;
Tags

Inflasi

( 547 )

Salah Arah Mengatasi Masalah Beras

KT1 28 Dec 2023 Tempo

Pemerintah hendaknya lebih serius lagi dalam memitigasi dampak El Nino yang mempengaruhi anjloknya produksi beras nasional. Musim kering akibat perubahan iklim tersebut menyebabkan mundurnya masa tanam padi yang berimbas bergesernya masa panen raya kali ini. Hal itu berpotensi membuat defisit beras pada 2024 lebih panjang. Sebagai dampak El Nino, musim tanam yang biasanya dimulai pada Oktober-November kini mundur ke Desember 2023, bahkan Januari mendatang. Akibatnya, masa panen ikut mundur dari seharusnya dimulai pada Februari bergeser menjadi Maret atau April 2024. 

Konsekuensinya, defisit kebutuhan beras pun bisa menjadi lebih panjang daripada biasanya karena panen raya mundur dari Maret-April menjadi April-Mei atau bahkan Mei-Juni 2024. Kerangka Sampel Area amatan Badan Pusat Statistik pada November 2023 memproyeksikan produksi beras pada Januari dan Februari 2024 hanya sebesar 0,93 juta ton dan 1,32 juta ton. Dengan tingkat konsumsi masing-masing 2,54 juta ton dalam dua bulan tersebut, diprediksi Indonesia mengalami defisit beras 1,61 juta ton pada Januari 2024 dan 1,22 juta ton pada Februari 2024. Bila tidak ada mitigasi yang memadai, stok yang terus menipis itu akan membuat paceklik beras jadi lebih panjang. Harga beras akan terus melambung. Kondisi pangan saat ini akan makin sempoyongan. Ancaman inflasi pun mengintai. (Yetede)

Siasat Bertahan Hidup di Jakarta

KT3 27 Dec 2023 Kompas

Biaya hidup tinggi memaksa warga Jakarta bersiasat agar bisa bertahan. Ada yang mencari cuan tambahan dengan mencari pekerjaan sampingan hingga memilih hidup prihatin guna menyesuaikan pendapatan dengan pengeluaran. Noer (50), penjual rujak ulek di Pasar Rawajati, Pancoran, Jaksel, menjual tiap porsi rujak ulek Rp 15.000. Sudah 35 tahun Noer menjadi pedagang rujak ulek. Dari sana ia membiayai hidupnya dan keluarga. Ia memilih hidup sendiri, sementara istri dan anak di Brebes, Jateng. ”Biaya hidup di Brebes lebih murah dibanding harus tinggal di Jakarta,” kata ayah tiga anak ini, Selasa (26/12). Penghasilannya per hari berkisar Rp 100.000-Rp 150.000 per hari, tergantung jumlah pelanggan yang datang. Agar bisa mengirim uang ke keluarganya, Noer memilih hidup dengan biaya makan tak lebih dari Rp 50.000 per hari dan tinggal di kosan kecil Rp 1,5 juta per bulan. Noer merasa biaya hidup di Jakarta setiap tahun kian tinggi. ”Jika menjual rujak tidak lagi cukup, saya memilih pulang ke Brebes,” ucapnya. Yeski Kelsederi (31), warga Pancoran, Jaksel, juga harus mengelola keuangan agar gajinya sebagai ASN cukup untuk sebulan. Dalam sebulan, ia mengeluarkan uang Rp 15 juta-Rp 20 juta. ”Beruntung suami saya juga bekerja sehingga kami bisa berbagi beban,” lanjutnya. Melihat dari komposisi kebutuhan, biaya tertinggi adala untuk makan dan biaya transpor sehari-hari, biaya untuk sekolah bagi anak tunggalnya, sewa rumah, dan tagihan listrik.

”Terkadang, untuk memenuhi kebutuhan, suami saya mencari pekerjaan tambahan di luar kantornya,” ujar Yeski. Di kawasan padat penduduk, sejumlah warga memilih tinggal berdesakan di satu rumah. Fenomena ini terlihat di Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakpus. Irma Suryani (55) tinggal bersama 11 anggota keluarganya di rumah dua lantai dengan luas 22 meter persegi dengan kamar mandi 1 x 1 meter yang digunakan bersama empat tetangga. Mereka memilih hidup berdesakan guna menekan biaya. Di wilayah itu, sebagian besar warga bekerja sebagai pedagang, pengamen, dan tukang parkir. Berdasarkan Survei Biaya Hidup Tahun 2022 yang dikeluarkan BPS, kebutuhan biaya hidup rumah tangga di Jakarta mencapai Rp 14,88 juta per bulan., tertinggi di Tanah Air. Anggota Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, meminta Pemprov DKI Jakarta mencermati kenaikan biaya hidup itu karena tidak sebanding dengan upah minimum provinsi (UMP) 2024 sebesar Rp 5.067.381. Biaya hidup di Jakarta bertambah Rp 1,43 juta dari survei tahun 2018 sehingga menjadi Rp 14,88 juta, sedangkan UMP bertambah Rp 1.419.346 dari tahun 2018 sehingga menjadi Rp 5.067.381. ”Perlu ditinjau lagi besaran upah di Jakarta. Harus ada penyesuaian dengan tuntutan biaya hidup. (Yoga)

