;
Tags

Inflasi

( 547 )

PERTUMBUHAN EKONOMI, Sukses dan Gagal Argentina

KT3 20 Jun 2023 Kompas

Argentina bisa dibilang sebagai negara yang gagal mengelola ekonominya dengan baik. Seusai pandemi Covid-19, saat ekonomi negara-negara lain mulai pulih dan bangkit kembali, ekonomi Argentina tetap terpuruk. Berdasar data IMF, pertumbuhan ekonomi Argentina selama triwulan I-2023 hanya 0,2 %. Inflasinya melambung tinggi hingga 108,8 %, menjadikan Argentina sebagai salah satu negara dengan inflasi tertinggi di dunia. Argentina juga masuk dalam kelompok negara yang mengalami  stagflasi, yakni pertumbuhan ekonominya stagnan, tetapi inflasinya sangat tinggi. Ketergantungan yang tinggi terhadap minyak dan kegagalan otoritas moneter mengelola likuiditas yang melimpah merupakan sejumlah faktor yang membuat ekonomi Argentina terjerembab.

Berbeda dengan di sepak bola, di sektor ekonomi, Indonesia saat ini jelas lebih baik dibandingkan dengan Argentina. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun ini 5,03 %, dengan inflasi hanya 4,97 %. Indonesia bisa belajar dari kegagalan Argentina keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Pada dekade 80 dan 90, Argentina digadang-gadang bakal menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia. Argentina saat itu memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk produktif lebih besar ketimbang non-produktif. Namun, 2-3 dekade berselang, Argentina tak kunjung lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah. Argentina gagal memanfaatkan bonus demografi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi tinggi. (Yoga)


Tantangan Ekonomi Indonesia di Paruh Kedua

KT1 18 Jun 2023 Tempo

Tanda-tanda itu makin jelas. Tantangan yang menghadang ekonomi Indonesia pada paruh kedua tahun ini bakal lebih berat. Ada dua hal yang mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Yang pertama adalah cekikan inflasi, yang memaksa para pemimpin bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif. Yang kedua adalah pemulihan ekonomi Cina yang tak sekuat dugaan analis. Semua pasar optimis bahwa titik puncak inflasi sudah tercapai pada pertengahan tahun ini. Karena itu, muncul harapan suku bunga tak akan naik lagi, bahkan bisa turun pada kuartal terakhir 2023. Ekspektasi itu sepertinya terwujud pada pekan lalu ketika The Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, tidak menaikkan suku bunga acuannya. Ternyata kebijakan The Fed itu bukanlah titik perhentian kenaikan suku bunga, yang sudah berlangsung tanpa henti sejak Maret 2022. Ini ternyata hanya jeda sejenak, Ketua The Fed Jerome Powell malah melempar syarat pahit: bunga The Fed masih akan naik lagi tahun ini karena inflasi di Amerika Serikat belum teratasi. Inflasi masih dua kali lipat diatas target The Fed sebesar 2%. Bahkan kemungkinan besar The Fed harus menaikkan lagi bunga acuan Fed Fund Rate pada sidang berikutnya, Juli mendatang. (Yetede)

BOJ Menanti Isyarat Inflasi

KT1 17 Jun 2023 Investor Daily

TOKYO,ID-Bank of Japan (BOJ) masih menunjukkan arah berlawanan dengan tren bank-bank sentral global yang mengisyaratkan perlunya menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan harga-harga. Bank sentral Jepang ini dalam keputusannya pada Jumat (16/06/2023) tetap mempertahankan stimulus sambil menunggu tanda-tanda inflasi berkelanjutan. Gubernur Kazuo Ueda dan para anggota dewan gubernur BOJ tidak mengubah suku bunga negatif maupun program kontrol kurva imbal hasil (yield curve control/YCC) di akhir pertemuan dua hari di Tokyo. Sebaliknya mereka mempertahankan pandangan bahwa inflasi akan melambat dalam beberapa bulan mendatang. Sebagai informasi, mata uang Jepang dilaporkan telah mencapai  level terendah dalam tujuh bulan dikisaran 141,50 pada Kamis (15/06/2023). Imbal hasil obligasi Pemerintahpun  turun. Keputusan BOJ tersebut makin menyoroti status menyimpang BOJ diantara sesama rekan-rekan bank sentral global, termasuk The Fed dan Bank Sentral Eropa. Fokus baru atas perbedaan suku bunga selama minggu yang sibuk dengan keputusan-keputusan bank sentral global juga turut mendorong nilai tukar yen lebih rendah terhadap dolar AS,dan terus meluncur  ke titik terendah dalam euro 15 tahun. (Yetede)

