Inflasi
( 549 )Tantangan Daya Beli di Era Terakhir Jokowi
Daya beli bisa menjadi pekerjaan berat pemerintah Joko Widodo di tahun terakhirnya, 2024. Daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan berpotensi semakin tergerus inflasi. Efek El Nino masih akan menghantam harga pangan hingga tahun depan. Impor pangan dihadapkan tantangan retriksi global. Lalu, ada momen seperti Pemilu, Ramadan dan Idul Fitri yang bisa memacu inflasi di awal 2024. Aneka insentif, subsidi dengan bentuk bantuan sosial (bansos) dan perlindungan sosial (perlindos) belum mampu meredam inflasi kelas menengah dan rentan. Celakanya, kelas menengah juga terancam mengalami dompet kosong alias wallet empty lantaran hantaman inflasi. Tabungan tergerus untuk kebutuhan pokok yang naik. Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira bilang, gejolak harga pangan bisa mengerek inflasi menjadi 3,4% hingga 4,2% pada kuartal I-2024. Sementara itu, inflasi bahan makanan bisa meningkat menjadi 7,9% year on year (yoy) atau lebih tinggi dari posisi November 2023 sebesar 7,19% yoy. Menurut Bhima, regulasi upah minimum tak sesuai tantangan inflasi.
Dalam kondisi itu, yang paling kena efeknya adalah masyarakat kelompok pengeluaran menengah. Ini nampak dari pertumbuhan jumlah tabungan masyarakat kelas menengah yang terus turun akibat untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Kurniawati Yuli Ashari juga memperkirakan, inflasi kuartal I 2024 cukup tinggi ke level 3,1% yoy. Efek musiman mendekati Ramadan dan Idulfitri akan memacu inflasi. Risiko inflasi juga akan berasal dari barang impor alias imported inflation.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mewanti-wanti. Tak hanya dampak El Nino terhadap harga pangan, rencana penerapan cukai plastik dan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) akan memicu inflasi tahun depan. Hitungan dia, ada peningkatan inflasi secara moderat dari estimasi 2,81% yoy di akhir 2023 menjadi 3,17% yoy di akhir 2024.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita meramal, inflasi baru akan meningkat di pertengahan 2024, imbas berakhirnya masa panen raya.
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengklaim, pergerakan harga pangan relatif moderat di 2024. Kenaikan akan terjadi hingga April 2024. Adanya potensi peningkatan permintaan masyarakat karena pemilu serta Ramadan dan Idulfitri jadi pendorong.
Akal Jitu ”Emak-emak” Hadapi Kenaikan Harga Pangan
Lonjakan harga pangan membuat ”emak-emak” kalang kabut.
Mereka harus mengeluarkan sejuta akal demi mengatur keuangan, mulai dari
berburu promo diskon, membatasi uang belanja, hingga menakar kebutuhan sambal. Riana
(34) tersenyum kecut saat berbelanja di Pasar Kebayoran Lama, Jaksel, Selasa (26/12)
siang, uang Rp 100.000 di dompetnya belum cukup membeli semua daftar
kebutuhannya. Ia hanya membeli satu ayam potong, setengah kg telur ayam,
setengah kg bawang merah dan bawang putih, serta seperempat cabai. Beberapa sayuran
yang ia beli pun hanya setengah porsi biasanya. Sisa uangnya Rp 50.000 juga digunakan
membeli tempe dan bumbu masak lainnya. ”Uang belanja sayur, lauk, dan kebutuhan
dapur saya patok Rp 150.000 per minggu. Kalau tidak begitu, bisa lebih besar pasak
daripada tiang,” ucap Riana menganalogikan biaya hidup yang semakin membengkak.
Data infopangan.jakarta.go.id per Selasa (26/12) mencatat
kenaikan harga cabai rawit merah, cabai merah besar, hingga bawang merah di sejumlah
pasar. Harga cabai merah keriting, naik Rp 4.000 menjadi Rp 44.000 per kg dibandingkan
sehari sebelumnya. Harga beras medium mencapai Rp 13.000 per kg atau di atas
HET, Rp 10.900 per kg. Di tengah lonjakan harga pangan itu, Riana mengaku tak mudah
mengatur uang belanja. Hampir separuh gaji suaminya sudah terpakai untuk
membayar kontrakan, tagihan listrik, pulsa, dan internet. Ia harus
pintar-pintar mengatur agar kebutuhan bulanan keluarga tak lebih dariRp 2 juta,
agar dia masih bisa menabung minimal Rp 100.000 setiap bulan.
