Inflasi
( 547 )Dari ”Wild Card” Inflasi hingga Penyelewengan Beras Bulog
Lembaga Penelitian Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) menyebutkan
El Nino menjadi wild card atau faktor penentu inflasi di kawasan ASEAN+3. Meski
di Indonesia kenaikan harga beras yang berandil paling besar terhadap inflasi
tidak hanya akibat dampak El Nino, tetapi juga didorong ulah oknum yang menyelewengkan
beras Perum Bulog. AMRO, Rabu (4/10) merevisi naik proyeksi inflasi di kawasan ASEAN+3
serta pada 2023 dan 2024. ASEAN+3 merupakan negara-negara anggota ASEAN, serta
Jepang, China, dan Korea Selatan. Tingkat inflasi kawasan itu diperkirakan 6,5
% pada 2023 dan 3,8 % pada 2024, dinaikkan dari proyeksi inflasi pada Juli
2023, yakni 6,3 % pada 2023 dan 3,4 % pada 2024. Khusus Indonesia, AMRO justru
menurunkan perkiraan inflasi pada 2023 menjadi 3,8 % dari proyeksi Juli 2023
yang 3,9 %.
Proyeksi inflasi Indonesia pada 2024 tetap sama
dengan proyeksi tiga bulan lalu, yakni 2,8 %. Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor
mengatakan, kenaikan harga pangan dan energi global dalam beberapa bulan terakhir
telah memicu kekhawatiran terjadinya lonjakan harga komoditas. Lonjakan harga
komoditas itu dapat berimbas pada kenaikan inflasi. September 2023 harga
rata-rata beras nasional di tingkat eceran Rp 13.799 per kg, naik 5,61 % secara
bulanan dan 18,44 secara tahunan. Hal itu menjadikan beras sebagai komoditas
penyumbang utama inflasi September 2023 yang sebesar 0,19 % secara bulanan dan
2,28 % secara tahunan. Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan itu
masing-masing 0,18 % dan 0,55 %.
Selain itu, ada faktor lain yang menyebabkan harga beras di
pasar masih tinggi meskipun operasi pasar beras telah digulirkan. Faktor
tersebut adalah penyelewengan beras Perum Bulog, yakni mengemas ulang beras
Bulog kemudian dijual dengan harga lebih tinggi. Dirut Perum Bulog Budi Waseso menyatakan,
ada oknum-oknum yang mengganti kemasan beras Bulog dengan kemasan beras premium.
Setelah itu, beras yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau itu dijual
kembali dengan harga lebih tinggi setara harga beras premium. (Yoga)
Harga Beras dan Gula di Jateng Picu Inflasi
PENGENDALIAN INFLASI : HUB KRUSIAL BUMI CENDRAWASIH
Terminal Peti Kemas Jayapura yang berada di Kota Jayapura, Provinsi Papua, masih memainkan peran sentralnya sebagai hublogistik barang dan jasa untuk Pulau Papua, terutama komoditas pangan guna mengendalikan laju inflasi Bumi Cendrawasih.
Bahkan, keberadaan Terminal Peti Kemas (TPK) Jayapura dinilai sangat penting bagi kelangsungan distribusi barang dan jasa untuk memasok kebutuhan Provinsi Papua secara menyeluruh.Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua Juli Budi Winantya.Dia mengungkapkan bahwa sekitar 51% dari kabupaten/kota di wilayah Papua merupakan landlocked area yang mengandalkan angkutan udara. Sementara itu, 49% lainnya mengandalkan distribusi yang menggunakan angkutan laut.“Pelabuhan Jayapura ini menjadi hub krusial perdagangan komoditas strategis dalam mendukung pemenuhan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, sehingga laju inflasi pun dapat terkendali,” katanya saat ditemui Bisnis di Jayapura, Selasa (3/10).Data BI Papua menunjukkan bahwa tingkat inflasi Papua pada kuartal II/2023 sebesar 4,13% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Angka ini cenderung turun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Setidaknya terdapat 14 kabupaten dan 1 kota di Papua yang mengandalkan pasokan bahan pangan maupun material yang dikirim melalui TPK Jayapura.
Bahkan, sebanyak 99% barang logistik yang berlabuh di TPK Jayapura masih harus dikirim ke belasan kota/kabupaten itu dengan menggunakan pesawat.
Manager Operasi TPK Jayapura Jems Yeffry Fonataba memandang bahwa penurunan arus peti kemas tersebut disebabkan oleh melemahnya konsumsi dan daya beli masyarakat di Papua. Pasalnya, selama ini logistik yang masuk melalui TPK Jayapura kebanyakan adalah bahan pangan dan material bangunan.
