Inflasi
( 547 )Hati-Hati, Laju Inflasi Masih Tetap Tinggi
Tingkat inflasi pada April tahun ini diperkirakan bakal melandai secara bulanan. Estimasi tersebut sejalan dengan mulai menurunnya harga pangan dan usainya momentum Ramadan. Namun demikian, laju inflasi tahunan diperkirakan masih akan tetap tinggi. Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, inflasi bulanan pada April 2024 bergerak di rentang 0,25% hingga 0,60%. Sementara inflasi tahunan pada April diperkirakan sekitar 2,99% hingga 3,10%. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan, laju inflasi April sebesar 0,25% month-to-month (mtm). Angka ini melandai dibandingkan inflasi di bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,52% mtm. Andry menyebutkan, melandainya inflasi tersebut disebabkan penurunan inflasi yang bersumber dari komoditas pangan, terutama beras. "Data terakhir menunjukkan harga beras mengalami deflasi sebesar 2% mtm pada bulan April 2024, membalikkan angka inflasi sebelumnya yang sebesar 2.1% mtm," kata dia kepada KONTAN, Rabu (1/5). Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memperkirakan tingkat inflasi pada April tahun ini sebesar 2,27% mtm.
Di satu sisi, inflasi melandai sejalan dengan penurunan inflasi bahan makanan karena puncak musim panen sudah bergulir.
Namun di sisi lain, ada kelompok pengeluaran lain yang mendorong inflasi April, seperti transportasi, penyediaan makanan dan minuman atau restoran, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Para ekonom juga mewanti-wanti, laju inflasi inti berpotensi meningkat di April 2024. Andry meramal, inflasi inti bulan lalu sebesar 1,78% yoy, dari Maret 2024 yang tercatat sebesar 1,77% yoy.
Bahkan, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan inflasi inti naik menjadi 1,81% yoy, dan secara bulanan sebesar 0,29% mtm.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan, untuk menekan laju inflasi, diperlukan juga upaya dari sisi fiskal. Pemerintah, menurut dia, juga masih perlu tetap menjaga distribusi atau pasokan barang.
Ketidakpastian The Fed dan Demam Dollar AS
Konsep ekspektasi telah berkembang lebih jauh dari konsep ekspektasi rasional ala Lucas (1976). Ekspektasi diibaratkan menjadi suatu strategic game, setiap orang mempunyai fungsi reaksi yang hasil akhirnya tergantung dari interaksi strategis dengan fungsi reaksi pelaku ekonomi lain, seperti pembuat kebijakan, otoritas moneter, organisasi, dan entitas lain (Auman, 2008). Implikasinya, pemerintah atau otoritas moneter dapat menuntun ekspektasi masyarakat ke arah keseimbangan yang lebih optimal. Situasi di atas terjadi pada indeks dollar AS dalam dua minggu terakhir ini sebagai akibat ketidakpastian langkah yang akan diambil bank sentra lAS (The Fed). Data Indeks Manajer Pengadaan (PMI) manufaktur menunjukkan perekonomian AS mulai mengalami pelemahan.
Angka PMI manufaktur April memasuki zona kontraksi 49,9 dibandingkan dengan Maret ketika masih di zona ekspansi51,9. Ini membuat analisis modal portepel di AS berpendapat bahwa seharusnya The Fed menurunkan suku bunga dalam pertemuannya pada 19 - 20 Maret untuk mengakomodasi ekspektasi pasar. Namun, inflasi yang masih persisten di 3,5 persen pada Maret, naik dari 3,2 persen di bulan sebelumnya, merupakan kontra argumen The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan. Konsekuensinya adalah fragmentasi ekspektasi di pasar keuangan dunia yang memicu pergeseran ke aset yang dianggap lebih aman sebagai alat lindung nilai (hedging) sambil menunggu ketidakpaspatian.
Kondisi ini mengerek imbal hasil surat berharga AS. Untuk tenor 10 tahun, imbal hasilnya naik ke 4,7 persen, tertinggi sejak November 2023. Adanya hubungan terbalik antara imbal hasil dan harga pasar membuat harganya menurun, kemudian menarik pemodal portepel global dunia untuk berbondong-bondong membeli obligasi AS. Sebagai akibatnya, indeks dollar AS menguat tajam dalam waktu satu setengah bulan ini dari 102,7 pada awal Maret ke 106,3 pada pertengahan April. Dampak globalnya, nilai mata uang negara lain menjadi melemah (John dan Narasinghe, April 2024). Pertumbuhan ekonomi AS triwulan I-2024 melambat drastis ke 1,6 dari 3,4 persen di triwulan sebelumnya. Sampai artikel ini selesai ditulis, ketidakpastian masih tetap tinggi karena data inflasi AS terbaru belum keluar. Situasi dikhawatirkan akan mengarah ke stagflasi atau kombinasi stagnasi inflasi seperti di AS tahun 1970-1980an yang dinilai lebih buruk dari resesi (De Mott,Business Insider, April 2024). Kekhawatiran ini terlihat dari anjloknya indeks saham Dow sebesar lebih dari 375 poin pada 25 April.
