Vietnam Fokus Mengembangkan Potensi Perdagangan dan Investasi.
Sempat menderita cukup parah lantaran dihajar Topan Yagi, kinerja ekonomi Vietnam segera pulih kembali. Bahkan, Vietnam diprakirakan tetap mampu memenuhi target pertumbuhan ekonomi mereka tahun ini. Keyakinan itu dikatakan Wakil Gubernur Bank Negara Vietnam Dao Minh Tu dalam jumpa pers yang digelar pada Kamis (17/10/2024) di Hanoi, Vietnam. Dalam jumpa pers itu, Tu mengatakan bahwa aktivitas bisnis dan manufaktur mulai pulih. ”Bank sentral akan terus menjalankan kebijakan moneter yang mendukung selama sisa tahun ini,” kata Tu. ”Kami akan mempertahankan suku bunga kebijakan setidaknya pada level saat ini, dan terbuka pada kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut.” Bank Negara Vietnam mencatat, hingga 30 September lalu pinjaman bank meningkat hingga 9 persen.
Peningkatan tersebut memberi indikasi positif pada laju pertumbuhan ekonomi Vietnam yang antara lain ditopang pinjaman bank. Sebagai catatan, produk domestik bruto (PDB) Vietnam pada kuartal ketiga tercatat naik 7,4 persen atau laju terkuat dalam 2 tahun terakhir. Pertumbuhan itu ditopang oleh ekspor, produksi industri, dan investasi asing. Dengan kebijakan negara yang konsisten dan fokus pada pengembangan potensi perdagangan, Vietnam—merujuk Vietnam Investment Review, media propaganda Kementerian Perencanaan dan Investasi—dapat mencatatkan diri mereka sebagai negara dengan pertumbuhan tercepat pada 2035. Media itu mengacu pada laporan yang dikeluarkan lembaga survei internasional S&P Global pada Rabu (16/10).
Laporan ini khusus membahas mengenai berbagai pasar baru dan berkembang di dunia, diantaranya Vietnam, India, Filipina, dan China. Negara-negara perekonomian baru ini akan menyumbang 65 persen dari pertumbuhan ekonomi dunia. Menurut kaji S&P Global pada 2035, negara-negara maju memiliki rata-rata pertumbuhan PDB 1,59 persen. Adapun Vietnam ditaksir pertumbuhan PDB sampai dengan 4,06 persen. Kunci dari pertumbuhan negara-negara ekonomi baru ini adalah rantai pasok. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi ceruk yang menguntungkan. Hal ini terbukti untuk kasus Vietnam. Sejak AS menerapkan tarif tinggi untuk semua produk China pada 2018, ekspor Vietnam ke AS meningkat empat kali lipat. Per 2023, Vietnam menempati peringkat ketujuh negara pemasok komoditas ke AS. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023