ASAH DAYA BELI LEBIH BERTAJI
Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter terbukti efektif merebut kendali inflasi, yang pada bulan lalu telah berada di kisaran target bank sentral, yakni 3% plus minus 1%. Penebalan bantalan sosial oleh otoritas fiskal dan keputusan mengetatkan suku bunga acuan lebih awal terbukti efektif menjaga gerak inflasi di angka 4% (year-on-year/YoY) pada bulan lalu, terendah sepanjang 2023. Akan tetapi, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) masih dihadapkan pada tekanan daya beli masyarakat. Hal itu tecermin dari data inflasi inti yang terus menurun menjadi 2,66% (YoY) pada bulan lalu. Tertekannya daya beli itu juga terefleksi dalam PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global yang terjun dari 52,7 pada April 2023 menjadi 50,3 pada Mei 2023, sekaligus merupakan angka terendah sejak November tahun lalu. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini mengatakan terjadi penurunan permintaan dari konsumen sepanjang bulan lalu. Pudji menambahkan, secara historis inflasi inti akan kembali menggeliat pada pertengahan tahun yang bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru di Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memandang data inflasi terkini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga indeks harga konsumen (IHK) baik untuk barang bergejolak maupun barang yang diatur oleh pemerintah.
Kenaikan suku bunga acuan di AS dan negara maju lainnya akan melemahkan rupiah sehingga memengaruhi ongkos importasi barang yang masih menggunakan mata uang Paman Sam itu. Inilah yang kemudian mendorong inflasi impor menanjak. Sri Mulyani pun mengakui harga pangan dan energi masih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mempertahankan stabilitas inflasi pada tahun ini. “Kita melihat dalam situasi dunia ini, harga-harga pangan dan harga energi masih dalam kondisi yang cukup volatile,” katanya. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memandang inflasi inti yang rendah merupakan efek dari pengendalian permintaan dengan menggunakan instrumen moneter terutama suku bunga acuan. Wakil Ketua Umum Kadin Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan stimulasi itu bisa dieksekusi melalui peningkatan insentif investasi, perluasan pinjaman usaha dengan bunga ringan, deregulasi dan simplifikasi prosedur ekspor. "Stimulasi konsumsi domestik yang lebih berguna bisa dilakukan dengan penurunan tarif pajak, distribusi subsidi, dan realisasi belanja negara yang lebih cepat," ujarnya.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023