Sejak pertengahan Maret, kurs tengah Bank Indonesia melemah dari Rp 15.582 ke Rp15.900-an pada saat sebelum libur Lebaran seiring dengan peningkatan indeks dollar AS akibat ketidakpastian langkah yang akan diambil The Fed. Setelah libur Lebaran, kurs rupiah menembus Rp 16.000 hingga mencapai Rp 16.280.
Kesempatan ini digunakan oleh berbagai bank sentral, termasuk Bank Indonesia (BI), untuk melakukan mitigasi. Prinsip yang digunakan adalah mencari momen yang tepat, jangan melawan angin haluan (headwind), tetapi gunakanlah angin buritan (tailwind)
Dampak ketidakpastian global baru akan terlihat bulan depan ketika data makro April dipublikasikan sehingga prognosis hanya dapat dilakukan melalui indikator dini. Namun,sampai saat ini perekonomian Indonesia masih menunjukkan resiliensi sebagai dampakdari aktivitas mobilitas masyarakat sekitar hari raya Lebaran. PMI manufaktur Indonesia pada Maret naik ke 54,2 dari 52,7 di Februari.
PANEN RAYA : Hawa Sejuk Peredam Inflasi
Otoritas fiskal optimistis bahwa musim panen raya pada kuartal II/2024 bakal menjadi kado manis untuk meredakan inflasi akibat gejolak harga pangan terutama beras. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memandang bahwa inflasi Indonesia akan mulai melandai seiring dengan penurunan harga beras pada kuartal II/2024. Dia menjelaskan bahwa meski inflasi pangan sempat meningkat, tetapi ia melihat tren penurunan harga beras terjadi sejalan dengan masuknya musim panen di sentra-sentra produksi beras.
Pasalnya, beras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dalam komponen volatile food (VF). “Inflasi tetap terkendali baik, headline inflation kita adalah di 3,05% per Maret, nanti mengalami penurunan, harga beras sudah mulai menunjukkan tren penurunan,” dalam Konferensi Pers APBN Kita edisi April, Jumat (26/4).
Adapun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sendiri mematok inflasi umum dalam asumsi ekonomi makro 2024 di angka 2,8% YoY. Artinya, capaian inflasi Maret telah meleset dari target yang telah ditetapkan. Dalam paparannya, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa rata-rata harga beras premium menunjukkan tren penurunan sejak mencapai puncaknya pada Februari 2024 hingga Rp15.415 per kilogram (kg). Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni P. Joewono memandang bahwa pada pertengahan April ini sejumlah komoditas penyumbang inflasi mulai mengalami koreksi harga, seperti beras hingga telur ayam.
Bank Sentral juga telah melakukan langkah dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25% guna memastikan inflasi terus terjaga pada rentang sasaran. Direktur Riset Makroekonomi Center of Reform on Economics (Core) Ahmad Akbar Susamto menilai bahwa inflasi pangan yang tinggi pada kuartal I/2024 menggerus daya beli dan memiliki konsekuensi terhadap upah riil.
“Untungnya, inflasi pangan yang tinggi akan mulai mereda pada kuartal II/2024 sesudah lebaran. Dan kuartal III/2024 inflasi akan lebih rendah dari yang sudah terjadi dari kuartal I/2024,” katanya.
Laju Inflasi Kian Cepat, Per Maret Lampaui 3 Persen
Komoditas pangan bergejolak telah memicu lonjakan inflasi
selama momentum Ramadhan atau periode Maret 2024. Dalam tiga bulan pertama
2024, laju inflasi cenderung semakin cepat. BPS, Senin (1/4/2024), merilis tingkat
inflasi pada Maret 2024 sebesar 0,52 % secara bulanan dan 3,05 % secara tahunan.