Inflasi Diperkirakan Akan Terus Melandai

KT3 14 Jun 2023 Kompas

Tekanan inflasi diperkirakan akan terus menurun. Hal ini dikarenakan dampak kenaikan harga BBM pada September 2022 kian berkurang.Upaya pemerintah mengendalikan inflasi juga dinilai telah menunjukkan hasil. Kendati demikian, lonjakan inflasi akibat kegagalan panen karena efek El Nino tetap perlu diwaspadai. Mengutip Indeks Ekspektasi Harga (IEH) hasil survei BI, responden memperkirakan tekanan inflasi pada Juli 2023 berada di level 118,5, lebih rendah daripada Juni 2023 pada level 124,5. Adapun tekanan inflasi Oktober 2023 pada level 121,6, relatif stabil ketimbang September 2023 yang pada level 121,5.

”Tekanan harga yang terjaga itu didukung oleh ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangannya, Selasa (13/6). IEH merupakan bagian dari Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan BI. Adapun SPE merupakan survei bulanan terhadap lebih dari 700 pengecer di 10 kota yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai pergerakan PDB dari sisi konsumsi. Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, tekanan inflasi memang terus melandai. Hal ini tecermin dari inflasi Mei 2023 sebesar 4,00 % secara tahunan. Tingkat inflasi itu lebih rendah ketimbang April 2023 yang sebesar 4,33 %. (Yoga)


China Harus Segera Menurunkan Bunga

HR1 10 Jun 2023 Kontan

Ekonomi yang melemah membawa China menuju inflasi mendekati nol, bahkan deflasi, di bulan Mei. Desakan bagi bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) untuk melonggarkan kebijakan moneter pun menguat. Dikutip dari Bloomberg, Jumat (9/6), China mencatat inflasi di Mei cuma naik 0,2% dari tahun sebelumnya. Biro Statistik Nasional China, mengatakan angka tersebut sesuai dengan perkiraan.Realisasi tersebut juga naik dari inflasi April, yaitu 0,1%. Indeks harga produsen malah turun 4,6% karena harga komoditas yang lebih rendah dan lemahnya permintaan domestik dan luar negeri. Penurunan ini lebih dalam dari proyeksi konsensus ekonom, yang sebesar 4,3%. "Penurunan indeks harga produsen disebabkan oleh harga-harga komoditas internasional secara umum turun dan permintaan domestik dan eksternal untuk produk-produk industri relatif lemah," kata Dong Lijuan, analis NBS. Rebound di pasar perumahan juga mulai terhenti. "Risiko deflasi masih membebani perekonomian, indikator-indikator ekonomi baru-baru ini mengirimkan sinyal-sinyal yang konsisten bahwa ekonomi sedang mendingin," kata Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, kemarin, seperti dikutip Bloomberg. Dus, desakan agar suku bunga turun makin santer. Presiden Shanghai University of Finance & Economics Liu Yuanchun mengatakan, penurunan suku bunga diperlukan untuk meringankan beban pembiayaan bisnis swasta dan mendorong pemulihan ekonomi.

Resesi Sekedar Angka

KT1 10 Jun 2023 Investor Daily

LONDON,ID-Laju ekonomi Eropa pada akhir 2022 dan awal 2023 dilaporkan sedkit mengalami kontraksi akibat terhentinya pasokan gas alam dari Rusia dan tingkat inflasi tinggi yang berdampak pada belanja konsumen. Tapi pergeseran kecil dalam angka-angka tersebut tidak banyak mengubah apa yang telah dialami oleh kelompok rumah tangga. Mulai dari kenaikan harga-harga di toko kelontong, cicilan tempat tinggal lebih tinggi karena Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga, hingga susahnya mendapatkan pekerjaan dengan upah yang sepadan dengan kenaikan harga biaya hidup. Hantaman inflasi dan suku bunga tinggi terhadap rumah tangga itu mmebuat mereka terpaksa mengurangi pengeluaran. sebagian analis bahkan memprediksi  ekonomi Eropa masih kontraksi lebih lanjut di tahun ini. "Secara keseluruhan, perekonomian zona uero kembali mengalami kekacauan," kata ekonom zona uero di bank ING, Bert Colijn dalam sebuah catatan, yang dikutip AP pada Kamis (08/06/2023). Namun pekan ini, Organisasi untuk Kerja Sama  Ekonomi dan Pembangunan atau OECD memprediksi pertumbuhan ekonomi zona euro naik tipis 0,9% untuk 2023. Berarti zona euro sudah mengalami penurunan atau kontraksi selama dua kuartal berturut-turut. Yang kemudian secara ekonomi mau pun politik didefinisikan  sebagai resesi teknikal. (Yetede)

