Inflasi
( 547 )Lantaran Inflasi Kian Melandai
Rapat Dewan Gubernur BI pada 17-18 April 2023 memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 5,75 %; suku bunga Deposit Facility 5 %, dan suku bunga Lending Facility 6,5 %. Tingkat suku bunga acuan BI terakhir naik pada Januari lalu. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan tingkat suku bunga acuan sebesar 5,75 % cukup untuk mengarahkan inflasi inti ke dalam kisaran 3 plus minus 1 % sepanjang 2023. Bank sentral juga menargetkan inflasi indeks harga konsumen (IHK) dapat kembali ke dalam sasaran 3 plus minus 1 persen lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. "Stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus diperkuat guna mengendalikan inflasi barang impor dan memitigasi dampak ketidakpastian pasar keuangan global terhadap nilai tukar rupiah," ujar Perry dalam konferensi pers, kemarin.
Secara umum, Perry menambahkan, tekanan inflasi di Tanah Air terus menurun sehingga mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi IHK secara bulanan tercatat 0,18 %, lebih rendah dari pola historisnya pada periode awal Ramadan. Dengan demikian, inflasi IHK secara tahunan turun dari level bulan sebelumnya sebesar 5,47 % menjadi 4,97 %. BI mencatat inflasi inti tahunan Maret 2023 terus melambat dari 3,09 % menjadi 2,94 %. Pergerakan itu dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi dan tekanan inflasi dari barang impor yang menurun serta pasokan agregat yang memadai dalam merespons kenaikan permintaan barang dan jasa. (Yetede)
Tugas Fed Menurunkan Inflasi Terlalu Berat
Misi Bank Sentral AS menurunkan suku bunga berat. Ini bukan saja soal stimulus ekonomi dengan jumlah dana berlebihan, penyebab inflasi. Kebijakan fiskal Pemerintah AS yang selalu defisit turut membebani. Ini masih ditambah dengan kebijakan luar negeri AS yang sangat menonjolkan konfrontasi dengan blok China dan berefek inflatoir. Ekonom Jeremy Siegel konstan menentang lanjutan kenaikan suku bunga. Sejak akhir 2022, Siegel memperingatkan kenaikan suku bunga harus diredam karena akan memukul perekonomian. Namun, suara umum menyebutkan inflasi sebesar 5 % masih terlalu tinggi dan suku bunga perlu dinaikkan lagi hingga inflasi mencapai 2 %. Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Jerome Powell terjepit di tengah dua opini: melanjutkan kenaikan suku bunga atau menghentikannya. Rapat Komite Kebijakan Pasar Terbuka Fed (FOMC), 21-22 Maret 2023, memperlihatkan kegamangan itu.
FOMC menghadapi trilema, terkait pertumbuhan, inflasi, dan krisis keuangan/perbankan yang tidak bisa dicapai bersamaan. Kenaikan suku bunga mencegah pertumbuhan ekonomi dan telah membuat Silicon Valley Bank (SVB) bangkrut. ”Beberapa pembuat kebijakan di Federal Reserve berpikir untuk menghentikan kenaikan suku bunga,” demikian hasil pertemuan itu. Dalam pertemuan itu, khususnya Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menyatakan suku bunga tetap perlu dinaikkan. Jika tidak, risikonya adalah kenaikan inflasi kembali. Goolsbee menyimpulkan, FOMC perlu menaikkan suku bunga ketimbang berpikir semata soal risiko pengetatan kucuran kredit perbankan AS akibat kenaikan suku bunga. Di akhir pertemuan FOMC diputuskan, kenaikan suku bunga hanya sebesar 0,25 %, menjadikan suku bunga naik di kisaran 4,75-5 %. (Yoga)
Bayangan Resesi & Optimisme RI
Resesi telah jadi topik hangat di berbagai pemberitaan media dan diskusi publik sejak akhir 2022. Hal ini makin banyak diperbincangkan setelah prediksi dari Bank Dunia pada kuartal I/2023 yang menyebutkan perlambatan ekonomi global dapat meningkatkan risiko resesi dengan tren pertumbuhan yang cukup mengkhawatirkan. Proyeksi ini menunjukkan hampir seluruh kekuatan ekonomi yang mendorong kemajuan dan kemakmuran dunia selama tiga dekade terakhir memudar, dan akan menyebabkan rata-rata pertumbuhan PDB pada tahun 2022—2030 turun sepertiganya jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan di awal dekade pada abad ini. Laporan terbaru dari Bank Dunia yang dirilis pada April 2023 juga menyatakan bahwa berbagai kondisi dunia termasuk pandemi, perang, dan pengetatan keuangan, akan menggerus pertumbuhan dan memperbesar ketimpangan negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik dengan negara berpenghasilan tinggi.
