Inflasi
( 547 )Resesi AS yang Tak Kunjung Datang
Dalam situasi inflasi tinggi, strategi hard landing merupakan alternatif untuk mendinginkan perekonomian dengan memaksakan resesi (Persson dan Tabellini, 1994). Dalam hal ini, instrumen yang digunakan adalah suku bunga acuan. Risikonya, Perekonomian yang resesi menjadi semakin terpuruk, atau inflasi yang sudah tinggi semakin tinggi. Pola pemulihan ekonomi AS berbeda dari pemahaman konvensional tentang relasi antara pertumbuhan, pengangguran, dan inflasi. Data terkini di AS berbeda dari peringatan beberapa CEO dan ekonom soal resesi pada paruh kedua 2023.
The Fed pada 14 Juni 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 5 % setelah 10 kali pertemuan sebelumnya selalu menaikkannya. Indeks dollar AS melemah ke kisaran 100 karena ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juli adalah untuk terakhir kalinya. Namun, tanpa kenaikan suku bunga acuan, inflasi tetap turun menjadi 2,97 % pada Juni dari 4,05 % pada bulan sebelumnya. Sementara angka pengangguran tetap di bawah 4 %. Biro Statistik AS juga mengumumkan pertumbuhan AS pada triwulan I-2023 setelah dikoreksi adalah 2 %, jauh dari definisi resesi. Salah satu faktor penting adalah tetap kuatnya aktivitas di sektor jasa. Turunnya inflasi dan resesi yang tak kunjung datang tecermin dari indeks keyakinan konsumen terkini pada Juli. Angkanya melonjak drastis menjadi 72,6 dari 64,4 pada Juni. Masyarakat pun lebih optimistis terhadap masa depan perekonomian AS. (Yoga)
Saat Bank Sentral Global Ramai-Ramai Memerangi Inflasi
Sejumlah bank sentral dunia pekan ini akan merilis laporan kebijakan suku bunga dan pernyataan terbaru bagaimana memerangi inflasi tertinggi. Ahli strategi Goldman Sachs Michael Cahlil, seperti dilansir CNBC pada Senin (24/07/2023) menyebut pekan ini akan menjadi Minggu yang penting. "The Fed diperkirakan mengumumkan apa yang bisa menjadi kenaikan terakhir dari siklus (kenaikan suku bunga). ECB kemungkinan memberi sinyal mendekati akhir siklus suku bunga negatif. tapi BoJ bisa menjadi sorotan dengan akhirnya keluar (dari kebijakan moneter ultra longgar)," kata dia. The Fed bulan lalu menghentikan kenaikan suku bunga 10 kali berturut-turut karena menunggu data lebih lanjut ke mana arah inflasi. Angka-angka pada Juni 2023 menunjukkan inflasi harga konsumen (IHK) di AS turun ke level terendah dalam dua tahun lebih.Tapi IHK inti yang tidak termasuk harga pangan dan energi, masih naik 4,8% secara tahunan dan 0,2% pada bulan tersebut. The Fed tetap teguh pada komitmen untuk menurunkan inflasi ke target 2% dan aliran data terbaru perkuat kesan bahwa ekonomi AS terbukti tangguh. (Yetede)
MENYIBAK ARAL EKONOMI
Indeks harga konsumen yang berada di jalur menurun dalam beberapa bulan terakhir membawa cahaya terang pada teropong inflasi. Dus, sejumlah lembaga internasional pun merevisi ke bawah proyeksi inflasi di Indonesia. Contohnya Asian Development Bank (ADB) melalui Asian Development Outlook Juli 2023 yang dirilis kemarin, Kamis (20/7), memangkas proyeksi inflasi Indonesia 2023 dari 4,2% menjadi 3,8%. Pun dengan Asean+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) dalam Quarterly Update of the Asean+3 Regional Economic Outlook rilisan pekan lalu, yang menurunkan proyeksi inflasi dari 4,6% menjadi 3,9%. Tak pelak, hal itu menjadi kabar baik bagi pemangku kebijakan yang sejak pengujung tahun lalu seolah tak henti memelototi data inflasi. Namun jika dicermati, revisi ke bawah outlook inflasi patut diwaspadai karena hanya didasari pada indikator yang mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat alias sisi permintaan yang lesu. Menurut laporan ADB, inflasi turun disebabkan oleh terbatasnya daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini lantas menimbulkan risiko melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional akibat terbatasnya konsumsi. Alhasil, ADB