Prospek Cerah Pasar Modal 2024

KT3 26 Dec 2023 Kompas

Di pengujung tahun 2023, pasar modal Indonesia mampu menunjukkan ketahanannya di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan politik. Banyak negara menderita inflasi tinggi karena gangguan rantai pasok dan geopolitik negara-negara pemasok energi di tengah perang Ukraina-Rusia. AS mengalami kenaikan inflasi hingga 9,1 % pada Juni 2022. Kenaikan inflasi dikendalikan dengan terus menaikkan suku bunga acuan, yang perlahan menurunkan inflasi menjadi 3,1 % pada November 2023. Namun, situasi itu membuat banyak negara, termasuk Indonesia, harus ikut menaikkan tingkat suku bunga sehingga masyarakat menahan belanjanya. Sejak Agustus 2022 hingga Oktober 2023, Indonesia menaikkan suku bunga acuan 250 basis poin dari 3,5 % menjadi 6 %. Konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global juga melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sejak triwulan akhir 2022 hingga 2023, kurs rupiah berada di kisaran Rp 15.000-Rp 15.800.

Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal, yang menjadi indikator kinerja industri dan perdagangan dalam negeri. Perbaikan pascapandemi yang terjadi tahun 2021 sampai 2022 harus tertahan di 2023. Rapor IHSG merah karena hanya naik turun di level 6.500-6.900 sampai November 2023. Menghijau Namun, pada pengujung tahun 2023, IHSG melawan pukulan-pukulan tersebut dengan kembali menembus posisi 7.000. Pada Jumat (22/12) IHSG ditutup menguat 0,39 % di posisi 7.237. Indeks harga 7 dari 11 sektor emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta meningkat secara moderat. Banyak analisis mengatakan, kebangkitan ini terkait faktor kunci, yakni asumsi berhentinya tren kenaikan suku bunga lewat sinyal yang diberikan AS melalui bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed). BI pun kemungkinan mengikutinya dan diprediksi bakal menurunkan suku bunga acuan 50-75 basis poin di semester kedua 2024. Equity analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani, mengungkapkan, ada beberapa faktor lain yang membuat pasar modal mampu mempertahankan dirinya sehingga tidak terpuruk. Salah satunya adalah tingkat inflasi Indonesia yang rendah. BI memproyeksikan inflasi tahunan bisa terkendali di angka 3 plus minus 1 % pada 2023 dan 2,5 plus minus 1 % pada 2024. (Yoga)

Peluang Bunga Acuan Turun di Semester II-2024

HR1 22 Dec 2023 Kontan
Sedikit demi sedikit, ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) mulai terlihat. Proyeksi ini setelah bank sentral kembali menahan bunga acuannya di level 6% pada Desember 2023. BI melihat, peluang penurunan suku bunga acuan terjadi pada tahun depan, tepatnya di semester II-2024. Hal tersebut juga seiring dengan perkiraan pasar mengenai kemungkinan penurunan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed pada paruh kedua tahun 2024. Gubernur BI Perry Warjiyo mengemukakan, ada peluang penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun depan. Perry melihat, ekonomi Negeri Paman Sam masih tumbuh, bahkan lebih kuat dari perkiraan sebelumnya untuk tahun 2023 dan meski akan melambat di 2024. Dengan demikian, ketidakpastian pasar keuangan global akan mulai mereda. Namun, Perry menegaskan, keputusan penurunan suku bunga acuan BI tidak mengikuti kebijakan suku bunga The Fed. Di satu sisi, Perry optimistis inflasi di dalam negeri bergerak dalam kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%. Ia melihat, penguatan dan stabilnya nilai tukar rupiah membuat peluang inflasi bergerak rendah semakin besar. Namun di sisi lain, masih ada risiko yang datang dari pergerakan inflasi pangan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, langkah penurunan suku bunga acuan pada tahun depan akan dilaksanakan secara hati-hati, mengingat ketidakpastian masih tinggi. Josua juga melihat, ada kemungkinan penurunan suku bunga acuan The Fed. Walhasil, Josua yakin Bank Indonesia akan mengamati tekanan eksternal dari The Fed dengan hati-hati, sebelum mulai menurunkan suku bunga acuan. Hal ini juga untuk menjaga stabilitas rupiah dan memitigasi risiko inflasi barang impor (imported inflation). Sedangkan dari sisi inflasi, Josua melihat risiko inflasi pada paruh pertama tahun depan akan tinggi karena fenomena kekeirngan atau El Niño akan lebih lama dari antisipasi semula. El Niño akan memengaruhi pasokan pangan, sehingga inflasi harga bergejolak akan menjadi tantangan utama bagi bank sentral di semester I-2024. Sebaliknya, Ekonom Bank UOB Enrico Tanuwidjaja melihat tak ada peluang penurunan suku bunga acuan pada tahun depan. "BI Rate tetap di level 6% di sepanjang tahun 2024," kata dia dalam keterangannya.