Di balik pertumbuhan yang stabil pasca krisis Keuangan Asia (AFC), terdapat pengelolaan makroekonomi yang sehat dan sejarah reformasi struktural yang signifikan. Dengan pertumbuhan sebesar 5,3% (YoY) dan melampaui pertumbuhan tahun 2021 yang tercatat sebesar 3,7% (YoY), Indonesia masih mencapai pertumbuhan positif sejak tahun 2022. Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2023 juga mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi dimana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2023 sebesar 122,4, tercatat lebih tinggi dibandingkan Februari 2022 sebesar 113,1. Terjaganya optimisme konsumen didorong salah satunya oleh peningkatan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Pada konferensi pers APBN KiTa Edisi Maret 2023, Sri Mulyani juga optimistis pertumbuhan ekonomi dapat terjaga dengan baik dengan kisaran 5,0-5,3%. Hal ini juga disampaikan oleh Chatib Basri, Ekonom Senior Indonesia dan Mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014, pada acara tahunan Grab Business Forum 2023. Ia menyatakan bahwa 2023 mungkin bukan tahun yang mudah dibandingkan 2022, tetapi Indonesia mampu melampaui 2023 dengan relatif baik.
Inflasi Mereda, The Federal Reserve Tidak Lagi Agresif Menaikkan Bunga
Di luar prediksi, laju inflasi AS Maret 2023, yoy, sebesar 5%, turun dari 6% bulan sebelumnya. Meski masih jauh dari target 2%, inflasi Maret dikhawatirkan sebagai sinyal datangnya resesi ekonomi. Setelah sembilan kali kenaikan sejak 17 Maret 2022, fed funds rate (FFR) atau suku bunga acuan Bank Sentral AS tahun ini diperkirakan hanya sekali lagi dinaikkan, sebesar 25 basis poin ke level 5,00%-5,25%. Para analis memperkirakan The Federal Reserve (Fed) tidak lagi agresif menaikkan FFR. Pada pertemuan FOMC 2-3 Mei 2023, FFR hanya dinaikkan 0,25% sebagai respons terhadap kenaikan indeks harga konsumen (IHK) yang di luar perkiraan.
Kenaikan IHK kelompok pangan relatif rendah, yakni 8,5%. Sedang IHK kelompok energi malah minus 6,4%. Kedepan, FFR kemungkinan besar akan diturunkan perlahan untuk mencegah resesi ekonomi. Perkiraan ini membuat pasar saham di Wall Street dan di sejumlah bursa dunia bergairah. Respons positif juga terjadi di pasar kripto. “IHK utama AS melambat lebih dari yang diharapkan. The Fed telah mendekati akhir siklus pengetatan dan pertumbuhan ekonomi tidak panas tapi tidak dingin, menghasilkan lingkungan seperti goldilocks (ideal),” kata analis Christopher Wong dari OCBC di Singapura, Kamis (13/04). (Yetede)
Inflasi Inti AS Masih Panas
Harga-harga konsumen di AS hampir tidak naik pada Maret 2023 karena biaya BBM turun. Tetapi harga sewa hunian yang tinggi membuat tekanan terhadap inflasi tetap panas, sehingga dapat dipastikan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga lagi awal bulan depan. Depnaker AS melaporkan pada Rabu (12/04) indeks harga konsumen (IHK) AS naik 0,1% bulan lalu, setelah naik 0,4% pada Februari. Sementara dalam rentang 12 bulan hingga Maret 2023, IHK naik 5,0%. Angka ini menunjukkan kenaikan tahunan atau year-on-year (yoy) terkecil sejak Mei 2021. IHK AS naik 6,0% yoy pada Februari 2023. IHK tahunan di AS memuncak di level 9,1% pada Juni tahun lalu. Yang merupakan kenaikan terbesar sejak November 1981. Tapi sejak itu terus menurun dan mencapai level 5,0% pada Maret 2023. Angka inflasi terakhir ini masih dua kali lipat target The Fed yang sebesar 2%.
