Inflasi
( 547 )PENGENDALIAN INFLASI SUMSEL : Peningkatan Tarif Transportasi Diwaspadai
Tim pengendali inflasi daerah (TPID) di Sumatra Selatan dinilai patut mewaspadai peningkatan tarif transportasi dalam upaya mengendalikan laju inflasi di wilayah tersebut. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, M Latif, mengatakan kewaspadaan menjadi keharusan kendati provinsi tersebut pada Agustus 2023 mengalami deflasi sebesar 0,04% secara bulanan (month-to-month). Pasalnya, jelas dia, kenaikan tarif sejumlah moda transportasi bisa menjadi ancaman. Pihaknya juga memperkirakan akan ada peningkatan pada tarif udara dan angkutan antarkota bertepatan dengan momen libur Hari Raya Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhir September 2023. Meski demikian, kata Latif, inflasi di Bumi Sriwijaya juga diprediksi akan tertahan oleh periode panen raya padi, yang akan terjadi pada bulan ini. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel melaporkan pada Agustus 2023 terjadi inflasi 3,19% secara tahunan (year-on-year) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,68. Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto memerinci inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Menurutnya, kelompok transportasi menjadi kontributor terbesar.
Waspada Lonjakan Inflasi Jangka Pendek
Meski semakin landai, pergerakan inflasi masih menjadi ancaman perekonomian dalam negeri. Tak hanya harga pangan, tetapi juga kenaikan harga energi.
Berdasarkan data terkini Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi Indonesia pada Agustus 2023 mencapai 3,27%
year on year
(yoy). Meski tetap dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI), tingkat inflasi tahunan selama Agustus tahun ini rupanya lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 3,08% yoy.
Salah satu penyumbang kenaikan inflasi pada bulan lalu adalah komponen harga bergejolak. Komponen ini mencatat inflasi sebesar 2,42% yoy, setelah pada Juli 2023 mencatat deflasi 0,03% yoy.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi selama setahun terakhir adalah beras, bawang putih, daging ayam ras, serta telur ayam ras. Harga beras, baik medium maupun premium, mengalami kenaikan dibandingkan dengan periode yang sama sepanjang tahun sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual pun mengingatkan, kenaikan harga pangan masih menjadi momok bagi pergerakan inflasi di sisa tahun ini maupun pada tahun depan. "Risiko timbul dari fenomena El Nino, yang bila berkepanjangan akan menimbulkan gagal panen," ungkapnya kepada KONTAN, Minggu (3/9).
Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo juga mewanti-wanti soal potensi kenaikan inflasi dalam jangka pendek. Terutama, karena lonjakan harga pangan imbas dari fenomena El Nino.
Tak hanya harga pangan, Banjaran mengingatkan hal lain yang mampu menyundut inflasi, yakni kenaikan harga minyak mentah global. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan biaya pendidikan juga berpotensi mengerek tinggi inflasi dalam jangka pendek.
Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita menambahkan, wacana Pertamina menghapus Pertalite dan menggantinya dengan Pertamax Green 92 pada tahun depan berpotensi besar turut menyulut inflasi berlari kencang.
Menjaga Inflasi & Mendorong Daya Beli
Tingkat inflasi yang tetap terjaga hingga memasuki kuartal III tahun ini kian membuka peluang percepatan pemulihan ekonomi Indonesia untuk segera memperkuat lini sumber pertumbuhan pengganti pelemahan ekspor akibat masih tertekannya permintaan global. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi sebesar 3,27% pada Agustus 2023 secara tahunan. Adapun untuk perhitungan secara bulanan, BPS mencatat deflasi sebesar 0,02%. Tingkat inflasi tersebut menurun dibandingkan dengan posisi inflasi bulan sebelumnya. Realisasi inflasi ini bahkan lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan para ekonom sebelumnya yang menduga inflasi pada Agustus akan naik bila dibandingkan dengan posisi Juli 2023. Sejatinya, inflasi rendah ini dapat dimaknai seperti dua sisi berbeda yaitu sebagai indikator keberhasilan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga. Faktanya, inflasi Indonesia memang termasuk salah satu yang terendah di dunia. Akan tetapi di sisi lain, inflasi rendah ini juga dapat dimaknai sebagai indikator daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Belanja masyarakat masih rentan kehabisan daya dorong pasca-perayaan dua hari besar sebelumnya seiring dengan besarnya pengeluaran rutin yang dialokasikan pada tengah tahun lalu saat memasuki musim anak sekolah. Selain itu, inflasi rendah saat ini juga belum berada dalam posisi aman karena ketahanan pangan domestik masih dibayangi risiko terganggunya rantai pasokan pangan akibat dinamika geopolitik. Konflik Rusia-Ukraina yang belum berakhir, dampak El Nino, masih ketatnya kebijakan moneter dan likuiditas dapat berdampak pada kenaikan suku bunga menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Begitu pula dengan risiko volatilitas pasar keuangan global, serta meningkatnya biaya utang dapat menjadi faktor pemicu cost push inflation di kemudian hari. Cost push inflation adalah inflasi yang terjadi disebabkan oleh biaya produksi sehingga jumlah produk beredar terbatas tetapi permintaan stabil bahkan cenderung turun.
