;
Tags

Inflasi

( 549 )

Waspada Lonjakan Inflasi Mencapai 1,95%

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Normalisasi tarif listrik dan kenaikan harga emas menyebabkan inflasi tahunan mencapai 1,95% pada April 2025, lebih tinggi dari posisi Maret 2025 yang sebesar 1,03%. Meski kenaikannya masih dalam kisaran target, pemerintah tetap harus mewaspadai lonjakan inflasi tersebut. Berdasarkan data BPS pada April 2025 terjadi inflasi bulanan sebesar 1,17%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi inflasi 1,95% dan secara tahun kalender atau year to date terjadi inflasi 1,56%.  Peneliti center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, lonjakan inflasi tahunan pada April 2025 bersifat temporer. Ini lantaran kebijakan diskon tarif listrik yang sempat diberlakukan untuk beberapa golongan pelanggan berpengaruh cukup besar. Selain itu, faktor musiman yakni Ramadan dan Idulfitri juga turut mendorong kenaikan harga khususnya pada kelompok makanan, transportasi, dan jalan lainnya. "Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa inflasis inti juga mengalami peningkatan. Ini menandakan adanya tekanan struktural, bukan hanya dari sisi musiman atau adminditrasi harga saja," kata Yusuf. (Yetede)

BI Dinilai Tepat Tahan Suku Bunga

HR1 24 Apr 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75% pada April 2025, langkah yang dinilai tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah risiko perlambatan dan inflasi terkendali. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan menjaga inflasi sesuai target pemerintah serta menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat volatile akibat ketidakpastian global, terutama sentimen perang dagang dan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

BI juga melakukan intervensi aktif di pasar off-shore non-deliverable forward (NDF) dan membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk meredam tekanan nilai tukar. Perry optimis rupiah akan stabil ke depan dengan didukung kebijakan tersebut dan prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif.

Di sisi lain, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai BI sudah tepat mempertahankan suku bunga karena kondisi eksternal masih penuh ketidakpastian. Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menambahkan bahwa BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2025, dengan catatan kondisi eksternal membaik.

Kredit Konsumsi Ikut Tersendat karena Daya Beli Lesu

HR1 17 Apr 2025 Kontan

Perlambatan penyaluran kredit konsumsi hingga Februari 2025 menjadi indikator utama bahwa daya beli masyarakat masih belum pulih. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit konsumsi hanya sebesar 9,4% secara tahunan, melambat dibanding akhir 2024. Penyebab utama perlambatan ini adalah tingginya suku bunga, yang bahkan terus naik di beberapa bank besar.

Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menyatakan bahwa penyesuaian bunga dilakukan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat. Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menekankan pentingnya menjaga kualitas aset melalui pendekatan konservatif, meskipun segmen kendaraan bermotor dan KTA masih mencatat pertumbuhan. Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Kepatuhan Bank OK, Efdinal Alamsyah, yang memilih langkah selektif demi menjaga stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi.

Secara umum, perbankan memilih strategi konservatif demi menjaga kualitas kredit, mengingat tingginya risiko kredit konsumsi akibat tekanan pada daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi makro yang belum stabil.

Konsumsi Rumah Tangga Tumbuh Melambat

HR1 17 Apr 2025 Kontan

Konsumsi rumah tangga Indonesia diperkirakan mengalami perlambatan pada kuartal I-2025, menjadi salah satu penyebab utama melemahnya perekonomian nasional. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia, indeks penjualan riil hanya tumbuh 1% secara tahunan, lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terutama terjadi pada kelompok barang seperti perlengkapan rumah tangga, peralatan komunikasi, dan sandang, yang mengalami kontraksi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut bahwa pelemahan ini mencerminkan daya beli masyarakat yang tertekan, terlihat dari penurunan tabungan dan pergeseran pola konsumsi ke arah yang lebih konservatif seperti pembelian barang bekas dan investasi pada emas. Ia memperkirakan konsumsi rumah tangga hanya akan tumbuh 4,8% secara tahunan pada kuartal I-2025, dan menekankan pentingnya stabilitas ketenagakerjaan untuk mendorong pemulihan.

Sementara itu, Peneliti FITRA, Badiul Hadi, memperkirakan pertumbuhan konsumsi bahkan bisa melambat hingga kisaran 4%-4,3%. Ia menyarankan agar pemerintah memperkuat stimulus fiskal, menjaga stabilitas harga pangan, menekan inflasi, dan menciptakan lapangan kerja sebagai langkah konkret untuk menahan pelemahan konsumsi masyarakat.