“Ketika ekonomi melambat, harga konsumen akan melambat lebih jauh dan akan membawa inflasi lebih dekat menuju target jangka panjang The Fed sebesar 2%,” kata Jeffrey Roach, kepala ekonom AS di LPL Financial, kepada CNBC. Inflasi yang terus-terusan tinggi, pengetatan pasar tenaga kerja, dan tanda-tanda bahwa tekanan pasar keuangan telah mereda akan memungkinkan The Fed untuk terus memprioritaskan pemulihan stabilitas harga. Namun demikian, jalan menuju disinflasi kemungkinan akan bergelombang. Karena tekanan yang dating dari biaya jasa jauh dari hunian. Dalam 12 bulan hingga Maret 2023, IHK inti naik 5,6% setelah naik 5,5% di Februari. (Yetede)
Fed Pasok Dana ke Perbankan AS, Penurunan Inflasi Tertunda
Bank sentral AS memasok dana ke perbankan AS untuk meredakan krisis perbankan. Hal itu dilakukan sejak kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) pada 10 Maret 2023. Sebanyak 300 miliar USD dana dari bank sentral AS telah masuk ke sistem perbankan AS. Ini kurang lebih setara jumlah dana yang ditarik para deposan dari perbankan AS. Gubernur Bank Sentral AS (The Federal Reserve) Jerome Powell mengatakan, pengucuran dana yang dinamai Bank Term Funding Program (BTFP) itu bersifat temporer. Hal ini perlu untuk mendorong likuiditas perbankan agar tidak terjadi ketegangan dalam industri perbankan.
”Kami yakin hal itu bermanfaat. Fasilitas tersebut bertujuan menciptakan kepercayaan terhadap sistem perbankan. Jika langkah tersebut tidak dilakukan, kemungkinan akan ada gangguan dan akan memperketat situasi keuangan,” kata Powell, Rabu (22/3) Fasilitas BTFP itu dimulai pada 12 April 2023 setelah kebangkrutan SVB dan Signature Bank. Jangka waktu pinjaman The Fed ke perbankan tersebut berlaku selama 90 hari dan bisa diperpanjang. Dana The Fed ke perbankan ini disalurkan lewat Federal Deposit Insurance Corp (FDIC). Lembaga keuangan AS telah menerima BTFP 148,7 miliar USD dalam sepekan hingga 5 April. Selama sepekan sebelum itu, The Fed telah mengucurkan BTFP 152,6 miliar USD. Total BTFP yang dikucurkan sepanjang Maret saja sebesar 157,9 miliar USD (Bloomberg, 7 April 2023). (Yoga)
BERAS BANTUAN, Sistem Ketertelusuran Bantu Kendalikan Inflasi
Penyaluran beras bantuan menerapkan teknologi yang mendukung ketertelusuran atau traceability hingga sampai kepada penerima secara tepat sasaran. Ketepatan sasaran penyaluran menentukan ketercapaian target program tersebut, yakni pengendalian inflasi dan pengurangan beban pengeluaran keluarga penerima manfaat atau KPM. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi dan Dirut Perum Bulog Budi Waseso melepas secara simbolis 87,88 ton beras bantuan pangan pemerintah yang ditujukan ke Pademangan dan Kelapa Gading, Jakur, Kamis (6/4). Terdapat tiga titik penyaluran di setiap wilayah. Pelepasan dari Kantor Wilayah Jakarta dan Banten Bulog itu menandakan penyaluran beras pangan serentak se-Indonesia. Beras bantuan itu menyasar 21,353 juta KPM dan disalurkan sejak Maret 2023 hingga Mei 2023. Setiap KPM memperoleh beras sebanyak 10 kg per bulan.