INDEKS HARGA KONSUMEN : OPTIMISME PENUH JAGA INFLASI
Optimisme terhadap perekonomian nasional tetap terjaga meski Badan Pusat Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi secara tahunan pada Agustus 2023 meningkat menjadi 3,27%, dari bulan lalu yang ada di kisaran 3,08% Ekonom Bank Danamon Irman Faiz meyakini inflasi pada bulan ini akan kembali melandai setelah bulan lalu terdorong oleh inflasi musiman, utamanya dari kelompok pendidikan. Inflasi pada sisa tahun ini pun diyakini bakal bergerak terkendali di kisaran target Bank Indonesia (BI) di level 3% plus minus 1%. “September nanti ada potensi inflasinya di bawah 3%, karena efek base yang tinggi pada tahun lalu,” katanya, dikutip Jumat (1/9). Keyakinan yang sama disampaikan oleh Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual yang menyebut inflasi bakal lebih terkendali di sisa tahun ini, meski capaian pada Agustus lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 3,08%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini memang mencatat peningkatan inflasi secara tahunan pada Agustus terjadi seiring dengan peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,57 pada Agustus 2022 menjadi 115,22 pada Agustus 2023. Pudji menjelaskan bahwa berdasarkan kelompok pengeluaran, transportasi tercatat menjadi kelompok yang mengalami inflasi tertinggi, yakni di angka 9,65% year-on-year (YoY). Sementara itu, komoditas Solar turut menyumbangkan inflasi sebesar 0,03%, sedangkan tarif kereta api 0,03%. Selain itu, inflasi dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi sebesar 3,51% YoY dengan andil 3,27%terhadap inflasi umum. Adapun, Bank Indonesia menilai gerak inflasi yang terjaga merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter, serta sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. Secara tahunan, inflasi inti Agustus 2023 tercatat sebesar 2,18% YoY, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,43% YoY. Selain itu, inflasi kelompok volatile food juga tercatat menurun. Kelompok volatile food pada Agustus 2023 mengalami deflasi sebesar 0,51% secara bulanan, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang inflasi sebesar 0,17%. Sementara itu, Presiden Joko Widodo menyadari betul bahwa intaian inflasi masih belum sepenuhnya meninggalkan Tanah Air. Aneka siasat pun kembali disiapkan oleh pemangku kebijakan untuk dapat merebut kembali IHK.
Waspadai Inflasi Pangan akibat El Nino
Kekeringan akibat El Nino diperkirakan dapat membuat Indonesia kehilangan produksi beras hingga 1,2 juta ton. Fenomena iklim itu berpotensi menekan produksi pangan dunia dan membuat pemerintah sejumlah negara produsen mengutamakan kebutuhan domestik mereka. Pemerintah diingatkan untuk mewaspadai inflasi pangan. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/8) Presiden Jokowi mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mewaspadai potensi lonjakan inflasi pangan akibat El Nino. Fenomena yang melanda dunia ini akan memaksa negara-negara pemasok pangan menghentikan ekspor karena memilih untuk mengamankan pasokan bagi kebutuhan dalam negeri terlebih dulu.
