;
Tags

Inflasi

( 549 )

Inflasi Beruntun Minyak Goreng Dalam Lima Bulan Terakhir

KT3 03 Dec 2024 Kompas

Minyak goreng mengalami inflasi beruntun dalam lima bulan terakhir, menyebabkan komoditas itu berkontribusi terhadap tingkat inflasi umum dan inti. BPS, Senin (2/12) merilis tingkat inflasi bulanan dan tahunan pada November 2024 sebesar 0,3 % dan 1,55 %. Komoditas utama yang berkontribusi terhadap inflasi bulanan itu adalah bawang merah, tomat, emas perhiasan, daging ayam ras, dan minyak goreng. Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, minyak goreng termasuk dalam delapan komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi pada November 2024. Minyak goreng juga memberikan kontribusi terhadap inflasi inti November 2024 yang sebesar 0,17 % bersamadua komoditas lain, yakni emas perhiasan dan kopi bubuk. Pada bulan tersebut, minyak goreng mengalami inflasi 2,17 % secara bulanan. Andilnya terhadap inflasi umum 0,03 % secara bulanan.

”Tingkat inflasi minyak goreng yang mencapai 2,17 % pada November 2024 itu merupakan inflasi tertinggi komoditas tersebut sepanjang Januari-November 2024,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. BPS mencatat, pada Januari-November 2024 atau selama 11 bulan, minyak goreng mengalami sembilan kali inflasi dan dua kali deflasi. Pada Juli-November 2024, minyak goreng mengalami inflasi secara beruntun, yakni 0,3 % pada Juli, 0,39 % pada Agustus, 0,38 % pada September, 0,78 % pada Oktober, dan 2,71 % pada November. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag, pada 29 November 2024, harga rerata nasional Minyakita Rp 17.100 per liter, minyak goreng kemasan premium Rp 21.500 per liter, dan minyak goreng curah Rp 17.900 per liter. Sejak 1 Juli 2024, harga rerata Minyakita naik 4,91 %, minyak goreng kemasan premium 2,38 % dan minyak goreng curah 12,58 %. Kenaikan tertinggi terjadi pada minyak goreng curah lantaran Kemendag mengeluarkan minyak tersebut dari program minyak goreng rakyat (MGR). (Yoga)


Kenaikan PPN Akan Semakin Memperburuk Inflasi

KT1 03 Dec 2024 Investor Daily (H)
Inflasi pada tahun 2024 diperkirakan akan berada pada kisaran 1,7% sampai 1,2%. Meski angka ini lebih rendah dari inflasi sepanjang tahun 2023 yang sebesar 2,81%, pemerintah harus mewaspadai lonjakan inflasi yang akan terjadi pada triwulan I 2025 yang disebabkan oleh beberapa faktor, terutama dengan adanya kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan 11% menjadi 12%.  Pada Novembr 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara bulanan sebesar 0,3% atau lebih tinggi dibanding inflasi Oktober yang mencapai 0,08%. Adapun inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,55% dan inflasi tahun kalender sebesar 1,12%. Inflasi tahunan pada November terjadi karena peningkatan indeks tertinggi terjadi di Papua Tengah sebesar 4,35% dan inflasi terendah terjadi di Kepaulauan Bangka Belitung sebesar 0,22%. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan untuk menjaga inflasi tetap terkendali pemerintah perlu membatalkan rencana penaikan PPN. Sebab, kebijakan tersebut akan meningkatkan harga barang-barang sehingga berpotensi mengerek laju inflasi. (Yetede)

Inflasi Terendah dalam Tiga Tahun

HR1 03 Dec 2024 Kontan
Inflasi Indonesia pada November 2024 mengalami kenaikan sedikit menjadi 0,30% month-to-month (mtm), namun secara tahunan, tingkat inflasi mencatatkan angka terendah dalam tiga tahun, yakni 1,55% year-on-year (yoy). Inflasi ini didorong oleh harga-harga bergejolak, seperti bawang merah, tomat, dan daging ayam. Namun, inflasi inti dan yang diatur pemerintah tetap rendah. Amelia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS, menjelaskan bahwa rendahnya inflasi tahunan disebabkan oleh tidak adanya lonjakan permintaan besar dan harga-harga yang stabil di komponen harga bergejolak.