pun memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun ini hanya tumbuh 4,8%, sementara AMRO di posisi 5%. Jika ditengok, estimasi terbaru dari dua lembaga itu sejatinya telah direspons pemerintah dengan menyesuaikan outlook Asumsi Dasar Ekonomi Makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023. Misalnya, inflasi yang dalam target APBN disasar 3,6% diestimasi sedikit merenggang di kisaran 3,3%—3,7%. Demikian pula pertumbuhan ekonomi, yang diprediksi 5%—5,3%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan fundamental ekonomi masih cukup kuat dan mampu menghadapi dinamika global yang diprediksi memberikan tekanan berat pada tahun ini. Meski demikian, Airlangga meminta kepada seluruh instansi terkait terutama pemerintah daerah (pemda) untuk mewaspadai risiko lonjakan inflasi yang menekan daya beli masyarakat. Senada, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, optimistis ekonomi nasional mampu mengelak dari tekanan, baik dari sisi inflasi maupun laju ekonomi. Salah satu pendorong optimisme itu adalah postur fiskal yang tetap dijadikan sebagai bantalan dalam rangka merespons dinamika tersebut, baik untuk mendukung sisi penawaran maupun permintaan.
Habis Pandemi, Terbitlah Disinflasi
Angka inflasi belakangan ini telah menunjukkan tren penurunan. Inflasi pada Juni 2023, misalnya, mencapai 3,52 persen secara tahunan. Angka itu lebih rendah daripada bulan sebelumnya yang bertengger persis di level 4 persen. Inflasi tampaknya lebih cepat masuk ke dalam rentang target daripada perkiraan sebelumnya. Pemerintah menetapkan target inflasi pada 2023 sebesar 3 persen plus-minus 1 persen. Konsistensi penurunan inflasi ini terasa saat memasuki awal 2023, setelah angkanya sempat meninggi pada tiga bulan terakhir 2022. Hal ini turut dipengaruhi perang Rusia-Ukraina, yang telah menyumbang pada peningkatan harga energi dan beberapa komoditas pangan di pasar global.
Paparan imbas kenaikan harga kedua komoditas strategis itu juga sampai ke Tanah Air. Kenaikan harga pangan bergejolak tak terhindarkan, meskipun harganya diatur pemerintah. "Puncak" inflasi, sebesar 5,95 persen, terjadi pada September 2022 saat pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Walhasil, disinflasi atau penurunan laju inflasi tengah berlangsung. Proses disinflasi bukan lantaran deflasi (inflasi yang minus). Besaran inflasi toh masih tetap positif, tapi selisih dari satu periode ke periode berikutnya terus mengecil. Jika tren disinflasi berlanjut, batas bawah target inflasi 2 persen bisa dicapai sampai akhir tahun. (Yetede)
Laju Inflasi Rendah, Emiten Raup Berkah
Tanda-tanda kebangkitan ekonomi nasional pasca berakhirnya pandemi Covid-19 mulai terlihat. Sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan tren positif. Contohnya tingkat inflasi yang mulai bergerak turun.
Pada Juni 2023, misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju inflasi Indonesia secara tahunan berada di posisi 3,52%. Angka inflasi ini lebih rendah dibandingkan Mei 2023 di level 4% dan Juni 2022 di kisaran 4,35%. Melandainya inflasi diproyeksi akan berdampak positif bagi kinerja sejumlah sektor industri.
Technical Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora menilai, melandainya inflasi bisa jadi sentimen positif sektor properti. Sebab, penurunan inflasi akan membuat daya beli masyarakat meningkat. "Jadi, penjualan rumah berpotensi naik," ujar Andhika kepada Kontan, Rabu (5/7).
Andhika melihat, prospek sektor properti akan semakin membaik di semester II 2023. Selain suku bunga, sentimen lainnya adalah berakhirnya
commodity boom
saat ini pun membuat harga komoditas melorot.
Associate Director
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus sepakat, inflasi yang rendah biasanya akan mendorong suku bunga turun. Ketika tingkat suku bunga turun, biasanya sektor properti, perbankan, dan teknologi akan diuntungkan.
