Inflasi
( 547 )Inflasi Reda, tapi Risiko El Nino Perlu Diwaspadai
JAKARTA,ID-Tekanan inflasi kian mereda dalam tiga bulan terakhir, dengan laju inflasi terus menurun dari 5,47% pada Februari 2023 secara year on year (yoy) menjadi 4% pada Mei lalu. Namun resiko fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan perlu diwaspadai, karena bisa mendorong harga pangan naik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi secara bulanan atau month to month pada Mei 2023 sekedar 0,09%. Sedangkan inflasi year to date (ytd) pada bulan lalu sebesar 1,10%. "Jika dilihat secara series, inflasi Mei 2023 secara bulan ke bulan lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang 0,33% dan dari Mei 2022 yang sebesar 0,40%. Komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar antara lain adalah bawang merah (0,03%), daging ayam ras (0,03%),ikan segar (0,02%), telur ayam ras (0,02%), rokok kretek filter (0,02%), dan bawang putih (0,02%)," ucap Deputi Bidang Statistik Disribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers secara hibrida di kantor BPS Jakarta, Senin (5/6/2023). Pudji menjelaskan, bila dilihat secara kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,48% dan memberikan andil 0,13% yang pada Mei 2023. Sedangkan kelompok pengeluaran yang sedang mengalami deflasi adalah kelompok pakaian dan alas kaki dengan deflasi sebesar 0,46% dan memberikan andil deflasi 0,02% pada Mei 2023. (Yetede)
Berbahaya, Jika Selisih FFR dan BI7DRR Tinggal 25 Bps
JAKARTA, ID — Untuk mencapai target laju inflasi 2%, Bank Sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan lagi fed funds rate (FFR) 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), Juni 2023. Jika BI 7-day reverse repo rate (BI7DRR) tetap di level 5,75%, maka selisih kedua suku bunga acuan hanya 25 basis poin, jauh dari tingkat selisih yang dinilai aman, 100 basis poin. Tidak ada pilihan lain bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan lagi suku bunga acuan hingga 6,50% guna mencapai tingkat selisih yang aman. Kendati demikian, inflasi Indonesia tahun 2023 yang diperkirakan bisa dikendalikan di bawah 4,5% masih memberikan real interest rate yang lumayan. Selain itu, yield surat berharga negara (SBN) dan return saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih lebih menarik dibanding yield T-Bonds dan return saham di Wall Street. Kalau pun BI7DRR tidak dinaikkan, capital inflow masih akan terjadi dan dengan demikian, rupiah akan relatif stabil. Kendati demikian, berbagai hal tak terduga bisa saja terjadi. BI jangan sampai terlambat mengambil keputusan, sehingga terkesan behind the curve. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, The Federal Reserve (Fed) masih melakukan pengendalian inflasinya yang tinggi 4,9% pada April 2023 secara year on year (yoy), sehingga masih akan menaikkan bunga acuannya yang saat ini 5,00-5,25%. Idealnya, selisih suku bunga acuan BI dan The Fed minimal 100 bps, sementara saat ini hanya 50 bps. “Saat The Fed menaikkan bunga acuannya Juni, hal ini akan berimbas ke bank sentral negara berkembang ikut menaikkan suku bunga acuannya. (Yetede)
Antisipasi Inflasi Impor dan Ketidakpastian, BI Tahan Suku Bunga Acuan
BI memutuskan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 5,75 %. BI menilai tingkat suku bunga acuan saat ini masih memadai untuk menjaga inflasi, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global. Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers, Kamis (25/5) di Jakarta, menjelaskan, tingkat suku bunga acuan ini diharapkan bisa mengendalikan inflasi barang impor (imported inflation). Inflasi barang impor berpotensi meningkat seiring meningkatnya permintaan barang dan jasa. Selain itu, juga untuk memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global. Ketidakpastian itu tetap tinggi dipengaruhi oleh dampak risiko stabilitas sistem keuangan di negara maju dan juga ketidakpastian penyelesaian permasalahan plafon utang Pemerintah AS.