Kendati demikian, Pengamat kepelabuhanan sekaligus Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menilai bahwa sejauh ini Pelindo telah berupaya menunjukkan eksistensinya dalam memberikan pelayanan pengguna.
Di sisi lain, Walikota Jayapura Frans Pekey mengatakan, Pemerintah Kota Jayapura telah memberikan kebijakan pelonggaran jam operasional untuk pelabuhan selama 24 jam dari sebelumnya dibatasi, terutama pada hari Minggu lantaran banyak masyarakat yang beribadah.
Di Balik (Angka) Inflasi
Dalam Asian Development Outlook edisi September 2023 yang
dirilis pada Rabu (20/9) Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan proyeksi
inflasi Indonesia. Tingkat inflasi Indonesia pada 2023 direvisi menjadi 3,6 %
dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 4,2 % pada proyeksi April 2023. Kendati
begitu, ADB juga mengingatkan, laju penurunan inflasi itu dapat terhambat gegara
dampak El Nino. Kementan memperkirakan dampak El Nino sedang dapat menyebabkan
produksi beras berkurang sebanyak 380.000 ton beras. Namun, jika yang terjadi
El Nino kuat, produksi beras yang hilang bisa mencapai 1,2 juta ton. Penurunan
produksi itu akan diikuti dengan kenaikan harga gabah dan beras sehingga akan
berujung pada kenaikan inflasi. Hal itu terindikasi dari kenaikan harga beras yang
terjadi sejak Juli 2023. Hingga September 2023, BPS mencatat, harga rata-rata
beras secara nasional di tingkat penggilingan Rp 12.708 per kg, grosir Rp
13.037 per kg, dan eceran Rp 13.799 per kg. BPS juga menyebutkan, kenaikan
harga beras yang tajam justru terjadi di sentra-sentra produksi padi nasional,
seperti Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, dan Sulsel. Hal ini mengindikasikan
terjadinya penurunan pasokan beras akibat penurunan produksi padi di sentra-sentra
produsen beras tersebut.
Hal itulah yang menjadikan beras sebagai penyumbang utama
inflasi September 2023 sebesar 0,19 % secara bulanan dan 2,28 % secara tahunan.
Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan itu masing-masing 0,18 % dan
0,55 %. Inflasi beras juga tinggi, yakni 5,61 % secara bulanan dan 18,44 %
secara tahunan. Tahun ini, pemerintah optimistis inflasi akan terkendali dan
terjaga sesuai target BI dan pemerintah, di kisaran 2-4 %. Kendati begitu, di balik
optimisme dan angka inflasi itu, masyarakat kelas bawah yang paling menanggung
kenaikan harga beras itu. Masyarakat kelas menengah juga harus merogoh kocek lebih
dalam untuk membeli beras. Bahkan, petani yang merupakan produsen padi terpaksa
harus membeli beras dengan harga lebih mahal saat stok gabah di rumah habis. Penyebab
lain tergerusnya dompet masyarakat adalah akumulasi kenaikan sejumlah harga
barang dan jasa, termasuk BBM, minyak goreng, dan tarif angkutan umum, belum sebanding
dengan kenaikan upah atau gaji. (Yoga)
Beras Melambung, Inflasi Tak Terbendung
NORMALISASI ‘SEMU’ INFLASI RI
Gejolak Harga Pangan & Komoditas Kerek Inflasi
PENGENDALIAN INFLASI : Kolaborasi Krusial Kelola Harga Pangan
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Riau memandang bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan pihak terkait lainnya dalam pengendalian inflasi, memainkan peran penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang memiliki penghasilan rendah.Kepala KPw BI Riau Muhamad Nur menyoroti berbagai tantangan dalam pengendalian infl asi di Provinsi Riau. Dia menilai pasokan pangan di Riau hingga kini masih bergantung kepada daerah-daerah tetangga.“Khususnya komoditas seperti beras, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, daging sapi, dan lainnya merupakan komoditas yang sangat penting, dan Riau masih sangat bergantung kepada pasokan dari daerah tetangga,” katanya saat peluncuran Gerakan Nasional Pengendalian Infl asi Pangan (GNPIP) di Desa Pambang Baru, Bengkalis, Selasa (26/9).Oleh karena itu, KPw BI Riau dan pemerintah daerah telah menjalankan berbagai upaya ekstra, termasuk lewat tujuh program unggulan GNPIP.
