;
Tags

Inflasi

( 547 )

Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret  yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).

Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri. Sementara itu, kelompok  bahan bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok  yang tercatat mengalami perbaikan  meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8% (mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok  peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya,  makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)

Peluang Bank Indonesia untuk Menurunkan Suku Bunga Acuan

KT1 10 May 2025 Investor Daily
Peluang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) diperkirakan  pada semester II-2025. Hal ini dapat dilakukan jika RI memiliki ruang pelonggaran  moneter yang menandai, tingkat inflasi sesuai target, dan nilai tukar rupiah yang stabil. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Falicity 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat The Fed mempertahankan  suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain Bank Sentra AS Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam Federal Open Market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya seiring meluasnya kekhawatiran atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berarti Bank Sentral AS tersebut telah memeprtahankan suku bunga sejak pertama pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penurunan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catatan bahwa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata Pakar Ekonomi Fakultas Bisnis Universitas Airlangga Tika Widiastuti. (Yetede)

BI Memutuskan untuk Mempertahankan BI-Rate Sebesar 5,75%

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Facility 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku  juga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam federal Open market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed  memeprtahankan suku bunga acuan seiring meluaskany kekhawatiran  atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berartu Bank Sentral AS tersebut sejak mempertahankan suku bunga sejak pertemuan pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penuruan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catat bawa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Arilangga Tika Widiastuti kepada Investor Daily. Dia mengatakan, indikator domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat dan permintaan kredit yang lemah juga menjadi pertimbangan yang penting. (Yetede)

IKK pada April 2025 Berada pada Level Pptimis

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2025 berada pada level optimis yaitu sebesar 121,7. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada bulan sebelumnya sebesar 121,1. Dengan kata lain, IKK mengakhiri penurunan selama tiga bulan sebelumnya. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Parkoso mengatakan optimisme konsumen yang meningkat pada April 2025 terjadi karena ada kenaikan keyakinan konsumen terhadao kondisi ekonimi saat ini dan terjaganya keyakinan konseumen terhadao kondisi ekonomi ke depan. "Survei konsumen BI pada Pril 2025 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tergaja," ucap Ramdan. Berdasarkan kelompk pengeluaran responeden, keyakinan konsumen pada April 2025 meningkat untuk sebagian kelompok, dengan IKK tertingi tercatat responden pengeluaran >Rp 5 juta (127,9) dan Rp 4,1 juta (125,2). Meski demikian, perkembangan optimisme pada kelompk pengeluaran Rp 1-2 juta menurun dibandingkan kondisi bulan sebelumnya. Berdasarkan kelompok usia, dengan IKK tertinggi tercatat pada responden usia 20-30 tahun (126,4), 31-4- tahun (123,0), dan 41-50 tahun (120,9). (Yetede)

Kinerja Manufaktur Lunglai setelah Lebaran

KT1 05 May 2025 Investor Daily
Setelah mencatatkan laju positif selama 4 bulan berturut-turut, kinerja manufaktur justru lunglai pada April. Hal ini terlihat dari merosotnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada April 2025, yang berada di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap nilai tukar.  "Ini menyebabkan cost push inflation di sisi impor bahan baku/penolong sektor manufaktur, dan menurunkan confidence konsumsi di pasar global yang mempengaruhi demand ekspor Indonesia," terang Shinta kepada Investor Daily. Dia menambahkan, terjadinya koreksi dan normalisasi dalam hal ini penurunan demand pasar domestik pasca periode Ramadhan-Lebaran juga memberikan pengaruh yang besar. "Apalagi inflasi di Maret hanya 1,03% (yoy) atau di bawah target inflasi nasional," kata Sintha. Keseluruhan faktor ini menyebabkan rendahnya confidence di sisi pelaku usaha sektor manufaktur untuk melakukan ekpansi kerja. "Selain beban produksi yang meningkat, demand di pasar dalam dan luar negeri juga terjadi sluggish," imbuh dia. (Yetede)

Kinerja Manufaktur Lunglai setelah Lebaran

KT1 05 May 2025 Investor Daily
Setelah mencatatkan laju positif selama 4 bulan berturut-turut, kinerja manufaktur justru lunglai pada April. Hal ini terlihat dari merosotnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur  Indonesia pada April 2025, yang berada di level 46,7 atau berada di fase kontraksi (di bawah poin 50), sesuai hasil laporan S&P Global. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menerangkan, kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap nilai tukar.  "Ini menyebabkan cost push inflation di sisi impor bahan baku/penolong sektor manufaktur, dan menurunkan confidence konsumsi di pasar global yang mempengaruhi demand ekspor Indonesia," terang Shinta kepada Investor Daily. Dia menambahkan, terjadinya koreksi dan normalisasi dalam hal ini penurunan demand pasar domestik pasca periode Ramadhan-Lebaran juga memberikan pengaruh yang besar. "Apalagi inflasi di Maret hanya 1,03% (yoy) atau di bawah target inflasi nasional," kata Sintha. Keseluruhan faktor ini menyebabkan rendahnya confidence di sisi pelaku usaha sektor manufaktur untuk melakukan ekpansi kerja. "Selain beban produksi yang meningkat, demand di pasar dalam dan luar negeri juga terjadi sluggish," imbuh dia. (Yetede)