BI berpandangan, suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed, sudah mencapai puncaknya. Kecil kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah terhadap dollarAS pada perdagangan Kamis (25/5) ditutup pada level Rp 14.952. Sejak awal tahun hingga 24 Mei 2023, nilai tukar rupiah menguat 4,48 %. Penguatan ini lebih baik dibandingkan apresiasi Thailand sebesar 0,20 %. Menurut Perry, kebijakan moneter ini juga untuk memastikan inflasi inti terkendali dalam kisaran 2-4 % di sisa tahun 2023. Adapun inflasi berbasis Indeks Harga Konsumen (IHK) dapat segera kembali ke dalam kisaran sasaran 2-4 % pada triwulan III-2023. (Yoga)
Keberhasilan Kendalikan Inflasi Naikkan Apresiasi
Kinerja pemerintah di bidang ekonomi diapresiasi publik lebih baik dibandingkan dalam survei sebelumnya. Survei periodik Kompas pada Mei 2023 merekam tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah di bidang ekonomi yang meningkat cukup signifikan. Kepuasan di bidang ekonomi berada di angka 59,5 %, naik enam % dibandingkan periode Januari 2023. Kepuasan publik di bidang ekonomi tidak lagi berada di urutan terakhir di antara empat bidang kinerja yang dinilai. Secara umum, kepuasan terhadap kinerja pemerintah naik dari 69,3 % (Januari 2023) menjadi 70,1 % (Mei 2023). Kepuasan publik yang tertinggi pada periode ini bergeser ke bidang kesejahteraan sosial (78,0 %). Kepuasan terhadap bidang politik dan keamanan (74,4 %), bidang penegakan hukum (59,0 %). Peningkatan kepuasan publik di bidang ekonomi merata di setiap kelas sosial-ekonomi masyarakat. Namun, kenaikan tertinggi terlihat pada kelas bawah, yaitu naik 10,8 % dibandingkan periode sebelumnya. Hal itu menandakan persoalan harga merupakan hal utama yang dirasakan sehari-hari.Pada kelas lainnya, dari kelas menengah-bawah, menengah-atas, dan kelas atas, kenaikan tingkat kepuasan hanya 3 %.
Berdasarkan generasi, kepuasan terhadap kinerja bidang ekonomi meningkat di semua generasi. Namun, peningkatan terbesar ditunjukkan oleh generasi X (8,6 %) dan baby boomers (7,4 %). Kinerja bidang ekonomi yang mendapat penilaian kepuasan yang lebih tinggi masih pada upaya pemerintah dalam memeratakan pembangunan antarwilayah (64,4 %). Akan tetapi, persentasenya sedikit menurun dibandingkan tahun lalu, yaitu turun sebanyak 1 %. Hal ini agaknya dipengaruhi pemberitaan, terutama di media sosial, yang belum lama ini menyorot buruknya infrastruktur jalan di sejumlah daerah. Kenaikan kepuasan terbesar tampak pada upaya pemerintah mengendalikan harga barang dan jasa, yaitu naik 12,7 % dibandingkan periode sebelumnya menjadi 50,9 %. Apresiasi itu tak lepas dari keberhasilan pemerintah mengendalikan inflasi. Pada awaltahun, inflasi masih di atas 5 %. Inflasi mulai turun pada Maret menjadi di bawah 5 % dan pada April menjadi 4,33 %. (Yoga)
BI: El Nino Jadi Kendala Jaga Inflasi
JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa upaya untuk menjaga stabilitas harga barang akan terkendala oleh faktor cuaca pada semester II-2023, yakni El Nino. Oleh karena itu, langkah-langkah untuk menjaga inflasi tidak bisa hanya mengandalkan BI, namun harus dilakukan secara sinergis mulai dari kementerian/lembaga hingga ke level pemerintah daerah. “Masih ada tantangan, kami perkirakan akan ada El Nino di paruh kedua 2023. Jadi, jangan lengah walaupun di Indonesia sekarang inflasi pangan di level 3,7% dari yang tertinggi di level 11%. Tetapi kita tetap harus waspada karena masih ada tantangan dari cuaca,” ucap Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dipantau secara daring, Rabu (17/05/2023). Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulan ke bulan pada April 2023 mencapai 0,33%. Sementara itu inflasi year on year (yoy) sebesar 4,33% dan tingkat inflasi year to date (ytd) April 2023 sebesar 1,01%. Destry mengatakan, sumber inflasi baik di nasional maupun global berasal dari sisi sisi penawaran. Sebab, saat permintaan tinggi, namun ketersediaan barang tidak memadai. Oleh karena itu, hal itu tidak bisa ditangani hanya dari sisi moneter dengan menaikan suku bunga acuan. Dalam hal ini, pemerintah menjalankan GNPIP yang melibatkan seluruh pihak terkait. “Dengan berbagai kebijakan dan penguatan sinergi, BI optimistis tekanan inflasi akan menurun dan kembali kedalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024, dengan inflasi inti akan kembali lebih awal pada paruh pertama 2023,” tutur Destry. (Yetede)
