MENYIBAK ARAL EKONOMI
Indeks harga konsumen yang berada di jalur menurun dalam beberapa bulan terakhir membawa cahaya terang pada teropong inflasi. Dus, sejumlah lembaga internasional pun merevisi ke bawah proyeksi inflasi di Indonesia. Contohnya Asian Development Bank (ADB) melalui Asian Development Outlook Juli 2023 yang dirilis kemarin, Kamis (20/7), memangkas proyeksi inflasi Indonesia 2023 dari 4,2% menjadi 3,8%. Pun dengan Asean+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) dalam Quarterly Update of the Asean+3 Regional Economic Outlook rilisan pekan lalu, yang menurunkan proyeksi inflasi dari 4,6% menjadi 3,9%. Tak pelak, hal itu menjadi kabar baik bagi pemangku kebijakan yang sejak pengujung tahun lalu seolah tak henti memelototi data inflasi. Namun jika dicermati, revisi ke bawah outlook inflasi patut diwaspadai karena hanya didasari pada indikator yang mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat alias sisi permintaan yang lesu. Menurut laporan ADB, inflasi turun disebabkan oleh terbatasnya daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini lantas menimbulkan risiko melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional akibat terbatasnya konsumsi. Alhasil, ADB pun memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun ini hanya tumbuh 4,8%, sementara AMRO di posisi 5%. Jika ditengok, estimasi terbaru dari dua lembaga itu sejatinya telah direspons pemerintah dengan menyesuaikan outlook Asumsi Dasar Ekonomi Makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023. Misalnya, inflasi yang dalam target APBN disasar 3,6% diestimasi sedikit merenggang di kisaran 3,3%—3,7%. Demikian pula pertumbuhan ekonomi, yang diprediksi 5%—5,3%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan fundamental ekonomi masih cukup kuat dan mampu menghadapi dinamika global yang diprediksi memberikan tekanan berat pada tahun ini. Meski demikian, Airlangga meminta kepada seluruh instansi terkait terutama pemerintah daerah (pemda) untuk mewaspadai risiko lonjakan inflasi yang menekan daya beli masyarakat. Senada, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, optimistis ekonomi nasional mampu mengelak dari tekanan, baik dari sisi inflasi maupun laju ekonomi. Salah satu pendorong optimisme itu adalah postur fiskal yang tetap dijadikan sebagai bantalan dalam rangka merespons dinamika tersebut, baik untuk mendukung sisi penawaran maupun permintaan.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023