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, memproyeksikan bahwa meskipun inflasi tahunan menurun, lonjakan inflasi bulanan akan berlanjut hingga akhir tahun, dengan proyeksi inflasi Desember 2024 mencapai 1,62%. David Sumual, Kepala Ekonom BCA, memperkirakan inflasi bulanan Desember akan naik menjadi 0,40% mtm, sementara Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, memprediksi inflasi tahun 2024 akan berada di kisaran 1,7%-2%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu, dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Inflasi Naik, Konsumsi Masih Tertekan

HR1 02 Dec 2024 Kontan
Inflasi di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada bulan November 2024, terutama didorong oleh kenaikan harga bahan pangan menjelang akhir tahun. Para ekonom memproyeksikan inflasi bulanan November berkisar antara 0,22% hingga 0,36% month-to-month (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Oktober yang hanya 0,08% mtm. Secara tahunan, inflasi diperkirakan berada pada angka 1,46% hingga 1,77% year-on-year (yoy).

David Sumual, Kepala Ekonom BCA, menyatakan bahwa kenaikan inflasi disebabkan oleh harga bahan pokok yang naik, seperti bawang merah, meskipun beberapa komoditas lain mengalami stagnasi. Ia memperkirakan inflasi November akan mencapai 0,22% mtm, sementara inflasi tahunan diperkirakan 1,46% yoy.

Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, mengidentifikasi tiga faktor yang menyebabkan inflasi lebih tinggi: kenaikan harga bawang merah, harga bahan bakar minyak yang meningkat, dan kenaikan inflasi inti akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Ia memproyeksikan inflasi tahunan akan moderat menjadi 1,48% yoy, dengan inflasi bulanan naik 0,24% mtm.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, memprediksi inflasi harga bergejolak akan naik signifikan, sementara inflasi inti diperkirakan stabil pada 0,20% mtm. Ia juga memperkirakan inflasi tahun 2024 akan berada dalam target Bank Indonesia, yakni antara 1,7% hingga 2%.

Namun, meskipun ada kenaikan inflasi, Banjaran Surya Indrastomo dari BSI dan Hosianna Evalita Situmorang dari Bank Danamon berpendapat bahwa inflasi inti tetap rendah dan konsumsi masyarakat cenderung tertahan karena ketidakpastian ekonomi.

Waspadai Dampak Kenaikan PPN

KT1 27 Nov 2024 Investor Daily (H)
Rencana pemerintah menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% pada 1 Januari 2025 diprediksi akan berdampak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun masih pada level yang moderat. Pasalnya, harga-harga sejumlah komoditas akan ikut terkerek naik. Sejumlah emiten, khususnya sektor ritel diprediksi akan terkena dampak dari kebijakan tersebut. Senior Technical Analyst Mirea Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai, kenaikan PPN menjadi salah satu sentimen yang akan  dicermati pelaku pasar saham. Sebab, kebijakan itu akan berdampak ke daya beli masyarakat. "Kebijakan menaikkan PPN menjadi 12% pada tahun depan jika tanpa diimbangi dengan adanya program stimulus dari pemerintah, itu akan membuat kemampuan daya beli masyarakat relatif stagnan. Masyarakat akan meningkatkan saving yang tentu otomotis akan menghambat kinerja pertumbuhan dari sisi topline (pendapatan) emiten-emiten (sektor) retail terkait," ungkap Nafan  Aji kepada Investor Daily. Namun demikian, kata dia, semua emiten terutama sektor retail akan melakukan mitigasi guna menghadapi konsekuensi dan kebaijakan kenaikan PPN tersebut. (Yetede)

Trump dan Dampak Inflasi Global pada Suku Bunga BI

HR1 07 Nov 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebagai langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa kebijakan moneter akan tetap seimbang, dengan fokus pada stabilitas ekonomi dan pertumbuhan hingga 2025. Perry juga mengungkapkan adanya ruang untuk penurunan suku bunga, meskipun belum ada waktu pasti kapan langkah ini akan diambil.

Perry menjelaskan bahwa BI akan memperkuat stabilitas ekonomi dengan memperdalam pasar uang dan mengintervensi pasar valuta asing (valas). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pembaruan blueprint kebijakan moneter hingga 2030.