Nur meyakini bahwa jika program ini berhasil, maka inflasi akan tetap terkendali dalam level rendah dan stabil, yang akan berdampak positif kepada kesejahteraan masyarakat.Gubernur Riau Syamsuar mengakui pentingnya upaya bersama seluruh instansi terkait, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan lembaga lainnya dalam pengendalian inflasi.
Beras, Gula, dan BBM Bakal Picu Inflasi September Ini
Pengendalian inflasi pada bulan ini hingga akhir tahun bakal
semakin menantang. Kenaikan harga beras dan gula pasir, serta penyesuaian harga
BBM nonsubsidi, diperkirakan bakal memicu inflasi pada September 2023. Di sisi
lain, defisit beras masih mengintai hingga November 2023. Plt Kepala BPS Amalia
Adininggar Widyasanti, Senin (25/9) mengatakan, pada pekan ketiga September 2023,
harga beras masih naik dan belum ada tanda-tanda bergerak mendatar atau turun. Harga
rata-ratanya mencapai Rp 13.477 per kg. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan
harga beras semakin banyak. Pada pekan pertama September 2023, jumlahnya
sebanyak 230 daerah, kemudian pada pekan ketiga 2023 bertambah menjadi 284
daerah.
”Bahkan, Purwakarta yang merupakan daerah produsen beras
besar di Jabar menempati urutan keempat dari 10 kabupaten/kota dengan kenaikan
indeks perkembangan harga (IPH) tertinggi. Beras menjadi komoditas utama yang memengaruhi
kenaikan IPH itu,” ujarnya dalam Rapat Pengendalian Inflasi yang digelar
Kemendagri secara daring di Jakarta. BPS mencatat, IPH komoditas pangan
Purwakarta pada pekan ketiga September 2023 sebesar 3,41 %. Dari IPH itu, 3,21 %
berasal dari kenaikan harga beras, selain itu harga gula pasir juga meroket, pada
pekan ketiga September 2023 mencapai Rp 15.134 per kg, yang terjadi di 236 kabupaten/kota.
”Kenaikan harga beras dan gula akan berkontribusi terhadap inflasi September
2023. Selain itu, inflasi juga berpotensi disumbang bensin dan solar nonsubsidi.
Namun, inflasinya tidak akan setinggi sebelumnya,” katanya. (Yoga)
Meredam Risiko Inflasi Pangan
Risiko kenaikan inflasi yang dipicu oleh merambatnya harga pangan mulai mengemuka seiring dengan berkurangnya pasokan di sejumlah daerah akibat musim kemarau berkepanjangan sebagai dampak dari El Nino. Kenaikan harga ini tampak dari gejolak harga sejumlah komoditas pangan, terutama beras yang menurut perhitungan Bank Indonesia sudah naik 4,4% pada September 2023. Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar kenaikan harga pangan tidak berdampak terhadap inflasi. Adalah Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman saat pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur pekan ini menjelaskan kenaikan harga beras dipengaruhi musim dan fenomena iklim El Nino yang akan berlangsung lebih lama dari prakiraan awal. Akan tetapi, risiko kenaikan harga pangan ini diyakini masih dalam kendali agregat sasaran 3 +/- 1 persen pada tahun ini sejalan dengan upaya bank sentral untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah guna memastikan inflasi tetap terkendali. Bahkan bank sentral meyakini inflasi bisa ditekan pada kisaran 2,8 persen pada tahun 2024.Harian ini menilai tingkat inflasi rendah yang terjadi hingga kini belum menjadi jaminan kondisi itu akan terus bertahan karena masih banyak tantangan yang bakal dihadapi pemerintah. Selain itu, faktor lain yang tak kalah penting untuk dicermati berasal dari risiko kenaikan harga energi yang berisiko naik setelah Arab Saudi dan Rusia sepakat memangkas produksi hingga akhir tahun. Ditambah lagi cadangan minyak di Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil shale oil teratas mulai memperlihatkan tanda-tanda penurunan. Impitan terhadap harga energi akan makin terasa karena dua raksasa ekonomi terbesar dunia yakni AS dan China mulai bangkit yang imbasnya dapat menaikkan harga karena permintaan meningkat, sementara pasokan turun. Bahkan beberapa lembaga keuangan meyakini harga komoditas energi itu bakal kembali ke kisaran US$100 per barel dalam waktu yang tak terlalu lama. Dari dalam negeri, munculnya fenomena pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir juga perlu mendapat atensi. Situasi ini yang mendorong kalangan pengusaha seperti Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia mendesak pemerintah melipat-gandakan pasokan beras di ritel modern guna membantu menjinakkan gejolak harga beras di pasaran.
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