”El Nino mengakibatkan kekeringan ekstrem dan diprediksi berlangsung hingga awal 2024.Kalau semua negara mengerem ekspor, apa yang bisa menyelamatkan negara kita, ya, diri kita sendiri. Minta bantuan atau beli beras atau gandum ke negara yang sudah stop ekspor, ya, tidak bisa,” ujar Presiden. Gejala kenaikan harga pangan tecermin pada komoditas beras. BPS mencatat, beras menyumbang inflasi 0,38 % secara tahunan pada Juli 2023. Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR, Rabu (30/8) menyebutkan, El Nino akan menggerus produksi beras nasional. ”Analisis kami, kita akan kehilangan 380.000 ton beras karena El Nino sedang. Kalau El Nino sangat kuat, kita kehilangan 1,2 juta ton beras. Itu (analisis kehilangan beras) yang membuat kita harus menyediakan penanaman baru 500.000 hektar (ha),” kata Syahrul. (Yoga)
STRATEGI KUNCI PENGENDALI INFLASI
Meski secara bertahap berhasil merebut kendali inflasi, otoritas moneter dan pemerintah tetap harus berjibaku menjaga stabilitas indeks harga konsumen (IHK) pada sisa tahun ini dan warsa mendatang. Pasalnya masih bertebaran kerikil penghambat stabilisasi inflasi yang tak boleh diabaikan. Misalnya anomali cuaca yang mengoyak harga pangan, serta kenaikan output maufaktur.El Nino yang melanda Tanah Air terbukti menjadi penggerak harga pangan strategis. Tak pelak, inflasi harga bergejolak pun diestimasi menanjak.Demikian pula output manufaktur yang diprediksi terus meningkat setelah pelaku industri menaikkan harga jual sebagai imbas dari biaya impor bahan baku yang kian mahal.Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg pun memperkirakan inflasi Agustus 2023 lebih tinggi dengan estimasi rata-rata 3,33% (year-on-year/YoY), di atas Juli yang hanya 3,08%.Situasi tak kalah menantang juga berpotensi terjadi pada 2024 menyusul digelarnya pemilihan umum (Pemilu) yang akan mengungkit konsumsi sehingga memberikan efek di sisi permintaan.Apalagi, target inflasi 2024 terbilang ambisius, yakni 2,8% sebagaimana disepakati pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dalam Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2024.Presiden Joko Widodo, pun menyadari betul bahwa intaian inflasi masih belum sepenuhnya meninggalkan Tanah Air.
Sebaliknya, bayang-bayang lesatan inflasi muncul dari terhambatnya distribusi barang di level global, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), dan ketegangan Rusia-Ukraina.Sejalan dengan itu, Presiden meminta otoritas fiskal dan moneter untuk melanjutkan sinergi serta bauran kebijakan sehingga pengendalian inflasi tidak mengorbankan laju ekonomi.
"Jadi [harus] kombinasi antara moneter, fiskal, dan juga pengecekan di lapangan secara langsung," kata Kepala Negara dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi, Kamis (31/8).
Dari sisi moneter, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, mengatakan bank sentral terus melakukan bauran kebijakan. Dia menambahkan, kenaikan suku bunga acuan hanya satu dari sederet siasat yang disiapkan otoritas moneter. Strategi lain adalah stabilisasi rupiah agar tak membebani inflasi impor.
Adapun dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan inflasi di Indonesia dikendalikan dengan stabilisasi harga melalui subsidi dan intervensi pasar, termasuk memastikan anggaran stok beras Bulog memadai.
Sementara itu, kalangan ekonom memandang tekanan inflasi lebih bersumber dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan distribusi barang di pasar dunia. Sebab, penguatan dolar AS mendorong pembengkakan biaya produksi yang pada gilirannya bakal dibebankan ke konsumen.
Risiko Inflasi Belum Berakhir
Risiko inflasi global dan domestik masih belum berakhir. Kondisi cuaca beserta rentetan dampaknya menjadi pemicu utama. Pemerintah harus benar-benar serius menjaga stabilitas stok dan harga pangan hingga awal tahun depan. Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) menegaskan, risiko inflasi belum berakhir. El Nino yang parah disertai dengan kekeringan, gelombang panas, banjir, dan kebakaran hutan dapat memengaruhi harga pangan dan energy secara signifikan melalui dua cara. Pertama, kondisi itu dapat merugikan hasil panen dan meningkatkan permintaan energi karena produksi listrik pembangkit listrik tenaga air lebih rendah. Ini akan mengakibatkan harga komoditas pangan dan bahan bakar global menjadi lebih tinggi.