BI juga berkolaborasi dengan pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung sektor riil, menciptakan lapangan kerja, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Fikri C Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, menyebutkan bahwa penurunan suku bunga masih memungkinkan, didukung inflasi domestik yang terkendali dan tingginya cost of fund di Indonesia. Penurunan ini dapat membantu pemulihan ekonomi.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), menambahkan bahwa stabilitas harga bahan pangan dan produk impor memberikan ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga. Namun, faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan Donald Trump dan ketegangan geopolitik global perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi ekspor dan impor Indonesia.

David menyoroti risiko dari kebijakan perdagangan Donald Trump yang dapat meningkatkan ketegangan global dan berdampak pada ekonomi domestik. Ketidakpastian geopolitik juga menjadi faktor yang memengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia.

Penurunan suku bunga BI Rate menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Dukungan kebijakan ini dipengaruhi oleh faktor domestik seperti inflasi yang terkendali, serta tantangan eksternal seperti kebijakan perdagangan global dan ketidakstabilan geopolitik. Perry Warjiyo, Fikri C Permana, dan David Sumual menekankan pentingnya stabilitas dan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk mencapai tujuan ekonomi nasional.

Emas Picu Inflasi, Bukan Kenaikan Daya Beli

HR1 02 Nov 2024 Kontan

Inflasi di Indonesia pada Oktober 2024 mencapai 0,08% (mtm) setelah mengalami deflasi selama lima bulan. Amalia Adininggar Widyasanti, Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi bulan ini dengan kontribusi sebesar 0,06%. Secara tahunan, inflasi emas perhiasan mencapai 35,82% (yoy), seiring meningkatnya harga emas global akibat ketidakpastian geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah dan Ukraina-Rusia, serta kebijakan moneter The Fed yang menurunkan suku bunga, mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman.

Selain emas, inflasi juga disumbang oleh komoditas lain, seperti daging ayam ras, bawang merah, dan tomat. Meski inflasi inti naik menjadi 0,22% (mtm) dan 2,21% (yoy), komponen harga bergejolak tetap mencatat deflasi 0,11% (mtm).

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai kenaikan inflasi ini belum menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi tahunan yang rendah sejak 2021 dan tren PMI Manufaktur di bawah 50 menunjukkan lemahnya konsumsi rumah tangga. Bhima memperkirakan inflasi akan meningkat pada awal 2025 dengan penerapan tarif PPN 12%, yang bisa menekan permintaan lebih lanjut. Ia menyarankan pemerintah segera meluncurkan stimulus berupa peningkatan upah minimum dan perluasan bantuan sosial bagi masyarakat kelas menengah yang rentan.

BPS Menyatakan Inflasi pada Oktober 2024 mencapai 0,08

KT1 02 Nov 2024 Investor Daily (H)

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan inflasi pada Oktober 2024 mencapai 0.08%, inflasi tahunan mencapai 1,71% secara tahunan (yoy) dan inflasi tahun kalender 0,82% dari awal tahun (year-to-date/YTD). Jika dilihat berdasarkan komoditas pendorong tercatat emas memberikan andil yang besar pada inflasi Oktober 2024. "Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan dengan andil  inflasi 0,06%," ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalan konferensi pers di Kantor BPS. Amalia mengatakan, kenaikan harga emas ini terjadi karena di pasar global  karena dipengaruhi ketidakpastian geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina.

Dan tekanan geopolitik ini membuat orang memilih emas sebagai instrumen investasi. "Selain kondisi geopolitik, tentunya kenaikan harga emas terjadi karena kebijakan moneter yang ditetapkan The Fed, dimana ada tren penurunan suku bunga The Fed dan ini juga memacu para investor untuk beralih ke komoditas emas," tutur Amalia. Dia menyatakan inflasi emas secara year on year di bulan Oktober ini sebesar 35,82%. Pergerakan harga emas mengalami peningkatan dalam satu tahun terakhir. Jika melihat kondisi emas pada tahun 2020 sampai 2024 harga emas tertinggi terjadi pada Agustus 2020. Perkembangan inflasi komoditas emas sejalan dengan perekonomian dunia. (Yetede)

