Inflasi
( 547 )Ancaman Stagflasi dan Dampaknya bagi Ekonomi RI
Ekonomi Nasional bisa Terdampak Stagflasi Global
Kondisi perekonomian AS kini, menimbulkan kekhawatiran munculnya stagflasi terhadap perekonomian dunia. Untuk itu, pemerintah Indonesia harus menyiapkan ancang-ancang agar kondisi tersebut tidak memberi dampak rambatan terhadap perekonomian nasional. Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat pengangguran yang meningkat. Kebijakan tariff impor baru AS, meningkatnya biaya logistik global dan tekanan geopolitik berpotensi memicu stagflasi berskala global. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi mengatakan, gejala stagflasi menjadi peringatan dini bahwa fondasí makro ekonomi nasional harus siap menghadapi tekanan global yang semakin kompleks.
Risiko stagflasi global memberikan dua dampak utama yaitu pelemahan nilai tukar rupiah dan perlambatan ekspor. “Duasektor ini menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional dan keduanya sangat sensitif terhadap dinamika eksternal," jelas Syafruddin, Rabu (26/3/2025). Saat terjadi inflasi tinggi di AS dan Bank Sentral AS (The Fed) mempertimbangkan untuk menunda pemangkasan suku bunga, bahkan mungkin menaikkan kembali jika tekanan harga berlanjut, maka arus modal cenderung keluar dari negara berkembang.
Investor global akan memburu aset-aset safe haven seperti USD dan obligasi pemerintah AS yang menawarkan imbal hasil tinggi. Kondisi tersebut memberi tekanan besar pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. “Rupiah melemah tiap kali The Fed memberikan sinyal hawkish, apalagi jika didorong oleh kekhawatiran stagflasi yang membuat volatilitas pasar meningkat," jelas dia. “Ketidakpastian global, jika tak diimbangi koordinasi fiskal dan komunikasi kebijakan yang kuat, dapat mengikis kepercayaan pelaku usaha dan konsumen,” tegas Syafruddin. (Yetede)
Tekanan Inflasi Diwaspadai BOJ
Hasil pertemuan Bank of Japan (BOJ) minggu lalu menunjukkan masih perlunya mewaspadai tekanan inflasi yang disebabkan oleh makanan. Ini berarti waku bunga dapat dinaikkan lebih cepat dari perkiraan. Mengikuti jejak bank-bank sentral lain, seiring meluasnya kebijakan tarif pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap para mitra dagangnya, telah membuat ketldak pastian arah kebijakan moneter Jepang meningkat. Para pembuat kebijakan di Jepang pun hurus melangkah dengan hati-hati ketika mencoba menilal implikasi ekonomi dari bea masuk AS yang sangut cepat. Sementara, tanda-tanda meningkatnya inflasi makanan yang menambah prospek kenaikan upah berkelanjutan, kemungkinan bakal membuat BOJ tetap berada di jalur untuk menaikkan suku bunga dengan kecepatan stabil. Langkah ini berbeda dengan penurunan suku bunga yang disinyalkan oleh rekan-rekanya di AS dan Eropa.
Gubernur BOJ, Kazuo Ueda mengeluarkan peringatan tentang bagaimana tarif AS yang lebih tinggi memengaruhi ekonomi global. Ini disampaikan bersamaan dengan keputusan bank mempertahankan suku bunga pada Rahu (19/03/2025). Tetapi BOJ dapat memasukkan sampai batas tertentu dampak potensial dari tarif Trump dalam laporan prospek kuartalan di pertemuan berikutnya pada 30 April-1 Mei, ungkap Ueda, yang dilansir Reuters pada Senin (24/03/2025). Ia juga mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, meskipun konsensus saat ini adalah untak pengetatan yang akan terjadi di kuartal Ill-2025. Ueda mengimbangi kekhawatiran atas ketidakpastian global dengan sinyal hawkish pada prospek harga domestik. Ini menunjukkan, tekad B0J tidak tergoyahkan untuk terua menaikkan suku bunga jangka pendek dari level 0.5%. (Yetede)
Pemerintah Perlu Melihat Kondisi Riil Dengan Jeli
Kendati data ekonomi makro masih menunjukkan
tren positif, sejumlah ekonom meminta pemerintah lebih jeli dalam melihat
realitas di lapangan, utamanya soal ketahanan ekonomi kelompok masyarakat menengah
ke bawah. Survei kinerja UMKM dan rasio gini menjaditolok ukur yang perlu
diwaspadai untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Guru Besar Fakultas
Ekonomi Bisnis UI, Telisa Aulia Falianty menyoroti adanya ketidaksinkronan antara
data ekonomi makro dan data mikro yang memotret perilaku konsumen untuk
memastikan kuatnya fundamental ekonomi Indonesia. Secara agregat, data makro
sebagian besar masih baik karena kelompok ekonomi kelas atas sedang mendominasi
kinerja yang baik.
”Jadi, kita juga harus cukup kritis
melihat keterkaitan antara data makro dan mikro. Data mikro menggambarkan
realitas di lapangan. Perlu dilengkapi dengan data komprehensif dari berbagai
survei dan pengecekan langsung lapangan untuk kesimpulan yang lebih solid,”
ujar Telisa, Rabu (19/3). Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di
Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/3) malam, menerangkan, pertumbuhan ekonomi
Indonesia secara spasial relatif baik. Hal itu sejalan pertumbuhan ekonomi 5,03
% pada 2024. Data ini mendukung catatan tingkat inflasi inti pada Februari 2025
positif di angka 2,48 %. Inflasi inti di level positif menjadi indikator masih baiknya
daya beli masyarakat, terutama untuk barang-barang sekunder atau tersier.
Kendati demikian, menurut Telisa,
untuk membuktikan struktur fundamental ekonomi RI saat ini tetap kuat, perlu dipastikan
adanya keseimbangan ketahanan ekonomi, yaitu antara kelompok ekonomi kelas
atas, menengah, dan bawah. Alasannya, dalam sejarah krisis keuangan, stabilitas
data ekonomi makro tidak cukup karena sifat dari efek domino atau contagion dan
self-fulfilling panics atau krisis akibat ekspektasi pesimis investor bisa
datang dengan cepat dan mengikis fundamental makro sedikit demi sedikit. ”Terlebih
lagi, kita perlu memastikan bahwa fundamental itu seimbang dari sisi kekuatan
dan daya tahan antara kelompok atas, menengah, dan bawah tersebut,” ujarnya. (Yoga)
Daya Beli Melemah, Ekonomi dalam Tekanan
Butuh Konsolidasi dan Koordinasi yang Komprehensif
Momentum Kuat Pengendalian Harga di Ramadhan
Momentum Kuat Pengendalian Harga di Ramadhan
Ancaman Deflasi Bayangi Ramadan dan Lebaran
Ancaman Deflasi Bayangi Ramadan dan Lebaran
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023