Ekspansi Inggris Lambat karena Hambatan Inflasi
LONDON, ID – Ekonomi Inggris pada awal 2023 mengalami laju pertumbuhan yang lambat. Walau catatan ini lebih baik dari resesi yang dangkal yang diperkirakan, kontraksi tak terduga terjadi dalam produksi Maret, sekaligus menggarisbawahi betapa rapuhnya pemulihan di Inggris. Berdasarkan data resmi yang dirilis pada Jumat (12/05/2023), tingkat produk domestik bruto (PDB) naik tipis 0,1% dalam tiga bulan pertama tahun ini. Laju tersebut sama seperti pada kuartal terakhir 2022, dan sejalan dengan perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters. Kantor Statistik Nasional menunjukkan, produksi 0,2% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Namun, PDB Maret 2023 menunjukkan penurunan 0,3%, dibandingkan perkiraan jajak pendapat yang memproyeksikan PDB tetap stabil. Sementara produksi industri dan konstruksi tumbuh, sektor jasa yang jauh lebih besar juga turun 0,4%. Kondisi ini mencerminkan lemahnya penjualan mobil dan ritel, yang dirugikan cuaca hujan tidak biasa daninflasi yang tinggi. Menurut Kantor Statistik, aksi industri yang meluas turut membebani aktivitas ekonomi pada kuartal pertama. “Dengan sisi jasa utama ekonomi yang terus melambat dalam menghadapi biaya pinjaman lebih tinggi dan kenaikan harga, rasanya kita masih berjalan melalui kesulitan,” ujar Tom Stevenson, direktur investasi pribadi di manajer investasi Fidelity International. (Yetede)
Data Inflasi Konsumen AS Positif
WASHINGTON, ID – Laju inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) secara luas naik pada April 2023. Tapi laju kenaikan tahunan 4,9% adalah yang terendah setidaknya dalam satu tahun terakhir dan memberikan harapan bahwa biaya hidup di AS akan turun di akhir tahun ini. Pasar finansial pun memandang data inflasi konsumen tersebut positif. WASHINGTON, ID – Laju inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) secara luas naik pada April 2023. Tapi laju kenaikan tahunan 4,9% adalah yang terendah setidaknya dalam satu tahun terakhir dan memberikan harapan bahwa biaya hidup di AS akan turun di akhir tahun ini. Pasar finansial pun memandang data inflasi konsumen tersebut positif. “Laporan hari ini menunjukkan bah wa kampanye The Fed untuk menekan inflasi berhasil, meskipun lebih lambat dari yang mereka inginkan. Tapi untuk pasar keuangan, angka inflasi hari ini adalah positif bersih,” kata Quincy Krosby, kepala strategi global di LPL Financial, seperti dikutip CNBC. Laju inflasi AS secara umum tetap bertahan tinggi meskipun upaya The Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan harga-harga. Karena sasaran inflasi jangka panjang bank sentral AS tersebut adalah 2%, yang sebesar 2%. Laporan tersebut memberikan kabar baik dan buruk tentang inflasi karena para pejabat The Fed mem pertimbangkan langkah selanjutnya terhadap kebijakan suku bunga. Biaya rumah tinggal, yang merupakan sepertiga dari bobot IHK, naik lagi 0,4% pada bulan tersebut dan sekarang naik 8,1% dibandingkan tahun lalu. (Yetede)
Antisipasi Optimal Selama Ramadan dan Lebaran, Inflasi April 0,33%
JAKARTA, ID – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, langkah antisipasi pemerintah yang optimal selama bulan Ramadan dan Lebaran 2023 membuat inflasi pada April lalu tercatat 0,33%, lebih rendah dibandingkan inflasi pada perayaan Idulfitri tahun 2022 yang berlangsung pada bulan Mei sebesar 0,44%. Pada April 2023, inflasi secara year on year (yoy) sebesar 4,33% dan tingkat inflasi year to date (ytd). Inflasi pada April 2023 terjadi karena adanya kenaikan pada kelompok pengeluaran transportasi. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, secara nasional inflasi pada periode Ramadan dan Lebaran 2023 lebih rendah dari tahun lalu. Berdasarkan sebaran ke kota-kota yang menjadi destinasi pemudik inflasi pada tahun ini juga lebih rendah dari tahun lalu. “Hal ini menggambarkan bahwa antisipasi pemerintah baik secara nasional maupun kepada wilayah tertentu sangat baik kalau dibandingkan tahun lalu, tercermin dari inflasi yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Margo dalam konferensi pers BPS secara hibrida di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (2/5/2023). Dari hasil kajian BPS terdapat beberapa faktor yang menyebabkan inflasi pada Ramadan dan Lebaran 2023 relatif lebih rendah dibandingkan lebaran 2022. Pertama, pasokan komoditas hortikultura relatif terjaga yang ditopang aktivitas panen sepanjang Maret-April. Deflasi cabai merah dancabai rawit meredam tingkat inflasi umum. (Yetede)
