Inflasi
( 549 )Jerman Kini Jadi Negara Ekonomi Terkuat Ketiga
Sama-sama terpangkas pertumbuhannya, perekonomian Jepang
lebih buruk daripada Jerman. Dampaknya, Jepang yang menyerap 10 % ekspor
Indonesia itu kini disingkirkan Jerman dari tiga besar negara terkaya. Kabinet
Jepang pada Kamis (15/2) mengungkap, total PDB Jepang 2023 bernilai 4,21
triliun USD. Adapun PDB Jerman tercatat 4,46 triliun USD. Karena itu, Jerman
kini menjadi negara terkaya ketiga setelah AS dan China. PDB Jepang susut dua
triwulan berturut-turut sepanjang 2023, turun 3,3 % pada triwulan III-2023 dan
0,4 % pada triwulan IV-2023. Secara teknis, Jepang bisa disebut dalam resesi. Menurut
Dana Moneter Internasional (IMF), PDB Jerman terpangkas 0,9 % pada 2023.
Mengacu data IMF, PDB Jepang pada 2012 bernilai 6,2 triliun USD.
Sementara pada 2023, hanya 4,2 triliun USD. Dengan kata lain, PDB Jepang hilang
2 triliun USD dalam satu dekade terakhir. Menurut kantor berita Kyodo,
pelemahan nilai tukar yen terhadap dollar AS berkontribusi pada penurunan nilai
PDB Jepang tahun 2023. Pada 2012, setiap USD setara 79,82 yen. Tahun lalu, kurs
rata-rata USD terhadap yen mencapai 140,5. Dengan demikian, dalam satu dekade
terakhir, kurs yen terhadap USD melemah 100 %.
Sejatinya, kondisi ekonomi Jerman juga tak berada dalam
kondisi yang baik. Nilai PDB Jerman mengalami kontraksi 0,3 % pada tahun 2023
seiring tingginya angka inflasi sepanjang tahun lalu yang disebabkan harga energi
yang tinggi dan lemahnya permintaan dari luar negeri. Tak hanya itu, krisis
anggaran yang mendorong penghilangan subsidi besar-besaran untuk sejumlah
sektor juga mendorong memburuknya situasi perekonomian Jerman. Situasi ini, menurut
Presiden Institut Riset Ekonomi Ifo, Clemens Fuest, sudah bisa dimasukkan dalam
kategori resesi ekonomi. Kepala Staf Pemerintah Jerman Wolfgang Schmidt, Selasa
(13/2) mengatakan ”Jerman tidak sedang mengalami resesi. Pasar tenaga kerja
sangat stabil, upah riil meningkat. Kita akan melihat pertumbuhan tahun ini,”
katanya. Perekonomian diperkirakan mulai pulih tahun ini. Bank sentral Jerman,
Bundesbank, baru-baru ini memperkirakan pertumbuhan 0,4 %. (Yoga)
Deflasi China Turut Picu Penurunan Kinerja Ekspor RI
China tengah mengalami deflasi dan diperkirakan akan
mengakhiri era pertumbuhan ekonomi tinggi. Kondisi itu dipandang turut memicu
penurunan kinerja ekspor Indonesia lantaran China merupakan pasar utama ekspor
Indonesia. Pada Januari 2024, China mengalami deflasi 0,8 % secara tahunan.