Tarif Trump Seret Ekonomi Merosot Tajam

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Butuh waktu 100 tahun bagi Amerika Serikat (AS) untuk menurunkan tarif rata-ratanya dari 59% pada tahun 1930. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 100 hari, Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif ke level tertinggi sejak Depresi Besar. Akibat, PDB riil AS menyusut 0,3% pada kuartal pertama 2025, menandai kontraksi ekonomi dan inflasi yang meningkat. Harga melonjak, rak-rak toko kosong, aktivitas di Pelabuhan Los Angeles anjlok 30%, dan sentimen konsumen merosot tajam. Pasar saham goyah, kepercayaan CEO menurun, dan usaha kecil serta menengah berada di ambang kehancuran. Namun bagi Trump berdampak pada 185 negara. China menghadapi tarif sebesar 245%, sementara negara lain dikenakan tarif antara 10% hingga 60%, menciptakan ketidakpastian yang meningkat. Tarif ini menargetkan ratusan miliar dolar impor, membahayakan penjualan afilaisi AS senilai US$ 8 triliun di luar negeri - mempengaruhi perusahaan besar seperti Apple, Tesla, Starlink, McDonald's, Nike, Ford, dan Intel-serta mengancam puluhan triliun dolar keuntungan korporasi AS yang terlibat dalam rantai pasok global. (Yetede)

Waspada Lonjakan Inflasi Mencapai 1,95%

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Normalisasi tarif listrik dan kenaikan harga emas menyebabkan inflasi tahunan mencapai 1,95% pada April 2025, lebih tinggi dari posisi Maret 2025 yang sebesar 1,03%. Meski kenaikannya masih dalam kisaran target, pemerintah tetap harus mewaspadai lonjakan inflasi tersebut. Berdasarkan data BPS pada April 2025 terjadi inflasi bulanan sebesar 1,17%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi inflasi 1,95% dan secara tahun kalender atau year to date terjadi inflasi 1,56%.  Peneliti center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, lonjakan inflasi tahunan pada April 2025 bersifat temporer. Ini lantaran kebijakan diskon tarif listrik yang sempat diberlakukan untuk beberapa golongan pelanggan berpengaruh cukup besar. Selain itu, faktor musiman yakni Ramadan dan Idulfitri juga turut mendorong kenaikan harga khususnya pada kelompok makanan, transportasi, dan jalan lainnya. "Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa inflasis inti juga mengalami peningkatan. Ini menandakan adanya tekanan struktural, bukan hanya dari sisi musiman atau adminditrasi harga saja," kata Yusuf. (Yetede)

Waspada Lonjakan Inflasi Mencapai 1,95%

KT1 03 May 2025 Investor Daily (H)
Normalisasi tarif listrik dan kenaikan harga emas menyebabkan inflasi tahunan mencapai 1,95% pada April 2025, lebih tinggi dari posisi Maret 2025 yang sebesar 1,03%. Meski kenaikannya masih dalam kisaran target, pemerintah tetap harus mewaspadai lonjakan inflasi tersebut. Berdasarkan data BPS pada April 2025 terjadi inflasi bulanan sebesar 1,17%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi inflasi 1,95% dan secara tahun kalender atau year to date terjadi inflasi 1,56%.  Peneliti center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, lonjakan inflasi tahunan pada April 2025 bersifat temporer. Ini lantaran kebijakan diskon tarif listrik yang sempat diberlakukan untuk beberapa golongan pelanggan berpengaruh cukup besar. Selain itu, faktor musiman yakni Ramadan dan Idulfitri juga turut mendorong kenaikan harga khususnya pada kelompok makanan, transportasi, dan jalan lainnya. "Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa inflasis inti juga mengalami peningkatan. Ini menandakan adanya tekanan struktural, bukan hanya dari sisi musiman atau adminditrasi harga saja," kata Yusuf. (Yetede)

BI Dinilai Tepat Tahan Suku Bunga

HR1 24 Apr 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75% pada April 2025, langkah yang dinilai tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah risiko perlambatan dan inflasi terkendali. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan menjaga inflasi sesuai target pemerintah serta menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat volatile akibat ketidakpastian global, terutama sentimen perang dagang dan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

BI juga melakukan intervensi aktif di pasar off-shore non-deliverable forward (NDF) dan membeli Surat Berharga Negara (SBN) untuk meredam tekanan nilai tukar. Perry optimis rupiah akan stabil ke depan dengan didukung kebijakan tersebut dan prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif.

Di sisi lain, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai BI sudah tepat mempertahankan suku bunga karena kondisi eksternal masih penuh ketidakpastian. Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menambahkan bahwa BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli 2025, dengan catatan kondisi eksternal membaik.