Bunga Acuan Tetap 6% Antisipasi Risiko Inflasi

KT1 22 Dec 2023 Investor Daily (H)

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI (BI rate) sebesar 6,00%. Adapun kalangan ekonom menilai hal ini untuk mengantisipasi adanya risiko dari inflasi dalam negeri dan berkurangnya surplus  perdagangan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Desember 2023 tersebut, BI juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility 6,75% dalam. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan mempertahankan BI rate pada level 6% konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang prostabilitas yaitu untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5  pada 2024. "Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Perry Warjiyo. (Yetede)

BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan di Akhir 2023

KT1 21 Dec 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Kalangan ekonomi memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan, BI7-Day Reserve Repo Rate (B17DRR), sebesar 6% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 2023. Ikhtiar BI menahan suku bunga acuan dilakukan berdasarkan tingkat inflasi  yang cukup terkendali dan performa nilai tukar rupiah selama  bulan November 2023. Peneliti Center of Reform on Ecomomics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memperkirakan  BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di 6%. Namun seiring dengan potensi inflasi yang disumbangkan oleh harga pangan dan potensi dari peningkatan permintaan di kuartal I-2024, BI masih memiliki peluang  untuk menaikkan suku bunga pada tahun 2024. "Hal ini akan tergantung pada kondisi inflasi  pangan yang terjadi dan kondisi geopolitik berkembang di tahun depan," tutur Yusuf saat dihubung Investor Daily. (Yetede)

Dibayangi Tingginya Inflasi Pangan

KT1 19 Dec 2023 Tempo
JAKARTA – Menjelang tutup tahun, harga sejumlah komoditas pangan pokok terus meningkat. Kenaikan ini terekam pada grafik yang terpampang dalam laman panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas). Kenaikan harga beberapa komoditas yang mencolok antara lain gula pasir, cabai merah, cabai rawit merah, dan bawang merah. Sementara itu, beras medium dan premium relatif stabil di tingkat harga yang cukup tinggi.

Kenaikan harga pangan ini sudah terjadi sejak beberapa bulan belakangan. Harga kian memuncak lantaran tingginya permintaan menjelang periode Natal dan tahun baru dalam dua pekan terakhir. "Gula dan cabai kenaikan harganya mencolok. Sekarang yang sedang merangkak naik bawang merah, ayam, tomat, sayur-sayuran, dan daging. Harus dijaga pasokannya karena akan ada permintaan tinggi pada 21-24 Desember nanti," ujar Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri kepada Tempo, kemarin.

Komoditas pangan selama ini terus menyumbang laju inflasi di Indonesia. Pada November lalu, misalnya, inflasi tahunan sebesar 2,86 persen mayoritas disumbang oleh aneka bahan pangan. Beras memberi andil inflasi sebesar 0,58 persen; cabai merah 0,19 persen; cabai rawit 0,1 persen; daging ayam ras 0,09 persen; dan bawang putih 0,07 persen. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada November 2023 mencapai 6,71 persen dan berandil 1,72 persen terhadap inflasi umum. (Yetede)