Tren Menurun, Pemerintah Konsisten Kendalikan Inflasi

KT1 07 Jun 2023 Investor Daily

JAKARTA,ID-Hingga Mei 2023, inflasi terus melanjutkan tren penurunan inflasi Mei 2023 tercatat 4,0% secara year on year (yoy), menurun dari April 2023 (4,3%, yoy) dan merupakan angka terendah sejak awal tahun 2023. Tren penurunan inflasi tersebut mencerminkan konsistensi pemerintah dalam mengendalikan inflasi. "Pemerintah akan terus konsisten dalam mengendalikan inflasi dalam berbagai cara stabilisasi, antara lain dengan menjaga pasokan dan kelancaran distribusi, serta mengantisipasi dampak gangguan  cuaca dan resiko kekeringan," jelas kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu, Selasa (6/6/2023). Dia menjelaskan, pemerintah terus melakukan upaya stabilisasi harga pangan dalam rangka menjaga ketahanan pangan. Pergerakan inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) yang melambat ke 3,3% (yoy). Terkendalinya harga pangan didukung oleh panen raya padi dan aneka cabai. "Kedepan pemerintah telah bersiap untuk menghadapi risiko peningkatan harga pangan menjelang hari Raya Idul Adha serta potensi dampak El Nino," kata dia. Tren perlambatan inflasi  juga terjadi pada komponen inti juga administered price. Inflasi di bulan Mei tercatat 2,66% (yoy), lebih rendah dari April (2,83%, yoy). (Yetede)

Inflasi Mei Melandai, Harga Bahan Pangan Jadi Sorotan

KT3 06 Jun 2023 Kompas

BPS mencatat inflasi Mei 2023 cenderung melandai jika dibandingkan bulan sebelumnya ataupun Mei 2022. Namun, kenaikan sejumlah harga komoditas pangan dinilai perlu menjadi perhatian. Ketersendatan pasokan serta kenaikan ongkos produksi mendongkrak harga beberapa komoditas pangan penyumbang inflasi. Secara bulanan (mtm), inflasi Mei 2023 tercatat 0,09 %, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,33 %. Sementara secara tahunan (yoy), inflasi bulan lalu tercatat 4 %, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya, di 4,33 %.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini saat konferensi pers di Jakarta, Senin (5/6) merinci, kelompok pengeluaran makanan dan minuman memberi andil terbesar pada inflasi bulanan di Mei 2023, yakni 0,13 %. Namun, kelompok pengeluaran lain mengalami deflasi, yakni transportasi serta pakaian dan alas kaki. Khusus di kelompok makanan, minuman, dan tembakau, komoditas penyumbang inflasi bulan lalu adalah bawang merah dan daging ayam ras dengan andil masing-masing 0,03 %, lalu ikan segar, telur ayam ras, rokok kretek filter, dan bawang putih dengan andil masing-masing 0,02. ”Harga bawang merah naik karena belum banyak produksi dari petani sehingga pasokan yang masuk belum mencukupi kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Selain bawang merah, pasokan ikan segar juga tersendat sehingga turut menyumbang inflasi. (Yoga)


ASAH DAYA BELI LEBIH BERTAJI

HR1 06 Jun 2023 Bisnis Indonesia (H)

Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter terbukti efektif merebut kendali inflasi, yang pada bulan lalu telah berada di kisaran target bank sentral, yakni 3% plus minus 1%. Penebalan bantalan sosial oleh otoritas fiskal dan keputusan mengetatkan suku bunga acuan lebih awal terbukti efektif menjaga gerak inflasi di angka 4% (year-on-year/YoY) pada bulan lalu, terendah sepanjang 2023. Akan tetapi, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) masih dihadapkan pada tekanan daya beli masyarakat. Hal itu tecermin dari data inflasi inti yang terus menurun menjadi 2,66% (YoY) pada bulan lalu. Tertekannya daya beli itu juga terefleksi dalam PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global yang terjun dari 52,7 pada April 2023 menjadi 50,3 pada Mei 2023, sekaligus merupakan angka terendah sejak November tahun lalu. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengatakan terjadi penurunan permintaan dari konsumen sepanjang bulan lalu. Pudji menambahkan, secara historis inflasi inti akan kembali menggeliat pada pertengahan tahun yang bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru di Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memandang data inflasi terkini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga indeks harga konsumen (IHK) baik untuk barang bergejolak maupun barang yang diatur oleh pemerintah.