Kedua, kondisi itu juga berpotensi menyebabkan kerusakan infrastruktur. Jika hal itu terjadi, rantai distribusi akan terganggu serta harga bahan bangunan dan barang-barang lain yang terdampak menjadi lebih mahal. ”Meski tingkat inflasi tahun ini diperkirakan lebih rendah daritahun lalu,tekanan inflasi masih ada. Pengendalian inflasi masih benar-benar diperlukan,” kata peneliti senior Unit Pendukung Kebijakan APEC, Rhea Crisologo Hernando, dalam laporan bertajuk ”Fragile Recovery and Intertwined Challenges” (APEC Bulletin, 28 Agustus 2023). Di Indonesia, El Nino diperkirakan terjadi hingga Oktober 2023. Dampaknya sudah terlihat, baik itu terhadap penurunan debit air sumber irigasi, sawah kekurangan air, maupun kenaikan harga gabah dan beras. (Yoga)
Ekonomi Tumbuh Solid, FFR Harus Tetap Naik
JACKSON HOLE,ID-Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memastikan suku bunga acuan Amerika Serikat akan tetap dinaikkan untuk menjinakkan laju inflasi. Dalam pidatonya di Jackson Hole, Wyoming, ahir pekan lalu. Powell mencatat bahwa ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan dan belanja konsumen juga terus meningkat. kedua tren itu yang menjadikan laju inflasi akan tetap tinggi. Atas dasar itu, dalam pidato di simposium tahunan The Fed Kansas City tersebut Powell menegaskan bahwa tekad The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi sampai inflasi turun ke target 2%. "Meskipun inflasi telah turun dari puncaknya, namun inflasi masih terlalu tinggi. Kami memperhatikan tanda-tanda bahwa ekonomi tidak melambat seperti yang diharapkan. kami siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan dan mempertahankan pengetatan kebijakan sampai kami yakin bahwa inflasi bergerak turun secara berkelanjutan menuju sasaran kami," tutur Powel dalam pidato utamanya itu, seperti dikutp CNBC. (Yetede)
Fenomena Baru Inflasi Global
Ketegangan antara AS dan China sudah terjadi sejak perang dagang pada masa Presiden Donald Trump. Perkembangan terbaru, eskalasi ketegangan ini tecermin dari istilah ”tech-war”, ”chip-war”, atau ”semi-conductor war” yang pada dasarnya adalah perebutan supremasi teknologi. Baru-baru ini China membatasi ekspor mineral langka germanium dan galium yang merupakan elemen penting dalam produksi semikonduktor. Sementara AS baru saja mengumumkan pembatasan bagi entitas AS untuk berinvestasi bidang hi-tech di China, termasuk di cip komputer, mikro-elektronik, teknologi informasi kuantum, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Dampak dari fragmentasi rantai pasokan dunia semakin kompleks sejak konflik Ukraina-Rusia pecah Februari 2022, yang terlihat dari inflasi biaya produksi sektor manufaktur global di angka 75 pada awal tahun 2022. Angkanya berangsur turun,tetapi sampai Maret 2023 masih di atas 50, yang berarti kenaikan biaya masih terjadi walaupun inflasinya makin melandai. Harga jual produk manufaktur juga naik sejak akhir 2021, mencapai puncaknya pada kisaran 63 dan 64 di awal 2022. Namun, kenaikan harga jual produk manufaktur lebih rendah dari kenaikan biaya produksinya. Disebabkan sisi permintaan tidak dapat mengakomodasi perubahan perilaku masyarakat pascapandemi. (Yoga)
Keyakinan Konsumen Kuat, Inflasi Perlu Dijaga
JAKARTA,ID- Ekpektasi konsumen terhadap kondisi ekonomidalam enam bulan terpantau tetap kuat, sehingga pemerintah perlu menjaga daya beli dan stabilitas harga. Sementara itu, mencapai 3,08% pada Juni 2023 yang berada dalam rentang target pemerintah yaitu 3%-1%. Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan kedepan tersebut berdasarkan Survei Konsumen periode 2023 yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI), Selasa (8/8/2023). Survei BI mencatat ekspektasi konsumen tersebut tercermin dari IEK Juli 2023 yang tercatat dalam zona optimisme sebesar 133,2 (diatas 100), meskipun lebih rendah dari bulan sebelum 137,5. Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan tetap kuat terutama didukung oleh ekspektasi penghasilan yang tercatat dalam zona optimis sebesar 136,4 pada Juli 2023, meskipun menurun dibanding Juni 2023 sebesar 138,1. "Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Juli 2023 didorong oleh indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juli 2023 masing-masing sebesar 113,8 dan 133,2, lebih rendah dari bulan sebelumnya 116,8 dan 137,5. IKE tetap terjeda antara lain didukung oleh optimisme Indeks Penghasilan Saat ini yang yang tetap kuat dan indeks Pembelian Barang Tahan Lama yang meningkat. Sementara itu, IEK tetap kuat terutama pada Indeks Ekspektasi Penghasilan," jelas Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan tertulis. (Yetede).
Pilihan Editor
-
Investasi Teknologi
10 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
Tata Kelola Bantuan Sosial Perlu Dibenahi
29 Jul 2022