Peningkatan kredit, kata Nico, juga akan mendorong perbankan untuk bisa menikmati tingginya margin bunga dari kreditur. Bagi emiten di sektor teknologi yang masih mengandalkan pendanaan dari perbankan, penurunan suku bunga tentu akan meringankan kinerja perusahaan.
Inflasi Melandai, Suku Bunga Masih Sulit Turun
Laju inflasi tahunan melandai ke level 3,52% pada Juni 2023. Ini merupakan laju terendah sejak April 2022. Namun, penurunan dinilai tidak cukup untuk menurunkan suku bunga ke depan.
Mengacu pada data Bank Indonesia (BI) di April 2023, suku bunga kredit memang masih memiliki tren pertumbuhan secara tahunan. Ambil contoh, bunga kredit modal kerja di periode tersebut ada di level 8,92%, lebih tinggi dari bulan yang sama di tahun lalu berada di level 8,49%.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan keputusan suku bunga acuan memang dipengaruhi proyeksi inflasi yang dikaitkan dengan targetnya. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang dipertimbangkan.
Sementara menurut
Senior Faculty
LPPI Amin Nurdin, kemungkinan bunga kredit bank tetap ada meski susah. Mengingat, saat ini BI juga belum menurunkan tingkat suku bunga acuan.
Senada, Pengamat Perbankan Universitas Bina Nusantara (Binus) Doddy Ariefianto menilai penurunan inflasi tidak semerta-merta membuat bunga kredit perbankan turun karena memang bank saat ini kurang efisien.
Dari sisi pelaku industri, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut bunga kredit saat ini lebih banyak dipengaruhi
cost of fund
yang memang naik sehubungan dengan kenaikan BI rate dalam beberapa tahun terakhir. “Namun bunga kredit sejauh ini tak mengalami kenaikan sebesar kenaikan CoF, terutama kredit korporasi,” ujarnya.
Biaya Sewa Rumah Turut Sumbang Inflasi
Beban pengeluaran masyarakat semakin bertambah. Tidak hanya akibat harga pangan dan energi yang relatif tinggi, juga lantaran kenaikan biaya kontrak rumah. Hal itu tecermin dalam inflasi bulanan, tahunan, bahkan tengah tahun atau semester I-2023. BPS, Senin (3/7) merilis, tingkat inflasi Juni 2023 mencapai 0,14 % secara bulanan. Adapun inflasi tahunan dan tahun kalender masing-masing 3,52 % dan 1,24 %. Tingkat inflasi tahunan itu masih dalam rentang inflasi yang ditargetkan pemerintah dan BI tahun ini, yakni 2-4 %. Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, inflasi pada Juni 2023 terutama dipengaruhi hari raya Idul Adha dan cuti bersama. Momen itu terutama berpengaruh terhadap kenaikan harga sejumlah pangan pokok dan tarif angkutan udara. Di sisi lain, badan usaha ritel BBM menurunkan harga jual produknya sehingga inflasi tidak naik terlalu tinggi.
Penyesuaian harga BBM itu, membuat komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) deflasi 0,02 %. Andil terbesar deflasi tersebut adalah bensin, yakni 0,01 %. Di luar komponen volatile food dan administered price, BPS menunjukkan pula kenaikan biaya kontrak rumah berandil besar terhadap inflasi bulan Juni 2023 yang mencapai 0,01 % secara bulanan dan 0,13 % secara tahunan. Biaya kontrak rumah juga jadi salah satu komponen penyumbang inflasi semester I-2023 dengan andil 0,05 %. BI menegaskan hal serupa. Inflasi pada Juni 2023 terutama dipengaruhi inflasi inti yang sebesar 0,12 % secara bulanan. Komponen yang dominan menyumbang inflasi inti tersebut adalah kontrak atau sewa rumah. (Yoga)
Inflasi pada Juni 2023 Diperkirakan Melandai
Tingkat inflasi Juni 2023 secara tahunan diperkirakan di bawah 4 %. Artinya, tingkat inflasi akan mulai berada di rentang target pengendalian inflasi 2023 yang dicanangkan BI dan pemerintah, yakni sebesar 2-4 %. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berdasarkan hitungan tim ekonom Bank Permata, tingkat inflasi Juni 2023 diperkirakan 3,64 % secara tahunan. Artinya,tingkatinflasi akan mulai masuk dalam rentang target pengendalian inflasi tahun ini. ”Tingkat inflasi tahunan menunjukkan tren melandai dan akan berlanjut pada Juni 2023,” ujar Josua saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (1/7).