Nasi Lauk, dan Kopi Akhiri Deflasi akibat Deflasi Emas

KT3 02 Nov 2024 Kompas

Inflasi pada Oktober 2024 mengakhiri deflasi lima bulan beruntun sejak Mei 2024. Inflasi tersebut terutama dipicu kenaikan harga emas perhiasan, nasi lauk, dan kopi yang juga menjadi bagian dari inflasi inti. Inflasi inti mencerminkan hubungan antara harga barang dan jasa dengan tingkat pendapatan konsumen. Jika pendapatan konsumen tidak berubah, konsumen akan memiliki daya beli yang lebih rendah. Begitu pula sebaliknya. BPS, Jumat (1/11) merilis tingkat inflasi nasional pada Oktober 2024 sebesar 0,08 % secara bulanan dan 1,71 % secara tahunan. Sebelumnya pada Mei-September 2024, Indonesia mengalami deflasi beruntun sebesar 0,03 %, 0,08 %, 0,18 %, 0,03 %, dan 0,12 %.

Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, inflasi bulanan pada Oktober 2024 didorong inflasi komponen inti sebesar 0,22 %. Untuk komponen harga yang diatur pemerintah dan yang bergejolak, masih deflasi masing-masing 0,25 % dan 0,11 %. Komoditas yang dominan mengalami dan memberikan andil inflasi pada komponen inti adalah emas perhiasan, nasi lauk, dan kopi bubuk. Secara bulanan, tingkat inflasi emas perhiasan sebesar 4,44 %, nasi lauk 0,67 % dan kopi bubuk 2,31 %. ”Secara tahunan, emas perhiasan mengalami inflasi 35,28 %, kopi 17,53 %, dan nasi lauk 2,54 %,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. Menurut Amalia, kenaikan harga emas di dalam negeri dipengaruhi kenaikan harga emas dunia. Begitu harga emas dunia naik, harga emas di Indonesia naik secara otomatis. (Yoga)


Ekonomi Indonesia Mengalami Deflasi

KT1 23 Oct 2024 Tempo
SEJAK Mei 2024, ekonomi Indonesia mengalami deflasi. Namun, karena deflasi ini terjadi pada data bulanan, untuk sementara dalam data tahunan tetap inflasi. Hal ini menjadi indikator bahwa deflasi yang terjadi bersifat jangka pendek. Meski begitu, pelemahan ekonomi tetap terlihat karena Purchasing Managers' Index (PMI) sejak April 2024 menurun dan mengalami kontraksi sejak Juni 2024. Pelemahan sisi suplai PMI terdeteksi mempengaruhi pelemahan sisi permintaan konsumen, yang dilihat dari menurunnya consumer confidence index (CCI) sejak Mei 2024. Penurunan kedua indikator ini menunjukkan tengah terjadinya pelemahan ekonomi yang tidak hanya dari pendapatan saat ini, tapi juga ekspektasi pendapatan di masa mendatang. 

Untuk menghindari “spiral deflasi” akibat pelemahan ekonomi, teori ekonomi menyarankan langkah pertama: membangun ekspektasi positif dunia usaha. Ekspektasi ini penting untuk menarik masuknya investasi dan menciptakan lapangan kerja. Investasi adalah variabel makro yang sangat penting karena menghubungkan aktivitas ekonomi sektor riil dengan sektor keuangan. Kebangkitan sektor riil juga menjadi kebangkitan sektor keuangan.

Investasi juga harus meningkatkan lapangan kerja. Ketika masyarakat memiliki pekerjaan, akan ada pendapatan dan permintaan. Permintaan yang bertambah akan mengubah deflasi menjadi inflasi. Laju inflasi yang tercipta akibat bertumbuhnya investasi akan meningkatkan ekspektasi ekonomi sehingga pada akhirnya akan makin meningkatkan investasi berikutnya.  Bagaimana cara meningkatkan ekspektasi positif ekonomi? Dalam jangka pendek, langkah ini dapat dilakukan melalui kombinasi kebijakan konsolidasi fiskal dan ekspansi moneter. Dua kebijakan ini telah dilakukan selama dua bulan terakhir dan disambut positif oleh pengusaha nasional. (Yetede)