Laju inflasi tahunan tersebut lebih cepat dibandingkan bulan Februari yang sebesar
2,75 % dan Januari yang sebesar 2,57 %. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau
menjadi penyumbang utama inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan, dengan
andil inflasi 0,41 % dan 2,09 %. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan,
inflasi Maret 2024, yang bertepatan dengan momen Ramadhan, meningkat dibandingkan
Februari 2024.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya,
kecuali pada 2022, inflasi Ramadhan tahun ini masih relatif lebih tinggi. ”Komoditas
penyebab utama inflasi (bulanan) Maret 2024 didominasi oleh komoditas pangan
bergejolak, antara lain, telur ayam ras, daging ayam ras, beras, cabai rawit,
dan bawang putih. Beberapa komoditas yang mengalami deflasi pada Maret 2024
adalah cabai merah, tomat, dan tarif angkutan udara,” katanya. Komoditas telur
ayam ras dan daging ayam ras merupakan penyumbang inflasi bulanan terbesar pada
Maret 2024, di 0,09 %. Lonjakan permintaan selama bulan Ramadhan menjadi salah
satu faktor pendorong harga telur dan daging ayam ras naik dibandingkan bulan
sebelumnya.
Sejak awal tahun 2023, inflasi beras tertinggi terjadi pada September
2023 yang sebesar 5,61 % saat terjadi El Nino dan pembatasan ekspor beras di
pasar global oleh beberapa negara. Sempat mereda, inflasi beras kembali naik
cukup tinggi pada Februari 2024 yang mencapai 5,32 % sebelum terjadi panen
raya. ”Pada Maret 2024, tekanan inflasi beras terlihat mulai melemah seiring mulainya
panen raya. Artinya, terjadi peningkatan produksi beras di domestik,” ujar
Amalia. Secara tahunan, inflasi beras pada Maret 2024 tercatat 20,07 % atau
tertinggi sejak Februari 2011 yang kala itu mencapai 23,34 %. Di sisi lain, inflasi
harga bergejolak secara tahunan pada Maret 2024 tercatat 10,33 % atau tertinggi
sejak Juli 2022 yang mencapai 11, 47 %. (Yoga)
Konsumsi Lebaran Terancam Lesu Akibat Inflasi
Konsumsi masyarakat menjelang Lebaran tahun ini bisa jadi
tidak semeriah biasanya. Konsumen, khususnya dari kelompok kelas menengah,
harus memilah prioritas belanja. Harga bahan pangan yang tinggi membatasi daya
beli mereka. Kondisi ini tecermin dari data inflasi BPS. Per Maret 2024, inflasi
tahunan mencapai 3,05 %. Penyumbang utama inflasi selama periode ini berasal
dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 2,09 % poin
dari total inflasi. Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengutarakan
penyebabnya adalah kenaikan harga pangan pada sejumlah komoditas, seperti
beras, daging ayam ras, serta telur ayam ras. Komoditas lain yang berkontribusi
pada inflasi adalah cabai merah, bawang putih, serta tomat.
Harga beras sendiri melonjak karena pasokan yang terbatas.
Produksi beras di dalam negeri tersendat karena El Nino yang menyebabkan
kekeringan tahun lalu. BPS mencatat produksi beras turun dari awal 2023 di 4
juta ton per bulan ke 1 juta ton per bulan pada akhir tahun. Volumenya baru
menunjukkan kenaikan mulai Februari, di 3 juta ton per bulan. Secara tahunan,
produksi beras 2023 hanya sebanyak 31,1 juta ton, turun dari 2022 yang sebesar
31,54 juta ton. Ketika inflasi melonjak, Wakil Direktur Institute for
Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan daya
beli masyarakat, khususnya kelas menengah, akan terpukul. Dalam inflasi tahun
ini, mereka terbebani tingginya biaya belanja bahan pangan.
Akibatnya, kelompok ini akan mengerem belanja barang dan jasa
selain pangan, terutama kebutuhan sekunder serta tersier seperti otomotif,
barang elektronik, dan perjalanan wisata. Pemberian THR bisa membantu
mengurangi tekanan daya beli pada kelompok tersebut. Artinya, konsumsi masih
bisa naik. "Tapi laju konsumsi Lebaran kali ini tidak akan sekencang tahun
lalu yang sebesar 5,22 % secara tahunan," tutur Eko. Diperkirakan konsumsi
hanya tumbuh 5 % pada periode ini, ia mengatakan kelas menengah merupakan
tumpuan utama laju konsumsi yang berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi.
