;
Tags

Inflasi

( 547 )

Ancaman Stagflasi dan Dampaknya bagi Ekonomi RI

HR1 27 Mar 2025 Kontan
Ancaman stagflasi global dalam 12 bulan ke depan kian nyata, berdasarkan survei Bank of America yang menunjukkan 71% fund manager memperkirakan terjadinya kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi. Tokoh seperti Joe Brusuelas dari RSM menyoroti bahwa kebijakan tarif Trump dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed justru bisa memicu inflasi lebih lanjut, yang akan berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia.

Meski Indonesia masih mencatat deflasi dalam dua bulan terakhir, pertumbuhan ekonominya stagnan, dan nilai tukar rupiah terus melemah. Ekonom Budi Frensidy menilai keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia memperkuat tekanan terhadap rupiah. Sementara itu, Yanuar Rizky dari Bright Institute menandai gejala stagflasi dari tren kenaikan harga emas dan tembaga, serta menyarankan pemerintah agar serius menegakkan hukum dan memperkuat kepercayaan investor.

Menanggapi hal tersebut, Noor Faisal Achmad dari Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat agar tidak terpengaruh dampak stagflasi global, karena jika tidak, risiko terhadap ekspor, impor, dan pengangguran akan meningkat tajam.

Ekonomi Nasional bisa Terdampak Stagflasi Global

KT1 27 Mar 2025 Investor Daily

Kondisi perekonomian AS kini, menimbulkan kekhawatiran munculnya stagflasi terhadap perekonomian dunia. Untuk itu, pemerintah Indonesia harus menyiapkan ancang-ancang agar kondisi tersebut tidak memberi dampak rambatan terhadap perekonomian nasional. Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat pengangguran yang meningkat. Kebijakan tariff impor baru AS, meningkatnya biaya logistik global dan tekanan geopolitik berpotensi memicu stagflasi berskala global. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, gejala stagflasi menjadi peringatan dini bahwa fondasí makro ekonomi nasional harus siap menghadapi tekanan global yang semakin kompleks.

Risiko stagflasi global memberikan dua dampak utama yaitu pelemahan nilai tukar rupiah dan perlambatan ekspor. “Duasektor ini menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional dan keduanya sangat sensitif terhadap dinamika eksternal," jelas Syafruddin, Rabu (26/3/2025). Saat terjadi inflasi tinggi di AS dan Bank Sentral AS (The Fed) mempertimbangkan untuk menunda pemangkasan suku bunga, bahkan mungkin menaikkan kembali jika tekanan harga berlanjut, maka arus modal cenderung keluar dari negara berkembang.

Investor global akan memburu aset-aset safe haven seperti USD dan obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil tinggi. Kondisi tersebut memberi tekanan besar pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. “Rupiah melemah tiap kali The Fed memberikan sinyal hawkish, apalagi jika didorong oleh kekhawatiran stagflasi yang membuat volatilitas pasar meningkat," jelas dia. “Ketidakpastian global, jika tak diimbangi koordinasi fiskal dan komunikasi kebijakan yang kuat, dapat mengikis kepercayaan pelaku usaha dan konsumen,” tegas Syafruddin. (Yetede)


Tekanan Inflasi Diwaspadai BOJ

KT1 25 Mar 2025 Investor Daily

Hasil pertemuan Bank of Japan (BOJ) minggu lalu menunjukkan masih perlunya mewaspadai tekanan inflasi yang disebabkan oleh makanan. Ini berarti waku bunga dapat dinaikkan lebih cepat dari perkiraan. Mengikuti jejak bank-bank sentral lain, seiring meluasnya kebijakan tarif pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap para mitra dagangnya, telah membuat ketldak pastian arah kebijakan moneter Jepang meningkat. Para pembuat kebijakan di Jepang pun hurus melangkah dengan hati-hati ketika mencoba menilal implikasi ekonomi dari bea masuk AS yang sangut cepat. Sementara, tanda-tanda meningkatnya inflasi makanan yang menambah prospek kenaikan upah berkelanjutan, kemungkinan bakal membuat BOJ tetap berada di jalur untuk menaikkan suku bunga dengan kecepatan stabil. Langkah ini berbeda dengan penurunan suku bunga yang disinyalkan oleh rekan-rekanya di AS dan Eropa.

