliun pada 2024 menjadi Rp 2.100 triliun pada tahun depan. Pemerintah optimistis kenaikan itu bisa dicapai dari kinerja program hilirisasi yang mayoritas disumbang sektor mineral dan batubara. Hal ini diungkapkan Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pidatonya di akhir acara Indonesia Mineral Summit 2024, di Jakarta, Rabu (4/12). Pertumbuhan nilai investasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi karena menyumbang 18 % PDB setelah konsumsi masyarakat yang berandil lebih dari 50 %.
”Salah satu yang tentu terus dikembangkan adalah hilirisasi dan pendalaman struktur dari supply chain, mulai dari upstream, downstream, dan midstream-nya juga didorong,” tuturnya. Hilirisasi yang menjadi fokus pemerintah ada di sektor mineral dan batubara (minerba), selain minyak dan gas bumi, serta kehutanan dan kelautan. Dalam proyeksi jangka panjang Kementerian ESDM di 2040, sekitar 91 % nilai investasi hilirisasi ada di sektor minerba dengan besaran 566,7 miliar USD. Kementerian ESDM mencatat, nilai investasi sektor minerba sejak 2015 sampai 2024 sudah mencapai 56 miliar USD. Investasi tersebut juga turut mendukung produksi minerba sebagai komoditas penghasil penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terbesar senilai Rp 173 triliun hingga 2023. (Yoga)
Investasi Ketahanan Iklim Semakin Dibutuhkan
BEI Atur Ulang Batas Auto Rejection untuk Waran
Ketidakpastian Tinggi, Investasi Tersungkur
Menyelesaikan Masalah Danantara
Pemerintah Indonesia telah membentuk Danantara, sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengelola investasi strategis negara. Kehadiran Danantara diharapkan menjadi alternatif sumber pembiayaan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendorong perekonomian. Lembaga ini akan mengumpulkan modal untuk pengembangan investasi strategis nasional serta mengelola aset dan portofolio investasi BUMN. Banyak kalangan mengapresiasi inisiatif ini, karena dinilai dapat memacu pertumbuhan ekonomi baru dan mengurangi beban fiskal negara yang selama ini menjadi tumpuan utama akselerasi Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun, meskipun potensi positifnya besar, penting bagi pemerintah untuk mengawal dengan ketat proses pembentukan dan implementasi Danantara. Pemerintah perlu memastikan adanya pijakan hukum yang jelas dan memastikan lembaga ini dijalankan oleh figur-figur yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya agar tujuan tersebut dapat tercapai secara maksimal.
Ketidakjelasan Legalitas yang Menghambat
Pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang bertujuan untuk mengumpulkan modal guna pengembangan investasi strategis nasional dan mengelola aset serta portofolio investasi BUMN. Dalam tahap awal, konsolidasi dilakukan terhadap tujuh BUMN besar, seperti PT Bank Mandiri, PT PLN, dan PT Pertamina, dengan proyeksi pengelolaan dana mencapai US$600 miliar dan meningkat menjadi US$982 miliar dalam beberapa tahun. Jika berhasil, posisi Danantara sebagai pengelola aset terbesar dapat meningkat dari peringkat 8 menjadi peringkat 5 global.
Namun, terdapat tantangan terkait ambiguitas regulasi pendirian Danantara, yang menurut beberapa pakar hukum dapat menyebabkan kerancuan, terutama terkait dengan status hukum BUMN dan Indonesia Investment Authority (INA) yang memiliki dasar hukum berbeda. Kepala BPI Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, menjelaskan bahwa proses regulasi masih dalam tahap persiapan dan akan dilakukan dengan pendekatan komprehensif dan hati-hati. Hal ini juga didukung oleh Presiden Prabowo Subianto yang menekankan perlunya kajian mendalam sebelum pelaksanaan Danantara sebagai superholding.
Para pemimpin BUMN yang terlibat, seperti Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dan VP Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko, menyatakan dukungan mereka terhadap inisiatif ini, meskipun mereka masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah. Menteri BUMN, Erick Thohir, juga mendukung langkah konsolidasi ini seiring dengan upaya restrukturisasi BUMN yang telah dilakukan selama lima tahun terakhir.
Secara keseluruhan, meskipun Danantara memiliki potensi besar untuk menjadi mesin ekonomi baru bagi Indonesia, kelancaran pelaksanaannya sangat bergantung pada penyelesaian masalah regulasi yang ada.
Pilihan Editor
-
Sistem Pangan Harus Berbasis Keberagaman Lokal
31 Dec 2021 -
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021