TUAH SINERGI KELOLA INFLASI
Strategi otoritas moneter dan otoritas fiskal dalam pengendalian inflasi rupanya masih bertaji. Buktinya, impitan inflasi indeks harga konsumen (IHK) terus mengendur. Dus, ekonomi nasional pun digadang-gadang bakal melaju di jalur mulus. Kemarin, Selasa (2/5), Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada April 2023 sebesar 4,33% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan dengan Maret 2023 sebesar 4,97% (YoY). Realisasi tersebut juga berada di bawah konsensus ekonom Bloomberg, yang mengestimasi inflasi secara rata-rata sebesar 4,4% pada bulan lalu. Data terbaru itu memperpanjang tren penurunan inflasi selama tiga bulan berturut-turut. Kondisi ini pun terbilang positif mengingat pada bulan lalu terdapat faktor musiman yang memiliki daya kerek besar terhadap permintaan, yakni Ramadan dan Idulfitri. Kepala BPS Margo Yuwono, mengatakan berlanjutnya tren penurunan inflasi bahkan ketika Ramadan dan Lebaran disebabkan oleh efektivitas manajemen rantai pasok serta kebijakan pemerintah terutama dari sisi bantalan sosial. "Pasokan mampu memenuhi lonjakan permintaan, sehingga pengeluaran pun sejalan dengan kondisi pergerakan masyarakat," katanya, Rabu (2/5). Terkendalinya inflasi juga akan memberikan ruang gerak leluasa bagi Bank Indonesia (BI) dalam mengelola instrumen moneter, terutama suku bunga acuan. Dengan kata lain, inflasi yang terus menurun memberikan pijakan kuat bagi otoritas moneter untuk tidak lagi mengutak-atik suku bunga acuan BI 7-day (Reverse) Repo Rate, meski Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memberikan sinyal untuk mengerek suku bunga 25 basis poin pada pekan ini.
Terlebih, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan sebesar 225 basis poin yang dieksekusi sejak Agustus 2022 mampu menjangkar ekspektasi inflasi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan perkembangan inflasi ini tidak terlepas dari respons kebijakan moneter yang preemptive dan forward looking, serta sinergi antara BI dan pemerintah. Dia meyakini ke depan inflasi tetap terkendali di kisaran 3% dalam waktu dekat. "BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi," katanya. Sementara itu, kalangan ekonom memandang inflasi belum sepenuhnya aman, karena masih dihadapkan pada tingginya volatilitas barang bergejolak yang berisiko memberikan tekanan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan inflasi harga bergejolak berpeluang meningkat pada paruh kedua tahun ini karena faktor cuaca. "Itu karena adanya potensi El Nino pada semester II/2023," katanya.
Tertekan Inflasi, Daya Beli Masyarakat di Bulan Ramadan Seret
Tak seperti Ramadan di tahun-tahun lalu, konsumsi masyarakat Ramadan tahun 2023 ini tak sesuai harapan. Daya beli masyarakat nyatanya masih seret.
Data
Mandiri Spending Index
(MSI) dari Mandiri Institute melaporkan, Indeks Nilai Belanja masyarakat per 2 April 2023 sebesar 133,5. Indeks Nilai Belanja pada pekan kedua Ramadan tersebut menurun dibanding akhir Maret 2023 yang sebesar 136,4.
Tak hanya itu, Indeks Volume Belanja pekan kedua Ramadan itu juga tercatat menurun di level 155,9. Level itu turun dibanding akhir bulan lalu yang sebesar 160,5.
"Nilai pengeluaran tahun ini lebih rendah. Tapi, aktivitas pengeluaran hampir sama. Hanya saja, tetap menghasilkan total pengeluaran lebih kecil di tahun ini," sebut
Head of
Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono kepada KONTAN, kemarin.
Yudo melihat, turunnya daya beli karena dipengaruhi inflasi yang masih tinggi. Meski melandai, inflasi masih di atas kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) yang sebesar 2% hingga 4%. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi tahunan per Maret 2023 4,97%
year on year
(yoy), naik dibanding inflasi Februari yang sebesar 4,64% yoy.
Indikasi daya beli masyarakat belum naik signifikan juga tampak dari hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan BI. Hasil survei itu menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) kuartal I-2023 diperkirakan hanya tumbuh 1,6% yoy.
Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah bilang, turunnya belanja di pekan kedua Ramadan karena menunggu tunjangan hari raya (THR) cair. "Setelah cair, (penjualan) dari Lebaran sampai sekarang ramai," ujarnya.
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