Bulog menjadi operator program bantuan tersebut dengan total penyaluran selama tiga bulan sebanyak 640.990 ton. Tiga perusahaan yang mengangkut beras bantuan tersebut, yakni PT Pos Indonesia (Persero), PT Jasa Prima Logistik Bulog, dan PT DNR. Penyaluran turut diawasi oleh Satgas Pangan. ”Kami menyiapkan sistem yang dapat menelusuri dan melacak beras (bantuan) mulai keluar dari gudang Bulog, proses transit, hingga sampai kepada penerimanya. Sistem itu didukung oleh geo-tagging. Kami juga menyediakan dasbor real time yang bisa memantau jumlah beras yang disalurkan beserta daerah tujuannya,” kata Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi saat ditemui setelah acara pelepasan, Kamis. Faizal melanjutkan, Papua menjadi sasaran pertama penyaluran beras bantuan ini. Jumlah penerima sebanyak 1,9 juta KPM. (Yoga)
Laporan Tenaga Kerja AS Indikasi Tekanan Inflasi Mereda
Perusahaan-perusahaan swasta di AS menambah 236.000 lapangan kerja pada Maret 2023. Angka yang solid itu menunjukkan bahwa ekonomi AS juga tetap kuat meskipun The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuan sembilan kali sejak Maret tahun lalu untuk menjinakkan laju inflasi. Laporan Depnaker AS pada Jumat (07/04) itu menunjukkan tingkat pengangguran turun menjadi 3,5% karena meningkatnya angka partisipasi kerja. Pada saat yang sama, beberapa rincian dari laporan itu meningkatkan peluang bahwa tekanan inflasi akan mereda. Dan The Fed dapat segera memutuskan untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga.
Upah rata-rata per jam naik 4,2% secara tahunan. Tapi turun tajam dari kenaikan tahunan 4,6% pada Februari 2023. Secara bulanan, upah naik 0,3% dari Februari hingga Maret, naik tipis dari kenaikan 0,2% dari Januari hingga Februari. Tetapi angka-angka itu menandai perlambatan kenaikan upah rata-rata pada bulan-bulan terakhir 2022. Indikasi lain yang mungkin meyakinkan perjuangan The Fed dalam melawan inflasi adalah 480.000 orang mulai mencari pekerjaan di sepanjang Maret 2023. (Yetede)
Beras Masih Picu Inflasi
Harga beras masih belum benar-benar jinak kendati panen raya sedang berlangsung dan beras impor kembali ditambah. Selama tiga bulan berturut-turut, Januari-Maret 2023, beras masih berkontribusi besar terhadap inflasi bulanan ataupun tahunan. Pemerintah memperkirakan panen raya padi berlangsung pada Maret-April 2023. Pemerintah juga akan mengimpor 500.000 ton beras lagi pada Maret-Mei 2023 setelah merealisasikan impor beras sebanyak 492.863 ton pada Januari-Februari 2023.
BPS mencatat, pada Januari 2023, beras berkontribusi terhadap inflasi bulanan dan tahunan masing-masing 0,07 % dan 0,24 %. Pada Februari 2023, andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan masing-masing 0,08 % dan 0,32 %. Pada Maret 2023, beras berandil 0,02 % terhadap inflasi bulanan dan 0,35 % terhadap inflasi tahunan. Tingkat inflasi Maret 2023 sebesar 0,18 % secara bulanan dan 4,97 % secara tahunan. Sepanjang Maret 2023, harga beras di tingkat penggilingan turun 1,31 % secara bulanan menjadi Rp 11.301 per kg, tetapi di tingkat eceran dan grosiran justru naik 0,7 % secara bulanan dan 11,43 % secara tahunan menjadi Rp 12.795 per kg. (Yoga)
Stok Pangan Stabil Picu Inflasi Rendah
Stok komoditas pangan di Jakarta yang stabil membuat angka inflasi DKI rendah. Hal ini sesuai laporan Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, Selasa (4/4/2023). BPS mencatat, harga sejumlah barang dan jasa di Jakarta naik sepanjang Maret 2023, tetapi lebih rendah dibandingkan Maret tahun lalu. Hal ini membuat tingkat inflasi tahun ke tahun 4,00 %. Inflasi Jakarta urutan ke-83 dari 90 kota. Ini menunjukkan inflasi di Jakarta relatif lebih rendah daripada kota lain di Indonesia. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Perlu Titik Temu Soal JHT
11 Mar 2022 -
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
12 Mar 2022 -
Kebijakan Edhy Jadi Pemicu Penyuapan
11 Mar 2022