Gubernur BOJ, Kazuo Ueda mengeluarkan peringatan tentang bagaimana tarif AS yang lebih tinggi memengaruhi ekonomi global. Ini disampaikan bersamaan dengan keputusan bank mempertahankan suku bunga pada Rahu (19/03/2025). Tetapi BOJ dapat memasukkan sampai batas tertentu dampak potensial dari tarif Trump dalam laporan prospek kuartalan di pertemuan berikutnya pada 30 April-1 Mei, ungkap Ueda, yang dilansir Reuters pada Senin (24/03/2025). Ia juga mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, meskipun konsensus saat ini adalah untak pengetatan yang akan terjadi di kuartal Ill-2025. Ueda mengimbangi kekhawatiran atas ketidakpastian global dengan sinyal hawkish pada prospek harga domestik. Ini menunjukkan, tekad B0J tidak tergoyahkan untuk terua menaikkan suku bunga jangka pendek dari level 0.5%. (Yetede)


Pemerintah Perlu Melihat Kondisi Riil Dengan Jeli

KT3 20 Mar 2025 Kompas

Kendati data ekonomi makro masih menunjukkan tren positif, sejumlah ekonom meminta pemerintah lebih jeli dalam melihat realitas di lapangan, utamanya soal ketahanan ekonomi kelompok masyarakat menengah ke bawah. Survei kinerja UMKM dan rasio gini menjaditolok ukur yang perlu diwaspadai untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UI, Telisa Aulia Falianty menyoroti adanya ketidaksinkronan antara data ekonomi makro dan data mikro yang memotret perilaku konsumen untuk memastikan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Secara agregat, data makro sebagian besar masih baik karena kelompok ekonomi kelas atas sedang mendominasi kinerja yang baik.

”Jadi, kita juga harus cukup kritis melihat keterkaitan antara data makro dan mikro. Data mikro menggambarkan realitas di lapangan. Perlu dilengkapi dengan data komprehensif dari berbagai survei dan pengecekan langsung lapangan untuk kesimpulan yang lebih solid,” ujar Telisa, Rabu (19/3). Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/3) malam, menerangkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara spasial relatif baik. Hal itu sejalan pertumbuhan ekonomi 5,03 % pada 2024. Data ini mendukung catatan tingkat inflasi inti pada Februari 2025 positif di angka 2,48 %. Inflasi inti di level positif menjadi indikator masih baiknya daya beli masyarakat, terutama untuk barang-barang sekunder atau tersier.

Kendati demikian, menurut Telisa, untuk membuktikan struktur fundamental ekonomi RI saat ini tetap kuat, perlu dipastikan adanya keseimbangan ketahanan ekonomi, yaitu antara kelompok ekonomi kelas atas, menengah, dan bawah. Alasannya, dalam sejarah krisis keuangan, stabilitas data ekonomi makro tidak cukup karena sifat dari efek domino atau contagion dan self-fulfilling panics atau krisis akibat ekspektasi pesimis investor bisa datang dengan cepat dan mengikis fundamental makro sedikit demi sedikit. ”Terlebih lagi, kita perlu memastikan bahwa fundamental itu seimbang dari sisi kekuatan dan daya tahan antara kelompok atas, menengah, dan bawah tersebut,” ujarnya. (Yoga)

Daya Beli Melemah, Ekonomi dalam Tekanan

HR1 12 Mar 2025 Kontan
Menurunnya optimisme konsumen dan perubahan pola belanja masyarakat menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang dapat berdampak pada daya beli dalam jangka panjang. Survei Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2025 turun ke 126,4, terutama akibat kekhawatiran terhadap ketersediaan lapangan kerja. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja saat ini turun menjadi 106,2, sementara ekspektasi untuk enam bulan ke depan juga melemah ke 134,2.

Hasil survei ini sejalan dengan Mandiri Spending Index (MSI) yang menunjukkan peningkatan belanja, tetapi dengan perubahan pola konsumsi yang lebih hati-hati. Pengeluaran untuk restoran turun menjadi 16,1%, sementara belanja di supermarket naik menjadi 24,4%, mengindikasikan masyarakat lebih fokus pada kebutuhan pokok dibanding gaya hidup.

Tingkat tabungan masyarakat juga terus menurun. Jahen Fachrul Rezki, Wakil Direktur LPEM UI, menilai tren ini sebagai sinyal melemahnya daya beli, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi, mengingat konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama PDB Indonesia.