Kendati demikian, ada harapan pemulihan pada bulan-bulan mendatang seperti Mei dan Agustus 2025, terutama karena kelancaran distribusi dan momen perayaan HUT RI, yang diperkirakan bisa mendongkrak penjualan ritel.

Daya Beli Masyarakat Belum Pulih Merata

KT1 17 Apr 2025 Investor Daily (H)
Kinerja penjualan eceran tetap terjaga pada Maret 2025 karena disokong oleh faktor musiman dan momentum Ramadan dan Lebaran. bank Indonesia (BI) memperkirakan  Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2025 mencapai 236,7 atau secara tahunan tumbuha sebesar 0,5% (year on year/yoy). Namun,  pertumbuhan tahunan yang hanya 0,5% patut dicermati sebagai sinyal bahwa daya beli secara struktural belum pulih secara merata. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan kondisi tersebut menjadi refleksi dari tekanan inflasi pangan, depresiasi rupiah, serta terbatasnya pemulihan pendapatan rumah tangga. Dapat diartikan bahwa lonjakan konsumsi Maret lebih bersifat temporer dari pada mencerminkan pemulihan fundamental. Oleh karena itu, pemerintah dan otoritas moneter  perlu membaca ini sebagai dorongan untuk lebih aktif mendukung sektor riil dan menjaga ekspektasi konsumen, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Yetede)

Konsumen Kian Pesimis di Tengah Inflasi

HR1 16 Apr 2025 Kontan (H)

Kondisi konsumsi rumah tangga di Indonesia menunjukkan pelemahan yang signifikan, tercermin dari turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) selama tiga bulan berturut-turut hingga mencapai level 121,1 pada Maret 2025. Penurunan ini menunjukkan meningkatnya pesimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan, termasuk dari kelompok berpenghasilan tinggi. Survei Bank Indonesia (BI) dan Mandiri Institute menunjukkan penurunan belanja masyarakat, bahkan saat momentum Idulfitri, yang biasanya menjadi puncak konsumsi tahunan.

Fithra Faisal Hastiadi, Ekonom Senior dari Samuel Sekuritas Indonesia, menyebut penurunan IKK mencerminkan tekanan daya beli masyarakat yang meningkat, diperburuk oleh PHK lebih dari 90.000 orang sejak 2024. Ia mengingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, konsumsi rumah tangga—yang menjadi penopang utama pertumbuhan PDB—dapat melemah, bahkan memicu penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5% pada 2025.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memperingatkan bahwa lesunya optimisme konsumen bisa berdampak pada penundaan investasi oleh pelaku usaha, sehingga diperlukan intervensi pemerintah dalam bentuk pengeluaran yang efektif dan tepat sasaran untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hanya memberikan respons singkat mengenai kondisi ini, dengan mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya meningkatkan optimisme konsumen, tanpa menjabarkan langkah konkret yang akan diambil.

Keyakinan Konsumen Merosot

KT1 16 Apr 2025 Investor Daily (H)
BI mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (KK) Maret 2025 turun menjadi 121,1 Maret 2025. Angka ini lebih rendah dari Februari 2025 dimana posisi IKK sebesar 126,4. Meski IKK menurun tetapi BI memandang keyakinan konsumen tetap terjaga. Lantaran IKK tetap berada di atas 100 atau tetao berada level optimis. "Survei Konsumen BI pada Maret 2025 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi terjaga. Hal ini tercermin dari IKK Maret 2025 yang tetap berada pada level optimis sebesar 121,1," ucap Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan dan Denny Prakoso. Berdasarkan kelompok pengeluaran responden, keyakinan konsumen pada Maret 2025 tetap optimis untuk seluruh kelompok, dengan IKK tertinggi pada responden pengeluaran  Rp 5 juta (127,9), diikuti oleh pengeluaran Rp 4,1-5 juta (123,0) dan Rp3,1- 4 juta (120,6) "Meski demikian, perkembangan optimisme tersebut menurun dibandingkan kondisi bulan sebelumnya untuk seluruh kelompok pengeluaran," kata dia. Berdasarkan kelompok usia IKK juga tetap di level optimis pada seluruh kelompok usia, dengan IKK tertinggi tercatat pada responden usia 20-30 tahun (126,3), 31-40 tahun (122,5) dan 41-50 tahun (119,7). Kelompok usia 60 tahun mengalami peningkatan optimisme dibandingkan periode sebelumnya, sementara kelompok usia lainnya mengalami penurunan. (Yetede)