Waspada Inflasi Pangan dan Energi Lebih Tinggi

HR1 13 Dec 2023 Kontan
Mulai tahun 2024, pengukuran tingkat inflasi diklaim akan lebih akurat. Sebab, Badan Pusat Statistik (BPS) akan melakukan pemutakhiran tahun dasar dalam perhitungan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar mengungkapkan, langkah pemutakhiran itu dilakukan lewat Survei Biaya Hidup (SBH) 2022. Sebelumnya, perhitungan IHK oleh BPS menggunakan SBH 2018. SBH adalah survei pengeluaran konsumsi rumah tangga di daerah perkotaan dan pedesaan, untuk mendapatkan pola konsumsi masyarakat sebagai bahan penyusunan diagram timbang dan paket komoditas yang baru dalam penghitungan IHK. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengungkapkan, terdapat beberapa perubahan dalam SBH 2022 dibandingkan SBH 2018. Pada 2018, cakupan kota IHK adalah 90 kabupaten/kota, dengan rincian 34 ibu kota provinsi dan 56 kabupaten/kota. Sedangkan untuk SBH 2022, ada tambahan sekitar 60 kabupaten, sehingga totalnya 150 kabupaten/kota. Selain itu, dalam SBH 2022 juga menunjukkan perubahan bobot nilai konsumsi menurut kelompok tersebut. Bobot beberapa kelompok meningkat, seperti kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mencatat peningkatan bobot nilai konsumsi sebesar 2,99 poin. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga mencatat peningkatan bobot 1,37 poin, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mencatat peningkatan bobot 0,44 poin, dan kelompok kesehatan mencatat peningkatan bobot sebesar 0,40 poin. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, perubahan tahun dasar akan berefek pada perhitungan inflasi. Terutama dengan melihat perubahan bobot di beberapa komoditas.

‘Pedasnya’ Inflasi dari Cabai

HR1 08 Dec 2023 Bisnis Indonesia

Inflasi yang mendekati akhir 2023 ini, rasa ‘pedasnya’ benar-benar serasa pedasnya cabai. Untuk November 2023, inflasi secara bulanan didominasi oleh komoditas volatile foodsterutama hortikultura yaitu cabai merah, cabai rawit dan bawang merah. Menurut BPS, cabai merah dan cabai rawit menjadi kontributor utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Sumatra dan Jawa. Pada November 2023, cabai merah mengalami inflasi bulanan 42,83% dengan andil 0,08% dan bawang merah 11,49% dengan andil 0,03%. Komoditas hortikultura tersebut telah memberikan dampak inflasi yang paling menonjol.Siklus harga komoditas hortikultura khususnya harga cabai pernah dirasakan di sebagian besar daerah pada semester I/2022, yang kemudian menjadi pendorong Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dicanangkan di Malang pada 10 Agustus 2022. Kenaikan harga komoditas hortikultura pada saat itu terjadi ditengarai karena dampak La Nina atau musim hujan yang cukup lama dalam setahun sehingga mengganggu produksi tanaman hortikultura khususnya cabai. Sedangkan kenaikan harga cabai di ujung 2023, lebih karena dampak dari El Nino atau musim panas yang panjang sehingga mengganggu produksi hortikultura khususnya cabai. Dari aspek produksi (sisi hulu), pertanian masih dihadapkan kendala yang hingga saat ini masih menjadi yang belum juga mendapatkan solusi terbaiknya. Kendala itu mengemuka dan muncul pada saat 50 petani cabai yang berasal dari sentra produksi utama cabai se Jawa Timur yang tergabung dalam Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) berembuk di Malang, pada pertengahan November 2023, untuk membicarakan tantangan yang dirasakan para petani cabai pada 2023—2024 serta dampaknya pada harga cabai. Paling tidak ada tiga kendala utama yang dihadapi para petani cabai saat ini. Pertama, fluktuasi harga yang cenderung selalu tinggi. Kedua, yaitu kendala dari sisi produksi (hulu) yang masih dirasakan hingga saat ini. Ketiga, masih terbatasnya implementasi inovasi-inovasi pertanian. Salah satu contoh inovasi yang tercetus dari para petani adalah implementasi greenhouse dengan rate of return yang baik untuk tanaman cabai karena dapat menghasilkan panen 5,2 kg/tanaman selama 11 bulan yang telah dilakukan oleh salah satu petani di Jawa Timur.

Harga Emas Naik, Cerminan Kekhawatiran

KT3 04 Dec 2023 Kompas

Tren kenaikan harga emas perhiasan dinilai merupakan respons kekhawatiran masyarakat atas ketidakpastian yang masih melanda. Naiknya harga emas juga tecermin dari terjadinya inflasi emas belakangan ini. BPS melaporkan, tingkat inflasi tahunan pada November 2023 tercatat sebesar 2,86 % dan secara bulanan sebesar 0,38 %. Emas perhiasan merupakan komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan sebesar 0,11 % dan terhadap inflasi bulanan sebesar 0,03 %. Andil komoditas emas perhiasan, baik terhadap inflasi tahunan maupun inflasi bulanan, meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yang masing-masing sebesar 0,10 % dan 0,01 %.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, inflasi yang terjadi pada komoditas emas perhiasan perlu diwaspadai. Kondisi ini dapat mengindikasikan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap prospek ekonomi ke depan. ”Kita perlu mengamati dan waspada karena kenaikan inflasi pada emas berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi yang kurang baik sehingga pemilik modal atau masyarakat pada umumnya cenderung menyimpan uangnya dalam bentuk investasi emas,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (3/11). (Yoga)