Penurunan Indeks Harga Konsumen pada Januari itu merupakan penurunan terbesar
dalam 14 tahun terakhir. Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga
mengalami deflasi sebesar 2,5 % secara tahunan. Meskipun sedikit membaik dari Desember
2023 yang sebesar 2,7 %, Indeks Harga Produsen tersebut masih melanjutkan tren
deflasi selama 16 bulan berturut-turut atau sejak Oktober 2022. Deflasi di
China turut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2024. BPS,
Kamis (15/2) merilis, total ekspor migas dan nonmigas Indonesia pada Januari
2024 senilai 20,52 miliar USD, turun 8,34 % secara bulanan dan 8,06 % secara
tahunan. Ekspor nonmigas turun paling dalam, sebesar 8,54 % secara bulanan,
menjadi 19,13 miliar USD.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pada
Januari 2024 nilai ekspor nonmigas Indonesia ke tiga pasar utama, yakni China,
AS, dan India, menurun. Porsi ketiga negara tersebut terhadap total ekspor
nonmigas RI sebesar 43,64 %. ”Dari ketiga negara itu, nilai ekspor ke China
turun cukup signifikan sebesar 23,9 % secara bulanan dan 12,92 % secara tahunan
menjadi 4,57 miliar USD. Komoditas yang menyumbang penurunan ekspor tersebut
adalah bahan bakar mineral, termasuk batubara sebesar 3,85 %; bijihlogam,terak,
dan abu 2,21 %.; serta lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk minyak sawit
(CPO),” ujar Amalia dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di
Jakarta. BPS juga mencatat, penurunan kinerja ekspor RI ke China itu menyebabkan
defisit neraca perdagangan RI terhadap negara tersebut semakin besar, yaitu
defisit 1,38 miliar USD. (Yoga)
Konsistensi dan Sinergi Mengendalikan Inflasi
Beras Picu Inflasi 6 Bulan Berturut-turut
Harga beras yang masih bertahan tinggi, bahkan cenderung naik
lagi, telah memicu inflasi selama enam bulan berturut-turut. Bantuan dan
intervensi pasar beras serta gerakan pangan murah hanya mampu meredam harga
tidak semakin melonjak tinggi. BPS, Kamis (1/2) merilis, tingkat inflasi pada
Januari 2024 sebesar 0,04 % secara bulanan dan 2,56 % secara tahunan. Beras
menjadi salah satu komoditas utama penyumbang inflasi. Tingkat inflasi bulanan
dan tahunan beras pada Januari 2024 masing-masing sebesar 0,64 % dan 15,65 %. Andil
komoditas pangan pokok itu terhadap inflasi bulanan sebesar 0,03 % dan inflasi
tahunan 0,56 %. Inflasi beras itu terjadi sejak Agustus 2023, sebesar 1,43 %
secara bulanan. Pada September 2023, inflasi beras berada di level tertinggi, yakni
5,61 %, pada Oktober, November, dan Desember 2023 tingkat inflasinya
masing-masing 1,72 %, 0,43 %, dan 0,48 %.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, beras
mengalami inflasi lantaran harganya masih tinggi dan naik secara bulanan dan
tahunan. Beras di tingkat eceran, misalnya, harga rerata nasional pada Januari
2024 sebesar Rp 14.380 per kg atau naik 0,63 % secara bulanan dan 16,24 persen
secara tahunan. ”Harga beras masih tinggi karena neraca produksi dan kebutuhan
beras di dalam negeri defisit, terutama pada Januari-Februari 2024, akibat dampak
El Nino yang berkepanjangan. Selain itu, sejumlah negara produsen beras masih membatasi
ekspor beras sehingga menghambat impor beras dan membuat harga beras internasional
masih tinggi,” tuturnya. (Yoga)
Inflasi Turun di Awal Tahun
Inflasi menurun menjadi 2,75% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2024, dibandingkan Desember 2023 sebesar 2,67%. Laju inflasi secara bulanan (month to month/mtm) juga turun menjadi 0,04% pada Januari lalu dari level tertinggi pada Desember sebesar 0,41%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Januari 2024 juga jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2023 sebesar 5,28%. Patut dicatat, inflasi pada awal 2023 tinggi, lantaran masih terimbas penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada September 2022. Tingkat inflasi year to date (ytd) Januari 2024 mencapai 0,04%. Adapun tingkat inflasi komponen inti mencapai 0,2% secara bulanan dan 0,2% secara ytd. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan, indeks harga konsumen (IHK) mencapai 105,19 Januari 2024, naik dari bulan sama tahun lalu 102,55. Inflasi tahunan disebabkan kenaikan harga sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Menurut Amalia, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Provinsi Papua Tengah sebesar 4,76% dengan IHK sebesar 107,6 dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 1,21% dengan IHK sebesar 103,6. Dia menambahkan, Inflasi tahunan kabupaten/kota tertinggi terjadi di Toli Toli sebesar 6,76% dengan IHK sebesar 110,31 dan terendah di Mamuju sebesar 0,86% dengan IHK sebesar 103,26. Di sisi lain, bantuan sosial (bansos) dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) bertujuan memitigasi risiko pangan pada kuartal I-2024 sebagai upaya untuk meredam inflasi, terutama gejolak harga pangan. "Inflasi volatile food merupakan domain pemerintah," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Namun, pemberian BLT menjadi sorotan sebab berlangsung ditengah kontestasi pemilu. Sementara itu, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti alasan pemerintah memberikan bansos sebagai upaya menyelamatkan daya beli dari fluktuasi harga pangan.
