Inflasi Mereda, The Federal Reserve Tidak Lagi Agresif Menaikkan Bunga
Di luar prediksi, laju inflasi AS Maret 2023, yoy, sebesar 5%, turun dari 6% bulan sebelumnya. Meski masih jauh dari target 2%, inflasi Maret dikhawatirkan sebagai sinyal datangnya resesi ekonomi. Setelah sembilan kali kenaikan sejak 17 Maret 2022, fed funds rate (FFR) atau suku bunga acuan Bank Sentral AS tahun ini diperkirakan hanya sekali lagi dinaikkan, sebesar 25 basis poin ke level 5,00%-5,25%. Para analis memperkirakan The Federal Reserve (Fed) tidak lagi agresif menaikkan FFR. Pada pertemuan FOMC 2-3 Mei 2023, FFR hanya dinaikkan 0,25% sebagai respons terhadap kenaikan indeks harga konsumen (IHK) yang di luar perkiraan.
Kenaikan IHK kelompok pangan relatif rendah, yakni 8,5%. Sedang IHK kelompok energi malah minus 6,4%. Kedepan, FFR kemungkinan besar akan diturunkan perlahan untuk mencegah resesi ekonomi. Perkiraan ini membuat pasar saham di Wall Street dan di sejumlah bursa dunia bergairah. Respons positif juga terjadi di pasar kripto. “IHK utama AS melambat lebih dari yang diharapkan. The Fed telah mendekati akhir siklus pengetatan dan pertumbuhan ekonomi tidak panas tapi tidak dingin, menghasilkan lingkungan seperti goldilocks (ideal),” kata analis Christopher Wong dari OCBC di Singapura, Kamis (13/04). (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023