Ia tak hanya berbelanja ke pasar tradisional, tetapi juga
supermarket demi berburu diskon membeli minyak goreng, gula pasir, detergen,
tisu, dan makanan ringan. Riana juga mengejar hadiah jika membeli produk
tertentu. Tidak hanya konsumen, pedagang makanan pun harus berhemat. Solikhah
(35), pemilik warung makan Magelang di Pasar Kramat Jati, Jakarta, mengaku
kerepotan akibat ”pedasnya” harga cabai. ”Naiknya harga cabai 2 bulan lalu
membuat saya harus mengurangi porsi membuat sambal. Jika biasanya buat sam bal
pakai cabai 1 kg, sekarang hanya setengahnya,” katanya. Porsi sambal kepada
pembeli pun berkurang. ”Jika dahulu setiap porsi makan bisa 1-2 sendok makan
berisi sambal, saat ini paling hanya dua sendok teh. Kalau mau nambah, ya, harga
makanannya dinaikkan,” kata Solikhah. (Yoga)
Salah Arah Mengatasi Masalah Beras
Pemerintah hendaknya lebih serius lagi dalam memitigasi dampak El Nino yang mempengaruhi anjloknya produksi beras nasional. Musim kering akibat perubahan iklim tersebut menyebabkan mundurnya masa tanam padi yang berimbas bergesernya masa panen raya kali ini. Hal itu berpotensi membuat defisit beras pada 2024 lebih panjang. Sebagai dampak El Nino, musim tanam yang biasanya dimulai pada Oktober-November kini mundur ke Desember 2023, bahkan Januari mendatang. Akibatnya, masa panen ikut mundur dari seharusnya dimulai pada Februari bergeser menjadi Maret atau April 2024.
Konsekuensinya, defisit kebutuhan beras pun bisa menjadi lebih panjang daripada biasanya karena panen raya mundur dari Maret-April menjadi April-Mei atau bahkan Mei-Juni 2024. Kerangka Sampel Area amatan Badan Pusat Statistik pada November 2023 memproyeksikan produksi beras pada Januari dan Februari 2024 hanya sebesar 0,93 juta ton dan 1,32 juta ton. Dengan tingkat konsumsi masing-masing 2,54 juta ton dalam dua bulan tersebut, diprediksi Indonesia mengalami defisit beras 1,61 juta ton pada Januari 2024 dan 1,22 juta ton pada Februari 2024. Bila tidak ada mitigasi yang memadai, stok yang terus menipis itu akan membuat paceklik beras jadi lebih panjang. Harga beras akan terus melambung. Kondisi pangan saat ini akan makin sempoyongan. Ancaman inflasi pun mengintai. (Yetede)
Siasat Bertahan Hidup di Jakarta
Biaya hidup tinggi memaksa warga Jakarta bersiasat agar bisa
bertahan. Ada yang mencari cuan tambahan dengan mencari pekerjaan sampingan
hingga memilih hidup prihatin guna menyesuaikan pendapatan dengan pengeluaran. Noer
(50), penjual rujak ulek di Pasar Rawajati, Pancoran, Jaksel, menjual tiap
porsi rujak ulek Rp 15.000. Sudah 35 tahun Noer menjadi pedagang rujak ulek.
Dari sana ia membiayai hidupnya dan keluarga. Ia memilih hidup sendiri,
sementara istri dan anak di Brebes, Jateng. ”Biaya hidup di Brebes lebih murah
dibanding harus tinggal di Jakarta,” kata ayah tiga anak ini, Selasa (26/12). Penghasilannya
per hari berkisar Rp 100.000-Rp 150.000 per hari, tergantung jumlah pelanggan
yang datang. Agar bisa mengirim uang ke keluarganya, Noer memilih hidup dengan
biaya makan tak lebih dari Rp 50.000 per hari dan tinggal di kosan kecil Rp 1,5
juta per bulan. Noer merasa biaya hidup di Jakarta setiap tahun kian tinggi.
”Jika menjual rujak tidak lagi cukup, saya memilih pulang ke Brebes,” ucapnya. Yeski
Kelsederi (31), warga Pancoran, Jaksel, juga harus mengelola keuangan agar gajinya
sebagai ASN cukup untuk sebulan. Dalam sebulan, ia mengeluarkan uang Rp 15
juta-Rp 20 juta. ”Beruntung suami saya juga bekerja sehingga kami bisa berbagi
beban,” lanjutnya. Melihat dari komposisi kebutuhan, biaya tertinggi adala
untuk makan dan biaya transpor sehari-hari, biaya untuk sekolah bagi anak
tunggalnya, sewa rumah, dan tagihan listrik.