BPS mencatat kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan domestik
bruto sepanjang 2023 mencapai 53,18 %. (Yetede)
Inflasi Masih Belum Terkendali
INFLASI DAERAH : PENGENDALIAN TAK BOLEH KENDUR
Rentetan aksi pemerintah daerah dalam beberapa pekan terakhir lewat berbagai macam strategi nyatanya belum mampu menahan inflasi di rentang zona sasaran. Mayoritas provinsi tercatat masih menorehkan inflasi di atas rata-rata nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari separuh provinsi mencatatkan inflasi tahunan pada Maret 2024 di atas rata-rata nasional yang hanya 3,05%.Tercatat, ada 21 provinsi dari 38 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional. Bahkan, apabila menggunakan patokan rentang sasaran Bank Indonesia, ada 13 provinsi yang mencatatkan inflasi tahunan pada Maret 2024 di atas 3,5%. Padahal, bank sentral menargetkan inflasi tahun ini berada di rentang 2,5% plus minus 1% alias pada rentang 1,5%—3,5%. Oleh sebab itu, upaya pengendalian tak boleh mengendur lantaran hajatan tahunan arus mudik dan arus balik baru akan terjadi pada awal kuartal II/2024 yang berpotensi mengerek inflasi lebih tinggi. Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) misalnya yang masih waspada menghadapi tantangan inflasi, khususnya pada harga pangan jelang perayaan Idulfi tri 2024.
Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Siti Farisyah Yana menyatakan bahwa Kaltim siap melaksanakan arahan pusat dalam pengendalian inflasi di daerah. “Kabupaten Berau mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,0%, sementara Kota Samarinda mencatat yang terendah sebesar 2,84%,” kata Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, Senin (1/4). “Namun, terdapat penurunan indeks pada kelompok perlengkapan rumah tangga, yang memberikan efek defl asi,” katanya. Kemarin, Senin (1/4), Gerakan Pangan Murah (GPM) dilakukan secara serentak di seluruh provinsi, dan di seluruh kabupaten/kota, tak terkecuali di Benua Etam. Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Distribusi Pangan DPTPH Kaltim Amaylia Dina Widyastuti menjelaskan bahwa GPM di wiilayah ini diikuti oleh 45 partisipan yang terdiri dari pelaku usaha yang menjual bahan pokok pangan strategis, produk pangan olahan dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta beberapa perangkat daerah terkait.
Provinsi Jawa Barat (Jabar) juga melakukan langkah serupa, meski dikemas dalam format yang sedikit berbeda, Operasi Pasar Bersubsidi (Opadi). Opadi merupakan upaya Pemprov Jabar menekan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok menjelang Idulfi tri yang digelar serentak di 27 kabupaten/kota wilayah ini dari 1—5 April 2024. Penjabat (Pj.) Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin pun meresmikan Opadi di Jalan R. Syamsudin, Kota Sukabumi, Senin (1/4). Dalam Opadi tersebut, komoditas yang dijual, yaitu paket beras premium kemasan 5 kilogram, gula premium kemasan 2 kilogram, dan minyak goreng premium kemasan 2 liter. Dalam harga normal paket tersebut dibandrol dengan harga Rp146.700. Namun setelah disubsidi, masyarakat dapat membelinya di Opadi dengan harga Rp101.000 atau mendapat subsidi Rp45.700. Gelaran Opadi ini menjadi penting lantaran wilayah ini mencatatkan inflasi tahunan tertinggi pada Maret 2024 untuk region Jawa, dengan pencapaian 3,48%. Kepala BPS Jabar Marsudijono mengatakan bahwa selain emas perhiasan, komoditas lain yang juga berkontribusi terhadap inflasi wilayah ini adalah telur ayam ras, daging ayam ras, beras, dan tomat.
Sementara itu, ada yang berbeda dengan GPM yang digelar oleh Pemprov Jawa Tengah. Hal ini lantaran warga dapat menebus dengan harga sukarela. Akan tetapi, kondisi itu hanya berlaku bagi para korban banjir. Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana mengatakan bahwa saat ini gelaran GPM di Jawa Tengah sudah melebihi target, yakni sebanyak 150 gelaran. “GPM hari ini adalah GPM kita yg ketiga. Nah, untuk hari ini kita ada 12 kota, seluruhnya 150 ton beras,” katanya Senin (1/3).Pada GPM kali ini, imbuhnya, berhasil menekan harga beras menjadi Rp14.600 per kilogramnya.
Sementara itu, imbuhnya, warga Jateng yang terdampak banjir juga diperbolehkan buat menebus paket sembako dengan harga sukarela. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra berharap, kegiatan ini bisa makin mendorong penurunan inflasi, khususnya di provinsi ini.