DAYA BELI KURANG BERTAJI
Sesuai prediksi, tingkat inflasi pada awal tahun ini terus melandai. Sepintas penurunan inflasi ini memberikan kabar baik setelah hampir 2 tahun terakhir pemerintah kelabakan mengendalikan indeks harga konsumen (IHK). Akan tetapi, moderasi inflasi sulit dibilang sehat, lantaran tingkat inflasi inti yang merupakan cerminan daya beli masyarakat secara riil berada pada level terendah baru. Artinya, turunnya inflasi lebih disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat, yang tentu saja perlu direspons sigap oleh pemangku kebijakan. Hal itu terbukti dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi umum Januari 2024 hanya 2,57% (year-on-year/YoY), sedangkan inflasi inti hanya 1,68 (YoY). Pada saat bersamaan, PMI Manufaktur Indonesia berada pada zona ekspansif yakni 52,9, tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan strategi yang akan ditempuh untuk menyeimbangkan inflasi yakni mengoptimalkan instrumen moneter dengan instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Khusus inflasi inti, penanganan akan dilakukan dengan stabilisasi rupiah serta suku bunga acuan. "Inflasi Insyaallah tetap terkendali, sasaran kita 2,5% plus minus 1% tahun ini," kata Perry, Kamis (1/2).
Sementara itu, secara historis PMI Manufaktur selalu menanjak menjelang Ramadan. Hal ini dipicu oleh adanya pembatasan aktivitas produksi sehingga diperlukan stok barang yang cukup. Kalangan pelaku usaha pun berharap pemerintah dan BI memiliki strategi cermat untuk memacu konsumsi. Jika tidak, maka opsi yang dimiliki pebisnis hanyalah melakukan efi siensi produksi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan penurunan daya beli terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. bansos yang dikucurkan awal tahun ini dinilai hanya mendongkrak daya beli masyarakat bawah, belum menyentuh kelas menengah.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi, menilai penurunan inflasi inti seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah mengingat dampaknya cukup besar. "Ini dampaknya juga kurang baik," katanya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal, mengatakan inflasi inti yang rendah dipengaruhi oleh faktor daya beli yang juga terbatas.
Beras Bisa Mendorong Angka Inflasi
Mitigasi Risiko Pangan, Meredam Inflasi
Inflasi 2025-2027 Ditarget Sebesar 2,5 Persen
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, rapat tim pengendalian inflasi pusat menyepakati sasaran inflasi 2025 hingga 2027 sebesar 2,5 % plus-minus 1 %. Pada 2023, inflasi di Indonesia tercatat sebesar 2,61 %, lebih rendah dari realisasi 2022 yang 5,51 %. Upaya menjaga inflasi berfokus pada pengendalian harga pangan dan penyaluran bantuan langsung tunai Rp 11,25 triliun. Tahun ini, pemerintah menetapkan langkah kebijakan moneter dan fiskal guna mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pengendalian harga pangan bergejolak (volatile food) ditargetkan terjaga di bawah 5 %. Fokusnya pada komoditas beras, aneka cabai, dan aneka bawang.
”Kemudian menjaga ketersediaan pasokan dengan distribusi pangan untuk mitigasi risiko jangka pendek dan antisipasi pergeseran musim panen, serta menjaga stabilitas harga menjelang hari besar keagamaan,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (29/1). Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) Teuku Riefky, menyatakan, target inflasi pemerintah 2024-2027 dapat dipahami. Tren ini berkaca dari perkembangan global dan dinamika perekonomian Indonesia saat ini. ”Jadi ini cukup masuk akal diturunkan ke 2,5 % (dari 3 % plus-minus 1 persen). Apalagi, tingkat inflasi Indonesia dan global belakangan ada di lower bound target BI sebelumnya. Ini revisi target yang realistis dan relevan,” tuturnya. (Yoga)
Program Bantuan Pangan Dievaluasi Secara Berkala
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