”Terkadang, untuk memenuhi kebutuhan, suami saya mencari
pekerjaan tambahan di luar kantornya,” ujar Yeski. Di kawasan padat penduduk,
sejumlah warga memilih tinggal berdesakan di satu rumah. Fenomena ini terlihat
di Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakpus. Irma Suryani (55) tinggal bersama
11 anggota keluarganya di rumah dua lantai dengan luas 22 meter persegi dengan
kamar mandi 1 x 1 meter yang digunakan bersama empat tetangga. Mereka memilih
hidup berdesakan guna menekan biaya. Di wilayah itu, sebagian besar warga bekerja
sebagai pedagang, pengamen, dan tukang parkir. Berdasarkan Survei Biaya Hidup
Tahun 2022 yang dikeluarkan BPS, kebutuhan biaya hidup rumah tangga di Jakarta
mencapai Rp 14,88 juta per bulan., tertinggi di Tanah Air. Anggota Fraksi PKS
DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin, meminta Pemprov DKI Jakarta mencermati kenaikan
biaya hidup itu karena tidak sebanding dengan upah minimum provinsi (UMP) 2024
sebesar Rp 5.067.381. Biaya hidup di Jakarta bertambah Rp 1,43 juta dari survei
tahun 2018 sehingga menjadi Rp 14,88 juta, sedangkan UMP bertambah Rp 1.419.346
dari tahun 2018 sehingga menjadi Rp 5.067.381. ”Perlu ditinjau lagi besaran
upah di Jakarta. Harus ada penyesuaian dengan tuntutan biaya hidup. (Yoga)
Prospek Cerah Pasar Modal 2024
Di pengujung tahun 2023, pasar modal Indonesia mampu
menunjukkan ketahanannya di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan politik.
Banyak negara menderita inflasi tinggi karena gangguan rantai pasok dan
geopolitik negara-negara pemasok energi di tengah perang Ukraina-Rusia. AS
mengalami kenaikan inflasi hingga 9,1 % pada Juni 2022. Kenaikan inflasi
dikendalikan dengan terus menaikkan suku bunga acuan, yang perlahan menurunkan
inflasi menjadi 3,1 % pada November 2023. Namun, situasi itu membuat banyak negara,
termasuk Indonesia, harus ikut menaikkan tingkat suku bunga sehingga masyarakat
menahan belanjanya. Sejak Agustus 2022 hingga Oktober 2023, Indonesia menaikkan
suku bunga acuan 250 basis poin dari 3,5 % menjadi 6 %. Konflik geopolitik dan
ketidakpastian ekonomi global juga melemahkan nilai tukar rupiah terhadap
dollar AS. Sejak triwulan akhir 2022 hingga 2023, kurs rupiah berada di kisaran
Rp 15.000-Rp 15.800.
Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal, yang menjadi indikator kinerja industri
dan perdagangan dalam negeri. Perbaikan pascapandemi yang terjadi tahun 2021
sampai 2022 harus tertahan di 2023. Rapor IHSG merah karena hanya naik turun di
level 6.500-6.900 sampai November 2023. Menghijau Namun, pada pengujung tahun
2023, IHSG melawan pukulan-pukulan tersebut dengan kembali menembus posisi 7.000.
Pada Jumat (22/12) IHSG ditutup menguat 0,39 % di posisi 7.237. Indeks harga 7
dari 11 sektor emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta meningkat secara
moderat. Banyak analisis mengatakan, kebangkitan ini terkait faktor kunci,
yakni asumsi berhentinya tren kenaikan suku bunga lewat sinyal yang diberikan
AS melalui bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed). BI pun kemungkinan
mengikutinya dan diprediksi bakal menurunkan suku bunga acuan 50-75 basis poin
di semester kedua 2024. Equity analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas
Krisna Ramadhani, mengungkapkan, ada beberapa faktor lain yang membuat pasar
modal mampu mempertahankan dirinya sehingga tidak terpuruk. Salah satunya
adalah tingkat inflasi Indonesia yang rendah. BI memproyeksikan inflasi tahunan
bisa terkendali di angka 3 plus minus 1 % pada 2023 dan 2,5 plus minus 1 % pada
2024. (Yoga)
Peluang Bunga Acuan Turun di Semester II-2024
Bunga Acuan Tetap 6% Antisipasi Risiko Inflasi
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI (BI rate) sebesar 6,00%. Adapun kalangan ekonom menilai hal ini untuk mengantisipasi adanya risiko dari inflasi dalam negeri dan berkurangnya surplus perdagangan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Desember 2023 tersebut, BI juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility 6,75% dalam. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan mempertahankan BI rate pada level 6% konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang prostabilitas yaitu untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 pada 2024. "Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Perry Warjiyo. (Yetede)
BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan di Akhir 2023
Dibayangi Tingginya Inflasi Pangan
Waspada Inflasi Pangan dan Energi Lebih Tinggi
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