Adapun, BPS Jateng mencatat kenaikan harga pangan masih menjadi pemicu utama inflasi tahunan di wilayah ini ke level 3,4%. Komoditas beras sendiri masih menjadi penyumbang utama inflasi di provinsi ini hingga Maret 2024. BPS mencatat, dari 9 kabupaten dan kota pemantauan inflasi di Jateng, hanya ada 3 wilayah yang sudah mengalami penurunan harga beras.
PROYEKSI EKONOM : Inflasi Maret Bakal Melaju
Kalangan ekonom memproyeksi inflasi Maret melaju dengan estimasi tengah atau median sebesar 2,91% secara tahunan. Berdasarkan data Bloomberg, konsensus yang terdiri dari 25 ekonom memperkirakan bahwa inflasi tahunan periode Maret 2024 mencapai 2,91% atau lebih tinggi dari realisasi pada Februari 2024, yakni 2,75% YoY. Dari proyeksi tersebut, estimasi inflasi tertinggi sebesar 3,3% YoY dan terendah 2,1% YoY.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Doni P. Joewono mengatakan bahwa tingkat inflasi umum di dalam negeri masih terkendali, terutama ditopang oleh laju infl asi inti yang rendah.Di sisi lain, Doni menyoroti tingkat inflasi harga bergejolak atau volatile food yang masih mengalami peningkatan. Per Februari 2024, inflasi volatile food tercatat sebesar 8,47%. Doni mengatakan sejumlah tantangan, terutama menjelang Ramadan perlu terus diantisipasi dalam rangka mengendalikan harga pangan. Tantangan tersebut baik dari sisi pasokan, distribusi, kondisi curah hujan yang tinggi, maupun pemenuhan pasokan komoditas pangan impor agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi lebih lanjut.
Mengutip dari Panel Harga Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), kemarin, (29/3) pukul 09.35 WIB, rata-rata harga bawang merah naik 0,35% menjadi Rp34.110 per kilogram. Begitu pula dengan harga bawang putih bonggol naik 0,74% menjadi Rp41.970 per kilogram. Selain itu, rata-rata harga daging sapi murni kemarin naik 1,17% menjadi Rp137.130 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras naik 0,8% menjadi Rp31.590 per kilogram. Harga cabai rawit merah kemarin terpantau naik Rp2.170 menjadi Rp47.870 per kilogram. Senasib, harga minyak goreng kemasan sederhana kemarin naik tipis 0,17% menjadi Rp17.840 per liter dan rata-rata harga tepung terigu curah kemarin naik 0,6% menjadi Rp10.650 per kilogram. Terkait kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Isy Karim menyampaikan, lonjakan harga pangan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis.
Adapun, Kemendag melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan di berbagai kota terus melakukan pemantauan di lebih dari 600 pasar tradisional di 500 lebih kabupaten/kota.
Antisipasi Inflasi, BI Diperkirakan Tahan BI Rate
Inflasi Pangan Melejit Simpanan di Bank Terjepit
Likuiditas perbankan di Tanah Air berpotensi mengetat pada tahun ini. Potensi ini tergambar dari hasil survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bertajuk Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) untuk triwulan I-2024. Ini seiring potensi anjloknya dana pihak ketiga (DPK) perbankan, terutama pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah hingga menengah. Salah satu pemicu, tingginya inflasi pangan dan potensi kenaikan inflasi energi, karena berlanjutnya konflik geopolitik Israel-Palestina. Jika mengacu data distribusi simpanan nasabah yang dihimpun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Januari 2024, penurunan DPK memang mulai terlihat. LPS mencatat, di periode tersebut, ada penurunan simpanan secara bulanan pada kelompok simpanan di bawah Rp 100 juta dan simpanan Rp 100 juta-Rp 200 juta.
"Jadi ini menunjukkan simpanan masyarakat masih cukup baik," ujar Didik Mardiyono, Anggota Dewan Komisioner LPS, Selasa (19/3). Didik menilai, dengan tumbuhnya simpanan secara tahunan, dampak inflasi pangan terhadap simpanan nasabah tak akan signifikan. Menurut dia, kenaikan inflasi di Ramadan merupakan fenomena musiman seiring meningkatnya konsumsi masyarakat. Sementara Senior Vice President Retail Deposit Products & Solution Bank Mandiri Evi Dempowati mengakui, simpanan di bawah Rp 50 juta memang berpotensi tergerus selama Ramadan. Ini seiring naiknya pengeluaran nasabah untuk kebutuhan hari raya. Di sisi tabungan, saldo nasabah pada tier 1 atau lebih kecil dari Rp 1 juta, dan tier 2, antara Rp 1 juta-Rp 50 juta, juga tumbuh sekitar 4,6% secara tahunan.
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