Meredam Lonjakan Inflasi Industri Asuransi

KT1 14 Apr 2025 Investor Daily (H)
OJK menilai inflasi medis masih sangat menghantui industri asuransi Indonesia. Sebab, inflasi di Indonesia relatif sangat tinggi dibandingkan dengan  negara lainnya, sehingga diperlukan regulasi. Kepala Eksekutif Pengawas Asuransi, Penjamin, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengatakan, pihaknya melakukan review terhadap ketentuan peraturan terkait dengan asuransi kesehatan beberapa periode terakhir. Ogi menilai hal ini harus dilakukan untuk mendukung asuransi kesehatan itu sendiri. Mulai dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, maupun dari pelaku usaha di sektor  kesehatan, farmasi, dan juga perusahaaan-perusahaan asuransi. OJK dalam hal ini memperkuat dari sisi regulasi, baik terkait dengan manajemen risiko maupun tata kelola itu sendiri. Dari pemetaan yang dilakukan oleh OJK, memang pada tahun 2023 rasio klaim asuransi  kesehatan mencapai 97,5%, dan menurun sedikit pada 2024 menjadi 71,2%, di luar opex yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi yang sekitar 10-15%. Sehingga, combined ratio untuk 2023 masih diatas 100% dan di 2024 sedikit di bawah 100%. Ogi juga menyebut bahwa di awal tahun ini memang terjadi penurunan rasio klaim, karena beberapa perusahaan asuransi melakukan repricing terhadap premi yang dibebankan kepada pemegang polisnya. (Yetede)

Kondisi Inflasi hingga Maret 2025 Masih Terkendali Sebesar 1,03%

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily (H)

Kondisi inflasi hingga Maret 2025 masih terkendali sebesar 1,03% secara year on year (yoy), setelah bulan sebelumnya mencatatkan deflasi. Pemerintah optimistis inflasi pada tahun ini berada di kisaran 2,5%, kurang lebih 1% dengan terus menjaga stabilitas harga bahan pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idul Fitri. Langkah pemerintah menjalankan paket kebijakan pada Ramadan turut berkontribusi untuk menjaga stabilitas inflasi.

"Berbagai insentif yang diberikan seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP tiket pesawat di masa HBKN Ramadan dan Idul Fitri berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025," ucap Febrio. Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat pada level 2,48% (yoy). Sebagian besar kelompok pengeluaran meningkat, terutama kelompok pakaian dan alas kaki seiring meningkatnya permintaan jelang Idul Fitri. Komponen inflasi pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang didorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas. Meskipun demikian, beberapa komoditas pangan tercatat meningkat secara bulan ke bulan  karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. (Yetede)

Tarif Trump Seberapa Kuat Dampaknya

KT1 10 Apr 2025 Investor Daily (H)
Kebijakan terbaru Presiden Donald Trumph untuk memberlakukan tarif tinggi pada berbagai negara telah menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan ekonomi, pemimpim bisnis, dan mitra internasional. Tarif ini mencakup pajak mininmum 10% untuk semua import dan tarif yang lebih tinggi untuk negara-negara tertentu, yang diterapkan dengan tujuan untuk mengatasi ketidakseimbangan perdagangan dan melindungi industri domestik. Ekonom telah memperingatkan bahwa tarif ini dapat menyebabkan peningkatan harga konsumen, karena pengusaha mungkin akan membebankan biaya lebih tinggi dari barang impor kepada konsumen. Skenario ini dapat berkontribusi pada inflasi yang meningkat dan perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi. Carl Weinberg dari High Frequency Economics,  meramalkan kontraksi tajam pada ekonomi AS sebesar 4,5% pada kuartal kedua tahun 2025, dengan kontraksi yang terus berlanjut pada paruh kedua tahun tersebut. Michael Feroli dan JP Morgan memprediksi resesi dimulai pada Juni, sementara Alec Philips dari Goldman Sacsh meningkatkan probabilitas resesi 12 bulan menjadi 45%, sekaligus memotong perkiraan pertumbuhan PDB 2025 menjadi 0,5%. (Yetede)