Kenaikan suku bunga acuan di AS dan negara maju lainnya akan melemahkan rupiah sehingga memengaruhi ongkos importasi barang yang masih menggunakan mata uang Paman Sam itu. Inilah yang kemudian mendorong inflasi impor menanjak. Sri Mulyani pun mengakui harga pangan dan energi masih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mempertahankan stabilitas inflasi pada tahun ini. “Kita melihat dalam situasi dunia ini, harga-harga pangan dan harga energi masih dalam kondisi yang cukup volatile,” katanya. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memandang inflasi inti yang rendah merupakan efek dari pengendalian permintaan dengan menggunakan instrumen moneter terutama suku bunga acuan. Wakil Ketua Umum Kadin Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan stimulasi itu bisa dieksekusi melalui peningkatan insentif investasi, perluasan pinjaman usaha dengan bunga ringan, deregulasi dan simplifikasi prosedur ekspor. "Stimulasi konsumsi domestik yang lebih berguna bisa dilakukan dengan penurunan tarif pajak, distribusi subsidi, dan realisasi belanja negara yang lebih cepat," ujarnya.

Mengawal Nyala Mesin Produksi

HR1 06 Jun 2023 Bisnis Indonesia

Lonjakan angka inflasi dapat menjadi momok bagi beban hidup masyarakat. Namun, penurunan inflasi terlalu cepat menjadi ancaman daya beli, yang berujung perlambatan mesin-mesin ekonomi. Tahun lalu, saat perang Rusia-Ukrai­na mulai berkecamuk, an­cam­­an inflasi dari kenaikan harga bahan bakar dan pangan membuat dunia kalang kabut. Berbagai ke­­bijakan dikeluarkan untuk me­­ne­­­kan lonjakan harga komoditas dunia. Cara paling praktis adalah dengan menaikkan suku bunga. Ibarat gula dengan semut. Ketika bunga simpanan naik, uang akan berkumpul mengikuti iming-iming imbal hasil yang ditawarkan perbankan dengan dikomandoi bank sentral. Bank sentral di penjuru dunia berlomba-lomba mengerek suku bunga acuan. Bank Indonesia (BI) pun mengikuti arus utama tersebut. Sejak Agustus 2022, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 225 basis poin menjadi 5,75% hingga saat ini. Jurus andalan BI itu mampu meredam kenaikan inflasi hingga menyentuh jangkauan target pemerintah di 3±1%. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa indeks harga konsumen Mei 2023 mengalami inflasi 0,09% secara bulanan (month-to-month). Capaian itu menjadi yang terendah dalam 5 bulan tahun ini. Tren penurunan yang berlanjut setelah Idulfitri tahun ini. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi Mei 2023, dengan andil 0,13%.

Mereka memperkirakan inflasi Mei 2023 berada di rentang 4%—4,34% (YoY). Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, konsensus ekonom memproyeksikan rata-rata inflasi Mei 2023 di 4,21% (YoY). Median dari proyeksi konsensus itu pun nilainya sama, 4,21% (YoY). Penurunan inflasi ini lebih ce­pat dari perkiraan. Dalam be­­berapa bulan terakhir ramalan eko­­nom selalu meleset, lebih rendah dari proyeksi. Angka inflasi men­capai puncak pada September 2022 sebesar 5,95%, selepas pe­­me­rintah menaikkan harga bahan ba­kar. Namun, kabar tidak sedapnya, penurunan inflasi yang begitu cepat, disertai dengan penyusutan indeks manufaktur (Purchasing Manager’s Index/PMI). Pada Mei 2023, angka PMI tercatat turun ke level 50,3 poin, mendekati zona kontraktif berada di bawah level 50 poin. Angka ini melemah bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang di atas 52,7 poin.