Sementara itu, Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, melihat penurunan tabungan sebagai akibat dari meningkatnya pengeluaran menjelang Ramadan, seiring kenaikan harga bahan pokok. Jika tekanan inflasi terus berlanjut tanpa peningkatan pendapatan riil, kepercayaan konsumen bisa semakin melemah, yang dapat memperburuk kondisi ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Butuh Konsolidasi dan Koordinasi yang Komprehensif

KT1 05 Mar 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan konsolidasi dan korodinasi yang lebih komprehensif dalam upaya pengendalian harga bahan kebutuhan pokok atau pangan. Konsolidasi komprehensif dari sektor hulu hingga hilir diperlukan agar ketersediaan maupun stabilitas harga bahan kebutuhan pokok bisa diwujudkan secara lebih jangka panjang atau berkelanjutan. Selama ini, konsolidasi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) lebih banyak berfokus pada pengawasan alur distribusi barang yang notabene berada di level hilir. Sementara konsolidasi dan koordinasi di level hulu terkait dengan proses produksi komoditas pangan dibutuhkan, dinilai masih sangat kurang. Peneliti dan ekonomi senior Yusuf Rendy Manilet menilai, pendekatan yang dilakukan pemerintah selama ini melalui TPIP dan TPID tidaklah sepenuhnya keliru. Hanya saja,  dalam konteks untuk memastikan ketersediaan komoditas  strategis, konsolidasi maupun koordinasi juga perlu dilakukan untuk memastikan bahwa produksi komoditas pangan sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh pemerintah. (Yetede)

Momentum Kuat Pengendalian Harga di Ramadhan

KT1 04 Mar 2025 Investor Daily (H)
Deflasi beruntun selama Januari-Februari 2025 menjadi momentum kuat pengendalian harga barang selama periode Ramadan dan  Lebaran. Kalaupun pada Maret 2025 terjadi inflasi,  besarannya diprediksi rendah, hanya 0,1% secara bulanan (month to month/mtm). Akan tetapi, deflasi juga menjadi alarm bagi masyarakat lemah. Apalagi, untuk kali pertama dalam 25 tahun terjadi deflasi tahunan yakni pada Februari lalu. Ini menandakan belanja masyarakat melambat. Sejalan dengan itu, masyarakat diprediksi tidak agresif  berbelanja selama Ramadan dan Lebaran. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Lebaran diprediksi tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Hal itu patut diwaspadai pemerintah, karena ledakan belanja Lebaran diharapkan menjadi pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi deflasi bulanan disebabkan tarif listrik dan harga pangan. Itu terlihat pada komponen harga diatur pemerintah yang mencetak deflasi 0% dan 18,59%. Secara bulanan, tarif listrik menyumbang deflasi  0,67%, daging ayam ras 0,06%, bawang 0,05%, cabai merah 0,04%, dan cabai rawit 0,02% pada Februari 2025. Adapun komoditas penyumbang deflasi tahunan adalah tarif listrik sebesar 2,16%, lalu beras 0,11%, dan tomat 0,11%, cabai merah 0,11%, dan daging ayam ras 0,02%. (Yetede)

Momentum Kuat Pengendalian Harga di Ramadhan

KT1 04 Mar 2025 Investor Daily (H)
Deflasi beruntun selama Januari-Februari 2025 menjadi momentum kuat pengendalian harga barang selama periode Ramadan dan  Lebaran. Kalaupun pada Maret 2025 terjadi inflasi,  besarannya diprediksi rendah, hanya 0,1% secara bulanan (month to month/mtm). Akan tetapi, deflasi juga menjadi alarm bagi masyarakat lemah. Apalagi, untuk kali pertama dalam 25 tahun terjadi deflasi tahunan yakni pada Februari lalu. Ini menandakan belanja masyarakat melambat. Sejalan dengan itu, masyarakat diprediksi tidak agresif  berbelanja selama Ramadan dan Lebaran. Akibatnya pertumbuhan ekonomi Lebaran diprediksi tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Hal itu patut diwaspadai pemerintah, karena ledakan belanja Lebaran diharapkan menjadi pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi deflasi bulanan disebabkan tarif listrik dan harga pangan. Itu terlihat pada komponen harga diatur pemerintah yang mencetak deflasi 0% dan 18,59%. Secara bulanan, tarif listrik menyumbang deflasi  0,67%, daging ayam ras 0,06%, bawang 0,05%, cabai merah 0,04%, dan cabai rawit 0,02% pada Februari 2025. Adapun komoditas penyumbang deflasi tahunan adalah tarif listrik sebesar 2,16%, lalu beras 0,11%, dan tomat 0,11%, cabai merah 0,11%, dan daging ayam ras 0,02%. (Yetede)