BPS mencatat, tingkat inflasi Mei 2023 mencapai 4 % secara tahunan. Angka ini menurun dibandingkan inflasi April 2023 yang tercatat 4,33 % secara tahunan. Kendati demikian, secara bulanan, inflasi Juni 2023 diprediksi lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Mei 2023. Kenaikan ini berasal dari aspek harga pangan bergejolak, seperti daging, cabai merah, dan cabai rawit. Kenaikan harga beberapa komoditas itu di antaranya dipicu oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari raya Idul Adha. Selain itu, ada juga kenaikan inflasi inti. Namun, inflasi harga diatur pemerintah (administered price) justru diperkirakan turun seiring dengan penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Juni 2023. (Yoga)
AKSELERASI PERFORMA PDRB : DAERAH JAGA STABILITAS INFLASI
Performa produk domestik regional bruto atau PDRB pada paruh kedua tahun ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya adalah el nino yang diyakini akan mengganggu stabilitas inflasi di daerah.
Oleh karena itu, pemerintah daerah dan kantor perwakilan Bank Indonesia terus menggalakkan sejumlah upaya guna menjaga stabilitas inflasi pada paruh kedua tahun ini.Tim Pengendali Inflasi Daerah (TIPD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) misalnya yang menjadikan ketersediaan pasokan pangan sebagai fokus utama pengendalian inflasi pada semester II/2023.Pasalnya, TPID Sulsel memandang bahwa kelompok makanan menjadi sektor yang paling berpengaruh besar terhadap pergerakan inflasi di wilayah ini.Selain itu, langkah ini sekaligus mitigasi guna meminimalisasi dampak el nino yang berisiko memberikan pengaruh kepada hasil panen pertanian provinsi ini.Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel (KPw BI Sulsel) Causa Iman Karana mengatakan bahwa pihaknya bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) akan mulai memetakan daerah paling berisiko terdampak el nino, terutama daerah sentra pertanian seperti Kabupaten Sidrap, Pinrang, Soppeng, dan Enrekang.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Sulsel Ichsan Mustari mengatakan ada beberapa upaya strategis yang akan dilakukan pemerintah provinsi untuk mendukung terkendalinya inflasi dan peningkatan investasi. Langkah tersebut a.l mendorong proyek infrastruktur yang mampu memberi multiplier effect bagi perekonomian dan mendukung perwujudan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sulsel melalui percepatan pembentukan kawasan ekonomi khusus.
Sementara itu, dari Nusa Tenggara Barat (NTB), program pasar murah mulai menampakkan hasil yang tecermin dari melandainya inflasi di wilayah ini.Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pemprov NTB, Abdul Aziz menjelaskan bahwa pasar murah yang dilakukan secara berkelanjutan dan terjadwal sangat efektif dalam mengintervensi harga komoditas di tingkat pengecer.
Tahan Suku Bunga, BI Fokus ke Rupiah
JAKARTA,ID-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 21-22 juni 2023 memutuskan untuk mempertahankan B17-Day Reserve Repo Rate (B17DRR) sebesar 5,75%. BI juga menahan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing di level 5,00% dan 6,50%. Keputusan BI tersebut sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali. Keputusan mempertahankan B17DRR sebesar 5,75% ini konsisten dengan stance kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 3,0+1% pada sisa tahun 2023. Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, fokus kebijakan diarahkan pada penguatan stabilisasi nilai rupiah untuk mengendalikan inflasi barang impor (imported inflation) dan memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global. Kebijakan likuiditas dan makroprudensial longgar terus dilanjutkan untuk mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan dan tetap mempertahankan terjaganya stabilitas sistem keuangan. "Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran terus didorong untuk perluasan ekonomi dan keuangan digital serta penguatan stabilitas sistem dan layanan pembayaran. Bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata dia pada jumpa pers hasil RDG BI di jakarta. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