Ancaman Deflasi Bayangi Ramadan dan Lebaran

HR1 04 Mar 2025 Kontan
Pada Februari 2025, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,48% secara bulanan, melanjutkan tren deflasi Januari yang mencapai 0,76%. Secara tahunan, deflasi Februari tercatat 0,09%. Namun, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa deflasi ini bukan akibat melemahnya daya beli, melainkan dipengaruhi diskon tarif listrik 50% dari pemerintah hingga Februari.

Meski terjadi deflasi, inflasi inti tetap naik 0,25% secara bulanan dan 2,48% secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, kopi bubuk, dan mobil. Amalia menyebutkan, deflasi selama Ramadan masih belum bisa diprediksi, tetapi biasanya ada inflasi karena peningkatan konsumsi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira berpendapat bahwa deflasi di Februari justru menandakan masyarakat menahan belanja menjelang Ramadan dan Lebaran. Bhima berargumen bahwa jika daya beli masyarakat kuat, uang yang dihemat dari diskon listrik seharusnya dialihkan ke konsumsi lain. Namun, deflasi tetap terjadi, yang bisa mengindikasikan bahwa masyarakat sedang menabung atau mengalami kesulitan finansial.

Bhima juga menyoroti pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya, yang menjadi alarm bagi lemahnya permintaan barang dan jasa. Ia memperkirakan pada Maret 2025 akan terjadi inflasi sebesar 0,1% secara bulanan, dipicu oleh kenaikan harga pangan dan berakhirnya diskon listrik. Namun, jika masyarakat tetap menahan konsumsi, deflasi bisa kembali terjadi, terutama jika pemerintah terus melakukan efisiensi belanja.

Secara keseluruhan, meskipun BPS menilai deflasi tidak berkaitan dengan daya beli, para ekonom melihat adanya tanda-tanda perlambatan konsumsi masyarakat, yang berpotensi berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas industri.

Ancaman Deflasi Bayangi Ramadan dan Lebaran

HR1 04 Mar 2025 Kontan
Pada Februari 2025, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,48% secara bulanan, melanjutkan tren deflasi Januari yang mencapai 0,76%. Secara tahunan, deflasi Februari tercatat 0,09%. Namun, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa deflasi ini bukan akibat melemahnya daya beli, melainkan dipengaruhi diskon tarif listrik 50% dari pemerintah hingga Februari.

Meski terjadi deflasi, inflasi inti tetap naik 0,25% secara bulanan dan 2,48% secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, kopi bubuk, dan mobil. Amalia menyebutkan, deflasi selama Ramadan masih belum bisa diprediksi, tetapi biasanya ada inflasi karena peningkatan konsumsi masyarakat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira berpendapat bahwa deflasi di Februari justru menandakan masyarakat menahan belanja menjelang Ramadan dan Lebaran. Bhima berargumen bahwa jika daya beli masyarakat kuat, uang yang dihemat dari diskon listrik seharusnya dialihkan ke konsumsi lain. Namun, deflasi tetap terjadi, yang bisa mengindikasikan bahwa masyarakat sedang menabung atau mengalami kesulitan finansial.

Bhima juga menyoroti pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya, yang menjadi alarm bagi lemahnya permintaan barang dan jasa. Ia memperkirakan pada Maret 2025 akan terjadi inflasi sebesar 0,1% secara bulanan, dipicu oleh kenaikan harga pangan dan berakhirnya diskon listrik. Namun, jika masyarakat tetap menahan konsumsi, deflasi bisa kembali terjadi, terutama jika pemerintah terus melakukan efisiensi belanja.

Secara keseluruhan, meskipun BPS menilai deflasi tidak berkaitan dengan daya beli, para ekonom melihat adanya tanda-tanda perlambatan konsumsi masyarakat, yang berpotensi berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas industri.